DINAMIKAMilesosbud
Trending

Menakar Kecerdasan Spiritual dan “Kesehatan Mental” Kita

MILESIA.ID, JOGJA“Penghuni surga adalah orang yang berbuat baik kepada Allah karena melayani orang lain, sementara penghuni neraka adalah orang yang berbuat baik kepada Allah tapi ‘sesungguhnya’ dia sedang ingin melayani dirinya sendiri”.(Emha Ainun Nadjib)

Selepas hajatan Pemilu 2019 (17/4), perang opini masih terus berlangsung antara kubu pasangan calon (paslon) Presiden 01 dan 02. Berbekal hasil hitungan masing-masing, keduanya mengklaim kemenangan yang pada akhirnya memunculkan keributan antar pendukung.

Di dunia maya, tweet war atau perang komentar juga tak terbendung. Padahal fenomena bullying, saling serang, saling nyinyir di media sosial bisa jadi memicu gangguan kejiwaan. Mengutip laman detikhealth.com, praktisi kesehatan jiwa dari RSUD Wangaya Kota Denpasar, dr I Gusti Rai Wiguna, SpKJ, berujar bahwa orang yang sering nyinyir di medsos bisa memiliki kemungkinan mengalami gangguan kejiwaan.

Permilu 2019 menyisakan perseteruan kubu 01 dan 02. MILESIA.ID/ IST

Gangguan kejiwaan seperti frustasi pada korban bully bisa memicu terjadinya tindakan agresi untuk menyalurkan emosi dan perasaannya. Selain itu, krisis mental juga ditunjukkan dari keengganan masing-masing kubu untuk bersikap toleran dan menahan diri. Banyaknya petugas KPPS, Bawaslu dan KPU yang meninggal akibat kelelahan fisik maupun psikis selama proses Pemilu, tidak membuat masing-masing kubu bersikap empati dan menyurutkan perseteruan.

Jika melihat fenomena bullying, saling serang di medsos yang memicu stres, depresi serta gangguan kejiwaan lainnya pasca Pemilu 2019, kita perlu mempertanyakan suatu hal:  Ada apa dengan kesehatan mental kita?Apakah menegaskan kebenaran ‘diri sendiri’ (komunitas-nya) lebih penting daripada empati, tenggang rasa, dan indahnya merajut kebersamaan?

Menakar kesehatan mental masyarakat kita

Ian Marshall dan Danah Zohar, penulis buku Spiritual Quotient. MILESIA.ID/ IST

Ian Marshall dan Danah Zohar menggambarkan kondisi masyarakat kontemporer yang “kering” makna, “terasing” secara spiritual dalam buku Spiritual Quotient. Banyak di antara kita seolah-olah terasing dari makna, memandang dunia seakan-akan kita ini aktor yang harus mematuhi skenario yang tidak sepenuhnya kita kenali, secara mekanis menjalani peran yang tidak kita pahami, yang tidak benar-benar kita rasakan.

Tokoh-tokoh dalam novel Kafka semuanya mempunyai sifat-sifat seperti itu. Dalam kehidupan mereka yang penuh ketakutan, mereka bagai orang yang berjalan dalam tidur di suatu lingkungan sosial, dan ketidakmampuan mereka untuk memahami makna dunia dan kejadian yang sungguh mengerikan.

Literatur dari abad kedua puluh (mungkin juga relevan di abad 21) penuh dengan catatan seperti “kemuakan”, “keterasingan”, dan “keyakinan buruk” Sartre, “penyakit menuju kematian” dari Kierkegaard, dan “kejatuhan” Hiedegger, “orang luar”-nya Camus, bahkan “kesadaran keliru dari kaum borjuis”-nya Marx.

Mengutip laman tirto.id berjudul “Kesehatan Mental di Indonesia Hari ini”, dalam publikasi WHO, satu dari empat orang di dunia terjangkit gangguan mental atau neurologis dalam beberapa waktu di dalam hidup mereka. Publikasi yang sama menyebutkan sekitar 450 juta orang saat ini menderita gangguan mental, dan hampir 1 juta orang melakukan bunuh diri tiap tahun.

Di Indonesia sendiri, dari data hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdes) tahun 2013 (merujuk pada prevalensi sebagai proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu), prevalensi gangguan mental yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Sedang gangguan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia sebesar 1,7 per seribu penduduk, atau sekitar 400 ribu orang.

Di RS Jiwa Prof. Dr. V.L .Ratumbusyang, Manado, banyak anak muda usia 12-20 tahun mengalami skizofrenia. Penyebabnya bermacam-macam, namun kebanyakan berasal dari pengalaman traumatis, seperti bullying yang dialami di sekolah dan lingkungan, termasuk keluarga.

Masyarakat kita yang Skizofren

Dari perspektif lintas-budaya, hampir tidak mungkin menentukan kesehatan mental secara komprehensif. IST/ KUMPARAN.

Apa sebenarnya Skizofrenia? Mengutip laman wikipedia.com, skizofrenia adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi pendengaran, paranoid atau waham yang ganjil, atau cara berbicara dan berpikir yang kacau, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan.

Gejala awal biasanya muncul pada saat dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global sekitar 0,3% – 0,7%. Pada skizofren yang parah, ia tidak mampu membedakan antara realita dengan khayalannya.

Secara biologis, penderita skizofrenia bisa disebabkan alasan genetik (gen abnormal). Faktor genetik ini dipicu kemunculan virus atau infeksi selama kehamilan yang mengganggu perkembangan otak janin, menurunnya autoimun, dan komplikasi kandungan.

Faktor lainnya adalah problem sosial, seperti perang, kemiskinan, dan masalah lingkungan. Seperti bagi banyak orang, kehidupan di pedesaan memiliki kerumitan tersendiri, khususnya bagi pribadi yang introvet (penyendiri). Isolasi, keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi, kesempatan pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga pelayanan kesehatan mental yang minim dibandingkan kota besar, memunculkan masalah tersendiri bagi para penderita gangguan mental.

Dari perspektif lintas-budaya, hampir tidak mungkin menentukan kesehatan mental secara komprehensif. Para ahli dengan latar belakang berbeda, baik dari kultur, kelas sosial, pandangan politik, hingga agama, akan berdampak pada metodologi yang diterapkan selama pengobatan. Prof. Drs. Subandi, M.A, Ph.D., menyebut masalah gangguan dan kesehatan jiwa mempunyai dimensi kompleks. Artinya tidak hanya terkait masalah medis atau psikologis semata, melainkan mempunyai dimensi sosial budaya sampai dimensi spiritual dan religius.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa penderita skizofrenia berkaitan dengan keyakinan agama tertentu. Penderita ini mengalami “delusi” seperti keyakinan bahwa mereka adalah dewa atau nabi, atau merasa Tuhan berbicara kepadanya, hingga kerasukan. Studi trans-budaya menunjukkan bahwa skizofren jauh lebih umum terjadi pada pasien yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang beragama.

Penanganan gangguan jiwa yang salah kaprah

Perjuangan petugas mengantarkan logistik Pemilu 2019. MILESIA.ID/ IST

Di Indonesia, minimnya informasi dan pengetahuan (edukasi) tentang penyakit jiwa memunculkan cara-cara atau penanganan yang keliru. Misalnya, seorang anak yang merasa mendengar bisikan-bisikan ghaib akan langsung dibawa orangtuanya kepada paranormal. Biasanya anak itu akan dirukyah, diminumi air yang sudah dibacakan do’a, karena percaya anaknya diganggu oleh jin.

Seandainya masyarakat bisa berpikir rasional, cara-cara psikoanalisis sebenarnya dapat menjawab pertanyaan atau penyebab suatu kasus gangguan jiwa muncul. Kita bisa melihat gejala-gejala yang muncul sebelumnya, seperti apakah anak terlihat murung, putus asa, sering menyendiri, depresi atau melakukan sikap yang tidak sewajarnya? Jika merujuk dari tanda-tanda itu, alangkah baiknya jika orangtua membawa anaknya kepada psikiater.

Dus, pengobatan gangguan mental sebenarnya dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti terapi psikiater atau rawat inap. Pengobatan dengan psikiater pada dasarnya membutuhkan banyak biaya, hampir 80% penderita tidak tertolong karena mahalnya obat. Namun ada beberapa komunitas yang bersedia menggalang dana untuk meringankan beban para penderita penyakit mental, salah satunya adalah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI).

Hingga 2016, baru ada sekitar 700 psikiater di Indonesia, tapi tidak semuanya bekerja di Rumah Sakit Jiwa. Terdapat 34 Rumah Sakit Jiwa milik pemerintah, 1 Rumah Sakit Ketergantungan Obat, dan 1 Rumah Sakit Jiwa Swasta. Total tempat tidur yang tersedia sektar 5800 buah. Jumlah ini pun masih dianggap tidak memadai. Realita ini tentu memunculkan pesimisme bahwa para penderita gangguan jiwa akan tertangani secara maksimal.

Tapi yang lebih penting tentunya peran keluarga dalam proses penyembuhan. Keluarga perlu memberikan motivasi dan meyakinkan penderita bahwa mereka tidak sendiri, tidak dikucilkan, serta masih banyak orang yang peduli dan menyayangi mereka. Namun yang tak boleh dilupakan, mencegah sejatinya lebih utama dari pada mengobati. Untuk mencegah terjadinya gangguan “kesehatan mental”, kita membutuhkan sebuah treatment yang menyeluruh (holistik), salah satunya dengan meningkatkan Kecerdasan Spiritual masyarakat.

Pentingnya Kecerdasan Spiritual (SQ)

Dunia bukan tempat membangun, melainkan tempat mencari menemukan bahan-bahan bangunan (Cak Nun). IST/ CAK NUN.COM

Merujuk tulisan Ian Marshall dan Danah Zohar dalam “Spiritual Quotient”, “Kecerdasan Spritual’ merupakan kemampuan seseorang untuk memahami “makna” yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat sehingga bisa memiliki fleksibilitas ketika menghadapi persoalan yang ada di dalam masyarakat.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun menggambarkan kecerdasan spiritual manusia secara apik dalam diskusi filosofis dengan putranya, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe). Mengutip laman caknun.com., malam itu (17/03/12) dalam gelaran Mocopat Syafaat di Kasihan, Bantul, Jogja, Cak Nun mengajukan pertanyaan filosofis kepada Sabrang, putranya.

“Urip ki jane kon ngopo?” (Hidup itu sebenarnya buat apa? Mau ngapain?).

Pertanyaan singkat itu dijawab dengan singkat pula oleh Sabrang, “kon munggah drajat — untuk menapaki derajat”. Cak Nun mengejarnya dengan pertanyaan lagi, “pilihane munggah drajat kuwi opo? njur nek diteruske, munggah drajat kuwi teko ngendi?” (pilihan untuk naik derajat itu apa saja? Lantas kalau diteruskan, naik derajat itu sampai di mana?).

“Ben nyawiji ( untuk menyatu/manunggal dengan Tuhan)”, jawab Sabrang.

“Munggah drajat kuwi tegese (naik derajat itu maksutnya) anda menyatu dengan Allah. Maka ketika anda menyatu itu rambutmu, badanmu, hartamu, dan seluruh duniamu ikut nggak? Jadi kenapa kalian mati-matian membela namamu?”, urai Cak Nun meneruskan jawaban Sabrang.

Untuk memahami perihal “nyawiji” ini, Sabrang menambahkan bahwa wajah manusia dan segala penampakan lahiriah manusia hanya efektif pada vibrasi tertentu yang tidak bersifat tetap dalam jangka waktu dan pada penggalan ruang tertentu sehingga apa yang lahiriah itu tidak akan mampu untuk masuk pada frekuensi “nyawiji”.

Perlu suatu kesadaran atau barangkali kebangkitan spiritual untuk memahami hal ini. Karenanya, manusia tidak boleh berhenti untuk selalu mencari dan memaknai sebab roh hidup itu berlapis-lapis. “Jangankah roh, air saja berlapis-lapis. Misalnya apa beda air dengan es? Maka kalau anda tidak melakukan pencarian-pencarian terhadap tauhid, anda akan kabotan uripmu (hidupmu memberatimu). Jadi yang penting itu terus mencari, bukan berhasil atau tidak. Yang diinginkan Allah itu engkau bergerak menjalani pencarian itu atau tidak?” terang Cak Nun.

“Dunia bukan tempat membangun, melainkan tempat mencari, menemukan bahan-bahan bangunan,” imbuh Cak Nun. Di dunia ini kewajiban kita adalah belajar mengidentifikasi, mana bahan bangunan yang berguna bagi masa depan abadi kita (akhirat) dan mana yang bukan. Setelah mampu mengidentifikasi, syukur benar-benar bisa menemukan bahan-bahan bangunan itu. Jalannya (tarekat-nya) bisa melalui agama atau disiplin spiritual apapun.

Namun kecerdasan spiritual (SQ) tidak melulu berhubungan dengan agama. Bagi sebagian orang SQ mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama formal, tapi beragama tidak menjamin SQ tinggi. Banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi, sebaliknya banyak orang aktif beragama tapi memiliki SQ rendah.

Agama formal adalah seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Ia bersifat top down, diwarisi dari pendeta, nabi dan kitab suci yang ditanamkan melalui keluarga dan tradisi. Sedang kecerdasan spiritual (SQ) adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri.

Yang harus digaris bawahi, tantangan untuk mencapai kecerdasan spiritual yang tinggi sama sekali tidak bertentangan dengan agama.Kebanyakan di antara kita membutuhkan semacam kerangka “keagamaan” sebagai panduan untuk menjalani kehidupan kita, pikiran para guru besar, perbuatan para orang suci, petunjuk perilaku suatu aturan etika. Kebanyakan di antara kita berkembang pesat ketika menganut keyakinan dasar yang sangat mendalam. Dan kebanyakan di antara kita akan tersesat tanpa semua itu.

Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan jiwa. Ia adalah kecerdasan yang membantu kita menyembuhkan dan membangun diri kita secara utuh. Karena banyak sekali yang menjalani hidup dengan penuh luka dan berantakan, kita merindukan apa yang disebut T.S. Eliot “penyatuan yang lebih jauh, keharmonisan yang lebih dalam”.

Kecerdasan spiritual yang rendah atau lazim disebut “terhambat secara spiritual”, bisa menjadi musabab munculnya berbagai penyakit batin. Terhambat secara spiritual pada dasarnya adalah keadaan yang tidak ada spontanitas, karenanya, memiliki tanggapan yang rendah terhadap pusat. Ego kita terperangkap dalam permainan dan sikap luar serta kepura-puraan.

Kita membawa-bawa terlalu banyak kesadaran diri, terlalu peduli dengan penampilan, terlalu tertutup pada apa yang terjadi secara mendalam. Dan jika spontanitas kita begitu rendah, kita tidak lagi menanggapi energi jiwa yang terperangkap atau menyimpang, kita jatuh ke dalam keputusasaan.

Keputusasaan itulah yang disebut oleh filosof Denmark, Soren Kiekegaard, “penyakit yang menuntun pada kematian”. Keputusasaan adalah pelepasan diri sepenuhnya dari kehidupan, semacam tindakan bunuh diri. Orang yang berputus asa telah menyerah, dia tidak dapat menemukan makna, benda, atau orang yang cukup berharga yang patut ditanggapinya.

Self healing

Bunda Teresa menjadi representasi ‘Kecerdasan Spiritual’ sejati, melepaskan ego dan menjadi cahaya bagi sesama. MILESIA.ID/ IST

Bagaimana kita menyembuhkan diri sendiri? Jika Kecerdasan Spiritual tinggi merupakan potensi yang ada pada setiap manusia, bagaimana kita dapat menjangkaunya?

Secara umum, kita dapat meningkatkan kecerdasan spiritual dengan meningkatkan penggunaan proses tersier psikologis kita-yaitu kecenderungan kita untuk bertanya “mengapa”, untuk “mencari keterkaitan antara segala sesuatu”, untuk “membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna di balik atau di dalam sesuatu”, menjadi “lebih suka merenung”, “sedikit menjangkau di luar diri kita”, “bertanggung jawab”, “lebih sadar diri”, lebih “jujur terhadap diri sendiri”, dan lebih “pemberani”.

Namun setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mencapai kesadaran spiritualnya. Beberapa orang memilih dengan cara mengikuti tarekat, berdo’a, meditasi, afirmasi, menyanyikan lagu rohani, membaca buku inspiratif, berlibur ke alam terbuka, hingga menjadi volunteer dalam kegiatan sosial.

Kecerdasan spiritual memungkinkan kita merasa bahagia bagaimanapun keadaan kita, karena kebahagiaan tidak tergantung pada materi atau keadaan tertentu. Kecerdasan ini menjelmakan kemuliaan-kemuliaan besar manusia yang berkaitan dengan moralitas, kemurahan hati, dan itikad baik. Sedang penyalahgunaannya (bodoh secara spiritual) berwujud takhayul, intoleransi dan ketidakadilan.

Untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual di jalan pengasuhan, kita harus lebih terbuka kepada orang lain. Belajar untuk bisa menerima dan mendengarkan dengan baik diri kita yang sejati. Kita harus mau membuka diri, terbuka, mengambil risiko mengungkapkan diri kita kepada orang lain. Pendeknya kita harus spontan.

Seorang manusia yang mengindahkan tuntutan-tuntutan kecerdasan spiritual akan menggunakan dua kecerdasan lainnya, Intelligence Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ), untuk pekerjaan-pekerjaan mulia. Jalaluddin Rumi, Bunda Teresa, Tich Nhat Hanh, Dalai Lama dan Cak Nun adalah contohnya.

Mereka adalah makhluk spiritual yang rela ‘melepaskan ego-nya’, tabah menghadapi kesukaran-kesukaran yang dahsyat dalam hidup demi harmonisasi dan ‘kebahagiaan bersama’. Fisik mereka boleh jadi terbentur, lelah, dan sakit, tapi hati mereka meluap penuh rasa bahagia. Terhubung ke ‘pusat’, menjadi toleran, empati, menyatu dalam cinta dan kebersamaan adalah pancaran kecerdasan spiritual sejati.

Ketika seorang suci ditanya, “Apakah surga dan neraka itu?”

“Hati yang bahagia adalah surga; hati yang berat adalah neraka,” jawabnya.

Lalu masihkah kita perlu berdebat tentang siapa yang paling benar? Wallahu’alam.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close