Mileseducation
Trending

“Snake Bites Management in Disaster : Mengatasi ‘Bencana’ Tersembunyi Pasca Tsunami”

“Ada kasus 14 gigitan ular berbisa dari jenis Calloselasma rhodostoma hanya dalam seminggu pasca tsunami dan banjir di kawasan Pandeglang, Banten. Ini kondisi luar biasa (KLB) !,” sebuah pesan teks masuk ke ponsel Milesia.id, di sebuah pagi ketika sejumlah orang masih asyik melanjutkan tidur usai perayaan tahun baru, 1 Januari 2019 lalu.

Calosellasma rhodostoma (Dok. Gernot vogel)

Pengirimnya adalah Dr. dr. Tri Maharani, SpEM, advisor temporary and snakebite envenoming working group WHO, yang pekan sebelumnya bertugas sebagai relawan medis di kawasan terdampak tsunami. Sampai 31 Desember 2018, tercatat 437 orang tewas dan 14.059 luka dalam bencana tsunami Selat Sunda.

Data lawas dari World Health Organization (WHO) menyebutkan, kasus gigitan ular berbisa mencapai 125 ribu kasus per tahun. India, 2 juta per tahun, Vietnam 20 ribu per tahun, Thailand 6 ribu per tahun,  Indonesia, angka korban tercatat 11.581 jiwa (2010).

Di Indoensia, statisitik kasus gigitan ular yang didapat dari data real di lapangan dan dicatat secara teratur masih sangat terbatas. Data yang dihimpun Dr. Tri Maharani di sejumlah daerah di Indonesia, menunjukkan rerata prevalensi korban gigitan ular berbisa yang berbeda-beda.

Periode 2016-2017, misalnya, dilaporkan terjadi 728 kasus gigitan ular berbisa (RECS, Oktober 2017). Dari jumlah itu tercatat 35 kasus gigitan berujung kematian korban. Diperkirakan, angka yang tidak tercatat masih cukup tinggi.

Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten  sempat mencatat 422 kasus gigitan ular di wilayah itu pada 2013. Dari jumlah itu, 90% disebabkan oleh gigitan ular Calloselasma rhodostoma. Ular berbisa tinggi dari family viperidae yang di kalangan masyarakat setempat bernama lokal oray lemah (ular tanah) atau oray gibug

Calloselasma rhodostoma, ular dengan warna cokelat tanah dengan sejumlah motif segitiga cokelat gelap atau cenderung hitam di bagian punggung. Bertubuh gemuk dan cendeung pendek dengan ukuran dewasa tidak sampai 1 meter. Ular jenis inilah yang sampai pekan lalu, mencatatkan 14 kasus gigitan di kawasan terdampak tsunami Selat Sunda.

Secara biologis, ular sangat tergantung pada habitatnya. Kasus bencana alam, termasuk tsunami, sangat mungkin ‘menggeser’ populasi ular dari satu habitat ke habitat lainnya. Ia bisa saja hanyut terbawa arus air, dan tetap membutuhkan sumber-sumber penopang kehidupan. Diantaranya adalah makanan dan ruang hidup yang sesuai.

Berhubung ular termasuk hewan berdarah dingin atau tidak memiliki sistem metabolisme yang secara biologis dapat beradaptasi secara otomatis terhadap suhu lingkungan, maka ia cenderung mencari tempat hangat atau sejuk sesuai kondisi eksternal lingkungannya.

Dalam situasi demikian tak jarang muncul konflik antara manusia dan ular. Manusia cenderung menganggap ular melakukan infiltrasi ke habitatnya. Padahal yang terjadi lebih sering sebaliknya, manusialah perusak habitat ular yang paling intens dan massif.

Terkait konflik ular dengan mahluk hidup di sekitarnya, ular cenderung menggigit untuk dua keperluan, yaitu untuk melumpuhkan mangsa dan sebagai respons pertahanan diri.

Meskipun kasus gigitan ular di Indonesia relatif tinggi dan jumlah korban jiwa maupun cacat fisik terus bertambah, harus diakui belum ada mitigasi dan tatalaksana pengelolaan yang sistematis, terstruktur, dan terpusat.

Padahal, dampak gigitan ular, terutama dari jenis berbisa, dapat menimbulkan kecacatan dan bahkan kematian. Di Indonesia, standar penatalaksanaan korban gigitan ular berbisa belum dikuasai secara merata, bahkan di kalangan tenaga medis dan para medis.

Baru DR Tri Maharani yang secara massif berusaha menyosialisasikan penatalaksanaan korban gigitan ular berbisa dengan standar WHO terbaru (2016), di kalangan medis, rumah-rumah sakit, kalangan yang berpotensi tergigit ular berbisa, hingga komunitas pemerhati dan penggemar ular.

Dampak gigitan ular berbisa dapat berupa dampak fisik, psikis, hingga sosial. Secara fisik ia bisa menyebabkan kecacatan dan bahkan kematian. Secara psikis, kecacatan yang ditimbulkan akibat dampak gigitan ular berbisa menjadikan kualitas hidup seseorang berubah.

Secara sosial dan ekonomi, korban gigitan ular berbisa yang meninggal dunia akan mewarisi keluarga yang perlu dihidupi. Jika sang korban gigitan adalah kepala keluarga, maka tanggungan keluarga yang ditinggalkan akan sangat berat.

Dari catatan Milesia.id, sepanjang 2018, peta kasus gigitan ular berbisa belum beranjak jauh dari kejadian serupa tahun sebelumnya. Korban berasal dari sejumlah kalangan. Diantaranya petani, pekerja perkebunan, hingga kalangan komunitas penggemar reptil, terlebih yang melakukan praktek free handling untuk keperluan show atau sekedar ‘eksistensi diri’ atau iseng cari sensasi.

Snake Bites Management in Disaster

Cukup menarik adalah kasus snake bites di area terdampak bencana tsunami Selat Sunda. Berbeda dengan kasus gempa dan tsunami di Lombok dan Poso, kasus gigitan ular berbisa di area terdampak tsunami Selat Sunda terbilang mengejutkan.

Tri Maharani (kedua dari kiri), melatih teknik immobilisasi (Dok. Tri Maharani/Milesia,id)

“Awalnya ada tenaga medis dari kalangan relawan yang konsultasi, yaitu dokter Iqbal dan dokter Novi. Semula ada laporan 3 kasus snakebites. Lalu saya berinisiatif untuk membuat pelatihan di Dinas Kesehatan Pandeglang, Jumat (28/12) lalu. Saat pelatihan, tenaga medis pusksesmas  dan relawan yang hadir sebagai peserta ternyata membawa data mengejutkan. Ada kasus gigitan ular berbisa yang tersebar di puskesmas Cibaliung, Labuan, Munjul, Panimbang dll dengan total 14 kasus dengan 1 kasus pasien dirawat di RS Berkah. Sempat saya kunjungi pasiennya, dan kami putuskan untuk sekalian mengadakan pelatihan di RS itu sehari kemudian (29/12), ” terang Tri.

Dari 14 kasus gigitan ular tanah (C. rhodostoma), sejatinya masih bisa ditangani dengan memanfaatkan serum anti bisa ular (SABU) yang tersedia di Indonesia. Problem muncul ketika tenaga kesehatan belum sepenuhnya memahami teknis eplikasi SABU kepada pasien.

Pelatihan Snakebites Management in Disaster (Foto . Muhammad Iqbal El Mubaraq/IDI)

Dalam sejumlah kasus, satu pasien gigitan ular tanah bisa memerlukan 12 vial SABU sampai kondisinya benar-benar pulih. Teknisnya, dua vial SABU bervolume 5 ml diberikan via infus di tahap awal, lanjut menyusul enam jam kemudian dengan jumlah sama. Simultan dilakukan pengecekan kondisi pasien dengan mengacu hasil rekam medis dan pemeriksaan laboratorium. Perlu ditekankan, yang berkompeten untuk memberikan SABU adalah dokter atau tenaga kesehatan terlatih.

Alhasil, kalangan medis, relawan, dan petugas penanganan bencana terkait, sangat terbantu dengan pelatihan-pelatihan tersebut. Materi pelatihan, mulai dari pengenalan jenis-jenis ular berbisa, penanganan pertama korban gigitan melalui teknik imobilisasi, pengenalan serum anti bisa ular hingga aplikasinya.

Tri Maharani bersama sejumlah relawan medis juga menginisiasi pendirian posko dengan mengambil tempat di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Angsana, Pandeglang, tempat sekitar 500 pengungsi mukim untuk sementara setelah tempat tinggalnya rusak akibat dihumbalang tsunami.

Di Posko itu, selain diadakan klinik kesehatan, dapur umum, juga dilakukan gerakan kebersihan yang melibatkan kalangan medis, relawan, dan warga pengungsian. Minimnya ketersediaan air sebagai kebutuhan pokok di pengungsian, Tri sempat membelikan pompa air untuk menyuplai kebutuhan air di pengungsian.

Indonesia, dengan segala potensi dan puja-puji kekayaan dan pesona alamnya, juga adalah area ring of fire (cincin api) yang setiap tahun selau menghadirkan kisah bencana alam.  “Saya tidur di sini bersama mereka (pengungsi) di tengah hujan dan lampu yang mati dan susah sinyal untuk berkomunikasi. Kami membutuhkan Pemimpin yang mengerti penanganan disaster,” papar Tri.

“Saya sudah prediksi akan ada kasus snakebites di area terdampak bencana tsunami Banten. Namun saya tidak menduga ada sebanyak itu, mencapai 14 kasus dalam hitungan pekan!” imbuh Tri.

Menyoal tingginya kasus snakebites di area bencana dan masih belum meratanya keterampilan dan keahlian penanganan korban gigitan ular berbisa di kalangan medis, sudah saatnya pemerintah mulai mengelaborasi mitigasi bencana yang kompatibel dengan potensi jatuhnya korban akibat gigitan ular berbisa.

(Prio Penangsang/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close