Mileshistory
Trending

“Herlina ‘Si Pending Emas’ : Pahlawan Trikora, Nyaris Dilupakan dan Assetnya Terancam Disita”

Ahad (2/12) lalu, kawasan pegunungan di Puncak Kabo, Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi Kabupaten Nduga, Papua, seharusnya meruapkan hawa segar dan kesejukan. Sebaliknya, yang terjadi adalah horor memilukan. Tercatat 31 orang meninggal dunia ditembaki Kelompok Kriminal Bersenjata.

Hingga kini, ikhtiar-ikhtiar untuk memberdayakan bumi dan rakyat Papua dengan melibatkan banyak pihak, terutama rakyat Papua sendiri, selalu tidak mudah. Bahkan sejak lampau, ketika Irian Jaya, nama awal Papua, masih dikuasai Belanda.

Papua : Ada Pesona dan Derita (Doc. papuexplore/Milesia.id)

Harus diakui, rakyat Papua sendiri tidak seluruhnya puas dengan “pembangunanisme” yang sejak Orde Baru hingga kini berlangsung.

Tapi, ikhtiar-ikhtiar untuk memajukan bumi cenderawasih, tak boleh berhenti. Ada jejak para pendahulu yang turut berjasa menjadikan Irian Jaya, Papua, tetap menjadi bagian dari NKRI. Salah satunya adalah Herlina “Si Pending Emas”.

Herlina, adalah Pejuang Tri Komando Rakyat (Trikora) dan satu-satunya sukarelawan perempuan yang terjun di medan konfrontasi di tanah Irian Jaya pada 1961 hingga 1962.

Terjun dalam arti sesungguhnya, bersama 19 relawan laki-laki dengan parasut. Dengan pelatihan minim dan tidak pernah tahu apakah akan bisa mendarat di titik target penerjunan dengan selamat. Herlina tercatat sebagai satu-satunya perempuan diantara ratusan relawan yang dibagi dalam 10 kompi.

Meski berpostur kecil, tomboi, di benak Herlina memang menyala jiwa petualang dan nasionalisme yang tak pernah padam hingga akhir hayatnya. Selebihnya adalah kemampuan jurnalistik, menulis, lancar berbahasa Inggris dan Belanda. Kemampuan yang kelak mengilhami pendirian media pertama di Papua, Cenderawasih.

Bahkan, ketika Presiden Soekarno mencanangkan operasi Trikora, Herlina tengah menekuni media yang didirikannya, Mingguan Karya, yang berkantor di Ternate.

Herlina, perempuan dengan nama lengkap Sitti Rachmah Herlina, lahir di Malang, Jawa Timur, 24 Februari 1941, juga tercatat sebagai perempuan pertama, bahkan di dunia,  yang mendirikan klub sepakbola Caprina di awal 1970an. Melahirkan banyak pemain andal, murni didedikasikan untk kepentingan sosial.

Pending emas dari Bung Besar (Foto : Pending Emas)

Pada 2011, Herlina pernah mengajukan permohonan untuk mengubah nama Papua kembali dengan nama awal, Irian, kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun belum mendapat respons hingga sekarang.

“Saya ingat saat mengantarnya untuk dirawat ke  RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Saya ingat di saat sebelum wafatnya. Beliau inspirasi Saya, ” papar Tri Maharani, seorang dokter spesialis yang juga relasi keluarga Herlina. Herlina dirawat akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.

Dituturkan Tri Maharani kepada Milesia.id, Jumat (7/12), Ia salut dengan perjuangan Herlina. Setelah mengembalikan pending emas yang diberikan Bung Karno, sebab ia ikhlas berjuang dan tak tega dengan kolega yang gugur dan menderita, Herlina harus berjunag melawan penyakit yang menyergapnya sebagai salah satu dampak perjuangannya di medan laga, yaitu TBC dan hepatitis. Ia berjuang menghadapi penyakit dan kehidupan tanpa tunjangan pemerintah.

“Saya rasa, perjuangannya di Irian Jaya sama hebatnya dengan perjuangannya bangkit dari sakit”. Asal tahu saja, kondisi medan yang buruk, nutrisi yang minus, menjadikannya terkena TBC dan Hepatitis, penyaklit yang saat itu sulit disembuhkan.

Elan vital Herlina tinggi. “Saya melihat sendiri kamarnya yang luas, koleksi pakaiannya yang fashionable, kesukaannya jalan-jalan dan menghargai kuliner” papar Tri. “Tapi beliau jauh dari watak gila hormat dan sikap berlebihan. Malahan sangat humble dan murah hati”.

Tri mengaku menyesal, ketika Herlina wafat pada 17 Januari 2017, Ia tidak berada di dekatnya sebab tengah bertugas di Kediri.

Pasca Orde Lama, perjuangan Herlina tak berhenti. Berbisnis dan bergerak di bidang sosial dan  kemanusiaan. Menegaskan naluri keperempuanannya yang penuh welas asih.

Pada tahun 1988 misalnya, Herlina berjuang nyaris sendirian menjemput 26 nelayan Indonesia yang terkatung-katung di Republik Palau. Sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik berpenduduk 21 ribu jiwa yang berjarak 200 kilometer utara provinsi Papua Barat.

Dianggap mencuri ikan di perairan Palau, para nelayan yang berasal dari Pulau Buton, Morotai, dan Sorong, itu diajukan ke pengadilan di Corror, Palau, Agustus 1987 dan divonis dua tahun kurungan. Dua diantaranya bahkan meninggal di penjara pada akhir 1997.

Pemerintah Palau sejatinya bersedia mengembalikan para nelayan, tapi dengan biaya pemerintah RI. Mereka laksana anak ayam kehilangan induk. Dua tahun tak jelas nasibnya sebab birokrasi yang njlimet sehingga seorang Herlina harus menebusnya dengan biaya sendiri dan mengembalikan mereka ke tanah air. Berjumpa kembali dengan keluarga masing-masing. Semua dilatari karena besarnya hasrat berjuang untuk negeri.

Asset Terancam Disita

Nama dan jasa besar Herlina “Si Pending Emas” ternyata tidak menjamin akan mendapatkan apresiasi yang sama layaknya ketika Ia masih hidup. Bahkan, tak lama setelah Herlina wafat, keluarganya harus menghadapi kenyataan pahit. Salah satu asset milik Herlina yang dtempati anak dan sepupunya, akan dilelang dan disita.

Kepada Milesia.id yang mewawancarainya melalui perpesanan singkat pada Jumat (14/12), Rigel Wahyu Nugroho (56), Putra Herlina, membenarkan ihwal isu penyitaan asset peninggalan Herlina yang terletak di kawasan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur itu.

Rigel yang saat diwawancarai berada di Malaysia, merasa sedih dan prihatin. “Memang sangat menyedihkan. Kasusnya tidak jelas. Sepertinya pemerintah kita tidak menilai perjuangan dan pengorbanan Ibu saya. Di masa Ibu saya hidup, tidak ada yang datang untuk menanyakan status (tanah dan rumah) nya. Setelah hampir dua minggu Ibu wafat mereka datang dengan tim mereka. Sangat menyedihkan..! ” papar Rigel.

Padahal, seperti dituturkan Rigel, selama hidupnya, Herlina tidak pernah minta maupun dan menerima apapun pemberian dari pemerintah. “Pending emas juga dikembalikan kepada pemerintah untuk pembanmgnan negara dan bagsa. Sudah lama Ibu saya tinggal di tanah yang sekarang ini. Tanah yang bukan dari pemberian pemerintah,” imbuh Rigel.

Sampai saat ini, belum ada pemberitaan apapun terkait rencana penyitaan rumah milik Srikandi pejuang Republik yang tangguh itu. Lalu, apakah keluarga Herlina akan diam saja? “Kami masih mencari jalan terbaik untuk mempertahankan tanah tersebut,” papar Rigel.

“Ibu saya tidak pernah lelah untuk memperjuangkan bangsa dan rakyat Indonesia sampai akhir hayatnya. Kepada kami beliau juga berpesan agar dimakamkan di tanah pekuburan umum jika meninggal, tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan.” Perempuan inspiratif itu akhirnya memang diistirahatkan dalam damai di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta-Timur.

Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Bukan yang melupakan, meminggirkan, termasuk menjadikan ahli warisnya tak mendapatkan kehormatan sebagaimana mestinya.

(Milesia.id/Prio Penangsang)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close