ANALISAMileseducationMilesosbud
Trending

Vandalisme di Kampus, Sikapi dengan Konsolidasi Masif!

MILESIA.ID, JOGJA – Hari Kamis (27/09/18) itu Bianca (18) baru saja usai mengikuti kuliah pagi, sekitar pukul setengah sepuluh, ketika tiba-tiba ponselnya menyala.

Sebuah gambar masuk melalui pesan singkat WhatsApp,  gambar yang tidak menarik! Terpampang tulisan “DOSEN KOLOT MAHASISWA ROBOT” bercat merah darah pada tembok fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana.

Sontak mahasiswi semester tiga itu keluar kelas, namun lokasi dinding fakultas yang tercoret itu sudah tertutup cat putih.

Petugas keamanan di kampus I Universitas Mercu Buana, Jalan Wates KM 10 itu tengah mengecatnya.

Aksi Vandalisme 

Aksi coret-coret di ruang publik sebenarnya lazim kita dengar. Kebanyakan corat-coret itu menyasar tembok pada gang-gang atau pinggir jalanan yang terbuka untuk umum. Namun, tak banyak yang secara sengaja melakukannya di dalam kampus.

Muhidin M. Dahlan, penulis buku yang juga kolumnis Kompas itu pernah menyebut corat-coret sebagai cara memperebutkan (sempitnya) ruang publik.

“Ini menarik. Di kala penguasa telah menguasai hampir semua akses publik. Di media massa, tak mungkin. Akhirnya, ‘melawan’! Bukan dengan demonstrasi laiknya mahasiswa, tapi dengan bahasa coret-coretan.” Ujar Muhidin (mengutip laman majalah Ekspresi dalam artikel; “Saya Mencoret maka Saya Ada”).

Boleh jadi aksi corat-coret memang benar sebagai bentuk ekspresi atau perlawanan. Namun coretan yang sembarangan, ngawur dan jauh dari sisi estetika sejatinya lebih tepat disebut sebagai vandalisme.

Vandalisme berasal dari kata “vandal”, sebutan di era Romawi Kuno kepada suku di wilayah Jerman yang memiliki kebiasaan merusak. Dalam kajian modern, vandalisme bisa diartikan segala bentuk perusakan (mencorat-coret, menghancurkan, memecahkan) properti milik pribadi maupun umum tanpa izin atau kesepakatan (konsesi) dari pemilik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Vandalisme (n) adalah segala perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb) atau bisa juga diartikan sebagai perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas.

Rata-rata aksi corat coret alias vandalisme ini dilakukan oleh anak muda dan menyasar ruang-ruang publik. Ada yang murni sebagai bentuk ekspresi untuk menunjukkan eksistensi, tapi ada pula yang bermuatan politis bahkan anarkis.

Vandalisme yang Anarkis

Coretan yang menyasar tembok fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, ternyata mempunyai satu pesan simbolis. Selain tulisan “DOSEN KOLOT MAHASISWA ROBOT”, di sisi kiri atas dibumbuhi simbol huruf A dalam lingkaran.

IST – Simbol A -dalam lingkaran-

“Setauku itu lambang anarko,” ujar Bianca saat mengomentari makna simbol dalam coretan itu.

Huruf A dalam lingkaran, memang lazim diketahui sebagai simbol organisasi pergerakan Anarki. Sebuah monogram yang terdiri dari huruf kapital “A” yang dikelilingi huruf kapital “O”. Huruf “A” diambil dari huruf awal kata “anarki” atau “anarkisme”. Huruf O atau lingkaran melambangkan persatuan serta solidaritas yang tinggi.

Istilah “anarko” sendiri adalah awalan yang mengacu pada “anarki” atau anarkisme”.  Anarkisme menurut KBBI dapat diartikan sebagai ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik ini tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang.

Filosofi ini mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya yang menumbuhsuburkan penindasan haruslah dihancurkan.

Mengutip laman Wikipedia.com, pluralitas atau kemajemukan pandangan serta taktik politik yang berbeda-beda yang dipercaya oleh para aktivis anarkis dalam memaknai dan menjalankan anarkisme menciptakan beragam cabang paham yang berbeda meski tetap berada dalam benang merah yang sama.

Kata Anarko– biasa dipergunakan untuk membedakan antara satu paham dengan paham yang lainnya. Adapun beberapa penggunaan awalan anarko- yang merujuk pada paham dalam anarkisme dapat didedah menjadi beberapa pengertian :

Anarko-Sosialisme – Sebuah formasi dari Sosialisme libertarian dengan secara absolut menolak keberadaan negara maupun aturan, bentuk ini biasanya termasuk dalam segala bentuk anarkisme.

Anarko-Sindikalisme – Gerakan yang lebih fokus kepada pembangunan gerakan buruh anti-otoritarian, membangun solidaritas pekerja, dan juga menggunakan aksi langsung secara militan seperti mogok kerja massal.

Konsolidasi ‘Masif’ Melawan Anarki

Sebagian perilaku vandal seperti corat-coret bisa menjadi perwujudan dari aspirasi anarkis jika tujuan pelakunya adalah kontra terhadap negara.

Vandalisme yang terjadi di kampus Mercu Buana dan belakangan diketahui juga terjadi di fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), boleh jadi masih samar-samar. Belum bisa ditegaskan apakah aksi itu mengarah kepada tindakan anarkis.

“Belum tau apakah simbol itu memang dibuat oleh anarko atau sekedar memecah belah dan bermaksud mengganggu keamanan di lingkungan kampus,” ujar Bianca.

Di sisi lain, Bianca menebak aksi vandal itu dilakukan oleh orang yang hafal dan akrab dengan lingkungan kampus.

Alasannya, coretan itu muncul di antara Rabu (26/09) tengah malam sampai Kamis (27/09) dini hari. Beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan Mercu Buana bahkan mengaku melihat tembok fakultas masih bersih sampai pukul 12 malam.

Petugas keamanan yang berpatroli juga tak menangkap sesuatu yang mencurigakan sebelum kejadian itu terjadi. Pun CCTV yang (sayangnya) hanya terpasang di tempat parkir.

Sikap pihak kampus yang segera mengecat tembok menjadi sebuah antisipasi yang taktis agar tidak menyulut lebih banyak prasangka.

Namun senyatanya, perlu ada sebuah pensikapan terhadap aksi vandalisme yang telah terjadi. Alumni fakultas Pertanian Mercu Buana yang juga mantan aktivis HMI, Heppy Andrianto berharap ada pernyataan sikap dari masing-masing organisasi mahasiswa.

“Coba buat pernyataan sikap kaitannya vandalisme di kampus. Pancing oknum ini untuk muncul, kemudian ajak untuk berdiskusi.” Terang Heppy.

Apapun maksud di balik aksi vandalisme itu, entah mengarah kepada anarkisme atau tidak, momentum ini bisa dijadikan sebuah ajang konsolidasi masif semua elemen kampus. Baik organisasi mahasiswa, dosen, juga pihak manajemen rektorat.

Dengan memperkuat konsolidasi berupa komunikasi serta diskursus-diskursus yang progresif, segala bentuk anarkisme tidak akan sempat menyusup masuk apalagi merusak.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close