MilesosbudMilestravelTravel
Trending

Ider-ideran “Memayu Buyut Trusmi” dan Asa Membangun Silaturahmi Budaya

Episode Nguri-uri Budaya Nusantara

MILESIA.ID, CIREBON– Langit di atas kukuban Cirebon masih temaram ketika kerumunan orang memadati Jalan Raya Plered, Kabupaten Cirebon.

Minggu pagi (14/10/2018), mereka mengular di pinggiran jalan sejak pukul 06.00 WIB untuk menyaksikan ider-ideran karnaval “Memayu Buyut Trusmi”.

Diiringi suara gamelan, beberapa pria berpakaian putih-putih serupa begawan menyeruak dari tengah kerumunan, mereka para kemit (petugas jaga makam keramat) yang bertugas mengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi.

Di belakangnya, berbaris rombongan lelaki berseragam merah muda, memakai iket “mega mendung”, membawa welit alias atap rumbia.

IST – Rombongan pengirab 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi, Cirebon.

Berurutan di belakang pembawa welit, muncul rombongan peserta karnaval dari seluruh kukuban Cirebon lengkap dengan atraksi seni mereka. Mulai dari kelompok tari, street art costum, patung karakter berukuran raksasa, beragam hasil bumi dan makanan, iring- iringan kelompok berkuda, hingga kereta kencana.

Ider-ideran atau arak-arakan ini dihelat dari kompleks Makam Buyut Trusmi hingga Kecamatan Tengah Tani.

“Acara ini digelar setiap tahun menjelang musim hujan,” ujar Nana (34), seorang pengunjung asal kota Cirebon. “Ibaratnya sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa,” imbuhnya.

Terlepas dari pro-kontra yang belakangan muncul dalam memaknai ritus “memayu”, upacara ini nyatanya masih terus diuri-uri oleh masyarakat Cirebon.

Memayu Buyut Trusmi

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Iring-iringan peserta karnaval dengan karakter tokoh pewayangan.

Datangnya musim penghujan selalu disambut penuh suka cita oleh masyarakat Cirebon. Mereka mengekspresikan rasa syukur dengan menggelar sebuah ritual bernama “memayu”.

Istilah “memayu” sendiri berasal dari kata “hayu” yang berarti cantik, indah atau selamat. Kata memayu mendapat awalan “ma” menjadi “mamayu” yang berarti mempercantik, memperindah atau meningkatkan keselamatan. Namun setelah sering-sering diucapkan, kata mamayu menjadi popular disebut memayu .

Menurut Casta dan Taruna dalam Batik Cirebon, memayu dalam bahasa kawi berarti mbagusi, memperbaiki atau membuat bagus.

Sedangkan khusus dalam  konteks upacara memayu dan ider-ideran Trusmi, kata memayu mengandung dua pengertian. Pertama, memayu dimaksudkan untuk memperbaiki atap-atap masjid Trusmi yang sudah lama dan menggantikannya dengan  yang  baru. Kedua, memayu berarti mbagusi (memperbaiki) diri manusia dari sifat-sifat lama yang jelek dengan sifat-sifat yang baik.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Peserta kirab dengan karakter burung Cendrawasih.

Pada mulanya tujuan utama dari upacara memayu diyakini sebagai penyebaran agama Islam. Rangkaian kegiatannya antara lain: ganti welit (mengganti atap rumbia) dan buka sirap (mengganti atap situs Buyut Trusmi dengan kayu jati), mengganti atap masjid, sehari setelah acara kirab budaya, dan tahlilan pada malam harinya.

Buka sirap dan ganti welit harus dilakukan pada hari Senin, berkaitan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Disamping itu, spiritualitas yang diajarkan Ki Buyut Trusmi sebagai ulama yang memimpin masyarakat Trusmi terkandung dalam setiap pertunjukan yang digelar saat memayu. Salah satunya ialah pentas brai, yaitu seni tradisi yang memiliki nilai religiusitas tinggi.

Mengutip tulisan Dede Wahidin, “Potensi Kesenian Daerah Cirebon”, istilah brai sendiri berasal dari kata “brahi” yang berarti menyatu atau kasmaran atau jatuh cinta.

Dalam konteks ini maksud dari pada brai ialah penyatuan diri seorang hamba sebagai wujud kecintaaanya kepada Sang Khaliq yang mereka ungkapkan melalui media seni. Selain itu makna-makna yang tersirat dalam upacara-upacara tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan norma-norma syari’at Islam.

Siapa Ki Buyut Trusmi?

IST – Ilustrasi Pangeran Walangsungsang (Prabu Cakarabuana) dan Syarif Hidayatullah.

Ritual “Memayu Buyut Trusmi” memang tak bisa dilepaskan dari sosok Ki Buyut Trusmi, seorang tokoh yang berpengaruh di wilayah Trusmi, Cirebon.

Sayangnya, catatan sejarah mengenai sosok Ki Buyut Trusmi masih simpang siur.

Menurut kisah, Ki Buyut Trusmi adalah salah seorang tokoh penyebar agama Islam pada zaman Kesultanan Cirebon yang meninggal sekitar tahun 1559 M. Penyebutan kata Ki Buyut berarti merujuk kepada moyang, yakni pendiri desa tempat situs keramat berada.

Sebagian masyarakat menganggap Ki Buyut Trusmi adalah Mbah Kuwu Cirebon yang merupakan paman Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Mbah Kuwu adalah Pangeran Walangsungsang atau Prabu Cakrabuana, raja pertama Kesultanan Cirebon (1430-1479). Beliau adalah putra sulung Sri Baduga Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Subanglarang sekaligus kakak kandung Nyimas Rara Santang (ibunda Sunan Gunung Jati).

IST – Kompleks Masjid Kramat Buyut Trusmi.

Jika merujuk catatan sejarah bahwa kompleks peziarahan Buyut Trusmi yang dibangun pada tahun 1481 oleh Trusmi, bisa jadi Ki Buyut Trusmi adalah Pangeran Walangsungsang.

Namun sumber catatan sejarah dari kraton Kanoman dan Kasepuhan Cirebon, menganggap dua orang ini (Mbah Kuwu Cirebon dan Ki Buyut Trusmi) adalah orang yang berbeda.

Yang pasti, konon Ki Buyut Trusmi ini mahir membuat batik dan mengajarkannya kepada masyarakat Cirebon dan sekitarnya sebagai media dakwah. Ketrampilan membatik itu tetap bertahan hingga kini, sehingga daerah Trusmi dikenal sebagai sentra perajin batik.

Kramat Buyut Trusmi

IST – Kompleks Kramat Buyut Trusmi, Cirebon.

Kompleks sekitar Kramat Buyut Trusmi sendiri adalah pemukiman penduduk pada wilayah yang datar. Batas sebelah Utara adalah pemakaman umum dan kebun, sebelah Timur berbatasan dengan sungai, sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Kampung Rumah Gede (Bale) dan pemukiman penduduk, serta di sebelah Barat juga berbatasan dengan pemukiman.

Kompleks Buyut Trusmi memiliki luas 3600 m2 dikelilingi pagar tembok setinggi 2 m dengan bata merah tanpa dilepa. Seperti bangunan lainnya di masa Kesultanan Cirebon, Kompleks Buyut Trusmi juga didominasi warna merah bata.

Untuk jalan masuk menuju Kompleks Kramat Trusmi, bisa ditempuh melalui dua gapura, yaitu Gapura Kulon dan Gapura Wetan.

Kedua gapura ini berbentuk gapura candi bentar dengan masing-masing dilengkapi 2 daun pintu simetris. Daun pintu terbuat dari kayu berukir dengan ornamen tumbuhan-bunga serta hewan (ular). Di balik gerbang pada sebelah kanan dan kiri terdapat tempat air keramik. Secara keseluruhan gerbang ini dilengkapi bangunan cungkup setinggi 4 meter, serta beratap joglo dari bahan sirap.

Pro Kontra Akulturasi Budaya

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Peserta kirab dengan karakter kucing purba.

Ritual “Memayu Buyut Trusmi” adalah bentuk akulturasi agama Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Menurut Kepala Juru Adat Buyut Trusmi, Tonisyah, ritual ider-ideran atau arak-arakan “Memayu Trusmi” sudah ada sejak Abad 9 Masehi. Artinya jauh sebelum Islam masuk ke tanah Jawa.

Selain “memayu”, Cirebon juga kental dengan pola akulturasi lainnya seperti yang terwujud dalam ritual “Sedekah Laut”, “Nadran dan Sedekah Bumi”.

Sebagai agama mayoritas di Nusantara, Islam memang secara otomatis banyak mempengaruhi pola budaya dan tradisi masyarakat pemeluknya. Walaupun begitu, aspek sosio budaya dari masyarakat setempat tidak serta merta terkikis oleh kehadiran agama Islam, sama seperti  yang terjadi di Cirebon.

Namun belakangan, keinginan sebagian orang untuk memurnikan ajaran agama Islam, menyebabkan terjadinya serangkaian pro kontra. Fenomena ini muncul akibat agama dijadikan sebagai “bendera absolute” untuk membidik, menyerang, dan membunuh mereka yang dianatheme “kafir”.

Dengan menempelkan emblem agama, orang merasa “suci”, berjarak radikal dengan mereka yang “berbeda akidah”. Tak pelak, kesakralan agama menciut semata sebagai piranti aksesoris atau terletak di ujung pedang.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Peserta kirab dengan karakter kerbau menarik luku petani.

Pro kontra dan sikap konfrontatif yang terjadi, pada akhirnya mendorong semua pihak untuk lebih memahami perbedaan serta menumbuhkan sikap toleran di masyarakat.

Sebuah ilustrasi tentang indahnya memahami toleransi, ditunjukkan dalam kisah nyata di bawah ini (Mengutip tulisan Hamzah Sahal, “Dialog Habib Utsman dengan Masyarakat tentang Sedekah Laut” di laman alif.id):

Di Cirebon ada seorang Habib yang alim dalam ilmu fikih dan ushul fikih bernama Syarif Utsman Yahya (wafat 2010), biasa dipanggil “Abah Ayip”. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon.

Suatu hari, Abah Ayip dikunjungi beberapa nelayan Cirebon yang hendak mengadu. Menurut mereka, ada kalangan ustad yang menyebut tradisi “sedekah laut” sebagai ritual yang tidak diajarkan dalam agama Islam. Para ustad ini menyebut tradisi sedekah laut sebagai perbuatan Syirik atau menyekutukan Tuhan.

Mendengar pengaduan para nelayan itu, Abah Ayip kemudian bertanya: “Siapa yang memimpin doa sedekah laut?”

Mbah Kaum, Bah!” seru mereka. Mbah Kaum adalah pemuka agama di kampung yang bertugas mengurus masjid (takmir), memimpin tahlil, mengurus jenazah dan tugas yang berhubungan dengan ritual keagamaan lainnya.

Abah Ayip tersenyum, dengan bijak kemudian ia berujar: “Lestarikan tradisi sedekah laut sampeyan. Banyak baca Bismillah, qulhu dan sholawat. Hati-hati di laut, isi perahu sesuai dengan kekuatan. Cari perahu lain kalau tidak muat, jangan dipaksakan.”

Para nelayan saling berpandangan, ragu-ragu mereka bertanya lagi: “Makanan yang dilarung itu bagaimana, Bah? Kata ustad-ustad, itu mubazir dan Nabi sendiri tidak pernah melarung makanan ke laut?”

“Lanjutkan,” sahut Abah Ayip. “Niatkan sedekah kepada makhluk Allah yang ada di laut. Jangan pelit jadi orang, ambil ikan tiap hari, sepanjang tahun, masak ndak ngasih makan ikan-ikan sekali pun?”

Para nelayan itu kembali berpandangan, takjub mendengar ucapan Abah Ayip.

“Kalau masih kurang, ambil ayam saya di belakang, larung bersama kepala kerbau kalian!” imbuh Abah Ayip.

Silaturahmi Budaya

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – “Memayu dan Ider-ideran Trusmi”, simbol “silaturahmi” budaya.

Matahari semakin tinggi ketika rombongan ider-ideran menyusuri jalanan, tubuh-tubuh yang basah oleh keringat, namun wajah mereka penuh semangat. Masyarakat pun masih bersetia, berkerumun di sepanjang jalan menyambut atraksi rombongan karnaval.

“Acara ini filosofinya tetap silaturahmi. Memayu sendiri berarti mengganti atap yang rusak. Artinya memayu akal dan pikiran kita sendiri agar hati menjadi bersih,” ujar Kepala Juru Adat Buyut Trusmi, Tonisyah, di Makam Kramat Buyut Trusmi, Desa Trusmi Wetan.

Ia berharap masyarakat Cirebon bisa terus melestarikan ritual “Memayu dan ider-ideran” dengan mengadopsi semangat silaturahmi lintas agama, suku maupun kelas sosial.

Seperti halnya ritual ider-ideran yang merangkul semua elemen, baik kalangan pemuka adat, pejabat daerah maupun masyarakat umum. Harmonisasi itu nampak melalui antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam acara ini.

Masing-masing wilayah bersungguh-sungguh menampilkan atraksi terbaiknya. Mereka ini seperti: Blok Tumaritis, Megu Gede; Blok Curug Lor, Setu Kulon; Kaliwulu Kauman, Makam Pendil; Kedung Bawang Kulon; Blok Karang Anyar Desa Wotgal, serta Blok Kapringan, Weru Lor.

Menjelang siang, iringan arak-arakan yang telah menempuh jarak sekian kilo, mulai dari Situs Makam Ki Buyut Trusmi, Jalan Trusmi Kulon, Pasar Pasalaran, Pasar Kue Plered, Panembahan, akhirnya kembali ke situs Kramat Ki Buyut Trusmi.

Prosesi memayu ini pun berakhir di komplek Kramat Ki Buyut Trusmi, ditandai dengan acara makan bersama seluruh peserta kirab, sebagai simbol semangat silaturahmi dan persaudaraan. Tabik!

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close