MileseducationMilesosbud
Trending

Pecahkan Rekor MURI, 1000 Gurit Bergema “Mukarta”

Mangayubagyo Seabad SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta.

Oleh: Yulfitarisnawati*

Kumandhanging Katresnanku

Saumpama biso milih burung langit kabegjan

Ungguling Budi Kamulyan

Hamung sliramu kang darbe paku tanceping tresnaku

Aku orang bakal cidra miring pepesthening Gusti

Rasa nyawiji kang nyungsup sak jroning ati

Datan bisa kapisah dening Ewuning Wesi aji

Impening Urip iki wis kebacut nyungsup ing satuhu Tresna jati

(Kagem: Keluarga Ageng Pawiyatan SD Muhammadiyah Karangkajen)

MILESIA.ID/YULFITARISNAWATI – Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Karangkajen, H. Suhardi,S.Pd.

MILESIA.ID, JOGJA – Geguritan di atas dibacakan serentak oleh para guru, siswa dan wali murid SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta (MUKARTA), Senin pagi (01/10/2018).

Pembacaan geguritan ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah H. Suhardi, S.Pd di kompleks Monumen TNI AU Ngoto, Panggungharjo, Sewon Bantul.

Gelaran “Seribu Gurit Bergema” ini adalah rangkaian kegiatan peringatan milad ke-100 SD Muhammadiyah Karangkajen yang jatuh pada 4 Mulud 1440 H /13 Nopember 2018 M.

Acara ini sekaligus memecahkan rekor MURI untuk kategori Pemrakarsa dan Penyelenggara membaca gurit terbanyak, yaitu 1324 peserta.

Ada Apa dengan Geguritan?

MILESIA.ID/YULFITARISNAWATI – Panggung acara 1000 Gurit dalam rangkaian Milad Seabad Mukarta.

Kenapa SD Muhammadiyah Karangkajen memilih geguritan? Sesuatu yang kini bisa dibilang asing di telinga kita.

Menurut Iqrar Dinata, S.Sn selaku ketua panitia peringatan seabad “Mukarta”, gurit dipilih karena merupakan produk budaya asli tanah air. Budaya ini masih berkaitan erat dengan pembelajaran sekolah khususnya sekolah dasar yaitu menulis dan membaca.

“Kita memilih gurit sebagai bagian dari cara kita melestarikan budaya yang mulai luntur akibat perkembangan teknologi yang pesat. Anak-anak yang lahir di zaman milenial seperti sekarang ini sudah mulai apatis terhadap budaya mereka sendiri.” terang Iqrar.

Keinginan melestarikan budaya ini nyatanya senyampang dengan visi SD Muhammadiyah Karangkajen sendiri sebagai sekolah yang berkarakter budaya khususnya budaya Jawa.

Lalu apa sih “geguritan” itu?

MILESIA.ID/YULFITARISNAWATI – Kemeriahan acara 1000 gurit bergema dalam rangkaian Milad Seabad Mukarta.

Dalam bahasa Kawi, geguritan berasal dari kata gurit yang berarti tulisan, kidung, tembang, tembung. Geguritan bisa didefinisikan sebagai goresan, penulisan dan tembung yang tersusun dengan sangat indah dan penuh makna.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), geguritan berasal dari kata gurit yang berarti sajak atau syair. Geguritan adalah puisi tradisional atau sajak bebas yang ditulis dalam bahasa Jawa.

Geguritan mempunyai sejarah panjang di masa lalu dan telah ada sejak zaman kerajaan Jawa kuno. Setelah negara ini berkali kali mengalami masa penjajahan, para sastrawan Jawa saat itu (biasa disebut penggurit) mengekspresikan kekesalan dan kritik mereka kepada para penjajah melalui geguritan.

Seiring perkembangan zaman, geguritan beradaptasi kemudian bertransformasi menjadi bentuk puisi yang bebas, tidak terikat dengan aturan. Seperti yang acap kita lihat saat ini, geguritan lebih diekspresikan sebagai ungkapan perasaan yang penuh kebahagiaan dan keindahan sehingga berbeda dengan tembang mocopat serta karya sastra Jawa lainnya.

Senandung geguritan nyatanya memiliki keindahan nada dan ekspresi yang bahkan bisa dibilang lebih indah dibanding puisi modern.

Merayakan Seabad “Mukarta”

MILESIA.ID/YULFITARISNAWATI – Lokasi museum TNI AU Ngoto.

Peringatan seabad “Mukarta” ini berlangsung sejak bulan Mei 2018 hingga puncaknya nanti 13 November 2018.

Salah satu magnet dari rangkaian peringatan ini adalah pemecahan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) membaca GURIT terbanyak yang dilaksanakan di Monumen TNI AU NGOTO, Ngoto, Panggungharjo Sewon Bantul 1 Oktober 2018 mulai jam 07.00 – selesai.

Pemilihan tempat di Monumen TNI AU Ngoto selain mempertimbangkan tempatnya yang luas sehingga mampu menampung ribuan peserta akan tetapi juga berbarengan dengan momentum peringatan hari Kesaktian Pancasila.

1000 Gurit Membahana merupakan kegiatan ke-6 dari 12 kegiatan rangkaian acara 1 Abad SD Muhammadiyah Karangkajen. Dari 12 kegiatan, semuanya mewakili unsur dari Keagamaan, Pendidikan, Olahraga dan Seni budaya.

IST/Dok. Iqrar Dinata, S.Sn.

Uniknya, sebelum pelaksanaan penilaian dari Museum Rekor Indonesia (MURI) – sekarang menjadi Museum Rekor Dunia Indonesia- panitia memberi waktu 3 minggu kepada peserta untuk menyusun “gurit” mereka sendiri.

Gurit ini ditulis tangan dengan ide dan kreativitas yang original. Artinya karya-karya gurit ini merupakan hasil karya mereka sendiri, dan sebisa mungkin meminimalkan contekan dari internet.

Akhirnya terkumpul berupa-rupa karya gurit dengan 1000 lebih judul yang nyaris merupakan hasil kreasi mereka sendiri.

Melestarikan Khazanah Sastra Jawa

MILESIA.ID/YULFITARISNAWATI – Rekor “Membaca Gurit Terbanyak”.

“Sebenarnya kita sempat ragu juga,” ujar Iqrar Dinata, S.Sn selaku ketua panitia.

Keraguan itu karena acara gurit yang dilaksanakan pada hari Senin adalah jam aktif bekerja para orangtua siswa.

“Khawatirnya tidak ada orang tua yang ikut andil dalam pemecahan rekor ini,” kisahnya.  “Namun diluar dugaan dan membuat bangga, ternyata para orang tua rela mengambil cuti kerja agar bisa ikut ambil bagian dalam pemecahan rekor MURI ini.” Imbuh Iqrar.

Rundown acara diawali dengan senam bersama diiringi lagu “Menggapai Bintang” yang dipopulerkan Via Vallen dengan lirik bahasa Jawa.

Setelah itu pihak MURI melakukan verifikasi jumlah peserta yang pada awalnya diargetkan 1000 peserta, namun diluar dugaan hasilnya mencapai 1324 peserta.

Selanjutnya menginjak acara utama, yaitu pembacaan gurit yang dilaksanakan dalam 3 sesi:

Pertama, membaca gurit dengan satu judul, dipimpin Kepala Sekolah, kemudian diikuti bersama-sama.

Kedua, gurit dibacakan 2 orang siswa dengan cara deklamasi.

Ketiga, membacakan gurit secara bersama-sama dengan judul gurit yang berbeda-beda.

Di puncak acara, Tim Rekor Muri menyerahkan piagam penghargaan Museum Rekor Dunia- Indonesia (MURI) yang ditandatangani oleh Jaya Suprana.

MILESIA.ID/YULFITARISNAWATI – Acara 1000 gurit menjadi ajang melestarikan budaya Jawa.

SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta mendapatkan penghargaan sebagai Pemrakarsa dan Penyelenggara membaca gurit terbanyak, yaitu 1324 peserta.

Lepas dari penghargaan MURI yang berhasil diperoleh, panitia berharap acara seperti ini bisa menjadi ajang melestarikan khazanah sastra Jawa yang adiluhung sekaligus menanamkan karakter religiusitas, nasionalisme, gotong royong, mandiri dan integritas.

(Milesia.id/ Yulfitarisnawati*, Editor: Kelik Novidwyanto)

*) Alumnus fakultas Hukum UII yang kemudian menggeluti dunia pendidikan dan tumbuh kembang anak. Saat ini aktif menjadi pendidik.

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close