DINAMIKAMileslitera
Trending

Ada ‘Pidato yang Masuk Surga’

Bincang-Bincang Sastra Edisi 162: Membaca Puisi Humor Mustofa W. Hasyim

MILESIA.ID, JOGJA – “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya,” ujar mendiang Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy.

Namun belakangan, kita justru melihat bahwa puisi cenderung digunakan sebagai alat untuk memperkeruh suasana politik (praktis) di tanah air. Perang puisi ini semakin memperunyam iklim politik yang memang sudah panas menjelang Pilpres 2019.

Untuk ‘mendinginkan’ suasana akibat tingginya tensi politik di tanah air, Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Nahdlatul Muhammadiyyin Press dan Taman Budaya Yogyakarta sengaja mengangkat tajuk: Pidato yang Masuk Surga: Membaca Puisi-Puisi Mustofa W. Hasyim, dalam gelaran Bincang-Bincang Sastra edisi ke 162 kali ini.

Acara yang terbuka untuk umum dan free (gratis) ini sedianya digelar Sabtu, 23 Maret 2019 pukul 20.00 WIB di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Akan hadir selaku pembicara Kris Budiman dan Mustofa W. Hasyim sendiri, serta dipandu oleh Asef Saeful Anwar.

Selain itu, akan ditampilkan pula pembacaan puisi-puisi humor dan setengah (semi) humor karya Mustofa W. Hasyim oleh W.N. Naufal, Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan, dan Komunitas OKJ.

Humor dan Kecerdasan Manusia

IST/ SPS – Kumpulan puisi humor Pak Mus.

Buku Pidato yang Masuk Surga merupakan antologi puisi teranyar karya Mustofa W. Hasyim yang diterbitkan oleh NM Press. Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini sebelumnya telah dibacakannya dalam forum Maiyah bersama Emha Ainun Nadjib “Macapat Syafaat” di Kasihan, Bantul yang digelar rutin pada tanggal 17 setiap bulannya.

“Buku puisi mutakhir karya ketua Nahdlatul Muhammadiyyin ini terbit menyusul trilogi buku puisi humor dan setengah humor sebelumnya, yakni Ki Ageng Miskin (2007), Telunjuk Sunan Kalijaga (2013), dan Legenda Asal-Usul Ketawa (2016),” ujar Tubagus Nikmatullah, koordinator acara Bincang-bincang Sastra kali ini.

Tubagus juga menambahkan, bahwa situasi yang tegang karena isu politik yang makin mengeras perlu dicairkan dengan sesuatu yang segar. Oleh karena itulah Studio Pertunjukan Sastra sengaja menyuguhkan puisi-puisi segar dan menggelitik karya Pak Mus alias Mustofa W. Hasyim.

IST – Mustofa W Hasyim dalam acara Maiyah Mocopat Syafaat bersama Emha Ainun Nadjib dan Kyai Kanjeng.

Mustofa W. Hasyim sendiri dikenal sebagai penyair jebolan Universitas Malioboro alias Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi. Beliau dikenal akrab oleh mayoritas pegiat sastra tanah air melalui karya-karyanya, seperti “Reportase yang Menakutkan” (Kumpulan sajak, 1992), Hijrah (novel), “Zam, Sepercik Cinta di Kota Kecil” (novel, 2005), “Sayap-sayap Perlawanan” (novel, 2006) dan masih banyak lagi.

Beliau adalah cerpenis, novelis, esais, editor, dan wartawan yang telah banyak merasakan asam garam kehidupan politik di Indonesia. Puisi-puisinya tidak sedikit yang bicara mengenai kelucuan-kelucuan yang terjadi di negeri ini. Kelucuan berupa peristiwa yang ambigu dan paradoks itu diolah oleh penyair kelahiran Kotagede, 17 November 1954 itu menjadi puisi-puisi humor.

“Bagi Pak Mustofa, humor menjadi satu cara ampuh untuk merefleksi kesehatan jiwa manusia. Humor adalah kecerdasan umat manusia dalam menggapai keseimbangan hidup. Humor akan muncul di tengah situasi-situasi yang chaos bukan sekadar sebagai lelucon. Karena humor sejatinya akan mengajak orang untuk berpikir, bukan tertawa,” pungkas Tubagus.

(Milesia.id/ Sukandar, S.Hut)

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close