Milestories
Trending

Bidan Dewi dan Ikhtiar Kecil Menyehatkan Anak Negeri

DokPribadi. Efan Juniansyah

Oleh : Efan Juniansyah *)

Suara mesin sampan memecah heningnya suasana pagi. Sampan kecil, familiar dengan sebutan sampan ‘ces’, yang membawaku melesat kencang mengunjungi beberapa dusun di sekitar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Kawasan konservasi di jantung Kalimantan, perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

(Milesia.id/Efan J/ASRI)

Mereka memanggilku Bidan Dewi. Lengkapnya Dewi Susandi. Aku berasal dari Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, tempat aku dulu menetap. Saat ini aku berkerja di Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), sebuah lembaga sosial nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Yayasan ASRI yang eksis sejak 2007, sejatinya bukan nama asing di bumi Kalimantan ini, terlebih Kalimantan Barat. Yayasan yang tekun membantu merawat hasrat masyarakat untuk sehat, terdidik, dan mencintai alam lestari.

Ini adalah bulan ketiga aku bertugas di Desa Mawang Mentatai, Kecamatan Menukung, Melawi, Kalimantan Barat. Desa yang berjarak 1,5 jam dari Kecamatan Menukung dan Puskesmas Menukung. Desa dengan kondisi serba terbatas, termasuk fasilitas layanan kesehatan yang paling dasar. Untuk itulah Aku berada di sini sekarang.

Desa Mawang Mentatai dibelah oleh sungai besar bernama Sungai Mawang.  Sungai inilah yang dimanfaatkan warga sebagai jalur transportasi sungai dan keperluan sehari hari.  Mulai dari mandi, mencuci, memasak, dan buang hajat.  Bahkan, masyarakat kerap kali membuat kandang hewan ternak tak jauh dari tepi  sungai.

“WC umum” (Milesia.id/Efan J/ASRI)

Di sore hari, banyak anak-anak mandi sembari bermain di sungai. Di sini rata-rata anak kecil sudah bisa berenang sejak umur 7 tahun.  Sungai sudah menjadi arena bermain bagi mereka. Perlu waktu, usaha dan banyak tenaga untuk bisa mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat di sini untuk bisa lebih bijak menggunakan air bersih.

Dahulu,  tidak terbersit sama sekali di pikiranku untuk bertugas di pedalaman. Jujur, lama hidup di kawasan perkotaan, membuat ciut nyali ketika harus pindah bertugas ke pedalaman. Terlebih setelah menikah dan memiliki satu orang anak di usiaku yang ke 28 ini. Semakin jauh lah bayangan harus menetap di kawasan pedalaman.

Namun semuanya berubah ketika melihat wajah-wajah jujur masyarakat pedalaman yang kerap kujumpai.  Warga yang hidup dengan fasilitas serba terbatas. Bahkan sekedar fasilitas untuk buang hajat.  Jangan tanya layanan kesehatan seperti apa yang bisa mereka dapat.

Kupikir, menempatkan ku di sini, juga merupakan tugas yang mulia. Tak sia-sia juga perjuanganku menuntut ilmu kesehatan di STIKES Kapuas Raya Sintang, sekian tahun silam.

Sepeda motor, cukup bisa diandalkan (Milesia.id/Efan J/ASRI)

Kesehatan adalah  hal yang wajib didapat oleh seluruh warga tanpa terkecuali. Namun, terbatasnya fasilitas kesehatan, akses untuk menuju tempat pelayan kesehatan dan biaya berobat yang tinggi, menjadi salah satu alasan kenapa tidak semua lapisan masyarakat terjangkau layanan kesehatan. Ini PR pemerintah, PR kita semua, juga diri ini.

Saat pertama kali menginjakan kaki di Desa Mawang Mentatai, kesan masyarakat yang ramah sangat terasa. Sejumlah ibu tak henti melempar senyum dan menawarkan bantuan membawakan barang bawaan.

Untuk saat ini, aku masih menumpang di rumah salah satu warga sampai klinik tempat aku tinggal nantinya selesai direnovasi. Karenanya aku memboyong  Belva (3 tahun), putri semata wayang ku, untuk menemani bertugas. Tentu, sebagai Ibu, aku tak ingin lama berjauhan dengan buah hati.

Di Desa Mawang Mentatai, segalanya serba terbatas. Akses yang sulit untuk mencapai kecamatan terutama saat musim penghujan tiba, listrik yang hanya mengandalkan solar panel pembagian dari pemerintah yang hanya mampu menerangi rumah selama beberapa jam saja, adalah satu dari sekian kendala yang ada.

Hanya ada satu Sekolah Dasar disini. Jangan bayangkan gedung SD tempat mendidik generasi penerus bangsa itu dengan gambaran gedung sekolah di kota-kota.  Lihatlah, beberapa kelas terpaksa digabung menjadi satu dan hanya diampu oleh 3 orang guru. Tanpa perpustakaan, minus labolatorium, tak ada ruang guru.

Pernah suatu ketika aku berjalan mengelilingi kampung untuk sekedar melihat-lihat dan memberitahu masyarakat bahwa di kampung mereka sekarang sudah ada pelayanan kesehatan.

Aku bertemu sekelompok ibu yang sedang  duduk di teras rumah sembari memakan sirih pinang. Keramahan dan kehangatan segera saja menyergap.

Setelah lama bercakap,  aku iseng bertanya, “Kemanakah ibu jika ingin berobat atau sekedar ingin suntik KB ?“

“Kami biasanya akan pergi ke kecamatan untuk sekedar berobat dan melakukan suntik KB,” jawabnya lugas.

“Lantas berapa lama waktu yang ibu perlukan untuk ke sana ?“ Aku penasaran.

“Bisa 1 sampai 1,5 jam tergantung kondisi jalan. Biasanya sehabis hujan kami akan kesulitan untuk mencapai kecamatan,” jawab ibu sembari mengunyah sirih pinang yang membuat gigi dan mulut mereka memerah.

Mengkreasi Kebiasaan Baru

Gotong royong (Milesia.id/Efan J/ASRI)

Mengubah kebiasaan masyarakat jelas bukan perkara mudah. Karenanya diperlukan semangat berinovasi. Ya, setelah beberapa  hari tiba dan selesai membereskan obat-obatan serta peralatan medis, aku bergegas mengatur jadwal kerja. Apa yang harus aku lakukan agar bisa meningkatkan level kesehatan masyarakat di sini.

Aku mempunyai ide untuk mengajak masyarakat membersihkan desa  seminggu sekali secara bergotong royong, dan melakukan senam bersama setelahnya. Menurutku, kesehatan lingkungan sangat berpengaruh terhadap masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Respon masyarakat sangat bagus, mulai dari anak anak, remaja sampai orang dewasa pun sangat antusias untuk mengikutinya.

Bukan hanya Desa Mawang Mentatai saja yang harus aku layani kebutuhan kesehatannya. Ada beberapa desa dan dusun di sebelahnya yang harus aku kunjungi.  Medan berbukit dan berlumpur di kala hujan turut menjadi tantangan tersendiri.

Berjalan kaki menuju medan bakti (Milesia.id/Efan J/ASRI)

Ada beberapa pilihan tranportasi di sini. Kadang kala aku mengendari sepeda motor, namun beberapa kali harus naik sampan bermesin atau ces. Kala hujan lebat, terlalu sulit dan berbahaya untuk mengendarai sepeda motor.

Sampan ces menjadi transportasi yang sangat efektif. Membantu menghemat waktu dan dengan cepat aku bisa melesat mengunjungi warga di dusun sebelah. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk menjangkau dari satu dusun satu ke dusun yang lain.

Namun ada kalanya sampan ces tidak bisa digunakan sama sekali dan memaksaku beberapa kali harus berjalan kaki untuk mengunjungi masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan.

Pernah suatu ketika aku hendak mengunjungi  dusun di sekitar desa Mawang Mentatai.  Kondisi jalan pasca hujan membuat aku mengurungkan diri untuk pergi menggunakan sepeda motor. Pada saat bersamaan,  tidak ada ces yang bisa disewa untuk mengantarku berkeliling.

Ya, sampan ces juga tidak selamanya melintas seperti halnya angkutan perkotaan (angkot) yang lebih terjadwal. Kadang kala sampan ces dibawa si pemilik untuk ke kebun atau ke kecamatan. Ya, hanya Tuhan dan si empunya sampan yang tahu pasti kapan mereka akan melintas.

Aku pernah mengurungkan niat atau menunda untuk melakukan pengobatan keliling. Namun terbersit di hati, bahwa kesehatan warga adalah hal yang tidak boleh ditunda. Maka  kuputuskan untuk tetap pergi dengan berjalan kaki ke desa sebelah.

Dewi Susandi (Milesia.id/Efan J/ASRI)

Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan. Aku mengambil satu tas carrier dan mengisinya dengan sejumlah obat-obatan dan alat kesehatan yang sekiranya diperlukan untuk mengobati pasien di sana. Aku juga meminta bantuan masyarat sekitar untuk menemaniku berjalan membelah hutan, juga membantu membawakan carrier yang penuh  obat-obatan.

Bagi ku petugas medis bukan hanya sekedar memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan, namun juga mengajarkan untuk berprilaku hidup bersih dan sehat . Perlu waktu, tenaga, dan pemikiran yang besar untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan cinta dan ketulusan, saya yakin itu bisa terwujud..

 

(Milesia.id/Efan Juniansyah)

*) Pegiat Konservasi dan Kesehatan Publik, bergiat di Yayasan Alam Sehat Lestari, Kayong Utara, Kalimantan Barat.

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close