DINAMIKAMileshistory
Trending

Lafran Pane: “Long Time to Unity”

Refleksi Hari Pahlawan, 10 November 2018

MILESIA.ID – Lafran tergopoh-gopoh melintasi pelataran sebuah gedung pertemuan.

Hari itu, ia bermaksud menghadiri Kongres ke-8 HMI di Solo. Namun saat hendak memasuki ruang pertemuan, petugas kemanan mencegahnya di muka pintu.

“Tunggu dulu, bisa tunjukkan identitas HMI Anda?” Sergah seorang petugas keamanan dengan suara mantap berwibawa. Lafran Pane menggeleng.

“Kalau begitu, Anda tidak diizinkan masuk!” tegasnya.

Lafran tersenyum, petugas keamanan dan para pengurus muda yang berada di lokasi nampaknya tidak mengenalinya. Beruntung serombongan Pengurus Besar HMI datang dan mengatakan pada keamanan bahwa yang berada di depan mereka itu adalah Lafran Pane, Sang Pemrakarsa HMI.

Mendapat perlakuan seperti itu, Lafran sama sekali tidak merasa tersinggung apalagi marah, sebagaimana umumnya budaya senioritas pada sebuah organisasi. Ia justru merasa bersyukur, kaderisasi HMI nyatanya berhasil, pengurus muda konsisten menerapkan aturan.

Kisah kebersahajaan dan keteguhan hati Penggagas Hijau Hitam itu memang termasyhur. Setelah menjadi Guru Besar Ilmu Tata Negara di IKIP Yogyakarta (UNY) pada tahun 1964, ia kerap ditemui sedang mengayuh sepeda onthelnya.

Melalui HMI, Lafran Pane juga meyakini, jika ajaran Islam dipraktikkan oleh rakyat Indonesia dalam segala aspek kehidupan dengan sebaik-baiknya, bangsa lainnya tidak akan bisa menjajah dan mengeksploitasi Indonesia.

Lafran Pane telah menunjukkan bahwa antara Keislaman dan Keindonesiaan tidaklah bertentangan, akan tetapi merupakan dua hal yang dapat bergandengan tangan untuk mengangkat harkat dan derajat bangsa.

Menurut lelaki sederhana yang baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 9 November 2017 lalu itu, penjajahan hanya dimungkinkan ketika penjajah mengetahui lemahnya pendidikan Islam pada mayoritas masyarakat Indonesia. Padahal, ajaran Islam selalu mengajarkan tentang kesetaraan serta mengutamakan pentingnya persatuan.

LAHIR DARI KELUARGA JURNALIS

Nama Lafran Pane memang tidak semasyhur tokoh-tokoh nasional tanah air lainnya. Namun sepak terjang lelaki penyabar ini dalam perkembangan semangat pergerakan dan nasionalisme para pemuda sangatlah besar.

Lafran lahir di kampung Pangurabaan Kecamatan Sipiriok, yang terletak di kaki Gunung Sibualbuali, 38 kilometer ke arah Utara dari Padang Sidempuan, Ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan, pada tanggal 12 April 1923.

Belakangan diketahui bahwa sebenarnya Lafran Pane lahir di kota Padang Sidempuan 5 Februari 1922, namun untuk menghindari berbagai macam tafsiran karena bertepatan dengan berdirinya HMI, Lafran Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi 12 April 1923.

Lafran adalah anak keenam dari Sutan Pangurabaan Pane dengan istri pertamanya, yang meninggal 2 tahun setelah si bungsu Lafran Pane lahir. Lima orang saudara sekandung lainnya bernama Nyonya Tarip, Sanusi Pane, Armijn Pane, Nyonya Bahari Siregar, Nyonya Ali Hanfiyah. Serta dua orang saudara seayah lainnya, yaitu Nila Kusuma Pane dan Krisna Murti Pane.

Ayahnya, Sutan Pangurabaan adalah seorang jurnalis, sastrawan, kepala sekolah di HIS, pendiri Muhammadiyah di Sipirok dan tokoh Partai Indonesia (PARTINDO) di daerah Sumatera Utara. Sutan Pangurabaan adalah pendiri dan pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan (terbit 1927), berbahasa Angkola, yang terus menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Selain usahanya di bidang penerbitan dan percetakan, ia juga menjadi Direktur Oto Dinas Pengangkutan (ODP) “Sibualbuali”, yang berpusat di kota Sipiriok, suatu perusahaan otobis Nasional yang tertua di seluruh Sumatera Utara. Sedang nenek dari Lafran Pane adalah adik dari seorang Ulama Besar, Syekh Badurrahman.

Menurut cerita, di masa kanak-kanaknya, Lafran Pane terkenal sebagai anak yang nakal. Hal ini disebabkan kurangnya kasih sayang dari ibu kandungnya yang meninggal saat Lafran berusia 2 tahun. Ia tidak puas dengan asuhan ibu tirinya dan tumbuh menjadi anak yang rendah diri. Kurangnya kasih sayang itu pada akhirnya menuntut kompensasi berupa kenakalan luar biasa dan jalan pikiran yang sulit dimengerti.

Pendidikan formal Lafran ditempuhnya mulai dari pesantren Muhammadiyah Sipiriok, selama 3 tahun, semuanya tidak tamat. Lafran kemudian pindah ke Sibolga untuk bersekolah HIS Muhammadiyah. Ia kembali lagi ke Sipiriok untuk masuk ke Ibtidaiyah kemudian diteruskan ke Wustha. Dari Wustha, Lafran pindah ke Taman Antara Taman Siswa Sipiriok. Selanjutnya pindah lagi ke Taman Antara Taman Siswa di Medan. Belum tamat dari Taman Siswa Medan, ia sudah dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya.

Dari sinilah Lafran memulai petualangan hidupnya. Ia meninggalkan rumah tempat tinggalnya, yakni rumah kakak kandungnya Nyonya dr. Tarip, dan menjadi petualang di sepanjang jalanan kota Medan. Tidur tidak menentu, kadang menggeletak di kaki lima, di emper-emper toko. Kegiatan sehari-harinya adalah menjadi penjual karcis bioskop, main kartu, menjual es lilin, sebagai penyambung hidup.

Pada tahun 1937 atas permintaan dua abang kandungnya, Armijn Pane dan Sanusi Pane yang merupakan sastrawan dan penulis kenamaan tanah air, Lafran pindah ke Batavia. Di Batavia ini, Lafran Pane memulai sekolah di kelas 7 HIS Muhammadiyah, menyambung ke MULO Muhammadiyah, AMS Muhammadiyah, kemudian ke Taman Dewasa Raya Jakarta.

Lahir dari keluarga jurnalis dan sastrawan yang kuat di dalam wacana dan analisa, Lafran Pane memang tumbuh menjadi seorang pemuda yang kritis terhadap lingkungan sekitar. Selama bersekolah di Batavia itu, Lafran Pane dikenal sebagai murid cerdas, walaupun juga nakal luar biasa. Lafran pernah memasuki organisasi “Bende” yang bernama “Zwerte Bende”, seperti “geng” pada masa itu. Karena tingkah lakunya Lafran sering berkenalan dengan meja hijau dan dituntut membayar denda.

Ketika bersekolah di Taman Dewasa Raya Jakarta itu juga, Lafran Pane bertemu dengan Dipa Nusantara (DN) Aidit. Mereka pernah bersama – sama memasuki Barisan Pemuda “Gerindo”, walaupun pada akhirnya arah pergerakan keduanya berseberangan. DN Aidit pernah memimpin aksi untuk membubarkan HMI yang notabene adalah organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane.

Pada zaman Jepang bersama pemuda yang lain, Lafran Pane termasuk dalam golongan pemuda yang dibina oleh Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Saat Jepang menyerah kepada sekutu tanggal 14 Agustus 1945, pemuda dan mahasiswa Indonesia termasuk di dalamnya Lafran Pane mengikrarkan : “Tidak mau menerima Kemerdekaan Indonesia dari Jepang seperti apa yang dipersiapkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)”. Ia pun terlibat dalam insiden penculikan Rengasdengklok.

MENGGAGAS BERDIRINYA HMI

Seperti termaktub dalam catatan sejarah, tanggal 4 Januari 1946, Presiden, Wakil Presiden dan seluruh kabinet serta menteri RI hijrah ke Yogyakarta.

Sekolah Tinggi Islam (STI), yang berdiri tanggal 27 Rajab 1364 H atau 8 Juli 1945 di Jakarta, ikut pula hijrah ke Yogyakarta. Tepatnya pada tanggal 10 April 1946.

STI inilah yang kelak berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada tanggal 20 Mei 1948 sampai sekarang.

Kepindahan STI ke Yogyakarta secara otomatis membuat mahasiswanya juga ikut hijrah ke Yogyakarta, salah satunya seorang mahasiswa baru bernama Lafran Pane.

Mahasiswa semester I Sekolah Tinggi Islam (STI) inilah yang kemudian menggagas sebuah organisasi mahasiswa bernafaskan Islam. Pemuda yang tengah bertransformasi dari remaja nakal menjadi seorang pemuda yang resah melihat tingkah polah kehidupan para mahasiswa di awal kemerdekaan. Lafran merasa gelisah melihat sikap para mahasiswa yang lebih peduli dan cenderung berkiblat kepada budaya ‘barat.’

Lafran Pane juga melihat munculnya sikap-sikap fanatisme kelompok. Kebekuan pemikiran Islam saat itu telah membawa pada arti agama yang kaku dan sempit, tidak lebih dari ritual agama dan Alquran hanya menjadi bahan bacaan.

Ia berpendapat gagasan pembaharuan pemikiran keislaman dapat dilakukan dan dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Gagasan pembaharuan pemikiran Islam ini pun hendaknya dapat menyadarkan umat Islam yang terlena dengan kebesaran dan kejayaan masa lalu.

Bersama Kartono Zarkasy (Ambarawa), Dahlan Husein (Palembang), Siti Zainah (Palembang), Maisaroh Hilal (cucu KH.Ahmad Dahlan, Singapura), Soewali (Jember), Yusdi Gozali (Semarang, juga pendiri PII), M. Anwar (Malang), Hasan Basri (Surakarta), Marwan (Bengkulu), Tayeb Razak (Jakarta), Toha Mashudi (Malang), Bidron Hadi (Kauman-Yogyakarta), Sulkarnaen (Bengkulu) dan Mansyur, Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta pada hari Rabu Pon, 14 Rabiul Awal 1366 H atau 5 Februari 1947 pukul 16.00 WIB.

Lafran Pane dan anak-anak muda ini sepakat mendirikan HMI karena organisasi Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) saat itu, tidak menyalurkan aspirasi keagamaan. Ketika itu Soetan Sjahrir masih memimpin kabinet sehingga tidak heran jika PMY dipengaruhi semangat sosialisme. Perdana Menteri Syahrir adalah tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Lafran dan kawan-kawannya membentuk perhimpunan tersebut dengan memakai jam kuliah Tafsir Husein Yahya. Lafran Pane tidak dengan tangan kosong mendirikan HMI. Dia datang bersama Anggaran Dasar yang sudah jadi sebelum dia tiba.

Tetapi Lafran mundur dari Ketua Umum HMI pada 22 Agustus 1947 dan memilih menjadi Wakil Ketua Umum. Ia hanya menjabat Ketua Umum selama 7 bulan, selanjutnya posisinya diberikan kepada mahasiswa UGM bernama Mohammad Syafa’at Mintaredja.

Ini dilakukan Lafran agar HMI tidak terkesan milik mahasiswa STI. Dengan dipimpin mahasiswa UGM, kampus yang lebih besar, diharapkan akan memperluas dakwah HMI di kampus umum dan memperkuat posisi HMI di dunia kemahasiswaan.

Lafran Pane sendiri, sebelum tamat dari STI, memutuskan pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) pada April 1948, yang kemudian dinegerikan menjadi Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 1949. Lafran Pane termasuk salah satu sarjana ilmu politik pertama di Indonesia, ia memperoleh gelar sarjana pada tanggal 26 Januari 1953.

PASANG SURUT SANG HIJAU HITAM

Mengutip laman tirto.id: “Legenda Hijau Hitam Mahasiswa Islam”, di masa Orde Lama, HMI dianggap sebagai underbouw Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), partai Islam yang menjadi partai nomer dua terbesar setelah PNI dalam Pemilu 1955. Sukarno menganggap Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI sehingga Masyumi (dan PSI) akhirnya dibubarkan.

Di pengujung kekuasaan Orde Lama, posisi HMI seolah berada di ujung tanduk. Musuh HMI bukan lagi mahasiswa sosialis, tapi mahasiswa komunis yang tergabung dalam Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). CGMI berusaha keras membubarkan HMI pada 1965.

Walaupun posisinya sangat rentan, HMI masih dibela banyak orang. Menurut pengakuan Ridwan Saidi, mantan Ketua PB HMI, dalam buku Selamat Berkarunia (2008), Wakil Perdana Menteri III Johannes Leimena berusaha mencegah Presiden Sukarno membubarkan HMI. Ketika tokoh-tokoh Islam hendak mencari tempat aman untuk menggelar rapat, tokoh Kristen menyediakan Gereja Imanuel di depan Stasiun Gambir.

Setelah dihalangi Leimena, Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI) angkat bicara memperkeruh suasana. Dalam sebuah pidato di hadapan para aktivis CGMI, D.N. Aidit mengatakan dengan jelas:

“Kalau pemerintah tidak mau membubarkan HMI, jangan kalian (CGMI) berteriak-teriak menuntut pemerintah pembubaran HMI. Lebih baik kalian bubarkan sendiri. Dan kalau kalian tidak mampu, lebih baik kalian jangan memakai celana, tukar dengan kain sarung perempuan.”

Ketika itu, Hussein Haikal, yang belakangan menjadi profesor sejarah di sebuah kampus di Yogyakarta, masih muda. Pada 1965, dia masih mahasiswa pendidikan sejarah di Yogyakarta. Dia menjadi saksi kucelnya anak-anak CGMI. Sementara anak-anak HMI necis-nesis. Kalau mau masuk HMI harus bayar uang pendaftaran. Tapi masuk CGMI gratis. Anak-anak CGMI bahkan disediakan banyak buku-buku bagus ketimbang anak-anak HMI.

Tapi, HMI belum mati dalam pusaran politik Indonesia 1965. Justru CGMI yang berkalang tanah. Tahun 1966 HMI mulai mengecap kejayaan. CGMI berhasil digulung laskar Hijau Hitam ini. HMI menjadi bagian penting Angkatan 66 yang menjatuhkan Sukarno dan memuluskan lahirnya Orde Baru.

Sejak saat itulah, HMI tumbuh semakin besar dan kuat. Sekretariat organisasi ini sangat mudah ditemukan di kampus-kampus negeri maupun swasta. Tokoh-tokoh nasional banyak lahir dari rahim HMI, seperti Cak Nur, Akbar Tanjung, Amien Rais, Mahfud MD, Jusuf Kalla, Abdullah Hehamahua, Anas Urbaningrum, Zulkifli Hasan, Munir, Husni Kamil Manik, Ade Komaruddin, Anies Baswedan, Irman Gusman serta masih banyak lagi.

Namun belakangan, kebijakan pemerintah Orde Baru malah memunculkan perbedaan tajam di tubuh HMI yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Pemicunya terjadi pada Kongres HMI ke-15 di Medan pada 1983 di mana HMI menerima azas tunggal Pancasila. Saat itu Orde Baru memang memaksakan kehendak untuk menjadi Pancasila sebagai azas semua organisasi yang berdiri di Indonesia.

Ada kubu HMI yang menerima Pancasila sebagai azas tunggal (kemudian disebut HMI Dipo karena berkantor di Jalan Diponegoro) dan ada yang mempertahankan azas Islam (mereka membuat Majelis Penyelamat Organisasi, dikenal sebagai HMI MPO) dengan Ketua Umum perdananya, Kanda Eggy Sujana.

LINDAPNYA ASA SANG PENGGAGAS

Jika melihat nasib kader-kader Lafran saat ini, akan muncul pertanyaan: siapakah yang sanggup meneruskan keteguhan Lafran Pane dalam menjaga keutuhan NKRI, keislaman dan keindonesiaan? Siapa pula yang sanggup hidup bersahaja seperti beliau?

Para senior HMI yang terlibat dalam penggulingan Sukarno medio 60-an, banyak yang berada di lingkaran kekuasaan Orde Baru. Akbar Tanjung adalah salah satunya. Yang menjadi pengusaha kaya di antaranya Jusuf Kalla. Mantan HMI jadi menteri atau pejabat lembaga negara lain adalah hal biasa.

Di era Reformasi, kiprah generasi HMI juga tak kalah moncer dibanding era sebelumnya. Jusuf Kalla, Zulkifli Hasan, Mahfud MD dan Anas Urbaningrum contohnya. Sayangnya, semangat keislaman dan keindonesiaan yang sejati tidak benar-benar dimiliki penerus Lafran ini. Anas Urbaningrum tersandung kasus korupsi dan harus mendekam di bui.

Bangun mentalitas generasi muda HMI nyatanya juga tak semanis harapan Lafran. Sepak terjang kader HMI yang acap kali diberitakan saat ini, lebih mirip gerombolan dibanding aktivis intelektual nan progresif.

Seperti dilansir laman tirto.id: “Legenda Hijau Hitam Mahasiswa Islam”, kericuhan pada demonstrasi 4 November 2016 malam, disebut-sebut dipicu oleh para aktivis HMI. Pada hari itu masyarakat turun ke jalan-jalan di Jakarta, Indonesia untuk memprotes pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (atau yang dikenal sebagai “Ahok”) yang dianggap menghina agama Islam.

Entah kenapa, barisan HMI memulai kegaduhan disertai lemparan potongan bambu ke arah aparat. Barisan aparat pun terdobrak lalu aksi demontrasi berakhir menjadi bentrokan. Walaupun setelah dilakukan klarifikasi, tidak terbukti kader HMI yang sengaja melakukan provokasi.

Bukan sekali ini saja HMI menjadi berita karena kericuhan. Kurang lebih 3 tahun lalu, pada 21 November 2015, ratusan anggota HMI asal Makassar yang kecewa dengan panitia Kongres HMI di Riau memblokir jalan. Mereka juga diberitakan tak membayar makanan di warung.

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga pernah menjadi sasaran. Pada 9 Mei 2016, para aktivis HMI berdemonstrasi karena marah dengan ucapan Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, yang dianggap melecehkan HMI. Di sebuah televisi swasta, Saut berbicara tentang alumni-alumni HMI yang tersangkut kasus korupsi. Saut saat itu berkata: “Kalau dia HMI minimal dia ikut LK 1, saat mahasiswa itu pintar, tapi begitu menjabat dia jadi curang, jahat, greedy.”

Marah mendengar ucapan Saut, anggota HMI datang ke gedung KPK. Lemparan batu memecahkan kaca gedung. Mereka juga mencoret-coret tembok KPK. Di antaranya adalah: “Saut PKI.” Dalam sejarahnya, PKI alias Partai Komunis Indonesia adalah musuh HMI nomor satu.

Belakangan, beberapa kader HMI juga disinyalir terlibat dalam aksi anarkis di Yogyakarta pada peringatan hari buruh, 1 Mei 2018.

Begitulah sepak terjang kader HMI dalam satu dasawarsa terakhir. Walaupun tidak serta merta menjadi perwujudan wajah HMI secara utuh, sepertinya semangat dan tauladan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai keislaman dan persatuan yang didedahkan Lafran Pane tengah lindap. Menjadi sebuah romantisme yang kemudian berharap tak berakhir pupus.

SEBUAH REFLEKSI

Prof. Dr. Dochak Latief mengatakan, Lafran Pane itu sederhana sekali hidupnya. Lafran tidak mempunyai rumah sampai akhir hayatnya. Lafran juga tak mempunyai ambisi politik untuk berkuasa.

Agus Salim Sitompul, pencatat dan tokoh sejarah HMI pernah mengatakan bahwa Lafran sejatinya keras dalam hal prinsip. Lafran tidak pernah mengharapkan sesuatu yang bukan miliknya. Kalau ada keinginan, maka ia akan berusaha mendapatkan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Kisah kesederhanaan dan kerasnya pendirian Lafran dibenarkan oleh Hariqo Wibawa Satria, penulis buku “Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya”. Ia menceritakan bagaimana Akbar Tanjung terpaksa ‘mengakali’ Lafran agar mau menerima jas bagus.

Bahkan, upaya politisi senior Golkar ini memasukkan nama Lafran sebagai salah satu Dewan Pertimbangan Agung (DPA) tidak mampu menggoyahkan pendiriannya.

Sebuah kisah tentang kebersahajaan Lafran adalah saat pihak Sekretariat DPA RI menghubunginya untuk menanyakan kebutuhan yang diperlukannya.

“Saya hanya butuh telepon, itu saja.” Sahut Lafran terus terang.

Sebagai anggota DPA, Lafran sama sekali tidak meminta rumah dinas, mobil mewah atau fasilitas penunjang lainnya.

Bahkan putra Lafran – Iqbal Pane mengisahkan bahwa tidak satupun dari anak Lafran yang mengetahui bahwa ayahnya itu seorang tokoh nasional pendiri HMI. Mereka baru mengetahui itu saat mengikuti Latihan Kader (LK) HMI yang kebetulan mengisahkan materi sejarah perjuangan HMI. Jika tidak, anak-anak Lafran hanya tahu ayahnya seorang dosen di Universitas Negeri Yogyakarta.

Pahlawan Nasional yang meninggal pada tanggal 25 Januari 1991 dalam usia 68 tahun itu telah mewariskan semangat bela negara, rasa cinta tanah air, semangat persatuan, kepada salah satu kelompok strategis di masyarakat, yaitu mahasiswa.

Itu terlihat dari dua tujuan HMI yang didirikannya. Yaitu: pertama, mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Jadi kepentingan nasional diatas kepentingan lainnya.

Dan yang lebih penting, Lafran Pane sebagai individu maupun HMI sebagai organisasi yang didirikannya mengambil posisi tidak terlibat dalam berbagai polarisasi ideologi yang berkembang setelah kemerdekaan.

Ia dan HMI independen dari berbagai kepentingan kelompok. Baik kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara sosialis, serta kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara komunis.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close