Milestories
Trending

“Dari Mamboro ke Walandano : Kampung yang Tumpas, Asa tak Kandas”

“Sekarang Saya di pelabuhan. Pantai Mamboro, yang kena tsunami. Hancur, cur! Nggak ada bangunan yang berdiri lagi. Aroma udara bau banget! Ini saya pakai masker dan (bau mayat) masih terendus,” papar Tri Maharani, kepada Milesia melalui pesan singkat, Rabu (10/10) pagi.

Kawasan Pantai mamboro, Palu (Milesia.id/Tri Maharani)

“Rumah-rumah porak poranda. Ada kapal nyangsang ke daratan, dan jejak penjarahan dimana-mana. Semua gudang dan kontainer di pelabuhan habis dijarah. Saya sempat mengunjungi area festival Nomoni ternyata sama saja. Sama rata dengan tanah tergulung tsunami dasyat. Seperti jejak tsunami Aceh”.

Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN), semula akan dihelat pada 28 – 30 September 2018 lalu di Palu, dipusatkkan di Sepanjang Pesisir Teluk Palu. Selama 3 hari acara, Festival Pesona Palu Nomoni  akan diisi aneka pertunjukan seni dan budaya, termasuk pertunjukan kolosal seruling tradisional lalove dan panggung tradisional gimba di sepanjang teluk Palu. Juga ritual adat Balia dari Suku Kailii.

IST- Tri Maharani (Milesia.id)

Belum tuntas festival digelar, gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter mengoyak bumi yang disusul terjangan tsunami. Melumat habis area festival. Menelannya dalam gulungan air laut keruh, lantas memuntahkannya kembali ke daratan menjadi puing-puing nyaris tak berbentuk.

“Dampak likuafaksi juga sangat luar biasa dilihat dari udara. Kayak tanah lumpur Lapindo. Tak ada sisa lagi, semua terbenam lumpur. Benar-benar susah untuk selamat jika berada di sana saat kejadian,” imbuh Maharani.

Dokter spesialis emergency itu lantas bertubi mengirimi lusinan foto dari lokasi terdampak bencana kepada Milesia. Percakapan jadi sarat emosi. Benaknya nyaris mampat, karenanya dia  ingin berbagi.

IST-Tri Maharani (Milesia.id)

“Saya tidur di tenda, sama seperti para pengungsi, TNI dan sejumlah relawan lainnya. Tidur beratap langit, merasakan dingin di malam hari dan panas memanggang saat siang,” imbuh Maharani. Semua orang, sama-sama antri untuk sekedar mandi, makan, dan minum di dapur umum yang dibangun prajurit TNI di camp yang didirikan prajurit Korem 133 Tadulako”.

Makanan pun sejatinya baru mulai ada dua hari lalu. Sebelumnya air dan makanan tidak ada. Maka ada banyak penjarahan. Minimarket Indomaret dan Alfamart jadi sasaran. “Karena mereka lapar dan haus”.

Tri Maharani masuk Palu dengan status freelance. Sebagai Tenaga medis atas undangan Perkantas, persekutuan mahasiswa antar fakultas, tempat ia pernah bergabung sebagai anggota semasa mahasiswa kedokteran tahun 1990an. Ia menjawab panggilan kesukarelawanan. Datang ke lokasi dan pulang atas inisiatif sendiri. Juga dengan biaya sendiri.

“Saya bergabung dengan team Perkantas dengan ijin sebagai relawan hingga 13 Oktober mendatang. Kemarin (9/10), Saya datang membantu edukasi penanganan snake bites bagi prajurit TNI dan tentara India di Balaroa,” papar Maharani.

Dr. dr. Tri Maharani, M,Si, Sp.EM, juga dikenal sebagai salah satu tim penyusun buku “Guideline for the Management of Snakebites” yang diterbitkan WHO (2016). Buku “babon” yang menjadi panduan bagi penatalaksanaan korban gigitan ular berbisa bagi kalangan medis di seluruh dunia.

Di camp tempat Ia menginap, ada dua dokter dengan Maharani sebagai satu-satunya dokter spesialis. Lalu 4 perawat serta 30an  relawan. Termasuk driver, juru masak, dan teknisi. Ada juga relawan dari NGO MDS yang sudah terdaftar.

Sudut Lombonga, Balaesang (Milesia.id/Tri Maharani)

Sampai Selasa (9/10) kemarin, rilis data BNPB yang didapat Milesia menyebutkan, jumlah korban meninggal dunia tercatat 2.010 orang. Sebuah desa terpencil di Donggala, bahkan baru mendapat bantuan untuk pertama kalinya, melalui helikopter hari itu.

Rabu (10/10) siang, Tri Maharani bersama rombongan tim medis dan relawan menuju Desa Walandano, Kabupaten Donggala, melalui jalur darat. Mendapati kerusakan parah pada nyaris seluruh hunian penduduk. Bisa dimaklumi, Desa Walandano merupakan kawasan terdekat dari episentrum gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter yang mengguncang Palu dan Donggala, jumat lalu (28/9).

Ruas jalan menuju Donggala (Milesia.id/Tri Maharani)

Akibat akses jalan yang terputus atau rusak parah, baru pada Selasa (9/10) kemarin Desa Walandano untuk pertama kali berhasil ditembus tim tanggap darurat dengan helikopter. Mengangkut sekitar satu ton bantuan makanan dan minuman bagi sekitar seribu warga yang nyaris terisolir. Jarak desa Walandano dari Kota Palu mencapai 115 kilometer.

Dari udara, kerusakan terparah terlihat di sepanjang pesisir Donggala, terlebih di bagian tanjung tempat Desa Walandano berada. Sepekan pasca gempa, warga desa Walandano mengungsi ke area perbukitan tak jauh dari pantai.

“Tenaga medis sangat dibutuhkan di sini. Banyak yang mengalami luka-luka akibat tertimpa bangunan, pohon. Juga dibutuhkan relawan untuk trauma healing bagi para korban gempa,” papar Maharani.

Butuh relawan dan bantuan (milesia.id/Tri Maharani)

“Sore nanti saya akan membuat PAUD darurat di Lapangan Korem 113. Tak ada TK atau SD yang tersisa. Anak-anak itu sudah dua pekan libur sekolah. Saya akan buat sejumlah acara dengan anak-anak. Seputar kegawatdaruratan, juga tentang snake bites,” papar Tri.

Mendengar itu, Saya jadi teringat percakapan antara Presiden Jokowi dengan Izrael, bocah Palu korban gempa bumi yang viral itu. Ibu Izrael menjadi salah satu korban meninggal akibat gempa. Ayahnya luka-luka dan dirawat di rumah sakit.

Satu momen, mata bening Izrael menatap lekat wajah Presiden, yang melarangnya untuk ikut. Presiden meminta Izrael untuk tabah dan tinggal di rumah. Tetap sekolah. “Tidak bisa (sekolah), sekolah rusak..,” jawab bocah itu dengan mimik lugu.

Semoga hanya rumah dan gedung yang runtuh. Nurani dan solidaritas anak negeri, tetap utuh.

 (Milesia.id/Prio Penangsang)

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close