Milesosbud
Trending

Mendedah Pemikiran Hatta : Berita Bohong hingga Politisasi Agama

Launching Buku Hatta (Milesia.id/Prio P)

Pemikiran Bung Hatta, berupa essai dalam berbagai bahasa diringkus dalam 10 jilid buku dengan 800 tulisan, diluncurkan di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa (13/11) lalu. Diantara ratusan artikel bermutu yang ditulis nun lebih dari separuh abad itu, terselip pemikiran yang masih sangat relevan dengan latar situasi yang kini terjadi : maraknya berita bohong (hoax) dan politisasi agama.

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna”  – Muhammad Hatta –

Selarik kalimat di atas terpampang di bidang jembar yang menjadi latar panggung. Dibaca hari ini, pesan itu seperti menyindir kegemaran orang Indonesia “membaca” berita maupun pesan yang terserak di media sosial tanpa proses verifikasi dan mencerna hingga substansi.

Tingginya nafsu bermedia sosial – Indonesia masuk 5 besar dunia pengguna medsos – yang tidak diimbangi dengan tradisi membaca, menjadikan level melek literasi yang memprihatinkan. Habitat subur bagi tumbuhnya berita bohong dan konten media bermutu rendah.

Sejarawan Taufik Abdullah berujar, pemikiran Hatta relevan dengan konteks masa kini. Hatta jauh-jauh hari mengingatkan rakyat tentang bahaya berita bohong (hoax). Sayangnya, kini berita bohong justru marak yang berdampak pada adanya krisis kepercayaan diri di masyarakat. “Rakyat tidak berdaulat jika terbawa dalam spiral kebodohan,” papar mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

Sepuluh jilid buku dengan beragam topik itu, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). “Kami memerlukan waktu setidaknya tiga tahun mengumpulkan karya-karya Bung Hatta yang berceceran, termasuk yang kami kumpulkan dari pasar-pasar loak. Di dalamnya ada karya-karya yang tidak diterbitkan oleh surat kabar maupun jurnal,” papar Anggota Dewan Pengawas LP3ES Ismid Hadad.

Sepuluh jilid buku yang mengupas pemikiran Hatta dipilah dalam sebaragam tema. Kebangsaan, kerakyatan, demokrasi, koperasi hingga surat-surat. Buku Satu, “Kebangsaan dan Kerakyatan”, mendedah pemikiran Hatta ihwal isu persatuan, cinta Tanah Air, dan segenap spektrum kesadaran kebangsaan.

Buku Satu (655 halaman), mengelaborasi kepemimpinan yang berorientasi kepada rakyat. Termasuk bagaimana pemimpin dalam menciptakan habitat yang memengaruhi perilaku dan sikap.  “Der Mensch ist, war er istz ; sikap manusia sepadan dengan caranya mendapatkan makan”, Hatta mengutip pepatah Jerman.

Buku Lima, “Sumber Daya Ekonomi dan Kebutuhan Pokok Masyarakat”, merangkum pemikiran Hatta yang luas ihwal ekonomi dan finansial. Termasuk gagasan yang masih relevan terkait pembangunan Papua, yakni dengan meningkatkan SDM pendidiknya.

Emil Salim (Milesia.id/Prio P)

Cendekiawan  dan mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim berpandangan, inovasi dalam pemikiran Hatta terentang dari persoalan hak asasi manusia yang menjadi ‘bahan’ baku dalam penyusunan UUD 1945. “Negara menjamin hak rakyat untuk berbicara, pendidikan dan mencari nafkah serta beribadah dengan bebas. Hatta meyakini, pemerintah tidak boleh mencampuri substansi keberagamaan. Agama biarlah berkembang tapi jangan dijadikan kendaraan politik”. Emil mengkritik politisasi agama yang marak satu dekade belakangan, dan kian menjauhkan pemeluk-pemeluk agama dari religiusitas.

Ekonomi Kerakyatan

Menarik juga mengulik Buku Enam, “Gerakan Koperasi dan Perekonomian Rakyat”. Disusun setebal 304 halaman, merangkum pikiran-pikiran Hatta tentang gerakan ekonomi yang paling sesuai dengan kepribadian dan kultur Indonesia : koperasi. “..kebulatan hati sudah ada untuk mengembalikan koperasi ke jalan yang benar, sesudah diseret ke jalan yang salah dan diobrak-abrik sampai rusak organisasinya dan hilang semangatnya,” tulis Hatta.

Kini, gerakan koperasi juga masih dalam tarik menarik antara membersihkan citra negatif dan memulai inovasi-inovasi baru praksis berkoperasi yang kekinian. Citra buram, sering dianggap sebagai warisan masa lalu, yang mewarisi tradisi berkoperasi sarat fasilitas dari pemerintah (Orde Baru) dan minim inisiatif mandiri yang jauh dari prinsip-prinsip koperasi.

Meutia Hatta (Milesia.id/Prio P)

Kutub berikutnya, adalah gelora kalangan milenial yang berniat merebut kembali semangat dan praksis berkoperasi sejati dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan pijakan revolusi industri 4.0.

“Ayah berusaha menegakkan hak-hak sosial rakyat.  Pada tahun 1931, jauh sebelum kemerdekaan, Hatta menerbitkan tulisan Arah Indonesia Merdeka pada 1931. Memuat prinsip-prinsip kerakyatan sebagai jantung bangsa. Kalangan intelektual hanya akan berhasil jika sadar dan didukung rakyat akan kedaulatan Indonesia,” papar Putri pertama Bung Hatta Meutia Farida Hatta-Swasono. Dan kita semua tahu, prinsip-prinsip kerakyatan yang mengejewantah dalam perekonomian itu adalah koperasi.

(Milesia.id/Prio Penangsang)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close