DINAMIKA
Trending

“Urban Social Forum 2018 (1) : Konstruksi Kota yang Liyan”

The Urban Social Forum (USF) sukses dihelat di Solo, 15-16 Desember lalu. Ajang rutin yang memasuki tahun ke-6 itu, membuncahkan harapan, gagasan-gagasan yang benderang ihwal bagaimana sebuah kota menjadi beradab. Bahwa, kota yang ‘liyan’, yang rutinitas banjirnya teratasi, ritus macetnya terurai, hingga sampah warganya terkelola, sangat mungkin diwujudkan.

Kemenangan Surabaya di ajang Guangzhou Awards atau The Guangzhou International Awards 2018 dalam kategori online popular city, pekan pertama Desember lalu. Jadi salah satu pemantik semangat pegiat USF 2018, bahwa Another Citiesmemang mungkin. Penghargaan ini hanya berselisih lima bulan dari Lee Kwan Yew Award yang juga disabet Kota Surabaya.  

Henny Warsilah (IST/LIPI)

Salah satu narasumber USF 2018, Prof Dr Henny Warsilah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pernah mencontohkan Kota Surabaya dengan Tri Rismaharini sebagai Kota plus figur yang cekatan merespons perubahan. Menerapkan konsep kota cerdas dengan kehadiran sejumlah inovasi yang ramah lingkungan. Dari angkutan umum berbayar sampah, teknologi waste energy, hingga jogging track dari limbah sandal.

Layak dicermati juga bagaimana Surabaya mengelola ruang kota pesisir Kenjeran dan Bulak Banteng. Kawasan kumuh dan miskin. Dengan aroma sampah limbah kerang berbau menyengat. Permukiman nelayan yang terbangun dari okupasi ilegal kalangan nelayan dengan jalan mereklamasi bibir pantai.

Melahirkan kohesi sosial yang terbangun di antara para nelayan, buruh nelayan, pedagang ikan dan pengolah hasil laut yang menjadi embrio budaya “Arek” dan “Cangkrukan”, budaya ngumpul bareng untuk memecahkan permasalahan kampung dan mencarikan solusinya. Pemberdayaan kawasan perkotaan melalui kebijakan yang inklusif dan partisipatif, memang  tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dalam kasus Kanjeran dan Bulak Banteng, para nelayan diikutsertakan dalam merancang, membangun dan mewarnai rumah mereka. Hasilnya, sebuah permukiman permanen yang indah dan sehat, menjadi sebuah kota wisata modern. Bersamaan dengan itu, dibangun pula insfrstruktur pendukung, jalan yang sangat luas, jembatan wisata yang menghubungkan kedua Kecamatan, air mancur menari, taman-taman indah, pusat kuliner dan pusat dagang, icon patung Suroboyo setinggi 30 meter sebagai penanda pantai serta sentra kerajinan dan UKM.

Konsep yang dibangun oleh Ibu Risma adalah, tidak menghilangkan kampung di tengah kota metropolitan atau memarjinalisasi kampung seperti umumnya dilakukan negara-negara maju atau negara industri lainnya.

Problematika masyarakat urban, perlu solusi inklusif (IST/LIPI)

Isu di atas relevan dengan Panel ke 4 USF yang mengambil tema “Kota Sosial yang Inklusif”. Mengelaborasi problematika kapasitas publik dalam pengelolaan ruang kota, pesisir dan laut Indonesia. Peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi di tanah air, bahkan dari Malaysia, tampak antusias.

Sudah tepat ketika USF ke 6 yang dihelat selama dua hari di Solo itu mengambil di dua lokus yang dekat dengan aktifitas harian rakyat kebanyakan, Muara Market dan Rumah Banjar Sari, tak jauh dari Pasar Legi. Pasar rakyat berusia lebih dari 200 tahun yang belum lama terbakar dan perlu dibangkitkan kembali sebagai sentrum interaktif bagi rakyat kebanyakan.

Panel lain menghadirkan beragam topik persoalan dan tantangan kawasan urban. Hadir narasumber dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Migrant Care, Gusdurian, Paguyuban Pengayuh Becak dan Angkot Kota Solo, Pegiat bank Sampah, hingga pakar tata kelola air dari Rotterdam University (Belanda), serta akademisi dari sejumlah kampus di Surakarta dan Yogyakarta.

(Prio Penangsang/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close
Close