Life Style
Trending

Kakao Edel Kendenglembu, Cikal Bakal Minuman Para Dewa

Ada libur cukup panjang setelah coblosan Pemilihan Umum sehari kedepan. Mau kemana? Sila kunjungi Doesoen Kakao. Saat pertama menapakkan kaki di Doesoen Kakao, indera penciuman  langsung dibuai wangi biji cokelat.

Aroma tersebut berasal dari proses pabrikasi Kakao Edel a.k.a Kakao Mulia a.k.a Java Cocoa a.k.a Java Fine Flavor Cocoa, kakao dari jenis Criolo ini hanya dapat ditemukan di PTPN 12 khususnya Kebun Kendenglembu. Satu-satunya penghasil biji kakao spesialti asal Indonesia – Single Origin Kendenglembu – Cikal bakal minuman para dewa.

Pengunjung dari Perancis di kebun kakao edel (Milesia.id/Fauzi ISmail)

Seperti diketahui, Doesoen Kakao, di kawasan Glenmore, Banyuwangi, kondang dengan  Festival Cokelat Banyuwangi yang rutin dihelat saban tahun.

Festival Cokelat ini diprakarsai oleh Pemda Banyuwangi bersama Doesoen Kakao, Kebun Kendenglembu, PTPN XII, BUMN Perkebunan yang  namanya beken di jagad Agroeduturisme.

Ya, saat ini, di Indonesia, tidak ada lagi pembudidaya Kakao Edel di luar PTPN XII. Bahkan di Djati Roeggo, PTPN IX Semarang, tempat asal Kakao Edel klon DR, tanamannya sudah didongkel. Hal ini disebabkan karena Kakao Edel mempunyai daya hasil rendah dan relatif rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

PTPN XII merasa terpanggil dan berusaha untuk melestarikan plasma nutfah Kakao Edel. Meskipun potensi produksinya rendah dan rentan terhadap serangan hama dan penyakit, Kakao Edel memiliki harga jual premium. Citarasanya enak, warna cokelatnya cerah, mild flavor, fruity, sweet, dan spicy. Alhasil, biji Kakao Edel sering digunakan sebagai pencerah dan sumber citarasa pada makanan berbahan baku cokelat.

Kakao Edel Klon DR 38, merah menyala (Milesia.id/Fauzi Ismail)

Sejarah Kakao Edel di bumi Nusantara terentang panjang. Masuk ke Indonesia sejak 1560, dibawa oleh orang Spanyol yang mendarat di Sulawesi. Jenis Criolo Venezuela inilah yang kemudian menjadi moyang dari klon Djati Roenggo (DR), varietas Kakao Edel yang dibudidayakan oleh Doesoen Kakao, Kebun Kendenglembu. Klon ini berhasil di muliakan oleh C.J.J. Van Hall – peneliti dari Cacao Proefstation de SalatigaBalai Penelitian Kakao Salatiga – pada tahun 1912. Sampai saat ini, varietas yang bertahan adalah DR1, DR2, DR 38. Semuanya di budidayakan oleh Doesoen Kakao, Kebun Kendenglembu.

Budidaya Kakao Edel di Kebun Kendenglembu dilakukan dengan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices (GMP) untuk memperoleh mutu produk dengan karakter spesifik dan konsisten serta mempunyai keunggulan kompetitif sebagai Specialty Java A Light Breaking Cocoa.

IST (Milesia.id/Fauzi Ismail)

Tak heran, saat ini banyak yang memburu produk biji Kakao Edel Kendenglembu. Pembeli dari USA, Jerman, Jepang, Belanda, Thailand, Singapura, Malaysia berlomba-lomba meminangnya dengan mahar yang cukup fantastis, $7,2 per kilogram biji kering kualitas I-AA-FC/W, dengan bean count per 100 gram max 85, Dark Bean < 20, dan kadar air max 7,5 %.

 

 

Kebun Kendenglembu dan Wisata Berbasis Cokelat                  

Sejarah Kebun Kendenglembu berasal dari L.M.O.D (Landbouw Matscapay Out Djember) David Bernie – N.V. Rubber Cultuur Mij Kendenglembu cs. Perusahaan Onderneming zaman Belanda yang memperoleh hak erpacht atau hak sewa dari pemerintah Hindia Belanda saat Gubernur Jenderal Van Den Bosh. Kala itu, pemerintah Hindia Belanda mengubah kebijakannya dari sistem Tanam Paksa ke Sistem Sewa Tanah.

Sejak 12 Desember 1957 N.V Rubber Culltur Mij Kendenglembu Cs. dikuasai oleh pemerintah Indonesia dan dinasionalisasi menjadi Perusahaan Perkebunan Nusantara (PPN). Seiring berjalannya waktu, akhirnya berubah menjadi PT. Perkebunan Nusantara XII yang bernaung di bawah Kementerian BUMN.

Kebun Kendenglembu memiliki luas 3.802, 58 ha dengan ketinggian 200 – 350 mdpl, jenis tanah Andosol, Regosol, Grumosol, pH tanah 5,5 – 6, curah hujan 2000 – 3000 mm/th dengan iklim A, B, C sesuai Schmidt Ferguson.

Doesoen Kakao Banyuwangi  memang berbeda dengan wisata berbasis cokelat di tempat lain. Doesoen Kakao kental dengan nilai historis. Berada di tengah perkebunan peninggalan Belanda, pabriknya dibangun sejak abad 19. Bayangkan nikmatnya menyesap secangkir cokelat specialty hangat olahan kakao edel di sebuah bangunan peninggalan Belanda, dibuai desir angin segar khas perkebunan. Good meneer..!

                                                                                                                                  (Milesia.id/Fauzi Ismail)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close