Business
Trending

Kisah Sukses Bergelut dengan Belut

Selain lele, belut merupakan komoditas air tawar yang pasarnya tak pernah surut. Disamping dijual hidup, olahannya memiliki nilai tambah lebih besar. Kripik belut, misalnya. Selain lezat dan berprotein tinggi, digemari hampir semua kalangan di dalam dan luar negeri.

Ramai pengunjung (Milesia.id/Prio P)

Seruas jalan kecil di desa Kali Tegah, Wedi, Klaten itu hanya muat untuk kendaraan roda dua. Masuk ke kawasan yang diapit persawahan itu, sejumlah rumah memasang  plang nama dan produk andalan mereka : belut goreng.

Di barisan paling depan persis di mulut gang, rumah dua lantai  itu mencerminkan kisah sukses Pak Ratno berbisnis belut goreng. Lantai satu rumah Ratno yang cukup luas, difungsikan sebagai etalase yang memajang ratusan kilogram belut goreng siap kemas dan jual.

Di lantai satu itu pula, Milesia.id yang mengunjungi tempat itu Oktober lalu, mendapati belasan karyawan asyik bergelut dengan belut. Ada yang menggoreng, menimbang dan mengemas dalam plastik transparan aneka ukuran, dan melayani pembeli. Siang itu, pembeli tak henti mengalir di toko Ratno. “Saya pesan 6 kg untuk keluarga di Jakarta. Kalau mudik, kami pasti ambil belut goreng dari sini,” papar Prawoto, warga asal Yogyakarta yang lama tinggal dan kini bekerja di Jakarta.

Karyawan Pak Ratno mengemas belut goreng (Milesia.id/Prio P)

Di toko Ratno, per kilogram belut goreng di banderol dengan harga bervariasi. “Ini kemasan terkecil, satu ons, harganya 12 ribu. Sekilonya 115 ribu,” papar Tiwi, karyawan Ratno. Harga belut dinilai juga dari tebal tipisnya tepung pembalut belut goreng. Semakin tipis tepungnya kian mahal harganya. Dalam sehari, lebih dari 300 kg berut goleng terdistribusi ke sejumlah kawasan di Klaten, Sukoharjo, Yogyakarta dan Jakarta.

Mengarah ke belakang rumah Pak Ratno ada kios belut goreng milik Sugiyanto. “Mau pesen belut macam apa? Belut goreng yang ndak pake tepung juga kita layani,” papar Mbah Widhi, pelayan di toko Sugiyanto.

Digemari di Australia

Siapa sangka keripik belut ternyata disukai kalangan mancanegara? Itu pengalaman Sutarto, pengusaha keripik belut warga Sanggrahan, Kalurahan Joho, Sukoharjo, Jawa Tengah. Setiap bulan ia sukses mengirimkan 1 kontainer keripik belut ke Benua Kanguru.

Dalam 1 kontainer, setidaknya memuat 1 ton keripik belut. Setiap hari harus tersedia setidaknya 226 kg belut goreng untuk konsumen Australia itu.  Padahal, saat ini kapasitas usaha baru mampu memproduksi tak sampai dua kuintal.

Menarik menyimak pengalaman Sutarto, yang merintis usaha keripik belut karena coba-coba. Sebelumnya, sebagai karyawan di Kecamatan Sukoharjo, ia sempat menekuni bisnis jual beli mobil. Krisis ekonomi menyebabkan usahanya menurun. Dan berujung tutup untuk menghindari potensi kerugian yang lebih besar.

Ide berjualan belut muncul melihat banyaknya pencari belut di Sukoharjo dan sekitarnya. Mereka umumnya kesulitan dalam pemasaran. Ia tampung belut-belut tersebut dan menjualnya kepada para perajin keripik. Setiap hari ratusan kilogram belut dipasok kepada produsen belut goreng di Sukoharjo, Klaten, Yogya, hingga Jawa Barat.

Layaknya bisnis, selalu ada pasang surut. Diantaranya pesanan lowong akibat menurunnya pasokan dan munculnya banyak pemasok belut lain yang menawarkan belut ke pembeli langganannya. Sutarto pernah rugi cukup besar akibat belut segar tak terserap pasar.

Ide baru kembali muncul. Kenapa belut yang tak terjual tak sekalian diolah untuk mendapat nilai tambah? Sutarto mencoba menggoreng belut yang masih tersisa setelah belajar cara dan resep belut goreng dari tetangganya. Jadilah Sutarto bermetamorfosis jadi perajin keripik belut.

Cek toko sebelah (Milesia.id/Prio P)

Ia pun terus bereksperimen untuk mendapatkan rasa terbaik. Ia menjualnya dalam skala kecil kepada para penjual eceran. Karena dinilai enak, belut goreng racikan Sutarto segera saja merebut lidah konsumen. Tak butuh waktu lama untuk menempatkan belut goreng produksi Sutarto memasuki pasar swalayan. Dan laris manis.

Sukses memasuki pasar swalayan, Sutarto melebarkan sayap belut goreng untuk segmen antarpulau. Pasar Kalimantan, Sumatera, dan Papua, berhasil ditembus. Tak hendak setengah-setengah, tenaga pemasok, pengolahan hingga pemasaran, direkrut untuk melayani pesanan. Lebih dari selusin karyawan yang terlibat dalam bisnis itu.

Pesanan dari Australia kian menjadikan bisnis belut goreng Sutarto bergairah. Ini sekaligus kesempatan bagi Sutarto untuk belajar bisnis secara lebih profesional. Dari hulu hingga hilir. Dari keuangan hingga standar mutu.

Menurut Sutarto, keripik belut yang terenak,  adalah belut tangkapan di sawah, bukan belut hasil budi daya yang menggunakan pakan pabrikan yang mengandung bahan kimia. Omzetnya kini puluhan juta rupiah setiap hari. Bisnisnya menggeliat dan pesanan belut terus dikebut.

(Milesia.id/Rustamaji)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close