ANALISA
Trending

“Kematian Ratusan Anggota KPPS dan Perspektif Kesehatan Kerja”

Kedepan, Pertimbangkan Manajemen Fatique

Hingga pekan pertama Mei, tercatat 440 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia. Jumlah korban nyawa yang tak terbayangkan sebelumnya untuk sebuah perhelatan pemilihan umum era demokrasi modern.

Anggota KPPS tepar (IST. Aris BP/Milesia.id)

Petugas KPPS di setiap TPS seluruh Indonesia yang mencapai 810.329 unit itu, tak jarang harus menuntaskan tugas penghitungan sampai tengah malam bahkan hingga dini hari.

Respon publik segera saja berhamburan. Di media sosial, ujaran yang mengemuka menyikapi banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia beraneka ragam, bahkan cenderung menjadi liar. Salah satunya adalah isu kemungkinan  penyebab kematian para petugas KPPS adalah  diracun. Benarkah demikian?

Dalam diskusi publik “Membedah Persoalan Sebab Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan” yang dihelat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Jakarta Senin, (13/5) lalu, kalangan medis mencoba mengurai hal itu. Salah satu kesimpulan menyebutkan, kelelahan bukan menjadi penyebab langsung kematian para petugas KPPS itu, namun dapat menjadi faktor pemicu atau pemberat sebab kematian.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga sudah menerima hasil investigasi dari 17 provinsi terkait penyebab utama kematian petugas KPPS, yang mayoritas memiliki rentang usia 50-59 tahun. Hasil sementara, penyakit kronis menjadi penyebab utama kematian mayoritas petugas KPPS. Penyakit kronis kian memburuk sebab beban kerja yang berat. Total terinventarisir 13 jenis penyakit dan kecelakaan yang menjadi penyebab meninggalnya anggota KPPS.

Perspektif Kesehatan Kerja

IST.

Menarik menyimak narasi Lelitasari, dokter jebolan Universitas Diponegoro dan spesialis Kedokteran Kerja lulusan FK Universitas Indonesia.. “Mari kita coba lihat kasus meninggalnya anggota KPPS dari sudut pandang Kesehatan Kerja. Mengapa Kesehatan Kerja? Karena para anggota KPPS ini posisinya membantu KPU dalam pelaksanaan Pemilu. Seluruh proses pelaksanaan pemilu dari persiapan hingga selesai saat pengumuman hasil perhitungan suara nanti adalah suatu proses kerja,” papar Lelita.

Menurut Lelita, kasus kematian dan kesakitan dalam pelaksanaan pemilu perlu dilakukan investigasi untuk mencari akar penyebabnya sehingga bisa dilakukan tindakan pencegahan bertambahnya kasus dan juga perbaikan untuk pelaksanaan Pemilu berikutnya.

Langkah dalam investigasi kecelakaan dimulai dengan melakukan assessment sakitnya (pada kasus yang dirawat di RS), dilakukan penanganan sakitnya dalam hal ini oleh dokter di RS, melakukan wawancara pada korban (untuk yang sakit) dan pada saksi (keluarga, rekan kerja pada kasus yang meninggal), jika diperlukan melihat lokasi kejadian untuk memastikan adakah hal-hal dilokasi kejadian yang mungkin menjadi penyebab kematiannya (diracun misalnya), lakukan analisa dan langkah perbaikan.

Di tempat kerja dikenal adanya hazard atau bahaya potensial yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan bahkan kematian. Terdapat hazard fisika, kimia, biologi, ergonomi, psikososial.

“Nah sekarang coba dibayangkan di TPS kira-kira ada hazard apa? Adakah kebisingan, getaran, bahan kimia berbahaya, binatang berbisa, posisi kerja yang tidak nyaman,gerakan berulang, stressor psikis, jam kerja panjang ? Dari TPS yang ada didepan rumah Saya kemarin saya lihat hazard yang ada adalah jam kerja yang panjang serta stressor psikis. Saya tidak melihat penggunaan bahan kimia berbahaya yang bisa menjadi sumber keracunan bagi anggota KPPS,” papar Lelita yang juga founder 4Life OHS Services Trainer dan Konsultan Kesehatan kerja ini.

Siklus Sirkadian dan Manajemen Fatique

Bisa dibahas juga mengapa jam kerja yang panjang itu berbahaya. Apalagi sampai tidak tidur beberapa hari. Tubuh manusia didesain untuk terjaga di siang hari dan tidur di malam hari. Idealnya jam tidur adalah 7 – 8 jam setiap malam. Bagian yang mengatur siklus bangun tidur kita adalah otak, dimana ada satu bagian otak yang melepaskan hormon melatonin penyebab kantuk yang dilepaskan begitu hari mulai gelap. “Otak kita diatur oleh siklus yang disebut siklus sirkadian”.

Ist.

Tidur memiliki fungsi yang sangat penting bagi kesehatan seseorang. Tidur diperlukan oleh tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dan konsolidasi memori. Kekurangan tidur akan memicu penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) dan serebrovaskular (otak dan pembuluh darah), artinya kekurangan tidur bisa memicu terjadinya serangan jantung dan stroke. Apalagi jika sudah ada riwayat penyakit jantung, hipertensi atau diabetes sebelumnya.

Dalam kasus ini, apakah surat keterangan sehat yang diserahkan saat pendaftaran sebagai anggota KPPS benar-benar berdasarkan pemeriksaan kesehatan yang lengkap? Kekurangan jam tidur akan menyebabkan sleep debt atau utang tidur yang berujung pada fatigue. Saat ini fatigue ditempat kerja merupakan salah satu hazard yang sangat penting dan dilakukan pengendalian secara komprehensif.

Manajemen fatigue menurut teori Fatigue Risk Trajectory dibagi dalam 5 level. Dalam konteks kerja KPU langkah yang seharusnya dilakukan adalah :

Level 1 (organisasi): memastikan penjadwalan memberi kesempatan anggota KPPS dan juga pihak lain yang terlibat untuk tidur cukup.
Level 2 (individu): memastikan anggota KPPS serta tim lain yang terlibat benar-benar mendapatkan tidur yang cukup.
Level 3 (perilaku): memantau gejala yang mengindikasikan anggota KPPS dan tim lainnya mengalami fatigue.
Level 4 (kesalahan): strategi untuk memastikan fatigue di tempat kerja tidak mengakibatkan kesalahan atau insiden.
Tidak membiarkan tim yang mengantuk berat mengemudikan kendaraan bermotor, terbukti beberapa kasus kematian anggota KPPS terjadi karena kecelakaan lalu lintas.
Level 5: menentukan peran fatigue dalam kesalahan atau insiden di tempat kerja. Artinya pihak KPU saat ini harus mengumpulkan informasi selengkap-lengkapnya, jika perlu menurunkan tim untuk melakukan investigasi di lapangan untuk mengetahui dengan pasti faktor-faktor penyebab kematian dan sakitnya para anggota KPPS.

Level 1 – 4 sudah lewat, saat ini langkah yang harus dikerjakan adalah langkah di level 5, melakukan investigasi apakah ada peran fatigue dalam kasus meninggalnya dan sakitnya para anggota KPPS. Ataukah ada penyebab lainnya seperti yang disangkakan oleh pihak tertentu saat ini.

Masih terbuka peluang dan cukup waktu untuk menghelat investigasi interdispliner dengan melibatkan banyak pihak yang berkompeten.  (*)

(Prio P/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close