Mileslitera
Trending

“Hujan Bulan Juni”, Sebuah Telisik Karya Sapardi Djoko Damono

Oleh :

Generousta Femaleda Audria Noviarista*

Tak ada yang lebih tabah

Dari  hujan di bulan Juni .

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan di bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan di bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu.”

( Sapardi Djoko Damono )

PERNAHKAH membaca petikan puisi di atas? Jika iya, pasti anda mengenal judulnya: “Hujan Bulan Juni”.

Puisi ini salah satu dari beberapa puisi yang dibacakan dalam film dengan judul yang sama, dan disutradarai Hestu Saputra.

Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama pula, “Hujan Bulan Juni”, mengisahkan percintaan romantis sepasang dosen muda bernama Sarwono yang diperankan Adipati Dolken serta Pingkan yang dimainkan Velove Vexia.

Kisah cinta ini nyatanya tak hanya tentang Sarwono yang smart atau Pingkan yang jelita, namun juga hadirnya orang ketiga di antara mereka.

Bumbu orang ketiga serta sentuhan puisi-puisi yang indah dan subtil, membuat film ini jauh dari kesan picisan atau gombal seperti film atau puisi cinta kebanyakan.

Film berdurasi 1 jam 36 menit ini menyelisik banyak makna tentang kehidupan serta gambaran cinta nan hakiki.

Baik puisi juga novel yang kemudian diangkat menjadi film dengan judul sama, “Hujan Bulan Juni”, bermuara pada satu maestro: Sapardi Djoko Damono.

Siapa Sapardi Djoko Damono?

IST – Prof. Sapardi Djoko Damono.

Lahir di Surakarta, 20 Maret 1940, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau kerap disapa SDD mencintai dunia tulis menulis semenjak belia.

Masa muda Sapardi dihabiskan di Surakarta. Ia bersekolah di Sekolah Dasar Kasatrian, setelah itu melanjutkan ke SMP Negeri 2 Surakarta. Pada saat itulah kegemarannya terhadap sastra mulai nampak.

Sapardi menulis puisi sejak duduk di kelas 2 SMA. Karyanya dimuat pertama kali oleh sebuah suat kabar di Semarang. Tak lama kemudian, karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra.

Sapardi meraih gelar sarjana pada tahun 1964 dan meneruskan menuntut ilmu hingga ke Universitas Hawaii, honolulu, Amerika Serikat (1970-1971) serta meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia pada tahun 1989.

Dalam hal pencapaian, Sapardi tergolong luar biasa. Ia telah mengemas beragam penghargaan di bidang sastra, seperti pencapaian seumur hidup di bidang Kebudayaan dari FIB-UI (2017), SEA Write Award (1986), Achmad Bakrie (2003), The Habibie Center (2016), Masyarakat Sastera Asia Tenggara (Mastera,2015), Akademi Jakarta (2012), dan Freedom Institute (2003).

SDD pernah menjabat sebagai dekan Fakultas Ilmu Budaya UI periode 1995-1999 dan guru besar. Di masa-masa itu ia juga menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan Country Editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur. Pensiunan Guru Besar UI ini masih aktif mengajar dan membimbing tesis dan disertasi mahasiswa pascasarjana di IKJ, UI, Undip, dan ISI Surakarta.

Sapardi menikah dengan Wardianingsih, Sapardi dikaruniai dua buah hati bernama Rasti Sunyandi (perempuan) dan Rizki Henriko (laki-laki).

Elan yang Tak Pernah Surut

IST – Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono dalam “Hujan Bulan Juni”.

Meski tak muda lagi, kecintaanya pada dunia tulis menulis tak pernah surut. Karyanya tak melulu sebatas puisi, Sapardi juga produktif menulis cerita pendek, artikel, dan esai. Belum lagi novel-novelnya yang selalu laris manis dan diminati khalayak muda.

Salah satu puisinya yang menjadi magnum opus adalah puisi berjudul “Aku Ingin”:

 “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awn kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Puisi ini adalah salah satu dari beberapa puisi karya SDD yang tak kalah populer seperti  “Hujan Bulan Juni”, “Akulah Si Telaga”, “Waktu Pagi Hari”, “Pada suatu Hari nanti”, “Berjalan ke barat di Waktu Pagi Hari”

Uniknya, puisi-puisi Sapardi ini tidak dengan sendirinya tersebar luas. Banyak bekas mahasiswa SDD yang turut mempopulerkan karya-karya beliau dengan cara mengadaptasinya menjadi sebuah musikalisasi yang indah. Beberapa diantaranya adalah; Ags. Arya Dipayana, Umar Muslim, Tatyana Soebianto, Reda Gaudiamo dan Ari Malibu.

Masih “Saja” Hujan di Bulan Juni

Kisah Pinkan, Sarwono dan katsuo tak hanya berhenti sampai disitu, SDD melanjutkan kisah percintaan pelik tiga manusia yang berbeda budaya ini dalam sekuel kedua yaitu Pingkan Melipat Jarak serta Yang Fana Adalah Waktu.

Selain itu Sapardi juga produktif menulis karya-karya fiksi seperti Duka-Mu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, Arloji, ayat-ayat Api, Trilogi Soekram, Suti, Bilang Begini Maksudnya Begitu, Alih Wihana, dan masih banyak lagi.

Sukses dengan Hujan Bulan Juni,  SDD kembali akan meluncurkan novel terbarunya yaitu Perihal Gendis. Menceritakan tentang sudut pandang seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang tinggal di rumah seorang diri. Ayahnya pamit pergi ke Selatan, sedangkan ibunya menyusul ke Utara. Sebuah absurdisme.

Dus, kita tentu berharap masih akan ada karya-karya Sapardi Djoko Damono yang lain, untuk dapat kita nikmati, resapi, serta mengulasnya dengan sungguh-sungguh. Semoga selalu sehat dan panjang umur Pak Sapardi!

(Milesia.id/ Generousta Femaleda Audria Noviarista)

*) Penikmat sastra-puisi dan pecinta karya-karya Sapardi Djoko Damono, saat ini masih aktif sebagai mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close