Milebisnis
Trending

Pintar-Pintar Si Warung Pintar

Setelah transportasi, penginapan, dan ritel, para pebisnis rintisan (start up) berbasis platform mulai menggarap para pewarung kecil. Diberi nama Warung Pintar, memoles warung-warung mungil pinggir jalan, nylempit di gang, jadi kinclong dengan sentuhan teknologi dan layanan modern.

Bermodalkan boks pendingin produk minuman botol berbahan baku teh, rak kaca kecil dan wadah plastik, Puji menggelar dagangan persis di samping sebuah bank swasta di bilangan Gondangdia, Jakarta-Pusat.

Roti seharga dua ribuan, rokok, kopi dan aneka minuman saset, kerupuk, kacang bawang, adalah beberapa dagangan yang ditawarkan Puji dari pagi hingga lepas maghrib. “Beberapa barang ada yang nyetok ke sini kalau habis, selalu ada yang beli,” papar perempuan paruh baya itu kepada Milesia.id. Puji, hanyalah satu dari ribuan pelaku usaha mikro yang masih bertahan di tengah kepungan usaha ritel waralaba yang terus tumbuh.

Kenapa pedagang (sangat) kecil macam Puji bisa eksis? Tentu, tersebab ada konsumennya. Biarpun saat ini adalah era serba online. Setidaknya, ada lebih dari 50 ribu warung di Jakarta saja.

Warung dengan kapasitas jual seperti Puji rata-rata menghasilkan pendapatan kotor Rp 300 ribu – Rp 500  ribu per hari. Untuk ukuran yang lebih besar, berupa warung yang melekat dengan rumah tinggal, omset  per hari bisa mencapai Rp 1 juta. Warung-warung itu, lazimnya dikelola secara sederhana.

Dua tahun lalu, geliat usaha pewarung kecil itu terendus sebuah perusahaan modal ventura, east ventures yang  berinisiatif membuat sebuah perusahaan untuk meningkatkan kualitas warung tradisional dengan bantuan teknologi.

IST : Paltform Warung

Dipaparkan Harya Putra, mantan Expansion Head dari co-working space EV Hive. Di balik mereka ada orang-orang yang lama berkecimpung di bisnis startup. Di posisi CEO ada Agung Bezharie, mantan Investment Associate di East Ventures. Arya Putra sebagai COO. Lalu Sofian Hadiwijaya. Serta Pandu Kartika Putra, yang aktif di Code for Bandung dan Code4Nation. Mereka telah memoles puluhan Warung Pintar yang tersebar di Jabodetabek.

Bagaimana format kemitraannya? Gampang. Para pemilik hanya perlu memberi komitmen, tenaga, serta waktu untuk memoles performa warung mereka. Ihwal tempat, pemilik warung pintar bebas menentukan lokasinya.

Milesia.id menemui dua Warung Pintar itu, Kamis (14/2) lalu. Warung Pintar milik Tuti, di kawasan Jalan Raya Kemang, dan Nenih, di ruas Jalan M. Nasir, Cilodong. Keduanya di Depok, Jawa Barat.

Warna kuning ngejreng mendominasi warung Tuti yang berukuran tak lebih dari 1,5 x 2 meter itu. Nylempit di beranda sebuah rumah yang berbatasan dengan gang yang hanya muat untuk pejalan kaki.

Tiga pengendara transportasi berbasis online tengah nongkrong sem,bari ngopi di bangku kecil di depan warung Tuti. Mereka nge-charge batre telepon genggam sembari menunggu orderan. “Iya, anak-anak ojol (ojek online) biasa nongkrong di sini, terutama malam. Ngopi, ngemil, sambil ngisi batre hape,” terang Tuti.

Menurut Nenih, pemilik Warung Pintar di kawasan M. Nasir, Cilodong, sejak warung kecilnya disulap jadi Warung Pintar pertengahan 2018 silam, omset usahanya naik. “Lebih banyak yang datang ke warung. Dulu paling banter dapat Rp 250 ribu per hari. Sekarang bisa Rp 400 ribu,” imbuh Nenih.

Warung Pintar milik Tuti dan Nenih sama-sama menggendong sejumlah aplikasi. Diantaranya aplikasi kasir, aplikasi pencatatan keuangan dan akuntansi, platform penjualan tiket, pulsa, dan barang-barang yang dijual di e-commerce. Di samping itu adalah aplikasi pengadaan produk. “Kalau mau kulakan barang untuk dijual di warung kita tinggal pesan lewat aplikasi, nanti diantar,” imbuh Tuti.

Konsultasi atas sejumlah persoalan pengelolaan warung juga diberikan Cuma-cuma. Termasuk bagi mereka yang ingin memulai usaha warung. Mulai dari survey lokasi usaha, pendanaan, hingga pendampingan dan pelatihan penggunaan platform Warung Pintar.

Up grading agar usaha berkembang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Para pewarung tak perlu galau untuk mengakses barang kebutuhan sehari-hari yang akan dijual. Termasuk pemanfaatan software penunjang dan penggunaan aplikasi digital.

Mencermati Warung Pintar, peneliti bisnis ritel HM. Yahya mengemukakan,  ritel kecil yang dikelola perorangan, umumnya masih memiliki banyak kelemahan mendasar untuk bisa bersaing dengan toko modern.

“Selain permasalahan mendasar dan klasik seperti minimnya modal kerja dan modal investasi, kualitas sumber daya manusia, dan prasarana toko, kini muncul problema yang memukul telak sektor Ritel di tanah air, yaitu merosotnya item produk yang dijual di toko Koperasi baik dari segi jumlah maupun kualitasnya,” papar Yahya kepada Milesia.id, Jumat (15/2).

Pendekatan para pewarung tradisional, lazimnya masih berupa pendekatan komoditas (Commodity Approach) yang kini terpusat pada pergeseran permintaan masyarakat dari Toko Konvensional (off line) ke bentuk baru On Line, dan adanya faktor-faktor lain sebagai penyebabnya.

“Dari media massa kita saksikan sudah ada 200an gerai sektor retail formal yang tutup karena merugi. Tetapi informasi lain menyatakan masih ada pertumbuhan sektor retail lain sebesar 5 % namun kalah bersaing dengan sektor online yang bertumbuh sampai 40 %. Inilah gejala pergeseran  permintaan (Sudden Line) yang perlu dikaj,” imbuh Yahya.

Masih menurut Yahya, memang benar yang kena ‘musibah’ akibat disrupsi teknologi bisnis ritel adalah gerai retail menengah ke atas, sedangkan warung-warung milik rakyat kecil umumnya level menengah ke bawah. Karena itu harus ada analisa yang lebih cermat dan teliti atas pergeseran barang dari convenience goods ke shoopping goods. “Warung Pintar itu sebentuk kecermatan dalam membaca pergeseran trend usaha kecil berbasis teknologi. Orang kecil bisa merasakan manfaatnya,” papar Yahya.

Kapan ya, lapak simbah dipintarkan? (Milesia.id/Prio P)

Menarik juga menyimak apa yang dilakukan aktivis koperasi Purwokerto terhadap eksistensi warung-warung tradisional di Wlahar Wetan, Banyumas. Sejumlah warung tradisional dipoles eksponen koperasi setempat dengan sentuhan modern dalam nafas koperasi. Tercatat delapan  warung yang akan disinergikan dalam satu manajemen. Meliputi manajemen pengadaan barang, penataan, keuangan dan lain-lain.

Dalam hal belanja, warung-warung desa itu tidak lagi belanja ke toko grosir melainkan langsung ke distributor. Belanja secara kolektif dalam jumlah besar langsung ke distributor jelas lebih menguntungkan. Termasuk peluang mendapatkan diskon.

Warung-warung di Wlahar Wetan inilah sejatinya yang akan berhadapan dengan Warung Pintar yang full teknologi. Dan sebagaimana watak bisnis berbasis platform non koperasi, pemegang kendali (juga profit) terbesar dari bisnis ini tetaplah investor dan pemilik platform.

(Prio Penangsang/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close