Milestories
Trending

Sontoloyo..!

Sontoloyo ini tidak peduli dengan hiruk pikuk tahun politik walaupun bisa jadi, Ia adalah korban politik. Ia lebih tertarik pada sahut-sahutan riang suara bebek. Ia juga enggan menyimak saling terjang dan serang para politisi dalam perebutan kursi. Ia  hanya fokus agar “anak asuhnya” tidak menerjang dan mencuri tanaman petani.

Sontoloyo in action (Milesia.id/Budi Sulistiyo)

Sontoloyo ini juga tidak peduli jika belakangan namanya ngehit di media massa, entah sebagai umpatan, grundelan, atau sekedar komodifiksi pendulang simpati massa. Ia tak nebeng beken dengan itu semua. Keinginannya sederhana, para petani sukses menanam padi dan panen melimpah sehingga bebeknya kebagian berkah.

Bagi para penggembala bebek alias sontoloyo, keberhasilan petani dalam budidaya tanaman padi juga merupakan harapan keberhasilan usahanya karena itu berarti ia punya area gembalaan bebek yang kaya sumber pakan.

Ingat, konon telur yang keluar dari anus bebek akan lebih lezat jika sumber pakannya berasal dari remah-remah sisa panen di kawasan persawahan, ketimbang dari bebek hasil ternakan.

Mengawasi pasukan agar tak nyosor sembarangan (Milesia.id/Budi Sulistiyo)

Lahan padi yang baru saja dipanen memang menjadi lokasi favorit bagi para sontoloyo untuk menggembala bebek. Potensi pakan dari rontokan gabah panen maupun binatang sawah biasanya melimpah. Tak heran para sontoloyo ini rela jauh jauh membawa bebeknya demi berburu lahan lahan sawah yang sedang panen.

Dadi (42) salah satu sontoloyo asal Baki, Kabupaten Sukoharjo menuturkan, dia sudah seminggu ini ‘merantau’ ke daerah Bayat dan Trucuk, Klten, sebab mendengar ada area panen di sana. “Sebelumnya kesini saya angon ke daerah  Sragen, kalau nanti disini habis rencananya akan ke daerah Kebakkramat atau posis Karangdowo, ” ujar pria yang sudah belasan tahun jadi sontoloyo ini.

Banyak suka duka yang sudah dialami Dadi sebagai sontoloyo. Kadang, masih ada petani yang tidak membolehkan sawahnya dimasuki pasukan bebeknya, walaupun sawah sudah dipanen. Selain itu pada daerah hamparan yang panennya tidak serentak, ia harus ekstra hati hati  dalam pengawasan agar  bebeknya tidak nyosor sembarangan pada lahan yang belum panen. “Kalau dari aspek suka dan enaknya, Saya sama sekali tidak mikir masalah harga konsentrat atau pakan pabrikan dan bahan pakan impor yang melambung tinggi. Bebek saya seratus persen pakannya dari area gembalaan,“  imbuhnya saat ditemui Milesia di lahan hamparan sawah desa Wiro, Bayat, Klaten. Kecamatan yang berjarak lebih dari 30 kilometer dari tempat tinggalnya di Sukoharjo.

Kandang portabel kompi bebek (Milesia.id/Budi Sulistiyo)

Lalu bagaimana tanggapan petani setempat dengan datangnya para sontoloyo ini?  Amri, salah satu petani kawakan desa Wiro mengatkan, Ia tidak keberatan sawahnya dijadikan area angon bebek selama tidak menerjang area persemaian. “Setelah tahu dan ada anjuran dari petugas pertanian malah langsung saya persilahkan karena dengan bebek masuk sawah maka akan memakan hama-hama, seperti belalang dan keong yang ada di sawah,” terang Amri.

Memang benar adanya, sudah semestinya para petani dan sontoloyo bermitra dalam simbiosis mutualis. Hubungan yang saling menguntungkan. Sontoloyo membutuhkan lahan sawah petani sebagai area gembalaan bebek. Sedangkan petani juga diuntungkan dengan adanya pasukan bebek pemakan hama padi.

Moda transportasi pengangkut kandang pasukan bebek (Milesia.id/Budi Sulistiyo)

Rontokan gabah sisa panen akan menjadi pengganggu jika nanti tumbuh di lahan. Berkat sosoran maut pasukan bebek, gabah-gabah itu sukses dibersihkan tanpa insiden berarti. Belakangan, sistem pertanian organik ada yang sudah mulai mengembangkan pola bebek-padi dalam sawah. Bebek akan menjadi predator bagi hama padi. Selain itu pijakan pijakan dari kaki bebek di sawah akan membuat tanah menjdi gembur, kaya oksigen dan akan mematikan bibit gulma yang akan muncul. Bebek baru dipindah dari sawah menjelang fase generatif tanaman padi. Momentum ketika padi bersiap berbunga untuk pembuahan. Jadi, masih mau mengumpat sontoloyo?

 

(Milesia.id/Budi Sulistiyo)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close