Milestories
Trending

Trauma Healing : Jangan Lagi Sebut Mereka “Korban”

 Berbagi Adalah Seni Merendahkan Hati

Saat itu pasca erupsi Merapi, di lokasi pengungsian. Di bagasi mobil pinjaman, ada baju, sebagian baju bekas layak pakai titipan teman-teman serta beberapa baju baru yang Saya beli di pasar.

Saya juga biasanya minta sisa-sisa plastik pembungkus baju yang tak terpakai ke toko-toko baju. Baju-baju bekas itu Saya lipat rapi dan masukkan ke plastik khusus pembungkus baju dari toko. Baju bekas dalam plastik itu lalu Saya masukkan ke tas bodypack yang hanya muat maksimal 10 baju.

Saya berjalan keliling pengungsian, sempat Saya melewati karung-karung baju bekas layak pakai yang isinya berhamburan. Sebagian kotor dan sebagian jadi wahana main anak-anak kecil, mirip susana mandi bola.

Saya bicara santai dengan beberapa orang yang terlihat murung, khususnya manula dan anak-anak. Termasuk pengungsi yang membantu di dapur umum. Setiap selesai ngobrol sejenak dengan pengungsi tersebut, saya keluarkan baju dari tas, sambil bilang, “Saya titip baju ini, memang bukan baju baru, terima kasih kalo nanti bisa dipakai dan bermanfaat”

Jika baju di tas habis, Saya kembali lagi ke bagasi mobil, mengisi lagi tas dengan beberapa lembar baju dan berjalan lagi ke sudut lain area pengungsian. Begitu terus, dan butuh waktu setengah hari, bahkan lebih. Tak terhitung berapa kali saya bolak-balik refill tas kecil dengan baju di bagasi.

Ini bukan cara efektif, namun Saya menikmati setiap perjumpaan dan obrolannya yang kadang bikin sedih, ada juga yang bikin Saya ketawa. Di salah satu lokasi pengungsian, saat Saya berjalan ke mobil dan mau pulang, ternyata seorang kakek mengikuti sambil terus mendekap di dadanya baju yang Saya kasih.

Saya lalu bertanya, “Ada yang mau disampaikan atau ada yang bisa saya bantu lagi ?”

“Sudah tiga hari saya gak ganti baju, Saya hanya mau bilang terima kasih”

“Alhamdulillah, kok gak langsung dipakai aja bajunya ?”

“Sayang, nanti kotor, Saya mau pakai buat sholat aja”

Kakek itu ngotot mau mengantarkan Saya sampai ke parkiran mobil, bajunya masih didekap di dada. Sampai akhirnya kami berpamitan, kembali ke base camp relawan.

Baju yang kami bawa ke lokasi pengungsian, prinsipnya sama dengan baju yang di karung-karung yang digeletakkan dan berhamburan di samping gedung pengungsian, sama-sama baju bekas layak pakai.

Bedanya kami hanya melipatnya, memasukkannya ke dalam plastik dan menyampaikannya secara personal sambil ngobrol santai. “Apakah ini termasuk trauma healing ?”, tanya seorang kawan yg menemani. Entahlah, mungkin lebih tepat dibilang usaha untuk memanusiakan manusia.

Di atas adalah penggalan pengalaman Daurie Bintang, relawan dan praktisi trauma healing. Dosen dan jebolan Teknik Informatika Sekolah Tinggi Sains &  Teknologi Bandung ini, membagi pengalamannya dalam sebuah grup diskusi yang dihelat Komunitas Organik Indonesia (KOI), Jumat malam (1/2).

Disamping sebagai aktivis seni dan budaya, Daurie pernah bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) . Ia intens mengambangkan aplikasi art therapy menggunakan elemen gambar, warna, musik, dll.

IST. Ring of Fire

Ring of fire! Cincin api. Lantas alam menandainya dengan bencana alam gempa bumi, tsunami, banjir, dan hingga pekan pertama Februari ini, ditandai dengan meningkatnya aktifitas vulkanik gunung berapi di sejumlah daerah. Daurie mengawali diskusi dengan mendedah fakta ihwal Indonesia sebagai kawasan rentan bencana alam. Apa yang bisa dilakukan untuk membantu menangani para penyintas bencana alam?

“Kita akan sharing tentang self healing,  khusus handling teman atau keluarga di lokasi bencana. Mengingat Indonesia adalah daerah yang rawan bencana. Negeri kita di kelilingi cincin api, foto di atas belum termasuk peta kawasan banjir dan patahan bumi. Itu hanya gambaran saja dan Saya akan share sedikit pengalaman di lokasi bencana,” papar Daurie.

Label “Korban” Sebaiknya tidak Digunakan

Anak-anak penyintas bencana (Daurie Bintang/Milesia.id)

Foto di samping adalah foto anak kecil di lokasi pengungsian. Meskipun mereka adalah korban,  maka secara etika dan psikologis,  sebaiknya pemberian label untuk identifikasi cukup dengan menyebut nama,  lokasi, dll, tanpa embel-embel ‘korban’.

Begitu juga dalam interaksi antara petugas atau relawan dengan penyintas,  tidak menyebut orang-orang yang terkena bencana sebagai korban. Termasuk dalam nama atau judul kegiatan dan dokumentasi. Jadi, penamaan korban diganti jadi “penyintas”. Kemudian nama kegiatan seperti trauma healing diganti dengan “dukungan psikososial awal”.

Cerita tentang “baju dalam plastik” di atas, merupakan pengalaman Saya di Merapi bertahun lalu, yang akhirnya Saya terapkan di beragam lokasi pengungsian dan beragam bencana. Ada foto di lokasi pengungsian, juga pakaian yang dibuang oleh pengungsi. Ini masuk kategori foto yang paling sopan sebenarnya.

Tips self healing

Berbagi adalah sebuah seni utk merendahkan hati. Kitalah yang seharusnya berterima kasih sebab mereka memberi kesempatan kita untuk berbagi. Semoga tips ini bermanfaat untuk kawan-kawan yang suka berbagi di lokasi bencana, rumah jompo, panti sosial, panti asuhan, dll

Ada 3 hal yang Saya lakukan untuk support recovery penyintas bencana : Sentuhan, Pijatan / massagesBody movements &  pernapasan.

Tiga hal ini sebagai intervensi psikologis sekaligus juga berdampak bikin fisik lebih fresh. Ada lebih dari 140 teknik yang berasal dari 11 negara di dunia yang dipelajari oleh trainer capacitar international.

Massages di pengungsian (Daurie Bintang/Milesia.id)

Namun untuk tools yang biasa digunakan di lokasi bencana ada sekitar 15 teknik. Ini adalah teknik sentuhan dan pijatan yang dilakukan untuk pasien stroke dan psikosomatis.  Ada juga untuk petugas yang sudah 2 hari gak bisa tidur sebab fatique.

Kenapa fokusnya pada sentuhan,  body movements,  pernapasan dan  pijatan?  “Coba aja bayangin,  tidur di tenda berhari-hari, rumah hancur,  keluarga hilang. Lalu ada yg datang kasih nasehat dan beragam omongan tentang kesabaran . Yakin itu gak nyebelin?,” papar Daurie.

Tasbih, misalnya, itu adalah alat “reframing”. Keluhan,  teriakan kesakitan kaki yang patah atau luka,  beban dalam hati,  dll.  Katarsisnya tetap bisa dikeluarkan,  hanya diganti jadi doa. Ini adalah teknik reframing. Kejadian dan kesakitan tidak diubah,  hanya cara reaksinya yang diubah.

“Dan perhatikan cara memberikan sesuatu pada penyintas. Diberikan satu persatu. Diraih dan disentuh tangannya. Dimanusiakan,  disentuh,  dihargai. Perhatikan kalimat “saya titip”. Tidak Saya gunakan kata “Saya kasih” atau “Saya berikan”.

Ini by design untuk menghaluskan bahasa,  menghargai dan menyetarakan penyintas dengan kita sebagai relawan atau pihak yang memberi bantuan.  Bahasa yang menyentuh hati. Itu esensi utk memanusiakan dan menyentuh penyintas.

Pijatan dan sentuhan personal (Daurie Bintang/Milesia.id)

“Di lokasi bencana Saya melakukan ToT yang bisa untuk ratusan relawan, tenaga kesehatan,  petugas,  dll. Dalam 3 jam atau 1 – 2 hari,  saya bisa bagikan atau ajarkan beragam teknik self healing untuk puluhan bahkan ratusan orang sekaligus.  Namun ada yang lebih penting dari teknik,  yaitu : attitude .Saya lebih menikmati momen pertemuan sederhana dengan cara sederhana seperti dengan nenek-nenek dan anak-anak seperti foto di atas”.

Perlu dipahami adalah, bahwa tidak semua anak-anak atau orang dewasa di lokasi bencana itu mengalami trauma. Jika shock, stres,  dll  itu wajar. Nah, metode bermain, merupakan salh satu cara untuk release stress dan mengendurkan ketegangan fisik anak-anak. Hanya, penggunaan kata trauma yang mesti hati-hati..

Anak-anak sebenarnya paling gampang release dibanding orang dewasa. Anak-anak memiliki kemampuan untuk adaptasi dan fleksibel. Tak semua penyintas anak-anak itu trauma,  malah banyak orang dewasa yang trauma. Salah satu ciri anak-anak di lokasi bencana yang mengalami trauma, secara fisik biasanya mereka mengalami gangguan pencernaan,  gangguan pernapasan,  dll

Aktifitas yang umum memang bermain. Namun yang penting adalah menyediakan tempat berteduh yang aman,  perlindungan,  dll.

Mainan handmade (Daurie Bintang/Milesia.id)

Mainan yang dibagikan juga by design. “Itu sengaja saya pesan dan bawa dari kampung dolanan di Jogja. Mainan yang gak bisa di download. Kenapa mainan itu yang dibawa?  Sebab ini soal energi,  mainan itu dibuat oleh orang-orang tua dengan passion dan cinta,  energinya keren”.

Bagaimana dengan remaja? Remaja,  paling asyik itu diajak jadi team relawan.  Misalnya : bantu di dapur umum,  bantu di logistik,  dll. Salah satu teknik trauma healing yang efektif adalah mengubah kondisi penyintas dari posisi korban menjadi orang yang membantu orang lain.(*)

(Di bawah ini adalah link untuk notulensi Diskusi Online tentang The Art of Self Healing bersama Daurie Bintang).

https://drive.google.com/drive/mobile/folders/0B3QuvYwpH4I7cExMM0JCRjdYVXc?usp=sharing

(Milesia.id/Prio Penangsang)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close