Milebisnis
Trending

Lezat Bratwurst a la Stella

Di atas penggorengan yang diolesi minyak tipis-tipis, perlahan sepotong sosis itu berubah kekuningan. Menguarkan aroma gurih dan harum rempah. Angkat dan tiriskan sejenak, coba pada gigitan pertama. Ada tekstur rasa crunchy, lezat dengan kombinasi daging dan bumbu yang memikat. Bratwurst, sosis resep khas Jerman itu disulap Stella Utomo menjadi karib dengan lidah orang Indonesia.

Stella Utomo (dok.pribadi)

Siapa tak kenal sosis? Penganan berbahan baku utama daging ini kian populer di masyarakat. Varian bentuk dan bahan bakunya juga kian beragam. Mulai dari sosis sapi, ayam, hingga ikan. Permintaan pasar terus meningkat, menuntut pebisnisnya harus pintar-pintar berkiat. “Rumah Asap” milik Stella Utomo, memproduksi sosis-sosis kelas premium dengan bahan bermutu.

Bratwurst adalah salah satunya. Bratwurst, kombinasi kata dari bahasa Jerman, brat yang berarti digoreng dengan sedikit minyak, dan wurst yang bermakna sosis. Kombinasi dari berbagai resep bratwurst di Jerman dengan komposisi campuran daging ayam dan sapi. Melalui proses pengasapan secara tradisional. Di bungkus menggunakan kulit sosis yang terbuat dari kolagen sapi. Lezat disantap dengan saus mustard dan sauerkraut sebagai pelengkap.

Stella Utomo (42), perempuan kelahiran Lampung itu, mengelola bisnis berbasis kuliner “Rumah Asap” di bilangan Cempaka Putih, Jakarta, sejak satu dekade silam. Bermula pada 2009, diawali dengan memproduksi dua jenis sosis dan 1 jenis daging asap.

Usaha rumahan kecil, dengan visi besar, memproduksi makanan sehat, bermutu dan halal. Tak mudah memang.  Banyak tantangan dan kendala sebelum akhirnya menemukan identitas baru, representasi mimpi memproduksi ‘Sosis Dunia’ alias sosis SONIA. Dengan logo gadis kecil beramput poni yang ceria. Sosis SONIA dan produk Rumah Asap lainnya, sudah bersertifikasi BPOM, bersertifikat Halal (MUI) dan HACCP.

Stella, penggemar hullahop ini, begitu antusias bicara rupa-rupa kuliner khas nusantara sembari mengontrol bisnis Rumah Asap yang ditekuninya. “Ada ide nggak, bikin saus daging asap dengan bahan baku buah atau tanaman asli Indonesia!” paparnya. “Bebek peking saus rosella!,” Milesia coba urun ide. “Haha, bisa dicoba, tuh!,” papar perempuan energik yang telah melanglang buana ke sejumlah negara Eropa untuk belajar kuliner itu.

Kemasan Bratwurzt (dok. Rumah Asap)

Stella si pemilik Rumah Asap – penyedia aneka sosis mulai dari daging asap, hingga ayam kodok, sempat berprofesi sebagai konsultan teknologi informasi. Rasa sayang keluarga memicunya secara sukarela melepas kerja kantoran dan menggeluti bisnis kuliner dengan menggagas Rumah Asap.

Penggemar olahraga dan yoga ini menyetel Rumah Asap sebagai dapur bagi produk kuliner berkualitas, sehat dan lezat. Pertimbangan Stella bukan semata-mata untuk bisnis. Ia juga ingin masyarakat bisa mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Sosis lantas jadi pilihan.

Awalnya, Stella mengaku susah mengubah citra sosis. “Banyak yang bilang sosis saya mahal dibanding yang dijual di supermarket,” keluh Stella. Stella menjual sosisnya antara Rp 50-57 ribu per setengah kilogram. Sementara daging asap harganya rata-rata Rp 25 ribu per 100 gram.

Sosis buatan Stella memang berbeda dari sosis yang lazim dijual di pasaran. Pertama, kandungan daging pada sosis buatan Stella lebih dari 80 persen. Stella juga tidak memakai pewarna dan MSG.

”Saya hanya menggunakan zat-zat yang terbukti aman seperti garam nitrat untuk mencegah pertumbuhan bakteri”. Selain kelezatan, Stella juga mementingkan keamanan konsumsi sosisnya. Karena itu, ia memelajari pemakaian zat kimia yang berbahaya. ”Sosis ini dikonsumsi juga oleh anak-anak saya, jadi harus aman,” imbuhnya.

Stella, belajar ihwal sosis di Augsburg, Austria (dok. pribadi)

Awal bisnis, Stella mengerahkan seluruh modal yang dimiliki. Untuk alat produksi, ia menggunakan dapur rumahnya sendiri, dibantu oleh asisten rumah tangganya. “Haduuh, nggak gampang juga memulai bisnis dengan bantuan asisten rumah tanggaku, kan merangkap-rangkap kerjanya, haha”.

Awalnya, Stella menawarkan dua produk, sosis ala Polandia dan Jerman, kielbasa dan bratwurst. Sosis kielbasa kebanyakan disukai anak-anak karena tidak terlalu banyak bumbu. Kielbasa dibuat dengan cara diasapkan secara tradisional dan dibungkus dengan kulit sosis yang terbuat dari kolagen sapi.  Sosis ini bisa langsung disantap tanpa harus mengupas kulitnya terlebih dulu.

Sosis ala Jerman, bratwurst, lebih banyak disukai orang dewasa. Sosis ini sebaiknya dipanggang di atas arang atau dimasak dengan sedikit minyak di atas wajan teflon. Meski kielbasa dan bratwurst tidak asli Indonesia, menurut Stella, rasanya telah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Hingga kini, dua jenis sosis ini menjadi andalan dan paling dicari orang.

Setelah berjalan lebih dari empat tahun, Stella sudah memiliki dapur khusus untuk memproduksi sosisnya yang belakangan diberi merk Sonia. Stella pun hanya melakukan supervisi terhadap karyawan-karyawannya, tidak perlu terjun langsung ke dapur setiap saat. Kini Stella sudah mengeluarkan beragam varian sosis, daging asap, produk siap makan, picnic roll, meatloaf, dan ayam kodok. Belakangan, seiring berkembangnya produk dan permintaan konsumen, Stella memindahkan rumah produksinya di Cileungsi, yang masih terhitung dekat dengan Jakarta. Melalui bisnisnya, Stella hingga saat ini mampu mempekerjakan 50 orang karyawan.

Bagi peminat sosis buatan Stella, konsumen dapat langsung melakukan pemesanan melalui situs Rumah Asap atau via email dan whatsapp. Sistem pembayarannya adalah cash on delivery atau khusus untuk pemesanan luar kota, perlu mentransfer terlebih dahulu. Produknya juga sudah beredar melalui marketplace sejumlah terkenal yang mudah diakses.

Ke depan, Stella berniat menambah varian produk yang dijual. Ia juga sudah menjajaki untuk membuka toko yang menyediakan makanan beku dan siap santap seperti mini smokey hotdog, mini burger, dan mini salmon en croute. Mak nyuss, Stella!

(Milesia.id/Prio Penangsang)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close