ANALISAMilesosbud
Trending

Ada ‘Upside Down’ di Peraga Kampanye Caleg 2019

MILESIA.ID, JOGJA – Beberapa pekan belakangan ruang visual di sekitar kita diramaikan oleh berbagai Alat Peraga Kampanye (APK). Mulai dari spanduk, poster, baliho berupa simbol-simbol partai yang berwarna-warni sampai gambar calon kontestan pemilu.

Dari sekian baliho yang terpampang di sudut-sudut jalan itu, ada satu gambar yang menggelitik: Calon legislatif DPR RI dari Partai Demokrat dapil Daerah Istimewa Yogyakarta, Roy Suryo, memasang wajahnya dengan pose terbalik.

Dengan dibumbuhi tulisan: Kader Demokrat S14P Jungkir Balik Demi Rakyat Jogja, Roy Suryo menegaskan bahwa dirinya siap jungkir balik atau melakukan apa pun demi kemajuan rakyat Yogyakarta.

Entah sengaja atau tidak, alat peraga kampanye unik itu mengingatkan kita pada Film Upside Down (2012). Film yang berkisah tentang dunia yang mengalami kekacauan akibat fenomena misterius. Fenomena itu menyebabkan timbulnya gravitasi ganda yang akhirnya menyebabkan lahirnya dua dunia yang berbeda di dalam satu planet: dunia atas (up top) dan dunia bawah (down below).

Penampakan dua dunia itu sangatlah kontras. Dunia atas dengan peradabannya yang sangat maju sedangkan dunia bawah sangatlah miskin dan tertinggal. Kondisi kotanya juga sangat berbeda. Up Top penuh cahaya dan sangat modern sedangkan Down Below hanya ada kegelapan, tidak teratur dan kumuh.

Jurang perbedaan yang digambarkan dalam ‘Upside Down’ itu tentu saja bukan alasan Roy Suryo untuk memasang gambar dirinya terbalik. Ia mengaku sengaja memasang foto terbalik agar menarik perhatian dan tidak monoton.

Walau terlihat unik, alat peraga kampanye baik berupa spanduk, poster, atau baliho adalah alat kampanye konvensional. Harusnya alat peraga itu tak menjadi media pengenalan diri yang utama, yang primer mestinya bertatap muka langsung dengan masyarakat.

Pentingkah alat peraga kampanye ?

IST – Baliho ‘jungkir balik’ Roy Suryo di ruas jalan Kota Yogyakarta.

Pada “tahun politik” 2019 ini, Alat Peraga Kampanye (APK) seolah dipasang tak lebih untuk memamerkan “barang dagangan politik” semata.

Mengutip laman news.detik.com, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan mengatakan caleg di pemilu tenggelam lantaran masih berkampanye dengan gaya konvensional, yakni alat peraga. Bahkan ada caleg yang sengaja memasang spanduk di tempat pemakaman umum (TPU).

“Kan belum efektif kampanye tatap muka. Sekarang masih gaya konvensional, pasang alat peraga kampanye sampai tempat pemakaman umum juga dipasang. Saya juga heran. Ini gaya baru ini. TPU dipasang alat peraga. Saya pikir ini kan orang meninggal nggak bisa milih. ‘Oh Anda salah, ini untuk orang yang ziarah’. Luar biasa,” ujar Wahyu saat menjadi pembicara di Para Syndicate, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/2/2019).

Menurut Wahyu, sebenarnya ada 9 metode untuk berkampanye, yakni pemasangan alat peraga kampanye, penyebaran bahan kampanye, pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, rapat umum, kegiatan lain sesuai undang-undang, iklan kampanye, dan debat capres-cawapres.

“Jadi ini kecanggihan, sayangnya kecanggihan ini hanya cara konvensional. Padahal ada 7 metode lainnya yang kalau dilakukan secara efektif akan dahsyat,” terang Wahyu.

Kampanye yang mendidik

IST – Kampanye dialogis idealnya dipilih caleg untuk mewujudkan interaksi dua arah.

Alat Peraga Kampanye (APK) berupa poster, spanduk, atau baliho semestinya tidak menjadi media pengenalan diri yang utama. Cara menyampaikan gagasan dengan bertatap muka langsung dengan masyarakat sejatinya lebih efektif dan ‘mengena’ secara esensi.

Lebih baik lagi jika kontestan pemilu membagikan naskah pemikiran (program) atau hasil riset menyangkut masalah riil di masyarakat untuk kemudian memberikan solusinya. Inilah kampanye edukatif.

“Misal tatap muka, pertemuan terbatas ini kalau dilakukan efektif kepentingan pemilih pasti dapat karena ada mekanisme interaktif lebih mendekatkan pemilu dengan pemilih tapi metode ini belum jadi pilihan utama. Pilihan utama masih alat peraga,” papar Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan.

Iya, kenyataannya bentuk kampanye konvensional memang masih lebih digandrungi. Caleg lebih suka memaksimalkan gambaran diri melalui alat peraga. Mereka berusaha keras membangun citra artificial berupa: kemasyuran, wibawa, kecantikan, loyalitas, komitmen, kecerdasan dan kecakapan yang ditonjol-tonjolkan demi meraup simpati massa.

Tak jarang, mereka menyandingkan potret diri dengan figur-figur populer, seperti Soekarno, Jenderal Sudirman atau SBY. Jarang sekali dan mungkin tidak ada caleg yang membahas materi FEW crisis (food, water, energy) secara khusus pada saat kampanye.

Yang terjadi saat ini, alat peraga kampanye bisanya dipakai untuk menganalisis dukungan politik masyarakat di wilayah tertentu. Jika di Desa A banyak bertaburan bendera Partai X dan poster caleg Y, bisa disimpulkan bahwa desa itu adalah basis suara parpol dan caleg bersangkutan.

Merentang asa

IST – Ilustrasi ‘kesenjangan’ dunia atas (Up Top) dan bawah (Down Below) dalam film Upside Down (2012).

Masih bersetia dengan cara-cara konvensional, para caleg sepertinya yakin bakal meraup suara rakyat pada pemilu legislatif 2019 ini.

Seperti mantan Menpora Roy Suryo yang begitu percaya diri memasang baliho jungkir balik dirinya. Ia berseloroh tentang bagaimana perjuangannya mengawal UU 13/2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Sejak di DPR 2009 lalu saya ‘rela jungkir balik’ apa pun demi masyarakat Yogyakarta. Jejak digital mencatat, meskipun saya kader Demokrat saat ramai-ramai keistimewaan Yogyakarta saya lantang menyuarakan Jogja Tetap Istimewa hingga akhirnya Presiden SBY mengesahkan UU Keistimewaan Yogyakarta,” ujar Roy (seperti dilansir laman beritaterkini.co, Kamis, 7 Maret 2019)

Roy Suryo menganggap balihonya itu terlihat berbeda dibandingkan baliho dari caleg lainnya, sehingga banyak mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Menurutnya, ada beberapa desain yang dipakainya selain berkonsep jungkir balik. Seperti menggunakan belangkon atau jas bersama SBY dan AHY.

“Desain berjungkir balik ria ini dipasang di Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta. Kalau Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul menggunakan desain baliho menggunakan belangkon,” jelas Roy.

Dengan realita kampanye seperti itu, masih bisakah kita berharap akan pemilu yang lebih demokratis di masa depan? Yang menciptakan sebuah bangun pemerintahan jujur dan adil? Ataukah hanya mengukuhkan jurang kesenjangan dunia “atas-bawah” seperti dalam Film Upside down?

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close