Mileslitera
Trending

Membincangkan Perempuan, Sastra dan “Kemerdekaannya”

Bincang-Bincang Sastra Edisi 163

MILESIA.ID, JOGJAA woman is like a tea bag: You never know how strong she is until she gets in hot water. (Nancy Reagan)

“Perempuan itu ibarat sekantung teh, Anda tidak bisa mengetahui seberapa kuat dia sebelum menyeduhnya dengan air panas”, ujar Nancy Reagan, first lady Amerika Serikat. Istri mendiang Presiden Ronald Reagan itu hendak menegaskan betapa dahsyatnya potensi perempuan. Kita hanya perlu membangkitkannya!

Dus, membincangkan perempuan memang tak akan pernah ada habisnya. Untuk itulah, Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Balai Bahasa Yogyakarta sengaja menggelar acara Bincang-Bincang Sastra edisi ke 163 dengan mengusung tajuk: “Perempuan dan Sastra”.

Acara yang sedianya digelar Sabtu, 27 April 2019 pukul 19.30 WIB ini bertempat di Ruang Sutan Takdir Alisjahbana Balai Bahasa Yogyakarta, jalan I Dewa Nyoman Oka 34 Kotabaru, Yogyakarta.

Akan hadir selaku pembicara, duo perempuan tangguh: Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA. (Dekan FIB UGM) dan Herlinatiens (Novelis). Ada pula Fitri Merawati selaku pemandu acara.

Bukan itu saja, acara yang terbuka untuk umum dan free ini juga akan menyuguhkan penampilan apik Niskala x Riska Kahiyang dan Siti Nur Hidayati.

Perempuan yang mendobrak tabu

Agenda acara Bincang-Bincang Sastra edisi 163, Sabtu 27 April 2019 di Balai Bahasa Yogyakarta. MILESIA.ID/ DOK.SPS

Tajuk “Perempuan dan Sastra” sengaja diusung Studio Pertunjukan Sastra bukan melulu alasan ‘latah’ bahwa bulan April identik dengan Kartini. Lebih dari itu, keberadaan perempuan di kancah sastra yang nyatanya didominasi kaum pria (patriarki) rasanya memang menarik untuk ditelisik.

Ada realitas yang mungkin luput dari perhatian tetapi acap kali kita jumpai: perempuan sesungguhnya mendominasi keikutsertaannya dalam lomba penulisan karya sastra.

“Sayangnya, ketika kita menelusuri peta dunia sastra tanah air, perempuan nyatanya hanya menjadi objek, bukan sebagai pelaku pembuat karya. Di komunitas-komunitas sastra, perempuan hanyalah pelengkap penderita,” ujar Murnita Dian Kartini, selaku koordinator acara.

Kita bisa ‘membaca perempuan’ melalui sebuah karya sastra, seperti penggambaran sosok Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Nyai Ontosoroh dalam ‘tetralogi Buru’, Gadis Pantai, Midah Si Manis Bergigi Emas, serta Larasati, karya Pramoedya Ananta Toer. Kesemuanya menjadikan perempuan sebagai ‘objek’ cerita. Entah itu digambarkan sebagai sosok yang pasrah pada kungkungan tradisi, patuh, pengalah atau sosok pemberani, pemberontak dan penentang tradisi.

Tapi, garis samar dari gambaran ‘suram’ itu tentu saja tidak sepenuhnya tepat. Jika ditelusuri lebih jauh, keberadaan perempuan di kancah sastra tanah air sebenarnya lumayan moncer. Banyak penulis perempuan yang memiliki peran penting serta karya-karyanya layak diperhitungkan. Setidaknya kita bisa menyebut nama NH. Dini, Ayu Utami, Dewi Lestari dan Helvy Tiana Rosa.

NH. Dini, salah satu novelis perempuan yang berani mendobrak tabu. MILESIA.ID/ IST

Khusus NH. Dini, yang ‘berpulang’ 04 Desember 2018 lalu, ia menghentak jagad sastra tanah air (kala itu) melalui karya-karyanya yang mendobrak ‘tabu’. Sebut saja, Pada sebuah Kapal (1972), dalam novel ini digambarkan sosok Sri yang bersuami pria Prancis berhubungan gelap dengan seorang kapten kapal warga negara Jerman bernama Michel. Mereka bertemu dalam kapal yang dinaiki Sri dari Jepang ke Prancis, sementara suaminya naik pesawat terbang.

Di sepanjang perjalanan kapal, mereka memadu cinta. Hubungan itu tetap berlanjut setelah kapal tiba di Prancis. Sri maupun Michel digambarkan sebagai orang yang tak bahagia dengan kehidupan rumah tangga masing-masing dan mendapatkan kebahagiaan dari hubungan gelap yang sedang dibangun.

Masalah perempuan dan perkawinan kembali hadir dalam La Barka (1975) serta Namaku Hiroko (1977). Di novel ‘La Barka’, Dini mengisahkan sekelompok orang yang sama-sama memiliki masalah dalam perkawinan dan sedang menanti proses perceraian. Dini menjungkirbalikkan konsep umum tentang pernikahan dan kesetiaan.

“Hanya saja, seperti sudah diungkapkan di awal, para perempuan yang menulis karya sastra tidaklah lebih banyak jika dibandingkan keberadaannya sebagai objek kajian dalam karya sastra itu sendiri,” imbuh Murnita.

Memerdekakan diri sendiri dan bangsa

Di Yogyakarta sendiri, lahir sejumlah perempuan dengan nama dan karya yang menghiasai dinamika kesastraan tanah air, sebut saja Iskasiah Sumarto dengan novelnya Astiti Rahayu (1976), Dorothea Rosa Herliany  dengan antologi puisinya Nikah Ilalang (1995) dan Sebuah Radio Kumatikan (2001), Abidah el Khalieqy dengan novelnya Perempuan Berkalung Sorban (2001) dan Geni Jora (2004), Ulfatin Ch. dengan antologi puisinya Selembar Daun Jati (1996) dan Nyanyian Alamanda (2003)

Sebagian novel karya NH. Dini yang telah diterbitkan. MILESIA.ID/ IST

Ada juga Evi Idawati dengan antologi puisinya Pengantin Sepi (2002) dan Namaku Sunyi (2005), Herlinatiens dengan novelnya Garis Tepi Seorang Lesbian (2003) dan Jilbab Britney Spears (2004), Komang Ira Puspitaningsih dengan buku puisi Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu (2012), Mutia Sukma dengan antologi puisinya Pertanyaan-Pertanyaan Tentang Dunia (2017), Ramaida Akmal dengan novelnya Jatisaba (2010) dan Tango & Sadimin (2019) hingga Fitri Merawati dengan buku puisi Potret Wanita Jawa (2016).

Beberapa nama dan karya tersebut berada sebaris dengan Toeti Heraty, N.H. Dini, Ratna Indraswari Ibrahim, Fira Basuki, Helvy Tiana Rosa, Laksmi Pamuntjak, Oka Rusmini, Laela S. Chudori, Linda Cristanti, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dee Lestari, Asma Nadia, Intan Paramadhita, Okky Madasari, Ratih Kumala, hingga misalnya yang terbilang muda Dewi Kharisma Michelia.

Sejumlah karya para penulis perempuan di Yogyakarta, secara implisit maupun eksplisit menampakkan sikap yang mendasarinya dalam berproses kreatif. Hal itu senyampang dengan pendapat Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA., bahwa perempuan dalam sastra mengalami dinamika peng-objekkan dan pen-subjekkan.

Lalu pertanyaannya: Bagaimana pengarang perempuan terlibat dalam dua proses tersebut? Benarkah anggapan bahwa perempuan dan sastra sama-sama rawan kritikan, mudah menjadi tabu, dianggap penyakit dan second class?

Ada lagi suatu tanda tanya besar yang sangat menggelitik: Mungkinkah saat keduanya bersatu, ‘perempuan dan sastra’, tidak saja bisa memerdekakan diri sendiri, melainkan juga memerdekakan suatu bangsa?

“Pertanyaan-pertanyaan itulah yang nantinya akan dijawab oleh Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA. dan Herlinatiens dalam gelaran Bincang-Bincang Sastra bulan April 2019 ini. Semoga acara ini bermanfaat bagi pencinta sastra sekalian,” pungkas Murnita.

(Milesia.id/ Sukandar, S.Hut/ Kelik N)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close