MileseducationMileslitera
Trending

Menjadi Manusia Sejati Melalui Sastra! Hadiri “Hari Bersastra Yogya” 27 Oktober 2018

MILESIA.ID, JOGJA – Dua dasawarsa lalu, kita manusia Jawa, masih mengakrabi tembang-tembang dolanan; seperti cublak-cublak suweng, jaranan, jamuran dan masih banyak lagi.

Tembang dolanan sebagai karya sastra Jawa, pada masanya dihadirkan orang tua untuk menimang anak-anaknya sebagai tradisi turun-temurun dari nenek moyang.

Namun, perkembangan teknologi dan perubahan zaman telah menggeser minat masyarakat akan estetika sastra Jawa. Karya-karya sastra Jawa seperti macapat, geguritan, cerkak, jagading lelembut memang masih ada, namun jarang kita akrabi.

Padahal keberadaan sastra di kampung-kampung merupakan potensi bahkan aset bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kekayaan intelektual ini perlu disadari dan dijaga dengan melibatkan masyarakat luas sebagai pelaku sastra.

Untuk itulah, Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY dan Rumah Baca Ngudi Kawruh akan menggelar “Hari Bersastra Yogya” – Sambang Desa.

Acara yang digelar setiap tahun dan telah menapaki tahun ke 6 ini sekaligus merupakan perayaan hari jadi Studio Pertunjukan Sastra ke 18 (delapan belas) dan penanda 13 tahun bergulirnya acara Bincang-Bincang Sastra.

Melalui acara Hari Bersastra Yogya ini, Studio Pertunjukan Sastra mencoba memberikan tafsir bagaimana sastra Jawa dibaca, direspons, dan dipanggungkan.

Penyelenggaraan acara akan berlangsung di kompleks Taman Baca Ngudi Kawruh, Onggopatran RT 03, Srimulyo, Piyungan, Bantul pada Sabtu 27 Oktober 2018 pukul 09.00—23.00 WIB.

MILESIA.ID/SPS – Kemasan Acara akan dibedah menjadi 7 kegiatan yang menarik..

Kemasan Acara

Studio Pertunjukan Sastra akan menggelar rangkaian acara Hari Bersastra Yogya dengan mengedepankan serba-serbi sastra Jawa dalam dua bagian; Pertama, sarasehan dan pelatihan sastra Jawa. Kedua, pementasan sastra Jawa.

Adapun dua bagian itu (sarasehan dan pelatihan, serta pementasan sastra Jawa) akan dieksplorasi lagi menjadi 7 kegiatan yang menarik :

  1. Sarasehan Sastra Jawa dengan tajuk “Kesadaran Literasi Bahasa dan Sastra Jawa di Masyarakat” akan menghadirkan narasumber Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum. dan Sugito HaEs. Keduanya memiliki kompetensi di bidang literasi bahasa dan sastra Jawa.
  2. Pelatihan Sastra Jawa dengan tema “Mendekatkan Kembali Kisah Lokal Lewat Mendongeng, dalam hal ini berupa pelatihan mendongeng kisah lokal melalui media wayang kartun, menghadirkan narasumber Bagong Soebardjo. Sasaran pelatihan pementasan mendongeng berbahasa Jawa ini ialah para guru PAUD/TK dan pegiat Taman Baca Masyarakat (TBM) di kawasan Srimulyo, Piyungan, Bantul. Harapannya, kisah lokal masyarakat setempat dapat kembali terkuak dan tersampaikan kepada anak-anak sebagai generasi penerus, sehingga kisah-kisah itu tidak hilang dilupakan.
  3. Pementasan dolanan anak tradisional dan tembang dolanan lokal akan disajikan oleh Taman Baca Ngudi Kawruh, Onggopatran, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Di masa sekarang ini tembang-tembang dolanan lokal masyarakat sudah jarang diperdengarkan. Kalah dengan lagu-lagu pop dan dangdut. Melalui acara hari Bersastra Yogya ini tembang-tembang dolanan lokal itu akan dihadirkan kembali. Selain itu, dolanan anak tradisional yang dahulu hadir di masa kecil dengan tembang, gerak tari, dan kebersamaan juga akan disajikan.
  4. Pementasan Tembang Dolanan Anak. Tembang dolanan anak berbahasa Jawa akrab terdengar di telinga lewat pergelaran karawitan atau campursari tanpa diketahui siapa penciptanya. Nama seperti Ki Hadi Sukatno misalnya, maestro karawitan dan tembang dolanan tersebut tidak banyak dikenal oleh masyarakat secara umum dan luas. Nama maestro yang justru terbenam di kalangan masyarakat itu, akan dihadirkan dalam kesempatan kali ini.
  5. Pementasan pembacaan gurit oleh penggurit 5 (lima) generasi merupakan sebuah perwujudan silaturahmi antargenerasi para penggurit di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam acara ini akan hadir Jefri Btara Kawi, penulis geguritan, esai dan cerita yang karyanya tersebar di berbagai media massa. Jefri lahir di Cilacap tahun 1990 dan merupakan penggurit generasi 2010-an.
  6. Pementasan jagading lelembut akan menjadi pertunjukan yang menarik dan khas dalam khasanah penulisan sastra Jawa modern. Pasalnya, jagading lelembut memiliki daya tarik tersendiri dalam sastra Jawa. Kisah-kisah jagading lelembut yang menyeramkan dan terkadang lucu, hadir di tengah masyarakat Jawa dan sastra Jawa. Adalah Y. Siyamta sastrawan Jawa yang telah menulis kisah jagading lelembut dan siap membacakannya.
  7. Pementasan wayang cerkak akan hadir sebagai sebuah persembahan pamungkas. Diangkat dari cerita cekak (cerkak) berjudul “Dasamuka” karya sastrawan Djajus Pete, pementasan wayang cerkak ini akan menyuguhkan sesuatu yang baru di dalam pementasan sastra Jawa yang sudah ada. Bukan hanya hadir sebagai sandiwara. Namun juga akan memadukan unsur teater, wayang kulit, sastra, gamelan, macapat, dan sejumlah unsur seni tradisi lainnya dalam pertunjukkannya.

Dus, pada intinya acara ini mengupayakan gerakan literasi di masyarakat, utamanya mengenai jagat sastra Jawa di Yogyakarta. Spirit yang diteladani pada kegiatan ini ialah semangat yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara, yakni “lawan sastra ngesti mulya”, lewat sastra kita terus berupaya menjadi manusia sejati.

(Milesia.id/ Sukandar S.Hut, Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close