Milesiana
Trending

Atas Nama Kepedihan

Oleh: Dody Irwan Prasetyo*

“Untuk menjadi murni, bijih emas harus dibakar dan ditempa, begitu pula batin, ia harus dibakar oleh api cinta dan ditempa oleh pahitnya hidup.” –Jalaludin Rumi–

KEPEDIHAN adalah sebuah pil pahit kehidupan yang membasuh batin dari segala macam kanker zaman, namun ia juga racun yang siap mengoyak kejernihan akal jika terlalu banyak kita tenggak.

Tidak sedikit yang menjadi gila karenanya, namun tak sedikit pula yang menjadi “super” setelah menaklukkannya.

Tidak ada yang mampu menyembuhkan kepedihan selain kemauan keras kita, ditambah pula orang-orang yang membantu memapah kepayahan batin kita, orang-orang yang bersedia untuk mengerti dan penuh dengan kekayaan batin.

Esensi Cinta Sufistik

Mungkin, saat ini kita terlalu naïf, dan bersikap tidak adil, hingga terus-menerus berusaha menolak kepedihan, menganggapnya sebagai sejenis penyakit, harus segera disingkirkan jauh-jauh kemudian dibuang atau paling banter memendamnya dalam struktur memori dalam-dalam, sambil menunggu saatnya untuk meledak.

Mungkin kita bisa berguru pada para sufi yang mengenal kepedihan sebagai esensi cinta, sebuah tangga menuju level spiritual yang lebih tinggi. Mereka tidak menatap kepedihan sebagai musuh yang harus ditaklukkan, hantu-hantu yang siap menerkam dari pusat kegelapan hidup. Para sufi menerima kepedihan sebagai satu dari sekian utusan Tuhan, sebuah tanda mata dari Tuhan sebagai bukti cinta untuk para pecintaNya.

Para sufi meyakini bahwa segala yang bukan Tuhan adalah makhluk, setiap makhluk memiliki ruang waktunya sendiri, ada saatnya lahir, tumbuh, lalu mati. Kaidah ini juga berlaku bagi kepedihan, setiap kepedihan memiliki masa hidupnya.

Sedangkan yang harus dilakukan adalah merawat hidup dan menjaga agar kepedihan tidak menggerogotinya dengan jalan menekan segala keinginan hingga mencapai kehendak yang tunggal, bebas dari kekacauan mental yang lahir dari pertempuran berbagai hasrat, mengendapkannya dalam-dalam layaknya lumpur yang mengendap dalam tenangnya air.

Bius Batin Kesenangan

Peradaban kita dibangun oleh keinginan untuk menjauhi kepedihan, menatap kesenangan sebagai sebuah solusi dari beban hidup yang menghimpit. Belum selesai kita menambal luka batin dengan kesenangan, lahir kepahitan baru, kita tambal lagi dengan kesenangan bertambah lagi luka baru. Perlahan kita masuk ke dalam lingkaran kepedihan tanpa akhir.

Memang, kesenangan mampu membius batin kita sejenak dari pedihnya kehidupan. Namun, beberapa saat setelah kesenangan menipis dan mengenyahkan diri dari kedalaman batin, kepedihan akan menyeruak dan kembali berteriak-teriak menusuk-nusuk batin kita, bahkan mungkin dengan intensitas yang lebih dari sebelumnya.

Batin adalah sebuah jagad yang tidak memiliki batas dan horizon, di dalamnya pikiran berceloteh, menghujat, menghakimi, menimbang-nimbang, membangun imajinasi, segala bentuk khayal dan proses kreatif. Batin juga berisi segala macam perasaan dan kehendak.

Batin: Kedalaman yang Paling Dalam

Dalam Fihi Ma Fihi (Kedalaman yang Paling Dalam) Rumi mengatakan bahwa dalam batin, setiap realitas ingin “menjadi” dan menemukan bentuk. Hati menjadi hakim, realitas manakah yang akan mewujud dalam pikiran dan tindakan.

Realitas luaran atau stimulus dari luar hanyalah sebuah pemicu, bukan faktor utama, hati adalah raja dalam diri manusia. Hazrat Inayat Khan menggambarkan secara berbeda dari ilmu yang dikenal saat ini. Ia menggambarkan bahwa perasaan adalah bagian yang lebih dalam dari inteligensi, kecerdasan adalah kulit terluar dari kedalaman batin yang bermuara dalam jiwa.

Sementara Swami Vivekanda menggambarkan batin sebagai sebuah proses kreatif yang dibentuk oleh masa lalu yang berproses, keduanya berhubungan erat dengan perkembangan jaringan syaraf dalam tubuh manusia, berikut inteligensi sebagai softwarenya.

Manusia menghayati hidup lewat batinnya, melalui batin pula manusia meraba kepedihan maupun kebahagiaan. Instrument tercanggih yang tak akan mampu tercapai oleh teknologi sedahsyat apapun.

Batin manusia tidak mewujud secara tiba-tiba struktur kompleks yang jalin-menjalin dengan tipe yang khas dan tak mungkin terjadi duplikasi, melewati penyusunan kepingan-kepingan memori yang menggurat dalam batin dengan cara tipikal dan khas.

Tidak heran jika agama-agama besar di dunia melahirkan pemahaman tentang takdir dengan nasib manusia. Sekali lagi, kepediahan merupakan goresan khas dalam kisah hidup manusia, sikap dan penyikapanlah yang akan menunjukkan ke arah mana tinta takdir menggores.

Pengetahuan yang benar tentang diri, ilmu yang jangkep tentang manusia berikut kemanusiaan, daya kreatif untuk berproses dan mengolah kearifan, serta jembar-nya pikiran juga kerendahan hati untuk berbagi sangat dibutuhkan untuk mengolah kepedihan menjadi keindahan yang menebar aroma wangi kedamaian batin.

Sebuah Keniscayaan

Pada akhirnya, sehebat apapun kata-kata ditata, kalimat ditebar, tak akan mampu menggambarkan kepedihan. Sedahsyat apapun teori dibentangkan, metode dijlentrehkan, tak akan mampu menyentuh seujung kuku dari dalamnya kepedihan.

Tapi, bukan berarti kita akan meninggalkan segala macam pengetahuan tentang manusia berikut pernik-perniknya, toh semua itu adalah sebuah usaha menerangi pemahaman kita, sekaligus memetakan kedalaman batin.

Kepedihan hidup membutuhkan perkawinan yang jenius antara kejernihan dan ketegaran batin. Kepedihan mau tak mau haruslah kita telan sebagai sebuah keniscayaan dan kegetirannya adalah bumbu yang akan memberi warna bagi kehidupan.

( Milesia.id/ Dody Irwan Prasetyo )

 *) Penulis, pembaca, pegiat sastra dan filsafat kelahiran 11 Desember 1982 yang juga aktif dalam jama’ah Maiyah Emha Ainun Nadjib. Terakhir menjabat sebagai Ka. Litbang BPP Cakrawala periode 2004/ 2005. Karya-karyanya banyak mewarnai media massa seperti “Kedaulatan Rakyat” dan “Bernas” pada medio 2003-2005.

Tulisan berjudul “Atas Nama Kepedihan” ini adalah reproduksi dari artikel beliau yang pernah dimuat pada majalah Cakrawala No.XII/Th.12/2004, sebelum meninggal dunia pada 07 September 2005.

“Hab dort Ruhe, mein bester Freund ..”

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close