Mileslitera
Trending

Truntum Gumelar : Anak-anak Muda Pelintas Zaman

Bincang-Bincang Sastra Edisi 161, Peluncuran Antologi Geguritan Truntum Gumelar

MILESIA.ID – “Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu. Anak muda menawarkan masa depan.” Ujar Anies Baswedan pada Upacara Bendera Peringatan Hari Ulang Tahun ke-70 Kemerdekaan RI di Lingkungan Kemendikbud.

Anies yang kala itu menjabat Menteri Pendidikan menekankan pentingnya potensi generasi muda. Pemuda mesti memiliki gairah untuk membuat sejarah, bukan cuma membaca atau menulis sejarah.

Elan itu dibaca Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan komunitas Bala Jawa melalui acara Bincang-Bincang Sastra yang telah menginjak edisi 161. Mengusung tajuk: Peluncuran Antologi Geguritan Truntum Gumelar, acara yang terbuka untuk umum dan gratis ini sedianya digelar Sabtu, 23 Februari 2019 pukul 20.00 di Ruang Seminar Taman Budaya.

Menghadirkan sastrawan legendaris jebolan Universitas Malioboro yang juga sejawat Umbu Landu Paranggi: Iman Budhi Santosa, acara ini akan dipandu oleh Fajar Laksana. Juga akan hadir Jefrianto, sebagai pembicara lainnya.

Namun inti dari acara malam ini adalah penampilan para penggurit muda dari berbagai daerah, di antaranya: Asti Pradnya Ratri (Yogyakarta), Ari Kaysha (Wonogiri), Dimas Indiana Senja (Bumiayu), Tatik Fitri Kuswanti (Temanggung), G.M. Sigit Nurcahyanto Adhi (Yogyakarta). Di samping itu, juga akan tampil pertunjukan sastra berupa ludruk geguritan oleh Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).

Menjawab prasangka

IST/ SPS – Truntum Gumelar, mengangkat karya generasi muda gurit.

Buku berjudul “Truntum Gumelar” yang diterbitkan oleh Komunitas Bala Jawa dan Komunitas Sastra Rupa bekerja sama dengan Penerbit Interlude ini menghimpun karya-karya mutakhir para penggurit di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Buku ini terbit sebagai jawaban pandangan yang muncul selama ini, bahwa sastra Jawa adalah sastranya orang tua.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Sebab dalam kenyataannya memang yang lebih getol ngopeni sastra Jawa pada zaman kiwari ini lebih banyak para generasi tua.

“Namun senyatanya generasi muda masih memiliki perhatian terhadap seni tradisi, budaya lokal. Truntum Gumelar merupakan bukti bahwa generasi muda juga tidak kalah semangat dalam belajar dan menumbuhkan rasa cintanya terhadap sastra Jawa.” Ujar Jefrianto, salah seorang panitia penerbitan buku antologi geguritan Truntum Gumelar.

Jefri menambahkan, “di Facebook atau Instagram sering kali karya sastra jawa berupa geguritan melintas, terkadang juga sering kita jumpai menyisip di koran atau majalah berbahasa Jawa.”

Gairah yang jangan sampai padam

IST – Iman Budhi Santoso akan hadir dalam Bincang-Bincang Sastra, edisi 161 ini.

“Studio Pertunjukan Sastra menyambut baik dan nyengkuyung gagasan generasi muda sastra Jawa ini. Generasi muda sastra Jawa ini tentu saja mengobarkan gairah dalam jagad sastra Jawa bahwa masa depan sastra Jawa tidak sesunyi yang dikhawatirkan oleh generasi muda,” terang Sukandar, S.Hut, koordinator acara peluncuran buku kali ini.

Menurut Kandar, sastra Jawa selama ini dipandang sebagai masa lalu yang boleh jadi dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Tapi rasa-rasanya hal itu menjadi keliru. Sebab, karya sastra Jawa jika dicermati memiliki cita rasa tersendiri yang agaknya tidak semua orang mampu mengerjakan dan memahaminya.

Sastra Jawa kuno hadir dengan ilmu pengetahuan dan wawasan-wawasan kejawaan yang penting nilainya bagi masyarakat Jawa. Pertanyaannya adalah, sejauh mana karya sastra Jawa modern hadir di tengah masyarakat dengan kebermanfaatan yang tidak hanya soal berbahasa Jawa namun juga berbudaya Jawa?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh Jefrianto dan kawan-kawan Komunitas Bala Jawa dan Komunitas Sastra Rupa. Generasi muda di berbagai wilayah yang tersebar tanpa satu paguyuban yang mempersatukan nyatanya bisa saling mempertemukan karyanya dalam sebuah buku.

Generasi muda pelintas zaman

IST – Salah satu generasi muda yang ikut serta dalam festival geguritan.

Wawasan dan pandangan generasi muda menghadapi situasi sosial-budaya yang terus bergerak dan berubah, menjadi warna tersendiri dalam geguritan-geguritan yang mereka anggit.

Hal ini tentu saja penting dan perlu diperhatikan. Bukan saja menepis anggapan  bahwa sastra Jawa sudah mati, toh kalau sudah kita tidak pernah tahu di mana kuburannya, hadirnya buku antologi geguritan ini juga menjawab seperti apa sastra Jawa hari ini di tangan generasi muda.

“Semoga keberadaan sastra Jawa yang disengkuyung oleh generasi muda bisa hadir membuka pintu-pintu kesadaran bahwa zaman berubah berganti, tapi ada yang bertahan berkembang, meski ada pula yang akan hilang.

Namun, selama masih ada bayi lahir, niscaya masa depan gemilang tidak usah dicemaskan. Begitu pula dengan jagad sastra Jawa. Harapannya, langkah awal, teman-teman Komunitas Bala Jawa dan Komunitas Sastra rupa ini bukanlah yang pertama. Harus ada langkah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya dan selanjutnya,” pungkas Sukandar.

( Milesia.id/ Sukandar S.Hut, Kelik Novidwyanto )

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close