Mileseducation
Trending

“Book Celebration : Merayakan Literasi Anak di Panggung Drama”

Tea a drink with jam and bread

That will bring us back to Do

Do – Re – Me – Fa – So – La – Tea..

Gerak, musik, drama (Milesia.id/Prio Penangsang)

Dalam koreografi rancak dipadu alunan musik berirama riang, duabelas bocah menari sembari menembang dalam bahasa Inggris. Kaki-kaki mereka ringan bergerak, tubuh meliuk, lengan berayun.

DO a deer, a female deer

RAY a drop of golden sun

ME a name, I call my self..

Sabtu (3/10), bertempat di auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, anak-anak usia sekolah dasar itu tengah menghelat Book Celebration (Bookcel). Agenda yang rutin digelar Pratiwi School, sebuah sekolah dwi bahasa di kawasan Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Kali ini, murid-murid dari kelas 1 hingga kelas 6 memanggungkan sejumlah lakon adaptasi karya sastrawan dunia. Sebut saja The Prince and The Pauper (Mark Twain), Heidi (Johann Spyri), The Hunchback of Notre Dame (Victor Hugo), hingga The Man in the Iron Mask (Alexandre Dumas).

“The Hunchback of Notre Dame” (Milesia.id/Prio Penangsang)

Prosesnya cukup panjang. Bersumber dari buku, para guru mereproduksi script dalam bahasa Inggris, meracik lakon dan setting panggung. Orang tua membantu menyiapkan kostum dan properti pertunjukan. Anak-anak, menghafal script dan berakting sesuai karakteristik tokoh yang akan diperankan. Butuh waktu berminggu-minggu, disela rutinitas mereka belajar di sekolah.

Ada misi menajamkan literasi dalam kegiatan ini. Mengasah kemampuan anak-anak dalam membaca, menulis, dan menganalisis pesan bersumber teks. “Kami mencoba mengajarkannya dengan mengenalkan anak-anak  pada produk literasi dunia. Tahun lalu, tema kegiatan serupa lebih bernuansa Indonesia. Tentang legenda-legenda Nusantara.  Sedikit banyak anak-anak dan orang tua sudah punya referensi, termasuk saat menerjemahkan dalam tata panggung dan kostum. Menjadikan anak-anak kita mengenal budaya bangsanya,” papar Stefanie Sekar, Kepala Pratiwi School, kepada Milesia, Sabtu (3/10).

“Nah, tahun ini tema Book Celebration bernuansa Internasional. Melalui karya-karya pujangga dunia, kami mengenalkan budaya internasional.  Ini menantang untuk dipanggungkan.  Alhamdulillah, guru-guru kami yang semuanya muda usia, sangat bersemangat dan selalu ingin berbuat lebih,” terang perempuan yang akrab disapa miss Fanie itu.  “Tahun depan, kami berencana memanggungkan kisah para pahlawan negeri ini,” imbuh Fanie.

Menyimak pementasan yang konstan dari pagi hingga sore hari, lakon dan setting panggung  yang berbeda di tiap pementasan, jelas bukan hal mudah.

Para guru dan sejumlah orang tua murid sudah sibuk bahkan jauh sebelum latihan perdana digelar di sela proses belajar anak-anak di sekolah. Orang tua mencari referensi dengan berburu buku-buku terkait lakon yang akan diadaptasi.

“The Man in the Iron Mask” (Milesia.id/Prio Penangsang)

“Latihan untuk performThe Prince and The Pauper”, misalnya, butuh waktu sekitar tiga pekan. Anak-anak itu, kan tidak bisa di push. Saya tarik ulur ritme latihannya untuk menjaga agar mood mereka tetap nyaman,” papar Miss Yani, salah seorang guru, kepada Milesia.

“Tantangan terbesar adalah mengelola mood anak-anak. Mereka pasti cape. Gimana caranya agar dalam situasi seperti itu kami mampu mengkondisikan anak-anak agar tetap mau latihan, sekaligus mau menerima kritik dari miss nya,” imbuh guru yang mengajar Elementary 3A ini.

Proses tak beranjak jauh dari hasil. Kerja keras para guru dan antusiasme anak-anak, sukses memesona para orang tua yang datang menyaksikan pementasan anak-anak mereka, akhir pekan lalu.

“Kami berterimakasih kepada semua pihak, terlebih bagi anak-anak kita yang telah bekerja keras, Amazing!  Juga para orang tua yang sudah membantu menyiapkan kostum,” papar Lia Mudahar, guru Pratiwi School. Miss Lia yang tengah hamil itu, bersama tandem mengajarnya, Miss Nur, berminggu-minggu mendampingi anak-anak Elementary 3B berlatih dan memanggungkan lakon Heidi.

Cape sih latihannya, tapi seneng. Mau deh tahun depan main lagi, hehe..,” papar  Gina, siswi Elementary 3B yang kebagian peran sebagai Grandmother dalam lakon Heidi.

Pesan moral dalam kemasan drama (Milesia.id/Prio Penangsang)

Di tengah tradisi literasi yang rendah, ikhtiar menumbuhkan minat baca yang susah payah, kreatifitas mementaskan karya-karya sastrawan dunia kepada anak-anak sungguh layak diapresiasi. Pesan- pesan kebaikan universal, kejujuran, budi pekerti dan empati, bisa dipanggungkan anak-anak dengan cara yang mengasyikkan.

I’am glad to go

I cannot tell a lie

I flit, I float

I fleetly flee,

I fly..

(Prio Penangsang/Milesia.id)

 

 

 

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close