MilesosbudMilestravelTravel
Trending

Larung “Sukerta” ke Laut Selatan, Menyatukan Doa dengan Semesta

Melongok Ritual Labuhan di Pantai Parangkusumo

Oleh: Yulfitarisnawati*

Milesia.id, Jogja – Angin pantai selatan menyapu tubuh serombongan pria berpakaian lurik. Kaki mereka gamang mencengkeram pasir pantai yang terasa rapuh.

Sepasang tombak panjang, buntalan kembang mawar merah-putih dan sebuah payung besar nampak menyeruak di tengah-tengah. Payung tradisional bercorak putih-emas itu memayungi sepasang pengantin berpakaian gelap yang berada tepat di tengah rombongan.

Diiringi deburan ombak yang menggemuruh, rombongan ini duduk bersila –khusyuk berdoa– di tepian pantai. Sebentar saja, bau asap dupa telah menyusup sela-sela hidung.

Di belakang rombongan utama, beberapa wanita berkemben hijau tua bersimpuh, khidmat menyimak ritual. Para wanita ini mengawal kembar mayang berisi ubo rampe hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran.

“Mereka sedang melakukan ritual labuhan. Melarung sial,” ujar Doddy Ari Susanto (28) yang kebetulan tengah menikmati senja di pantai Parangkusumo. Menurutnya, ritus ini sebuah ikhtiar menyatukan doa dengan keajaiban semesta.

Memaknai Ritual Labuhan

MILESIA.ID/ Dok. Doddy Ari S – Khusyuk.

Doddy bercerita kebanyakan labuhan yang ia temui adalah labuhan yang bersifat pribadi, seperti ritual larung sukerta (buang sial) sebelum mengadakan hajat pernikahan di bulan suro.

“Istilahnya ‘permisi‘ dulu kepada ratu pantai selatan supaya pernikahannya langgeng. Calon mempelai meminta ilmu perlindungan diri, sedekah nazar, atau tabur bunga untuk keselamatan diri,” terang Doddy yang merelakan beberapa hasil jepretan “eksotis”-nya kepada milesia.id.

Lalu apa sebenarnya ritual “labuhan” itu? Kata “labuhan” berasal dari bahasa Jawa “labuh”, yang berarti membuang sesuatu ke dalam air yang mengalir hingga menuju lautan.

Sebagian orang menyebut labuh dengan istilah “larung”, yang berarti memberi sesaji kepada roh halus yang berkuasa di suatu tempat. Sehingga, baik kata labuh ataupun larung dapat diartikan sebagai membuang sesuatu ke dalam air yang mengalir sebagai sesaji kepada roh halus yang berkuasa di suatu tempat.

Labuhan juga dimaknai sebagai upaya manusia untuk selalu ingat kewajibannya atas bumi yang telah memberikan ruang bagi segala hidup. Hal ini disimbolkan dengan dikembalikannya apa yang telah menjadi milik bumi melalui laut dan gunung yang merupakan dua lambang keseimbangan dan kesucian alam semesta.

Secara umum, tujuan ritual labuhan adalah wujud do’a dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk (sukerta).

MILESIA.ID/Dok. Doddy Ari Susanto – Ritual larung sukerta (buang sial) sebelum mengadakan hajat pernikahan.

Pada pelaksanaannya, keraton Yogyakarta yang rutin menggelar ritual labuhan, biasanya melabuhkan (melarung) benda-benda tertentu yang disebut ubo rampe labuhan ke dalam lautan.

Sebutan ubo rampe adalah segala alat dan piranti yang dipakai dalam sebuah ritual. Isinya bisa berbeda-beda, tergantung kebutuhan ritual yang dikerjakan.

Ubo rampe labuhan yang akan dilabuh di tempat-tempat tertentu atau yang disebut petilasan, beberapa diantaranya merupakan benda-benda milik Sultan yang bertahta.

Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, hajad dalem labuhan tidak diselenggarakan untuk memperingati hari penobatan (jumenengan dalem) melainkan untuk memperingati hari ulangtahun sultan (wiyosan dalem) berdasarkan kalender Jawa.

Namun pada saat HB X bertahta, hajad dalem labuhan dikembalikan untuk peringatan jumenengan dalem. Ritual labuhan ini digelar setiap tahun, pada satu hari setelah puncak jumenengan dalem (29 rejeb) sehingga jatuh pada tanggal 30 rejeb.

Parangkusumo, Pintu Ghaib Kraton Kidul

MILESIA.ID/Dok. Doddy Ari Susanto – Pantai Prangkusumo dipercaya sebagai gerbang ghaib menuju Keraton Nyai Roro Kidul.

Upacara adat labuhan biasanya diselenggarakan dalam empat waktu, yaitu : (1.) Satu hari setelah jumenengan alias penobatan seorang raja, (2.) Satu hari setelah tinggalan jumenengan alias peringatan satu tahun penobatan raja. Biasa disebut dengan labuhan alit, (3.) Dilakukan 8 tahun sekali atau disebut labuhan Ageng, dan (4.) Dilakukan dalam kondisi tertentu, contohnya ketika putra atau putri dari raja akan menikah.

Sedangkan lokasi yang dijadikan tempat untuk diselenggarakannya upacara labuhan biasanya meliputi: Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih kahyangan.

Alasan pemilihan keempat tempat tersebut karena pertimbangan historis. Pada zaman dulu, raja-raja Mataram , terutama panembahan Senopati bertapa dan terkoneksi dengan ” roh halus “. Lalu, muncul kepercayaan setiap raja yang berkuasa berkewajiban merawat relasi tersebut melalui sesaji.

Anggapan yang berkembang, ” roh-roh ” tersebut berperan dalam pendirian kerajaan Mataram, seperti Nyai Widononggo di Dlepih, Wonogiri serta Penguasa Pantai Selatan, Nyai Roro Kidul di Pantai Parangkusumo.

Pantai Parangkusumo yang terletak di pesisir selatan Yogyakarta atau tepatnya di wilayah kabupaten Bantul, dipercaya sebagai gerbang utama menuju keraton ghaib laut selatan (Samudera Hindia), kerajaan Ratu Pantai Selatan alias Nyai Roro Kidul yang legendaris.

MILESIA.ID/Dok. Doddy Ari Susanto – Menurut kisah, Parangkusumo adalah tempat yang dipilih Panembahan Senopati untuk bertapa.

Tak heran jika pantai Parangkusumo kerap menjadi tujuan ziarah, utamanya di bulan dan hari yang dianggap keramat oleh masyarakat Jawa. Misalnya, bulan suro pada penanggalan Jawa, malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon.

Menurut kisah, Parangkusumo merupakan tempat yang dipilih Panembahan Senopati alias Sutawijaya untuk bertapa, merenung dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi petunjuk menjadi pemimpin yang baik.

Saat Panembahan Senopati bertapa, ia mengalami perjumpaan mistis dengan penguasa laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Dalam pertemuan itu Ratu Kidul berjanji akan membantu panembahan Senopati dan keturunannya untuk mejadi penguasa tanah Jawa.

Sejarah akhirnya mencatat, Panembahan Senopati berhasil mendirikan sebuah kerajaan bercorak agraris di pedalaman Jawa bernama Mataram Islam. Kerajaan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta.

Maka tidak heran jika warisan budaya Mataram Islam di era Sutawijaya diwariskan kepada Kesultanan Jogja, termasuk ritual nenepi (bertapa) yang dilakukan oleh moyang Kesultanan Yogyakarta itu. Sebuah olah batin (mesu diri) yang selanjutnya bertransformasi menjadi ritual ”labuhan” di pesisir Parangkusumo.

Tata Cara Ritual Labuhan

MILESIA.ID/Dok. Doddy Ari Susanto – Senja mengantarkan “sesaji” sebagai simbol doa dan pengharapan untuk menyatu bersama semesta.

Dalam prosesi labuhan di Keraton Yogyakarta, ubo rampe yang perlu dipersiapkan antara lain pengajeng, penggerek lorogan agem dalem sultan dan lorodhan, seperangkat pakaian wanita, bunga, serta apem (dalam wujud gunungan).

Kemudian ada pula panjenengan dalem yang telah dibungkus kain putih dan dipayungi, kain batik, rambut dan kuku milik Sri Sultan dan bunga kering sisa jamasan (cucian) pusaka keraton yang dikumpulkan selama satu tahun.

Saat pelaksanaan ritual, masyarakat biasanya datang dengan membawa bunga tabur. Ada kepercayaan bahwa bunga tabur berkhasiat menyembuhkan orang sakit serta dianggap mampu mengabulkan cita-cita.

Untuk wilayah pelaksanaan ritual “labuhan” di Pantai Parangkusumo, Juru kunci atau biasa disebut Bekel Puraksolono akan mendoakan para peziarah sambil memutarkan bunga-bunga sebanyak tiga kali. Bunga-bunga yang dibawa lalu diletakkan diatas wadah yang disebut pedupaan. Lalu pada pagi harinya benda itu diletakkan di sebuah wadah berbentuk rumah dari bambu atau biasa disebut Jati Ngarang.

Upacara inti dari ritual ini diawali dengan membawa bahan persembahan labuhan ke kecamatan Kretek yang diterima langsung oleh Bupati Bantul, kemudian dilakukan penyerahan sesembahan labuhan dari Bupati Bantul ke juru kunci Parangkusumo.

MILESIA.ID/Dok. Doddy Ari Susanto – Bunga berserakan di tepian pantai.

Sesembahan ini kemudian dibawa berjalan kaki oleh abdi dalem menuju pembusanaan di pendapa Cepuri, yang  dilanjutkan dengan prosesi doa oleh juru kunci.

Setelah pembacaan doa selesai, maka dilakukan penanaman benda atau ubo rampe labuhan di areal pantai serta pelarungan ubo rampe (barang) ke lautan luas. Begitu dilabuh, pengunjung menceburkan diri ke laut untuk berebut benda-benda tersebut.

Kenapa benda-benda itu diperebutkan? Ada sebuah kepercayaan yang terjaga  bahwa benda-benda tersebut mempunyai kekuatan mistis (berkah) dan bisa dijual kepada mereka yang membutuhkan.

Acara selanjutnya atau yang pungkasan adalah mengambil benda-benda (ubo rampe) yang telah ditanam di pantai Parangkusumo pada malam harinya.

Sebuah Pengharapan

Angin pantai selatan menderu-deru bersama hempasan ombak yang menyapu belasan orang berpakaian lurik itu. Selesai berdoa, mereka mengapit sepasang pengantin berpakaian gelap berjalan ke tengah lautan.

Sesaat kemudian, ubo rampe berupa makanan, kembar mayang dan kembang mawar merah-putih beterbangan menerpa lautan.

Orang-orang menatap deburan ombak yang membawa semua ubo rampe ke tengah lautan, menggulung-gulung bersama senja yang semakin redup. Ada setitik harapan, semua sukerta (sial) akan lenyap bersama lautan.

(Milesia.id/ Yulfitarisnawati, Editor: Kelik Novidwyanto)

*) Alumnus fakultas Hukum UII yang kemudian menggeluti dunia pendidikan dan tumbuh kembang anak. Aktif di media sosial (instagram) dengan kegiatan pelesir alias travelingnya, selain aktivitas utamanya sebagai seorang pendidik.

 

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close