ANALISAMilescoop
Trending

Balada Mi Instan: Dibenci sekaligus Dirindukan

MILESIA.ID – Yulfita (37) bersungut-sungut setiap anaknya merengek minta dibuatkan mi instan. Bagi ibu dua anak itu, mi instan adalah junk food (tidak sehat), tidak bergizi dan racun pembunuh nan kejam.

Lain lagi dengan Dono (37), penyuka aneka sajian mi ini tidak antipati kepada mi instan. Faktor praktis dan murah menjadi alasannya. Namun ketika ditanya apakah menyantap mi instan termasuk gaya hidup sehat? Lelaki asal Kulon Progo itu menggeleng. Secara pribadi, ia lebih percaya pada olahan bakmi jawa atau mi ayam dibanding mi instan.

Mayoritas masyarakat kita memang dihantui ketakutan berlebihan terhadap mi instan. Meski berkali-kali Badan POM menjelaskan bahwa mi instan aman, banyak yang bersikukuh bahwa makanan ini tidak sehat (junk food), memicu obesitas, berisiko kanker, menyebabkan kerusakan usus dan berbagai efek menyeramkan lainnya.

Namun lucunya, masyarakat yang fobia pada mi instan kemasan yang sudah berstandar Internasional, malah tidak khawatir dengan mi tradisional dan mi kemasan “home industry” yang belum diketahui jenis dan kandungan bahan pengawetnya.

Di sisi lain, ketakutan yang berlebihan akan kualitas kesehatan mi instan itu, nyatanya tidak menyurutkan popularitas mi instan di masyarakat.

Sejarah mi instan

IST – Momofuku Ando, kreator “Chicken ramen”, mi instan pertama di dunia.

Muncul di tahun 1958, kelahiran mi instan di Jepang berselang 10 tahun sejak kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. “Chicken Ramen”  merupakan mi instan pertama di dunia.

Mengutip laman Kompas.com berjudul ‘Mi Instan Jadi Candu Dunia, Indonesia Nomor 2 Pengonsumsi Tertinggi’, kreasi Momofuku Ando ini dinilai sebagai produk ‘mindblown’ alias yang mengubah pola pikir konsumsi masyarakat tentang mi.

Mi yang biasanya harus dibuat dan dimasak dalam waktu lama, lewat tangan dingin Ando disulap menjadi lebih praktis. Mi instan dibuat dengan mengeringkan mi yang dikukus dan dibumbui dalam minyak panas. Tentunya mi instan juga jauh lebih tahan lama dibandingkan mi tradisional yang dibuat secara konvensional.

Produsen kenamaan Nissin menjadi penggerak produksi mi instan pertama kala itu, mereka memproduksi secara masal mi instan dengan menetapkan seluruh proses metode manufaktur industri: pembuatan mi, mengukus, bumbu, dan dehidrasi dalam minyak panas. Produk yang siap untuk dimakan hanya dalam dua menit dengan menambahkan air mendidih dijuluki “ramen ajaib,” dan menjadi sensasi populer instan.

Di tanah air, popularitas mi instan tak kalah meroket. Tahun 1968 menjadi kelahiran pertama mi instan di Indonesia lewat merek “Supermi” produksi PT. Lima Satu Sankyu. Berikutnya di tahun 1970, PT. Sanmaru Food Manufacturing berdiri dan masuk ke pasar mi instan Indonesia dengan produk “Indomie”. Disusul tahun 1982 oleh PT. Sarimi Asli Jaya dengan merek “Sarimi”.

Selang dekade berikutnya, Supermi dan Indomie diakuisisi oleh Salim Group, Sudono Salim kemudian menjadi raja mi instan tanah air. Sejak saat itulah perkembangan mi instan di Indonesia semakin menggila. Dari varian goreng, rebus, kemudian berkembang meniru cita rasa kuliner khas masing-masing daerah di tanah air.

Indonesia konsumen mi instan kedua di dunia

Faktor ekonomis dan praktis menjadi alasan utama masyarakat memilih mengonsumsi mi instan. Kemudahan menyiapkan mi instan serta rasanya yang lezat memicu banyak orang untuk menyimpan stok mi instan di lemari dapur mereka. Mi instan kerap dijadikan pilihan untuk mengganjal perut, sebagai cemilan, atau teman nongkrong di warung-warung kopi bahkan restoran.

Mengutip laporan World Instant Noodles Asosiation (WINA), konsumsi mi instan di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 12,63 miliar porsi atau naik 2,7% dari tahun sebelumnya (2016). Hal ini menempatkan Indonesia sebagai konsumen mi instan terbesar kedua di dunia yang melampaui Jepang 5,66 miliar porsi, India 5,42 miliar porsi dan Vietnam 2,06 miliar porsi.

Sedangkan posisi teratas masih ditempati China dengan jumlah konsumsi sebanyak 38,970 miliar porsi. Kebiasaan menikmati mi instan sepertinya menjadi budaya tersendiri bagi masyarakat Asia menjelang 6 dekade belakangan ini. Terbukti, 10 dari 15 negara dalam daftar teratas yang dikeluarkan WINA konsumsi tinggi mi instan ini berasal dari negara-negara di Asia, dimana hampir 80 persen mi instan dikonsumsi setiap hari.

Bahan pengawet industri makanan

IST/ INDOZONE – 1968 menjadi awal kelahiran mi instan di tanah air lewat merek “Supermie”.

Dibalik popularitas mi instan, masyarakat dicekam ketakutan akibat berita-berita yang belum pasti kebenarannya. Seperti berita yang menyebut mi instan mengandung lilin, menyebabkan kanker, kerusakan organ (usus), memicu obesitas (kegemukan), kerusakan jaringan otak, dan berbagai hal menyeramkan lainnya.

Uniknya, masyarakat lebih merasa aman dengan mi produksi tradisional atau home industry yang banyak dikonsumsi untuk rumah makan, restoran dan penjaja mi goreng keliling. Padahal produk mi instan sejatinya diawasi ketat melalui standarisasi internasional yang ditetapkan Codex Alimentarius Commission (CAC), sedangkan produk rumah tangga lainnya belum tentu mengikuti proses standarisasi itu.

Mi produksi “home industry” yang banyak dijual di warung-warung pinggir jalan, pasar tradisional atau bahkan di super market saat ini sesungguhnya tidak menyajikan secara detail mengenai kadar bahan pengawetnya. Apakah kandungan bahan kimia itu berbahaya atau tidak? Faktanya kerap dijumpai beberapa jenis mi yang dicampur bahan pengawet makanan berbahaya semacam borax atau formalin.

Bahkan kita kerap menyaksikan di media massa aparat kepolisian menggerebek “home industry” pembuat mi yang menggunakan zat berbahaya berupa formalin. Pada tahun 2018 saja, Polres Garut menggerebek sebuah pabrik mi berformalin yang berlokasi di Kampung Kaum Lebak, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Garut, Kamis (24/5/2018).

Satuan Reserse Narkoba Polres Cianjur kembali menggerebek pabrik rumahan yang diduga memproduksi mi yang mengandung formalin pada Senin (10/12/2018). Penggerebekan dilakukan di Kampung Gelar, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur, Jawa Barat.

Penggunaan pengawet dalam industri makanan kiwari, sebenarnya suatu hal yang lazim. Hampir 90% industri makanan kemasan tidak lepas dari penggunaan bahan pengawet. Dalam industri makanan modern saat ini, memang diperlukan penggunaan teknologi pengawetan pangan untuk membuat makanan tahan lama dan berkualitas.

Untuk mi instan, BPOM menyebutkan bahwa mi instan di pasaran menggunakan bahan pengawet methyl p-hydroxybenzoate dan benzoic acid. Bahan pengawet tersebut sebenarnya masih aman dan boleh digunakan dalam kadar tertentu.

Mengutip laman kompas.com berjudul ‘Salah Kaprah: Mi Instan Ditakuti, Mi Lain Digemari’, salah satu teknik pengawetan pangan adalah memberikan bahan tambahan pangan (BTP) untuk pengawetan, hal ini dilakukan dengan menambahkan suatu bahan kimia dengan jumlah tertentu yang memiliki efek mengawetkan serta aman dikonsumsi manusia. Jenis dan jumlah pengawet yang diijinkan untuk digunakan telah dikaji keamanannya.

IST – Konsumsi mi instan di Indonesia tahun 2017 mencapai 12,63 miliar porsi.

Indonesia sendiri sejatinya menganut Standarisasi internasional yang ditetapkan Codex Alimentarius Commission (CAC). Forum CAC (Codex Alimentarius Commission) merupakan organisasi perumus standar internasional untuk bidang pangan. Berbagai produk dan industri makanan yang ada di Indonesia harus dibuat berdasarkan standarisasi CAC.

Berdasarkan Permenkes No.722/1988, bahan pengawet yang diizinkan untuk makanan dalam kadar tertentu terdiri atas: Asam Benzoat, Asam Propionat, Asam Sorbat, Belerang Dioksida, Metil p-Hidroksi Benzoat, Kalium Benzoat, Kalium Bisulfit, Kalium Meta Bisulfit, Kalium Nitrat, Kalium Nitrit, Kalium Propionat, Kalium Sorbat, Kalium Sulfit, Kalsium Benzoit, Kalsium Propionat, Kalsium Sorbat, Natrium Benzoat, Metil-p-hidroksi Benzoit, Natrium Bisulfit, Natrium Metabisulfit, Natrium Nitrat, Natrium Nitrit, Natrium Propionat, Natrium Sulfit, Nisin dan Propil-p-hidroksi-benzoit.

Bahan tambahan yang juga diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dengan batas maksimum penggunaan. Selain Nipagin, ada beberapa jenis pengawet lain yang diizinkan BPOM untuk digunakan dalam mie instan misalnya asam benzoat dan propeonat. Methylparaben atau methyl p-hydroxybenzoate (methyl parahydroxybenzoate) juga terdapat dalam makanan instan.

Untuk makanan seperti mi instan sendiri, asalkan tidak melebihi kadar maksimum yang ditentukan Badan POM, yakni 250 mg per kg, sebenarnya masih diperbolehkan. Dalam jumlah tertentu dan bahan tertentu, tubuh manusia masih bisa mentolerir.

Tidak hanya kandungan bahan tambahan (pengawet), konsumsi makanan lainnya pun mempunyai batas toleransi untuk dikonsumsi. Seperti pada jenis alkohol, kafein (kopi), atau makanan lainnya. Dalam jumlah berlebihan makanan tertentu akan mengganggu fungsi tubuh manusia. Kondisi tubuh masing-masing individu juga berpengaruh. Pada manusia normal (sehat) umumnya, zat pengawet tidak terlalu berdampak signifikan. Karena sistem metabolisme tubuh yang baik untuk mengeliminasi dan mengeluarkan zat kimia dari dalam tubuh.

Tapi pada kondisi tertentu khususnya pada anak-anak yang sistem tubuhnya tidak berjalan sempurna, zat kimia sulit dibuang dari tubuh sehingga tersimpan dan mengganggu fungsi tubuh lainnya. Hal ini harus diwaspadai pada anak-anak dengan gangguan saluran cerna seperti hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome.

Gejala saluran cerna lainnya seperti mudah muntah, nyeri perut, mulut berbau, kembung, sering buang angin, air liur berlebihan, lidah kotor dan putih serta berbagai gejala lainnya. Namun bahaya atau efek samping bagi tubuh akibat pengaruh methyl p-hydroxybenzoate dan benzoic acid bagi tubuh secara jangka panjang sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti.

MSG, plastik dan pendapat ahli

IST – Keberadaan pengawet (borax) pada industri mi rumahan terkesan diabaikan.

Beragam informasi yang menyebut mi instan menyebabkan kanker, obesitas, gangguan metabolisme, kerusakan jaringan otak  dan dampak negatif lainnya, sebenarnya belum mempunyai bukti ilmiah yang lengkap. Kalaupun opini itu muncul, mungkin hanya berdasarkan hipotesa beberapa klinisi saja.

Seperti mengutip laman kumpulanilmukesehatan.blogspot.com berjudul “Pengertian Mie Instan dan Kandungan yang Terdapat pada Mie Instan”, Dr. Hasan Budiman, kepala laboratorium Fakultas Kedokteran UI menyatakan, bahwa dalam seluruh sampel mi instan yang diambil di pasar swalayan, toko-toko, dan warung di wilayah DKI dan sekitarnya ditemukan bahan plastik yang tidak mungkin bisa dicerna dalam sistem pencernaan kita.

Fenomena fobia ini juga terjadi pada MSG (monosodium glutamate). Ketakutan pada MSG, sampai 100 tahun penggunaannya di dunia, tidak pernah mempunyai bukti ilmiah yang jelas. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menggolongkan methylparaben dalam kategori Generally Recognized as Safe (GRAS). Artinya, bahan kimia ini termasuk aman untuk digunakan pada produk makanan.

Sebagai pengawet makanan, methylparaben memiliki keunggulan dibanding pengawet lain karena lebih mudah larut air. Kelebihan lainnya, methylparaben tidak hanya mencegah pertumbuhan bakteri pada makanan instan dan awetan tapi juga membantu menjaga kestabilan rasa sehingga makanan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Di dalam tubuh, senyawa ini juga relatif aman karena mudah dimetabolisme. Karena mudah diserap, baik melalui saluran pencernaan maupun kulit, senyawa ini juga lebih cepat dikeluarkan dari dalam tubuh.

Disisi lain, mengutip laman tribunnews.com berjudul ‘Mie Instan Bisa Jadi Santapan Sehat Asal Meraciknya Begini’, Dr. Fiastuti Witjaksono, SpGK dari departemen gizi fakultas kedokteran UI Jakarta berujar: “Mi instan adalah sumber karbohidrat yang bukan komplek. Bahannya terbuat dari terigu, tepung yang diproses. Makin diproses, sumber karbohidrat jadi makin kurang sehat. Selain itu, di dalam kemasan mi instan terdapat terdapat bumbu dan minyak. Bumbu dan minyak ini yang bikin mi instan jadi enak karena banyak garam, penyedap dan lemak dari minyak.”

IST – Penggerebekan pabrik mi berformalin.

Meski begitu, Dr. Fiastuti berpendapat salah kaprah jika melarang mengonsumsi mi instan. “Boleh-boleh saja makan mi instan, asal ada syaratnya,” katanya. Syarat pertama adalah mengurangi bumbu dan minyaknya. Bumbu harus dikurangi agar asupan natrium yang berlebihan bisa dihindari. Minyak bumbu mi instan pun harus dikurangi untuk mengurangi asupan lemak.

Bahan pengawet berbahaya (sebenarnya) justru dijumpai pada mi buatan industri rumahan karena pengawasannya yang lemah. Keberadaan pengawet berbahaya seperti formalin atau borax pada industri mi rumahan justru terkesan diabaikan.

Padahal formalin merupakan zat yang bersifat “karsinogenik” atau bisa memicu kanker. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing yang diberi formalin dalam dosis tertentu dalam jangka panjang, ternyata mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan.

Secara kasat mata, ciri mi yang berbahan pengawet berbahaya dan berbahan pewarna berbahaya adalah biasanya mi berwarna kuning terang (mencolok), terasa lebih bertekstur (kenyal), lebih kasar (keras) serta awet sampai beberapa hari. Sebaliknya, mi yang tanpa bahan pengawet berbahaya biasanya justru berwarna kepucatan-tidak menarik, terasa lembek dan lebih lunak.

Bijak mengonsumsi dan konsep “back to nature”

IST – Agar sehat, mi instan disajikan bersama sayuran dan sumber protein lainnya.

Menghindari perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, terutama modernisasi industri pangan, tentu suatu hal yang muskil.

Meski data ilmiah belum membuktikan bahaya methyl p-hydroxybenzoate dan benzoic acid pada mi instan secara gamblang, bukan berarti kedua zat itu aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Keterbatasan data ilmiah menjadi salah satu alasan sulitnya menentukan batasan dosis yang boleh dikonsumsi oleh manusia.

Alat kontrol paling bijaksana tentu berawal dari keluarga. Orangtua harus selektif dalam membeli makanan instan. Pembelian makanan instan sebaiknya memperhatikan label ijin BPOM. Dengan data tersebut pihak yang berwenang (BPOM) dapat menentukan dengan pasti batas keamanan suatu bahan pengawet yang digunakan.

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah penggunaan bumbu mi instan. Alangkah baiknya  jika orangtua menghindari memakai bumbu instan, melainkan meracik sendiri bumbu dari bahan-bahan alam yang tersedia. Konsep “back to nature” seperti menggunakan bawang merah, bawang putih dan garam adalah solusi yang cerdas.

Agar sehat, hendaknya mi instan disajikan bersama dengan sayuran dan sumber protein sehingga tercapai komposisi ideal 60 persen karbohidrat, 15-20 persen protein dan 30 persen lemak. “Sumber protein paling mudah ditambahkan di mi instan adalah telur. Sumber protein telur ini termasuk yang paling baik karena mengandung asam amino yang paling lengkap,” terang Dr. Fiastuti Witjaksono (mengutip laman tribunnews.com).

Jika langkah-langkah bijak itu dilakukan, orangtua dan anak-anak penggemar mi instan dapat melahap kenikmatannya tanpa harus dihantui kecemasan. Melakoni pola hidup modern tanpa mengesampingkan konsep “back to nature” adalah solusi paling aman dan ideal bagi kesehatan kita.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close