Mileseducation
Trending

Waspada Sengatan Ubur-Ubur! Begini Cara Benar Menanganinya

Dr. dr. Tri Maharani, SpEM : “Perlu dan Siap Adakan Pelatihan bagi Pengelola Pantai”

Sepekan terakhir, ubur-ubur tampak terlihat lebih sering dibandingkan hari-hari biasa di perairan pantai Ancol, Jakarta Utara. Terutama tengah malam dan pagi hari. Informasi yang didapat Milesia, pihak pengelola Pantai Ancol telah membawa sampel ubur-ubur dan air laut ke Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Biarpun belum mendapat laporan adanya pengunjung pantai Ancol yang tersengat ubur-ubur yang berdampak fatal, hal itu tidak lantas bisa disepelekan.

Penyuka olahraga air rawan serangan ubur-ubur (Milesia.id/Prio Penangsang)

Memang, tidak semua ubur-ubur berbahaya. Jenis yang harus diwaspadai  adalah yang mengandung racun neurotoxin dan cardiotoxin. Serangan berat sengatan ubur-ubur dari jenis ini akan membutuhkan perawatan lama. Apalagi jika first aid salah dan korban sudah masuk fase sistemik. Alhasil, neurotoxin, cardiotoxin atau myotoxin yang masuk tubuh korban dapat mengakibatkan gangguan organ.

Dalam banyak kasus, serangan jenis ubur-ubur yang berbahaya terbukti mengakibatkan kecacatan bahkan kematian jika tidak ditangani dengan benar. Hal ini dikemukakan oleh pakar toxinology Indonesia Dr. dr. Tri Maharani, Sp.EM, kepada Milesia, Rabu (17/10).

Menurut Maharani, fase pertolongan pertama (first aid) yang benar sangat menentukan langkah penanganan korban sengatan ubur-ubur pada tahapan selanjutnya. “ Jika menemukan korban sengatan ubur-ubur, segera tuangkan cuka pada area yang tersengat dan membiarkannya selama 30 detik,” paparnya.

“Kenapa cuka? Larutan cuka dapat membantu deaktivasi nematocyt pada ubur ubur. Untuk kasus-kasus berat, jika first aid tidak benar, bisa berakibat fatal. Jika bukan kematian maka bisa terjadi kecacatan”.

Tentakel yang masih menempel dikulit bisa dilepaskan menggunakan penjepit. Atau dengan tangan yang sudah dilapisi sarung tangan guna menghindari kontak langsung dengan tentakel. Langkah selanjutnya adalah membawa korban ke puskesmas atau rumah sakit. Tidak dianjurkan menuangi air baik panas maupun dingin, memberi salep, alkohol atau urine, pada bagian yang tersengat ubur-ubur.

“Untuk tindakan medis di rumah sakit, perlu disiapkan treatment airway, breathing circulation. Sengatan ubur-ubur dari spesies berbahaya mengalirkan  racun syaraf (neurotoxin), cardiotoxin, serta myotoxin, maka dalam terapi definitif nya harus disiapkan ventilator jika sampai terjadi gagal nafas.  Juga alat utk CPR manual ataupun otomatis. Selebihnya adalah menyiapkan  obat-obatan analgesik kuat, misalnya golongan pseudomorfin atau morfin.  Tak kalah penting adalah penanganan luka bekas sengatan tentakel ubur-ubur,” terang Maharani.

IST-Alatina alata (Oceanodive.mgz/Milesia.id)

Di Australia, antivenom untuk ubur-ubur sudah tersedia. Tidak demikian dengan Indonesia. Alhasil, first aid yang tepat sangat penting.

Organ tubuh yang terkena dampak akibat sengatan ubur-ubur, diantaranya adalah jantung. Kandungan cardiotoxin pada ubur-ubur berbahaya bisa berakibat cardiac arrest. Lalu neurotoxin akan menyerang syaraf. Bisa berujung gangguan pernafasan (respiratory failure) yang bisa berujung fatal respiratory arrest. Dampak tak kalah berbahaya adalah terjadinya gagal ginjal akut akibat rhabdomyolisis akibat racun myotoxin ubur-ubur.

Tonggak Peringatan dan Kotak Cuka

DO and DON’T (RECS Indonesia/Milesia.id)

Ubur-ubur yang muncul di pantai Ancol belum dipastikan jenisnya, apakah berbahaya atau tidak. Meskipun demikian, pengelola pantai perlu memberikan informasi  yang memadai kepada publik, khususnya pengunjung. Ini sebagai langkah antisipatif agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan dan berpotensi merugikan.

Beberapa yang harus diwaspadai diantaranya adalah ubur-ubur kotak. Hewan tak bertulang belakang (invertebrata) dari filum Cnidaria dengan ciri khas medusa yang berbentuk kotak atau kubus. Spesies Chironex fleckeri adalah salah satunya. Terkenal memiliki bisa sangat kuat dan berbahaya. Lainnya adalah  Alatina alata, Carukia barnesi dan Malo kingi.

Dikemukakan Kepala Laboratorium Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Donan Satria, kasus kematian akibat sengatan ubur-ubur sudah pernah terjadi di Indonesia.  Di Pulau Jawa, pernah terjadi Pantai Depok, Parangtritis, Yogyakarta dengan tiga kasus.  “Di Situbondo, Jawa Timur, dua orang anak usia SMP meninggal dunia. Di Sumatera, tepatnya Bangka Barat, satu korban meninggal dunia,” papar Donan kepada Milesia, Rabu (17/10).

Menurut Maharani, idealnya di setiap pantai di Indonesia, pengelola menyiapkan tonggak dengan wadah berisi botol larutan cuka. “Ini bisa membantu mempercepat tindakan pertolongan pertama korban sengatan ubur-ubur. Harusnya di pantai Ancol, juga di berbagai area pantai untuk rekreasi di tanah air, disediakan”. Tanda peringatan DO dan DON’T perlu dipasang di semua area pantai atau laut yang potensial dengan ubur ubur jenis berbahaya. Termasuk pantai Ancol.

DR. dr. Tri Maharani, Sp.EM (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

“Saya menawarkan pelatihan penanganan first aid gratis pada pihak pengelola pantai Ancol dari saya sebagai President Indonesia Toksinology. Pantai Ancol bisa memelopori. Jika mau, Saya akan menyumbang 3 tonggok cuka itu, plus poster di area pantai Ancol. Semua dari Indonesia Toxinology. Tujuannya, agar tidak sampai jatuh korban yang berakibat fatal.

Harusnya di seluruh Indonesia ada, terutama yang dekat dengan kawasan perairan habitat ubur-ubur berbahaya. Dengan  memasang poster do dan don’t disamping tonggak tempat cuka, pengunjung bisa tenang bermain di pantai.

“Saya sudah membuat percontohan di dua tempat, yaitu di sebuah puskesmas di Pamekasan, Madura, dan juga sudah saya dorong Dinas Kesehatan Kayong, Sukadana, Kalimantan Barat, September lalu,” pungkas Maharani. Siapa lagi menyusul?

(Milesia.id/Prio Penangsang)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close