Milestories
Trending

“Ikhtiar Sehat dan Lestari dengan Berobat dan Layar Tancap”

(Sepotong Kisah dari Pedalaman Kalimantan Barat)

Oleh : Efan Juniansyah *)

DokPribadi. Efan Juniansyah

Teriakan girang anak-anak pecah begitu kendaraan kami mulai memasuki dusun kecil itu, Selasa sore 9 Oktober lalu. Tepatnya di Dusun Pangkalan Jihing, Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang, Kalimantan Barat. Bocah-bocah itu berlari kecil,  melambaikan tangan dan terus menguntit di belakang mobil kami. Anak-anak itu senang, sebab malam nanti akan menonton layar tancap.

Sore itu, untuk kesekian kali, kami dari Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) bersama Yayasan Palung, kembali terjun ke pedalaman. Ikhtiar melayani pemberdayaan kesehatan dan edukasi kelestarian lingkungan warga.

Yayasan ASRI, merupakan sebuah yayasan non profit yang bergerak di bidang kesehatan dan lingkungan, yang salah satu programnya adalah klinik keliling. Sasaran klinik keliling adalah desa atau dusun yang sulit untuk mendapatkan akses kesehatan.

Kami sadar penuh, pelayanan kesehatan adalah hal penting yang dibutuhkan untuk setiap orang, bukan hanya warga perkotaan tapi juga warga pedalaman. Termasuk di pedalaman Kalimantan Barat di kaki Taman Nasional Gunung Palung. Dari Dusun Pangkalan Jihing, lokasi terdekat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan harus ditempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan sepeda motor dengan kondisi jalan berlumpur dan belum diaspal. Dan hanya tersedia 1 perawat plus 1 bidan.

Untuk menuju ke rumah sakit diperlukan waktu yang lebih lama lagi. Kondisi dusun yang terisolir membuat tempat ini belum sepenuhnya terjamah oleh bantuan pemerintah. Penerangan hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga surya dan genset.

Klinik Yayasan ASRI (Prio Penangsang/Milesia.id)

Hingga akhir 2017, Klinik ASRI telah menerima 73.736 kunjungan dari 41.875 pasien. Sampai Juni 2018 sudah 1.177 pasien BPJS telah memilih klinik ASRI sebagai fasilitas kesehatan tingkat satu. Klinik ASRI juga sudah melayani pasien fisioterapi dan sudah mengantongi izin operasional apotek. Program kesehatan lainnya selain Pengobatan Keliling, adalah Pembagian Kacamata, Keluarga Berencana Gratis, Ambulans, Imunisasi, dan Edukasi Kesehatan.

Sudah lebih dari 8 tahun Yayasan ASRI hadir setiap bulan di Pangkalan Jihing untuk membantu masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan.

Selasa, 9 Oktober itu, petualangan kami kembali dimulai. Tim medis bersiap-siap untuk berangkat ke Pangkalan Jihing. Perjalanan memakan waktu  lebih kurang 6 jam dengan menggunakan mobil 4 WD, dengan kondisi jalan yang rusak.

Tim mempersiapkan obat-obatan dan makanan. Kali ini Yayasan ASRI mengajak Yayasan Palung untuk ikut dan memberikan edukasi tentang lingkungan di Pangkalan Jihing. Selasa pagi, sekitar pukul 8.30 selepas morning meeting, tim bergegas untuk berangkat.

Medan berlumpur menuju lokasi (dok. Yayasan Asri/Yayasan Palung/ )

Seperti biasa, perjalanan ke Pangkalan Jihing tidak selamanya mulus. Walaupun mobil kami cukup tangguh di medan seperti ini tapi tetap saja ketegangan kerap kali menghampiri. Jalanan yang berkelok serta licin, belum lagi hujan di akhir tahun, menambah ekstrem perjalanan ini.

Beberapa kali ban mobil kami selip, dan tak jarang juga kami berpapasan dengan truk-truk pengangkut tandan kelapa sawit yang lewat ,yang  bahkan tak jarang bannya ambles di ruas jalan yang menyerupai kubangan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya tim sampai di lokasi sekitar pukul 14.00.

Medan berat, angkutan ‘berat’ (dok. Yayasan ASRI/Yayasan Palung)

Setiba di lokasi kami mulai beberes. Memasak makanan untuk santap malam, memastikan persediaan dan kondisi obat-obatan, serta membentang layar untuk pemutaran film malam harinya.

Kami sedikit cemas dengan kondisi langit yang mulai mendung. Terlebih, akhir- akhir ini hujan sering muncul saat malam hari. Tepat pukul 19.15 selepas sholat isya, kami memulai kegiatan.

Tuhan rupanya berpihak kepada kami. Langit yang tadinya mendung mulai beranjak cerah. Tampak bintang-bintang mulai muncul di balik awan yang bergerak pelan. Masyarakat mulai berdatangan untuk menonton layar tancap, sekaligus berobat.

Persiapan layar tancap (dok. Yayasan Palung)

Tampak anak kecil berlari-lari kegirangan bisa menonton layar tancap. Film ihwal pelestarian lingkungan hidup yang disiapkan dan diputar pegiat yayasan Palung lazimnya  tentang orang utan yang terancam hidupnya (Mission Critical Orangutan on the Edge), atau potret keadaan hutan di Indonesia ( State of Indonesia’s Forest), atau film dokumenter berbobot lainnya.

Di dusun ini, televisi adalah barang yang sulit ditemui. Di sinilah rasa lelah kami terbayarkan.

Malam itu pasien datang cukup banyak, sekitar 30an orang. Kami sempat kelabakan diserbu pasien sebanyak itu. Sebab tim kami hanya berkekuatan  1 perawat, 1 farmasi, dan 1 dokter umum.

Nonton Layar Tancap (dok. Yayasan Palung)

Ketika sudah menjelang malam, kami sempat ‘balapan’ dengan bahan bakar genset yang semakin menipis. Lampu mati adalah salah satu kecemasan terbesar kami. Sebab kami tidak bisa melakukan tindakan lagi. Layar tancap juga berhenti diputar. Anak-anak pasti kecewa.

Aku sempat bertanya kepada pasien, apakah pengobatan bisa dilanjutkan besok pagi. Jawaban bisa diduga, para pasien yang didominasi ibu-ibu itu menolak. Pagi-pagi sekali mereka harus ke kebun dan sore hari baru pulang ke rumah.

Ya masyarakat di sini kebanyakan berkebun. Berkerja di kebun karet dan menanam padi bahkan sayur sayur. Kaum laki-laki kebanyakan berkerja di perkebunan kelapa sawit.

Warga peserta pemeriksaan kesehatan (dok.Yayasan ASRI)

Tepat jam sebelas malam akhirnya semua pasien selesai diperiksa dan mendapatkan obat yang mereka butuhkan. Malam itu, sejumlah keluhan sakit kami terima. Nyeri di bagian pinggang dan persendian, adalah salah satunya. Bisa jadi, itu terkait dengan pekerjaan mereka yang yang bertani atau berladang dengan kontur tanah yang mengharuskan naik turun bukit.

Sejumlah pasien juga mengeluhkan sesak nafas. Di sini, mayoritas laki-laki dewasa dan ibu-ibu tercatat sebagai perokok aktif.  Juga sering terpapar asap saat memasak. Mereka memasak dengan tungku tradisional berbahan bakar kayu.

Akhirnya kecemasan kami terjadi. Bahan bakar genset tandas. Kami memutuskan untuk istirahat.

Keesokan pagi sekitar pukul 06.00, kami mulai beranjak bangun. Anggota tim dari kalangan perempuan mulai memasak. Lainnya mengecek kondisi kendaraan.

Cuaca dingin pasca hujan dini hari masih terasa menusuk tulang. Ditambah rimbunnya hutan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang mulai menipis karena dirambah para logger.

TNGP merupakan salah satu taman nasional terlengkap, yang berada di ketinggian 900 m – 1.116 mdpl dengan luas mencapai 90 ribu hektare. Terbentang di Kecamatan Matan Hilir Utara, Sukadana, Simpang Hilir, Nanga Tayap dan Sandai.  Merupakan habitat lebih dari 2.000 ekor orangutan, juga bekantan.

Kami kembali membuka praktek seusai sarapan. Pagi itu, kami mendapati 1 pasien yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kami merujuk pasien tersebut untuk ke rumah sakit di kota guna mendapatkan perawatan lebih lengkap.

Kami akan kembali.. (dok. Yayasan ASRI)

Siang menjelang saat tim dari Yayasan Palung selesai menjalankan misi edukasinya ke sebuah sekolah dasar. Kami pun telah selesai memeriksa pasien. Berbeda dengan malam sebelumnya, tidak begitu banyak pasien yang datang pagi itu. Ya, kami teringat perkataan pasien kemarin, bahwa pagi adalah jadwal mereka untuk berkerja.

Tepat jam 13.00 kami memutuskan untuk pulang ke kota. Di perjalanan kami sempat berdisikusi tentang program yang sekarang sedang di gembar-gemborkan oleh pemerintah, yaitu vaksin MR.  Saya lupa untuk menanyakan hal tersebut ke warga. Semoga masyarakat di sekitar kaki Gunung Palung tetap bisa mendapatkan hak atas layanan kesehatan. Sama seperti warga sebangsa di seluruh negeri ini.

*) Staff kesehatan Yayasan ASRI, Kayong Utara, Kalimantan Barat.

(Efan Juniansyah/Milesia.id)

 

Tags

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close