ADVERTORIAMilesosbud
Trending

Ada Apa dengan Sekaten Tahun Ini? Temukan Romantisme Klasiknya Di Sini

Oleh : Desy Wiji Lestari*

MILESIA.ID, JOGJA – Sekitar tahun 90-an, Sekaten identik dengan kapal “otok-otok” berwarna-warni. Kapal dari bahan kaleng atau seng bekas yang digerakkan oleh sumbu api. Nama “otok-otok” berasal dari bunyi yang dikeluarkan kapal kaleng itu ketika berputar-putar mengelilingi baskom air.

Selain kapal otok-otok, kita juga biasa melihat mbok-mbok penjaja “endhog abang” (telur merah), yaitu telur rebus yang kulitnya diberi perwarna merah. Endhog abang dibuat dengan ditusuk menggunakan sebilah lidi atau bambu berukuran kecil lalu diberi hiasan kertas seadanya. Hiasan ini dibuat untuk menarik minat anak-anak.

Konon, tradisi membuat endhog abang ini sudah ada sejak Sekaten pertama kali diadakan, bahkan semenjak keraton Yogyakarta berdiri.

Kapal otok, endhog abang, arum manis, gunungan dan ritual klasik lainnya adalah hal-hal yang menjadi romantisme setiap perayaan Sekaten. Orang-orang tua akan mencarinya sebagai ajang untuk bernostalgia. Lalu bagaimana dengan perayaan Sekaten tahun ini? Masihkah ada kisah yang sama?

Perayaan Sekaten 2018

MILESIA.ID/DESY WL – Pentas seni di panggung terbuka Sekaten 2018.

Ya, Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) Yogyakarta kembali digelar tahun 2018 ini. Istilah Sekaten sendiri berkembang dalam beberapa versi. Salah satu pendapat mengatakan bahwa istilah Sekaten berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat.

Sedangkan menurut laman Wikipedia.com, Sekaten adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad SAW yang diadakan setiap tanggal 5 Mulud (Rabiul Awal tahun Hijriah) di Alun-alun Utara keraton Surakarta dan Yogyakarta. Ritual ini dulunya dipakai Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat sekitar agar tertarik dan ikut memeluk agama Islam.

MILESIA.ID/DESY WL – Stand dari kecamatan Mergangsan.

Sumber lain mengatakan bahwa acara Sekaten sudah dilaksanakan jauh sebelum Keraton Yogyakarta berdiri, yaitu di era Kerajaan Demak pada masa pemerintahan Raden Patah. Ritual ini dilakukan untuk melestarikan tradisi perayaan tahunan yang sudah ada pada masa Majapahit.

Sementara untuk tahun 2018 sendiri, perayaan Sekaten diikuti lebih dari 500 stand yang terdiri dari wahana permainan anak, fashion, kuliner, hingga kerajinan kulit dan batik yang merupakan hasil industri para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan PMPS kali ini relatif lebih singkat, yaitu 18 hari. Mulai dari tanggal 2 hingga 19 November 2018. Meski begitu, banyak stand yang sudah beroperasi sejak 1 minggu sebelum event ini resmi dibuka.

Wahana Hiburan Rakyat

MILESIA.ID/DESY WL – Wahana kora-kora di ajang Perayaan Sekaten 2018

Sama seperti ajang hiburan rakyat lainnya, Sekaten memang terkesan klise alias menghadirkan hiburan yang relatif sama setiap tahunnya. Namun nyatanya, perayaan Sekaten masih menarik minat masyarakat Jogja dan sekitarnya.

Hiburan rakyat murah meriah adalah salah satu alasan kenapa Sekaten masih diminati. Salah satu yang paling dicari tentunya ajang permainan anak. Puluhan jenis wahana, mulai dari komedi putar, rumah hantu, tong setan, bom bom car, hingga wahana yang dianggap paling ekstrim, kora-kora. Harga tiketnya pun bervariasi, mulai 8 ribu rupiah hingga 15 ribu rupiah per orang untuk setiap kali main.

Eits, ternyata ada yang berbeda untuk Sekaten kali ini, yaitu hadirnya atraksi lumba-lumba. Ya, setelah absen selama 1 periode, kali ini atraksi lumba-lumba yang didatangkan langsung dari Taman Impian Jaya Ancol, hadir kembali. Cukup dengan merogoh kocek sebesar 30-60 ribu rupiah, atraksi lumba-lumba dan kawanan binatang pintar lainnya bisa langsung menjadi hiburan segar yang bisa dinikmati bersama keluarga.

MILESIA.ID/DESY WL – Kuliner khas tempo dulu.

Meski sempat menuai protes dari pihak tertentu, atraksi mamalia pintar ini tetap berjalan. Semua perizinan sudah terpenuhi secara legal.

Selain wahana permainan, PMPS kali ini juga menyajikan aneka kuliner khas tempo doeloe. Meski berada di era milenial, jajanan pasar dengan bahan dasar ketela seperti gethuk, gatot, hingga thiwul, ternyata masih mempunyai banyak penggemar. Sampai-sampai para pembeli rela mengantri demi mendapatkan sepincuk jajanan ini.

Untuk kalian para penikmat kuliner kekinian, jangan kuatir. Kalian bisa mencoba yang satu ini: aneka sea food. Di sini makanan ala resto yang dikenal mewah dan harga selangit, disulap menjadi street food (makanan siap santap yang dijual di pinggir jalan atau area publik). Mulai dari kerang, cumi bakar, hingga gurita, bisa kalian nikmati dengan harga terjangkau. So exciting, bukan?

MILESIA.ID/DESY WL – Salah satu stand dari kecamatan Gedong Tengen.

Tapi bukan itu saja, keikutsertaan stand-stand dari pemerintah setempat menambah marak suasana Pasar Malam Sekaten kali ini. Misalnya stand Dinas Perindustrian dan Perdagangan Yogyakarta yang menyuguhkan hasil industri para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). Ada pula stand dari kecamatan Gedong Tengen dan Mergangsan yang siap memberikan informasi serta pelayanan kepada masyarakat.

Jadi tunggu apa lagi? Ayo rame-rame sambangi Pasar Malam Sekaten 2018 di Alun-Alun Utara keraton Yogyakarta. Mari temukan keunikannya dalam romantisme nostalgia nguri-uri kabudayan Jawi.

(Milesia.id/ Desy Wiji Lestari)

*) Pemerhati sosial, lama berkecimpung di dunia pendidikan sebagai pengajar. Saat ini menjadi karyawan di Pemerintah Kota Yogyakarta. 

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close