Mileslitera
Trending

Tempuran: Perjumpaan Sastra, Musik, Tari dan Rupa! Hadiri Bincang Sastra Jogja, Minggu 30 September 2018

Bincang-Bincang Sastra Edisi 156

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – “Serat Djiwa” pada Musikalisasi Sastra 2018.

MILESIA.ID, JOGJA – Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta kembali menggelar acara Bincang-Bincang Sastra.

Diagendakan bertempat di Lobi Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, gawe rutin yang terbuka untuk umum dan gratis ini sedianya digelar hari Minggu, 30 September 2018 mulai pukul 19.30 sampai selesai.

Gelaran yang telah menyentuh angka 156 untuk tahun ini, akan mengambil tajuk “Tempuran: Dialog Sastra, Musik, Tari, dan Rupa”.

Masih didukung oleh Milesia.id, acara ini siap menghadirkan kembali para penampil di balik suguhan spektakuler “Pergelaran Musikalisasi Sastra 2018 ‘Cakrawala Yogyakarta’” yang usai dihelat 1-2 September 2018 tempo hari.

Menengok “Proses Kreatif” 

MILESIA.ID/ Dok.SPS – Bincang-Bincang Sastra edisi 156, Minggu, 30 September 2018.

Seperti galib kita ketahui, para penampil yang sempat mecicipi panggung Musikalisasi Sastra 2018 di gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta adalah para seniman muda yang penuh semangat dan kreatifitas.

Mereka ini akan diundang kembali untuk berbagi kisah proses kreatif penciptaan karya Pergelaran Musikalisasi Sastra 2018.

Para tetamu ini antara lain; Anon Suneko dari Omah Gamelan, Ayu Saraswati atau lebih karib dengan nama panggung Mengayun Kayu, Bodhi I.A. perwakilan dari Rupagangga, Galih Fajar dan Mathorian Enka perwakilan dari Kopibasi, Dian Adi M.R. dan Justitias Jellita perwakilan dari Serat Djiwa, dan Mila Rosinta dari Mila Art Dance.

“Studio Pertunjukan Sastra sengaja menghadirkan kembali nama-nama personel yang telah bahu-membahu mewujudkan sebuah pergelaran sastra berkualitas yang hadir tidak hanya sebagai tontonan yang menghibur namun juga memberikan kesegaran, warna baru di cakrawala panggung pertunjukan sastra Yogyakarta.

IST – Studio Pertunjukan Sastra.

Tajuk “Cakrawala Yogyakarta” agaknya benar-benar mewujud dalam Pergelaran Musikalisasi Sastra 2018 lalu.

Tanggapan positif dari berbagai pihak tiada henti diterima panitia sesaat dan setelah acara berlangsung. Atas dasar itu, panitia mengundang dan menghadirkan kembali para penampil untuk berbincang bersama, menilik kembali peristiwa-peristiwa di belakang panggung yang tidak banyak diketahui khalayak ramai,” ujar Mustofa W. Hasyim, selaku ketua Studio Pertunjukan Sastra dan tim kreatif acara.

“Dialog Lintas” yang Berkesinambungan

Mustofa W. Hasyim menuturkan, “Cakrawala kreativitas estetika yang dihadirkan para penampil yang notabene memiliki latar belakang berbagai genre, yakni seni tradisi karawitan, musik instrumentalia, musik eksperimental, musik etnik, musik modern, dan tari berhasil menyajikan suatu pergelaran sastra yang mengejutkan. Energi generasi muda melampaui batas imajinasi.

IST – Mustofa W.Hasyim (batik) nampak berbincang serius dengan Cak Nun.

Tampak adanya lompatan dari model pertunjukan sastra yang sudah ada sebelumnya di Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa Yogyakarta menyimpan bermacam ragam kreativitas seni yang memungkinkan untuk dipadukan dengan karya sastra.”

Pada kesempatan yang sama, Sukandar dan Latief S. Nugraha yang merupakan tim kreatif acara tersebut menambahkan, bahwa acara Pergelaran Musikalisasi Sastra tempo hari merupakan tempuran, tempat bertemu aliran-aliran ekspresi semangat kreativitas berkesenian.

“Studio Pertunjukan Sastra sudah lebih dari sepuluh tahun konsisten ‘mengawal geliat sastra Yogya’. Dari perjalanan itu dijumpai dan ditemukan kemungkinan-kemungkinan baru, kususnya pertunjukan sastra yang sayang jika tidak digali dan dihadirkan ke hadapan publik yang luas,” terang Sukandar.

Oleh karenanya, ketika Seksi Dokumentasi dan Informasi Taman Budaya Yogyakarta memberikan kepercayaan kepada Studio Pertunjukan Sastra, tim kreatif semaksimal mungkin mempersembahkan sebuah karya yang berkualitas.

MILESIA.ID/Dok.Sukandar – Sukandar, S.Hut.

“Kami berusaha mempersembahkan sebuah pergelaran yang sungguh-sungguh, digelar seluas-luasnya sebagai cakrawala yang menghadirkan ‘hal-hal yang tak selesai’,” imbuh Sukandar, meminjam istilah Goenawan Mohamad, dalam karya sastra.

Sukandar yang juga mengelola penerbitan Interlude itu menggarisbawahi pentingnya komunikasi lintas budaya, disiplin ilmu dan pemikiran. Ia berharap event Musikalisasi Sastra tempo hari bukanlah akhir, melainkan awal sebuah komunikasi yang berkelanjutan.

“Kita masih bisa terus berdialog, berbincang bersama mengenai karya sastra yang dihadirkan maupun bentuk pertunjukan yang disajikan,” tegasnya.

Bincang-Bincang Sastra sebagai acara reguler Studio Pertunjukan Sastra kali ini membuka ruang dialog antara sastra, musik, tari, dan rupa. Selain sastra, musik, dan tari yang tersaji dalam Pergelaran Musikalisasi Sastra awal bulan September lalu, tata artistik panggung juga hadir mewujudkan perpaduan warna dan ornamen pernak-pernik cantik di atas panggung.

Momen Pertanggungjawaban

MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO – Penampilan apik Mila Rosinta dan Mila Art Dance pada Musikalisasi Sastra 2018.

Adalah Agung Nugroho, perupa di balik tata artistik penghias acara yang diselenggarakan selama dua malam di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta itu. Di lobi gedung juga digelar bazar buku seni dan sastra serta pameran lukisan sosok dan karya para sastrawan yang karyanya dirayakan.

Keterlibatan banyak pihak dalam mengemas acara Pergelaran Musikalisasi Sastra dengan animo massa penonton yang tak terbendung sehingga gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta tak dapat menampungnya itu sayang jika harus dilewatkan begitu saja.

“Maka, perbincangan tentang apa dan bagaimana yang terjadi dalam proses kreatif penyelenggaraan acara tersebut dihadirkan Studio Pertunjukan Sastra sebagai semacam ‘laporan pertanggungjawaban’ kepada masyarakat,” pungkas Latief S. Nugraha.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto) 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close