Mileseducation
Trending

Hari Bumi : Menyelamatkan Hutan dan Kehidupan

Belajar Planetary Health dari ASRI

Kemarin (22/4), dunia memperingati Hari Bumi. Sebuah ikhtiar untuk menguatkan kesadaran dan penghargaan terhadap habitat manusia ini. Sementara Perserikatan Bangsa Bangsa merayakannya pada 20 Maret.

dok. ASRI

Indonesia sejatinya kaya dengan ikhtiar-ikhtiar yang lebih dari sekedar seremonial terkait penyelematan dan perwatan bumi yang lestari.  Dalam rangka Hari Hutan Sedunia, Maret lalu, misalnya, Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) yang berkantor di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, menularkan pengalamannya dengan menghelat Planetary Health Talks, di Jakarta.

Dalam diskusi bertajuk “Cara Menyelamatkan Hutan dan Kehidupan” yang dihelat di dua tempat dan waktu berbeda, yaitu di Ruang Komunal Indonesia dan Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, ASRI memparkan usaha-usaha meningkatkan awareness masyarakat mengenai kesehatan alam dan manusia yang berjalan selaras.

Kinari Webb (dok. ASRI)

Hadir selaku narasumber utama adalah Kinari Webb, yang juga adalah pendiri ASRI, dan Mahardika Putra Purba, Manajer Konservasi ASRI. Lainnya, M. Ari Wibawanto (Kepala TN Gunung Palung), Nur Febriani (Direktur Eksekutif ASRI) serta Nina Finley, suporter ASRI. Hampir 100 peserta hadir, berlatar pelajar, mahasiswa, pemerintah, pegawai swasta, komunitas, NGO, dan lain-lain.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada ASRI telah mendukung pemulihan-pemulihan ekosistem yang berada di TN Gunung Palung. Apa yang dilakukan ASRI perlu diacungi jempol dan selaras dengan pendekatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mengedepankan masyarakat sebagai subjek, bukan objek. Ini bisa menjadi pembelajaran bagi pihak lain yang peduli lingkungan,” ujar Direktur Kawasan Konservasi KLHK Dyah Murtiningsih ketika membuka acara Planetary Health Talks yang digelar ASRI di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat pada 21 Maret 2019 malam.

Pemberdayaan Ekonomi dan Sanitasi

ASRI membuktikan, bahwa  masyarakat dapat memberdayakan diri, hutan dan kesehatannya dalam relasi mutualis dan harmonis. Sebagai pihak yang tinggal paling dekat dengan hutan, merekalah yang paling tahu cara menjaga kelestarian hutan sekaligus merasakan dampaknya. Siapa menanam maka dia akan menuai, siapa merusak maka ia akan terkena dampak.

Kantor yayasan ASRI (Prio P/Milesia.id)

ASRI turut berkontribusi pada penurunan jumlah keluarga penebang hutan hingga 88 persen. Diantaranya melalui program chainsaw buyback. “Kami menyelenggaran program kewirausahaan bagi warga perambah hutan dengan menggunakan skema Chainsaw Buyback,” papar Nur Febriani, Direktur Eksekutif Yayasan ASRI kepada Milesia yang mengunjungi kantor ASRI di Kayong Utara, September tahun lalu.

Program Chainshaw Buyback memfasilitasi para penebang liar untuk alih profesi yang lebih baik dan bermartabat. Para penebang kayu ilegal menukar gergaji mesin mereka dengan fasilitasi dan pendampingan kegiatan usaha.

Persoalan ekonomi dan tingkat pendidikan menjadi salah satu pendorong individu atau sekelompok orang melakukan penebangan liar.  Mendorong mereka menempuh jalan pintas dengan membabat hutan untuk mendapatkan uang.  Dari pengalaman ASRI, sebagian warga yang menjadi penebang liar melakukan hal itu untuk mendapatkan uang guna membiayai anggota keluarga yang sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya.

Membabat hutan untuk menjaga dapur tetap ngebul, jelas kian menambah kompleks masalah. Hutan gundul, keberagaman unsur hidupan pembentuk hutan (biodiversitas) berkurang, mutu lingkungan semakin merosot.

“Berdasarkan laporan PBB tahun lalu, kita hanya punya waktu 11 tahun hingga tahun 2030 untuk memperbaiki masalah emisi karbon. Setiap orang di dunia ini mempunyai peran untuk memberikan solusi. Contoh peran yang dapat Anda berikan adalah membantu masyarakat yang telah menjaga hutan, paru-paru dunia dengan membantu organisasi-organisasi yang berkerja disana, seperti ASRI. Mari kita berkerja sama!,” papar Kinari Webb.

Planetary Health Talks (dok. ASRI)

Duta besar Peru untuk Indonesia, Julio Cardenas, mengaku sangat terkesan dengan pencapaian ASRI. Dipaparkan Cardenas, Peru juga dilanda masalah degradasi hutan dan berharap dapat belajar dari pendekatan ASRI. “Kami memiliki banyak kesulitan untuk menemukan solusi bagaimana menghijaukan kembali hutan yang telah ditebang di Peru. Saya tertarik mencoba pendekatan yang ASRI lakukan dan mereplikasi pendekatan ini di Peru,” ucapnya.

Isu kesehatan publik juga jadi fokus ASRI dengan program-program layanan kesehatan masyarakat hingga ke pelosok. Membuahkan penurunan angka kematian bayi hingga 67 persen dalam kurun waktu satu dekade saja (2007 – 2017).  Atas semua capaian itu, ASRI memperoleh berbagai macam penghargaan. Diantaranya Disney Conservation Hero (2014), Kalpataru Penyelamat Lingkungan (2016), Whitley Fund for Nature Gold Award Winner (2011 dan 2016), National Geographic Emerging Explorer (2017), dan lain-lain.

(Prio P/Milesia.id)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close