Milescoop
Trending

Perkuat Posisi Tawar Pekerja dengan Koperasi

Era Milenial, Koperasi Pekerja Harus Melek Teknologi

 

Diantara jenis-jenis koperasi yang jumlahnya lebih dari seratus ribu unit, 13.595 diantaranya adalah Koperasi Karyawan (Kopkar). Dari jumlah itu, 9.041 aktif.  Koperasi karyawan masih eksis dengan aneka performa. Mereka tersebar di ribuan instansi pemerintah, perusahan swasta, hingga pabrik-pabrik di seluruh Indonesia. Ada yang biasa-biasa saja, hidup segan mati tak mau, hingga berprestasi global dengan asset triliunan. Disamping perlu berinovasi, kopkar perlu melakukan redistribusi aset dan pendapatan agar mampu mewujudkan kesejahteraan anggota. Performa Kopkar yang bagus akan menarik generasi milenial untuk berkoperasi.

Hal di atas mengemuka dalam sebuah diskusi nasional bertajuk ‘Membangun Peran Strategis Koperasi Karyawan di Era Milenial’ di Jakarta, awal Oktober lalu.

Mengacu UU Nomor 25/1992 tentng Perkoperasian, kopkar termasuk kelompok koperasi konsumen. Sedangkan berdasarkan UU Ketenagakerjaan, kopkar disebut sebagai koperasi pekerja.  Koperasi yang diatur dalam UU itu adalah Koperasi produsen, koperasi konsumen, koperasi pemasaran, koperasi jasa dan koperasi simpan pinjam. Koperasi Karyawan bergerak di bidang jasa yang berdasarkan consumer base. Dari regulasi UU Ketenagakerjaan, disebut sebagai Koperasi Pekerja. Alhasil, ada dua model koperasi berbasis karyawan yang dikembangkan.

Pekerja pabrik, posisi tawar rentan (Milesia.id/Prio. P)

Tenaga kerja formal mencakup 51 juta lebih, pekerja nonformal mencakup 72,6 juta orang. Mereka merupakan potensi ekonomi yang sangat besar untuk menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Nasional bisa di atas 5%, karena faktor konsumsi yang tinggi.

Faktor yang mendorong konsumsi tinggi adalah angka pertumbuhan penduduk yang besar. Di negara-negara maju, pertumbuhan ekonomi nya cenderung stagnan, karena pertumbuhan penduduknya cenderung nol, sehingga faktor konsumer nya juga tidak bergerak naik.

Pengurus koperasi tingkat primer dituntut agar bisa memenuhi kebutuhan anggotanya, seperti kebutuhan simpan pinjam, pengadaan sembako, kendaraan, dan rumah tinggal.  Adapun organisasi di tingkat sekunder, termasuk induk koperasi, keberadaannya diperlukan untuk merumuskan dan memperjuangkan berbagai regulasi yang dapat menunjang keberadaan koperasi primer.  Agar bisa tumbuh dan berkembang, keduanya harus membangun sinergi dan kolaborasi usaha.

Dijumpai Milesia.id di ruang kerjanya di bilangan Cikini, Jakarta Pusat (6/11), ahli ekonomi perkoperasian Prof. Dr. Agustitin Setyobudi menyarankan, pengurus koperasi agar meningkatkan kreativitas dan produktivitas agar bisa mewujudkan kesejahteraan anggota.

Agustitin juga mengisyaratkan pengurus bisa melakukan afiliasi dan aliansi antar koperasi untuk mengembangkan usahanya. “Yang penting bagaimana anggota merasa nyaman dan percaya bahwa pengurus bertugas mewujudkan keinginan dan keuntungan,” katanya.

Guru besar di bidang perkoperasian ini menyatakan karakter pengurus tidak dipandang dari usia, tua atau muda. Jika bisa menyesuaikan dengan kemajuan zaman atau era milenual, tak masalah, malah itu yang dibutuhkan.

“Sebaliknya, jika tak mampu mengembangkan diri, dia termasuk golongan purna milenial, jadi harus diganti,” ujar Agustitin.

Sejumlah koperasi karyawan di tanah air memang mencatatakan prestasi mengagumkan. Sebut saja Koperasi Kisel dan Koerasi Karyawan Semen Gresik (KWG) yang assetnya triliunan rupiah dan memiliki beragam unit bisnis yang berkembang.

Koperasi Karyawan Milenial

Dalam pandangan  Prof. Dr. Agustitin Setyobudi, Kopkar harus terus berinovasi untuk menjawab tantangan kalangan milenial. Generasi yang lahir awal 1980-an hingga awal 2000-an, yang dikenal melek teknologi dan sangat dinamis.

Agustitin Setyobudi (Milesia.id/Prio.P)

Karakteristik Milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. “Di sebagian besar belahan dunia, pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi; meskipun pengaruhnya masih diperdebatkan. Masa the Great Recession, memiliki dampak yang besar pada generasi ini yang mengakibatkan tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan anak muda, dan menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan krisis sosial-ekonomi jangka panjang yang merusak generasi ini,” papar Agustitin.

Biro sensus di Amerika Serikat menyebutkan, populasi generasi millenial pada tahun tiga tahun lalu saja sudah di kisaran 75,3 juta jiwa, dan menjadi kelompok generasi terbesar.

Era milenial juga menjadi peluang bagi Kopkar untuk berinovasi bisnis mengacu karakteristik generasi milenial yang potensial jadi anggotanya. Diantaranya bisnis Startup, kafe, afiliasi bisnis, audiovisual, hingga trading. 

“Koperasi bagi generasi milenial mungkin bukan hal yang seksi. Padahal, koperasi masih eksis dan banyak produknya yang masih diminati baik oleh pangsa pasar dalam negeri maupun luar negeri. Namun, pada era digital ini koperasi memiliki sejumlah tantangan agar produknya dapat terus bersaing di era kekinian ini,” imbuh Agustitin.

Untuk itu, lembaga Kopkar harus mampu menerapkan beberapa strategi dalam era millenial ini. Antara lain, Kopkar harus mampu menjadikan badan usaha yang seksi agar menarik bagi generasi milenial, eksis dan memiliki banyak produk yang diminati baik oleh pangsa pasar dalam negeri maupun luar negeri, hingga menjadi solusi bagi  anggotanya dan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Koperasi bagi generasi milenial mungkin bukan hal yang seksi. Padahal, koperasi masih eksis dan banyak produknya yang masih diminati baik oleh pangsa pasar dalam negeri maupun luar negeri. Namun, pada era digital ini koperasi memiliki sejumlah tantangan agar produknya dapat terus bersaing di era kekinian ini. Untuk itu, lembaga Kopkar harus mampu menerapkan beberapa strategi dalam era millenial ini. Antara lain, Kopkar harus mampu menjadikan badan usaha yang seksi agar menarik bagi generasi milenial, eksis dan memiliki banyak produk yang diminati baik oleh pangsa pasar dalam negeri maupun luar negeri, hingga menjadi solusi bagi  anggotanya dan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat.

 Belajar dari Mondragon

Masih menurut Agustitin, Kopkar perlu belajar dari Koperasi Mondragon yang berada di Spanyol, yang didirikan oleh 5 orang remaja lulusan Politeknik atas ide dari Jose Maria Arizmendi pada tahun 1956  bahwa keberhasilan koperasi ini ditentukan oleh pendidikan dan pelatihan anggotanya yang mampu menjadikan Mondragon sebagai koperasi kelas dunia, membawahi 264 perusahaan, yang bergerak di sektor keuangan, indusri manufaktur, dan distribusi dengan jumlah anggota Koperasi Mondragon sebanyak 62.764 anggota.

Hingga saat ini operasionalnya sudah ke berbagai negara antara lain Italia, Portugal, Inggris, Rumania, Slovakia, Turki, Cekoslawakia, Amerika Serikat, Brazil hingga Maroko dan Cina.

Koperasi Mondragon, Spanyol adalah contoh yang sangat menarik, bagaimana para pekerja. Koperasi Mondragon, memang telah menjelma menjadi bisnis skala raksasa, yang operasionalnya sudah bukan cuma di Spanyol, tapi juga menembus Italia, Portugal, Inggris, Rumania, Slovakia, Turki, Cekoslawakia, Amerika Serikat, Brazil hingga Maroko dan Cina. Koperasi ini membawahi 264 perusahaan, yang bergerak di sektor keuangan, indusri manufaktur, dan distribusi. Seantero Spanyol, Koperasi Mondragon menempati urutan ketujuh industri terbesar.

Koperasi Mondragon memiliki 62.764 anggota. Tahun ini, mereka menikmati deviden yang totalnya lebih dari 204 juta dolar AS. Karena makin luasnya bisnis yang ditangani, tidak semuanya karyawan berasal dari anggota. Jika ditotal, karyawan murni yang bekerja di seluruh bisnis Koperasi Mondragon, sebanyak 78.455 orang. Di luar bisnis, Koperasi Mondragon juga sangat konsen pada pendidikan, dengan mendirikan beberapa perguruan tinggi. Di antaranya, Mondragon Unibertsitatea, yang memberikan tiga hal penting pada mahasiswanya, yaitu peningkatan skill, pengetahuan dan nilai tambah. Pengantar kuliah di universitas ini, menggunakan tiga bahasa, yaitu Basque, Spanyol dan Inggris. Kemudian Politeknika Ikastegia Txorierri, yang khusus meningkatkan skill mahasiswanya di bidang teknik. Ada juga lembaga-lembaga kursus, seperti The Lea Artibai Ikastetxea, MIK (sekolah bisnis) dan The Garaia Innovation Park. 

 

(Ahmad Mutaqin Habibi/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close