Milebisnis
Trending

Kopi Posong, Koffie Goenoeng, Menyesap Kopi Tanpa Eksploitasi

Faizun (dok.Pribadi/Milesia.id)

Oleh : Faizun, S.Pt. *)

Sekelompok petani kopi punya mimpi bersahaja : menjual kopi bermutu tinggi tanpa melalui makelar kopi. Selama ini, petani-petani yang telah bersusah payah merawat perdu kopi di kebun-kebunnya di kawasan pegunungan, sering hanya mendapat ampas dalam tataniaga kopi. Mereka yang membudidayakan, memanen, dan mengolah, tapi tak berdaya dalam menetapkan harga yang sepadan. Perniagaan yang adil (fairtrade) tidak bisa diminta, tapi harus direbut. Dikibarkanlah satu bendera Koffie Goenoeng Fairtrade.

Untuk pertama kalinya, dalam sebuah event olahraga berskala Internasional Borobudur Marathon yang dihelat 18 November lalu, kopi produksi petani dijadikan suvenir resmi. Ya, kopi sebagai suvenir.

Di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah, geliat usaha kopi rakyat juga terus menggeliat. Industri hilir tumbuh dengan dukungan stake holder di aneka event pameran dan kompetisi cita rasa kopi. Mendongkrak hasrat pemuda setempat untuk berkreasi di bidang perkopian.

Yang muda yang ngopi (Faizun/Milesia.id)

Festival kopi Wonosobo dalam hari kopi sedunia pada 1 Oktober tahun lalu, misalnya, menguatkan sentra-sentra kopi terbaik di Jawa Tengah. Disambung Festival Kopi Wonosobo pada Juli lalu. Terakhir, Kopi Posong khas Temanggung, dipercaya sebagai souvenir ajang olahraga berskala internasional dalam Borobudur Marathon, pekan lalu.

Produsen Kopi Posong, Pak Tuhar mengakui, pujian kepada Kopi Posong keluar dari mulut penggemar kopi dari mancanegara. Penyuka kopi asal Jerman bahkan menyayangkan, kenapa kopi seenak itu tidak digarap secara maksimal.

Beranjak ke Timur Indonesia ada sosok Oswaldo, Edo, Martin, dan Nick Decky, petani kopi Arabica dari Manggarai, NTT. Juga timur Jawa macam Mu’arif, Joyo, Eliyah, dan Widodo, petani kopi robusta dari Jember, Jawa Timur.

Di Yogyakarta, petani kopi pegunungan Menoreh di kawasan Suroloyo ada Mbah Sutar. Sebelum bergabung dalam Koffie Goenoeng, mereka menjual sendiri-sendiri kopi hasil budidayanya. Tentu, dengan harga yang disetir oleh tengkulak dan pedagang pemilik modal.

Bukan itu saja. Kopi Manggarai yang dikenal lezat dengan penggemar dari lintas benua, sebelum dinikmati penggemarnya terlebih dahulu diolah oleh produsen dari luar Manggarai. Sebut saja di Singapura, AS, Eropa. Oswaldo dkk belum mahfum benar ikhwal meracik bahan kopi hingga bernilai jual tinggi.

Koffie Goenoeng Fair trade lantas mengajari mereka tentang bagaimana menyeleksi kopi dari para petani itu. Di Jember, mereka menggandeng Serikat Petani Independen (Sekti).  Petani arabika di pegunungan Menoreh juga digandeng. Di Jawa Barat, petani-petani sayur Serikat Tani Pasundan di kawasan Papandayan, juga mengamankan lahan garapan mereka dengan menanami kopi.

Membeli kopi dari Koffie Goenoeng Fairdirecttrade, sama artinya dengan membantu mereka meningkatkan pelayanan kopi bermutu untuk konsumen sekaligus kesinambungan dan mutu produksi kopi itu sendiri. Proses belajar meiningkatkan mutu kopi meliputi rantai yang panjang. Mulai dari budidaya, perawatan, panen, hingga pengolahan.

Pengalaman penulis dengan proses budidaya dan produksi kopi di perkebunan kopi lereng Gunung Tanggamus, Lampung, umumnya masih sangat tradisional. Kopi tidak begitu intensif dibudidayakan. Pemanenan buah kopi dilakukan tidak selektif. Bukan hanya buah berwarna merah masak pohon, buah yang masih hijau sekalipun jika dianggap sudah tua akan ikut dipertik.

Tahapan penjemuran (Milesia.id/Ratih Puspita)

Proses pengupasan dan penjemuran juga seragam. Umumnya dengan dua cara. Pertama, dikupas atau giling basah (wet process). Buah hasil panen langsung digiling, lantas dijemur. Pilihan kedua, buah hasil panen dijemur hingga permukaan kulitnya menghitam, baru digiling untuk mendapatkan biji keringnya. Proses selanjutnya adalah penyangraian. Di Lampung dan beberapa kawasan produsen kopi tradisional, penyangraian kopi seringkali dilakukan hingga gosong. Tak jarang, dalam proses sangrai dicampur dengan biji-bijian non kopi. Mulai dari beras, jagung, bahkan irisan kelapa tua.

Dalam pandangan Koeffie Goenoneng, cara demikian kurang tepat untuk memunculkan citarasa kopi yang lezat dan bernilai jual tinggi di pasar lokal dan terlebih dunia. Koffie Goenoeng lantas mengajari petani-petani itu, mulai dari proses pemetikan, penggilingan, fermentasi, penyangraian, hingga pengemasan.  Cara menumbuk (hulling), memilah ukuran kopi (grading), menggiling (grinding) hingga uji sebelas komponen (cupping) diajarkan hingga mereka mahir. Kemahiran yang menghasilkan kultur olah kopi bercitarasa tinggi.

Kopi-kopi dari penjuru negeri mungkin akan terus bermunculan. Dengan cita rasa dan trend yang akan terus menanjak. Tugas petani, juga konsumen, adalah bahu membahu agar perdagangan yang adil bisa terwujud. Agar tidak ada eksploitasi keringat petani dalam tiap sesapan secangkir kopi.

*) Faizun, SPt . Penikmat kopi, tinggal di Temanggung, Jawa Tengah.

 (Faizun/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close