Milebisnis
Trending

Jogja Berdaya : Tebar Virus Cinta Wirausaha

Gothank Wiyadi : "Mau Hidup Seratus Tahun? Tanamlah Otak!"

“Jika ingin hidup satu hari, tanamlah otot. Satu tahun, tanamlah jagung. Seratus tahun? Tanamlah otak..,” papar Gothank Wiyadi, seorang pengusaha multi sektor asal Yogyakarta, Kamis (16/5) lalu. Di  hadapan tigapuluhan peserta yang penuh antusias, laki-laki berkacamata itu berkisah ihwal pengalaman bisnisnya.

9IST. Jogja Berdaya/Milesia.id)

Di kalangan aktifis sosial kemasyarakatan Jogja dan sekitarnya, sejatinya Gothank Wiyadi bukan nama asing. Lebih satu dekade silam, ia pernah berkubang keringat membantu memberdayakan ekonomi kalangan marjinal yang nyaris tak tersentuh lembaga ekonomi formal manapun. Diantara mereka ada anak jalanan dan kalangan pekerja seks komersial (PSK). Kala itu, Wiyadi juga menggunakan medium koperasi, yang kental dengan etos kerjasama dan solidaritas, untuk mengangkat harkat ekonomi mereka.

Pada sebuah sore medio Mei, bertempat di sebuah ruangan di Resto Kedamaian di kawasan Bugisan Selatan, Jogja, Wiyadi membeber kiat-kiatnya. Bagi Wiyadi, siapapun yang bisa menggerakkan potensinya, militansinya, ototnya dan konstan menjalani semua prosesnya, maka kekuatan itu akan meledak dengan manifestasinya berupa ‘kemakmuran’.

(Ist. Jogja Berdaya/Milesia.id)

Dalam pandangan Wiyadi, setiap individu memiliki pilihan hidup. Jadi pengusaha, dosen, karyawan atau lainnya. “Ketika berbicara soal hidup maka kita membahas tentang hari kemarin, hari ini dan hari depan. Yang lalu adalah tumpukan kisah yang tak bisa diubah, hari ini adalah daya juang militansi untuk berjuang mendapatkan impian-impian, dan masa depan adalah yang paling dahsyat karena kita membicarakan ‘pertaruhan,” papar Wiyadi, yang memutuskan berhenti dari profesi dosen di salah satu universitas ternama di Jogja demi lompat kuadran menjadi wirausahawan.

“Jika ingin hidup satu hari, tanamlah otot. Satu tahun, tanamlah jagung. Seratus tahun? Tanamlah otak. Bekerjakeraslah dengan otak, bukan sekedar otot. Sebab, tenaga kita dibatasi oleh waktu, usia dan kapasitas. Kelak, bisnis dibangun dengan kekuatan pikiran dan bekerja laiknya autopilot. Kita bisa tidur tapi bisnis tetap jalan,” terang Wiyadi.

 

(Ist. Jogber/Milesia.id)

“Anda bukan menantu Aburizal Bakrie atau sepupu Chairul Tanjung. Pula bukan kerabat Konglomerat. Namun bagi Allah, itu bukan dinding penghalang untuk memberikan kemakmuran dengan jalan perjuangan. Seringkali, kita sendirilah yang membentengi diri kita, memilih menjadi katak dalam tempurung yang nyaman pada satu pencapaian,” imbuh Wiyadi di hadapan peserta Jogja Berdaya.

Seperti diketahui, Jogja Berdaya (Jogber) mengusung misi menjadi program bersama seluruh komunitas pemberdayaan wirausaha di Jogja. Menumbuhkan kolaborasi dan sinergi untuk memperkuat etos gerakan kewirausahaan dengan semboyan “Bertemu, Bertumbuh, Berbagi”.

Sebelumnya, Gerakan Jogja Berdaya menginisasi program Mentoring Bisnis Pekanan Jogja Berdaya. Sejak diawali pada 12 September 2017 silam hingga kini sudah dihelat hampir 50 kali dengan melibatkan ribuan partisipan dari Jogja dan sekitarnya.

Di Yogyakarta, Jogja Berdaya merambah empat wilayah, dengan menghadirkan narasumber beragam latar belakang. Kalangan bisnis, kewirausahaan sosial, hingga multimedia. Menyebar di seluruh Kabupaten dan Kota Jogja, menebar virus cinta berbagi dan berwirausaha.

(Ahmad Mutaqin Habibi/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close