Milestories
Trending

Klinik Kecil yang Menjinakkan Gergaji Mesin Pembalak Hutan

Ketika pintu kayu berpelitur coklat itu dibuka, aroma minyak pelumas mesin menguar tipis. Di dalam ruangan seluas tak lebih dari 3 x 3 meter, teronggok puluhan gergaji mesin.

I wanna kiss you (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Siang itu, Milesia lantas menyusuri koridor memanjang yang jembar. Menampakkan sejumlah ruangan yang masih dalam proses finishing. Di ruang perawatan, dua orang pasien terlihat berbaring dengan jarum infus menyusup di pembuluh vena pada lengan mereka.

Koridor berakhir pada hampar kebun dengan aneka tanaman. Berujung pada selarik bukit berhutan lebat kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Sayup-sayup, terdengar pekik suara bekantan (Nasalis larvatus) dari kejauhan.

Laiknya sebuah klinik kesehatan, orang akan mendapati poster-poster kampanye hidup sehat, pentingnya ASI, atau bahaya merokok. Di klinik yang dikelola oleh Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) ini, pengunjung yang datang langsung disergap dengan poster besar bergambar seekor orangutan yang memonyongkan bibirnya dengan tampang jenaka. Juga poster-poster lansekap hutan hijau hasil reboisasi.

Hasil Chainsaw Buyback (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Klinik ASRI bisa dikunjungi di Sei Mengkuang, Pangkalan Buton, Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat. Beberapa belas menit berkendara dari kawasan wisata Pantai Datok.

Lalu kenapa sebuah klinik kesehatan sampai ‘menimbun’ onggokan gergaji mesin? “Kami menyelenggaran program kewirausahaan, termasuk bagi warga perambah hutan dengan menggunakan skema Chainsaw Buyback,” papar Nur Febriani, Direktur Eksekutif Yayasan ASRI kepada Milesia dan sejumlah tamu dari Jakarta, Sabtu (22/9) lalu.

Program ini memfasilitasi para penebang liar untuk alih profesi yang lebih baik dan bermartabat. “Para penebang kayu ilegal menukar gergaji mesin mereka dengan fasilitasi dan pendampingan kegiatan usaha,” imbuh perempuan berjilbab yang akrab disapa Febri itu.

Nur Febriani (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Keterbatasan tingkat pendidikan dan minimnya alternatif mata pencaharian, menjadikan sebagian warga memilih cara instan dengan membabat hutan untuk mendapatkan uang. “Sebagian warga yang menjadi penebang liar lebih dilandasi oleh persoalan ekonomi. Untuk membiayai anggota keluarga yang sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya,” terang Febri.

Tentu, alih-alih menyelesaikan masalah, membabat hutan untuk menjaga dapur tetap ngebul, kian menambah kompleks masalah. Hutan gundul, keberagaman unsur hidupan pembentuk hutan (biodiversitas) berkurang, mutu lingkungan semakin merosot.

ASRI yang eksis sejak 2007, berangkat dari sebuah pertanyaan, ”Jika masyarakat dunia ingin berterima kasih kepada Anda karena melestarikan hutan, apa wujud terima kasih yang Anda butuhkan?”. Berikutnya adalah pergulan panjang menghabiskan waktu tak kurang dari 400 jam. Menjaring keluh kesah dan harapan masyarakat yang butuh layanan kesehatan dasar itu. Singkat kata, dua hal ini yang mereka mintakan, “Pelayanan kesehatan berkualitas dan terjangkau, serta pelatihan pertanian organik”.

Milesia merasakan betul, betapa kendala jarak dan infrastruktur yang belum memadai, menjadikan masyarakat Kayong Utara dan sekitarnya harus berjibaku demi mendapat akses kesehatan paling dasar. Meskipun sebagian jalan raya sudah beraspal, tak ada angkutan umum di kawasan itu. Ketika Klinik ASRI beroperasi, mimpi agar masyarakat tak perlu membabat hutan guna mendapat uang untuk berobat, mulai terwujud.

Kesehatan dan Konservasi

ASRI meyakini, bahwa kesehatan manusia tergantung pasa kesehatan alamnya. Mereka mengembangkan konsep Kesehatan Planetari. Pendekatan interdisipliner dan transdisipliner dalam memahami aspek kesehatan manusia secara menyeluruh. Meletakkan efek perubahan lingkungan, termasuk yang ditimbulkan oleh sistem politik, ekonomi dan sosial, sebagai faktor yang saling berkelindan.

Berkat dukungan banyak pihak, kerja keras dan komitmen mereka berbuah manis. Hingga akhir 2017, Klinik ASRI telah menerima 73.736 kunjungan dari 41.875 pasien. Sejak Juni 2018, tercatat 1.177 pasien BPJS telah memilih klinik ASRI sebagai fasilitas kesehatan tingkat satu. Klinik ASRI juga sudah melayani pasien fisioterapi dan sudah mengantongi izin operasional apotek. Program kesehatan lainnya adalah Pengobatan Keliling, Pembagian Kacamata, Keluarga Berencana Gratis, Ambulans, Imunisasi, dan Edukasi Kesehatan.

Dan ini uniknya! Klinik ASRI menerima pembayaran jasa layanan kesehatan non tunai menggunakan bibit pohon! “Ya, kami menerima pembayaran menggunakan bibit pohon. Bibit pohon belian, meranti, juga bibit tanaman buah,” papar Febri.

Bagaimana mekanisme pembayarannya? Mengacu data harga bibit tanaman yang diberlakukan di klinik ASRI (2017), setiap jenis bibit memiliki nilai beragam. Bibit pohon kayu belian misalnya, adalah yang termahal, mencapai Rp 20 ribu per bibit. Berikutnya adalah gaharu Rp 13,5 ribu, lalu meranti Rp 10 ribu. Bibit petai, mangga, durian, atau lengkeng, diharga antara Rp 6 ribu hingga Rp 9 ribu. Itu adalah harga bibit yang diantar langsung oleh pasien pengguna jasa klinik. Jika pihak ASRI yang menjemput, nilai bibit menjadi sedikit lebih rendah dengan selisih harga di kisaran Rp 1.500 sampai Rp 2 ribu per bibit.

Bibit yang layak dijadikan ‘alat transaksi’ memiliki sejumlah persayaratan. Diantaranya memiliki tinggi minimal 20 sentimeter, sudah memiliki 5 helai daun, dan sehat.

Ada pula Program ASRI Kids – Teens, ekstrakurikuler edukatif tentang kesehatan dan lingkungan bagi anak-anak usia rentang usia 10 sampai 11 tahun (Kids) dan usia remaja (Teens). Menjangkau sekolah-sekolah di sekitar Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) dan anak-anak atau remaja yang tinggal di sekitar Yayasan Alam Sehat Lestari.

Konservasi, hingga 2017 tak kurang dari 46,5 hektare hutan telah direboisasi di area TNGP. Termasuk mereboisasi koridor orangutan di Desa Sedahan Jaya. Serta membantu menekan angka pembalakan liar via Chainsaw Buyback.

Lebih dari 300 orang (17 kelompok) mendapatkan pelatihan pendampingan pertanian organik, 105 ibu rumah tangga berpartisipasi dalam program kebun keluarga. Lebih dari 200 janda berpartisipasi dalam “Kambing untuk janda”. Tercatat 70 penebang telah beralih mata pencaharian sejak awal 2017 melalui program Chainsaw Buyback.

ASRI menghelat program konservasi bermitra dengan sejumlah pihak. Terutama dengan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). TNGP merupakan salah satu taman nasional terlengkap yang berada di ketinggian 900 m – 1.116 mdpl dengan luas mencapai 90 ribu hektare. Terbentang di Kecamatan Matan Hilir Utara, Sukadana, Simpang Hilir, Nanga Tayap dan Sandai.

Merupakan habitat lebih dari 2.000 ekor orangutan, juga bekantan. Hutannya ditumbuhi beragam flora. Ada pohon kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), damar (Agathis borneensis), pulai (Alstonia scholaris), rengas (Gluta renghas), hingga anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang memesona.

Satwa-satwa uniknya, tak kurang dari 190 jenis burung dan 35 jenis mamalia. Bekantan (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo satyrus), kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), kukang (Nyticebus coucang borneanus), rangkong badak (Buceros rhinoceros borneoensis), hingga buaya siam (Crocodylus siamensis), kura-kura gading (Orlitia borneensis), dan penyu tempayan (Caretta caretta).

Itu belum termasuk reptil dan amfibi. “Kawasan TNGP sangat kaya dengan keragaman reptil dan amfibi. Sayang jika hanya peneliti asing yang memanfaatkannya sebagai sumber pengetahuan,” papar Mediansyah, penelti amfibi dan reptil (herpetofauna) jebolan Unversitas Tanjungpura, Kalimantan Barat. Medi, laki-laki asal Sanggau, itu tengah menyusun buku tentang katak, yang tahapan pengamatannya memakan waktu dua dekade lebih. Termasuk herping di kawasan TNGP.

“Kami bermitra dengan seluruh elemen masyarakat. Termasuk kalangan mahasiswa pecinta alam, peneliti, dan pegiat lingkungan dalam rangka melestarikan habitat flora dan fauna di TNGP. Kemitraan kami dengan Yayasan ASRI sudah berlangsung cukup lama dan intens, dan membawa manfaat bagi banyak pihak,” papar Bambang Hari Trimarsito, Kepala Seksi I Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tak mengherankan jika ASRI bertabur penghargaan bergengsi. Mulai dari Kalpataru “Penyelamat Lingkungan” (2016), Whitley Fund for Nature Gold Award Winner, (2011, dan 2016), Ashoka Social Entrepreneur (2013), hingga National Geographic Emerging Explorer, (2017).

Negara Harus Hadir

Sekalipun meraih setumpuk penghargaan, klinik Yayasan ASRI dengan tiga dokter umum plus satu dokter gigi serta dibantu 30 an staff dan karyawan, mereka tetap harus berjibaku memberikan layanan kesehatan terbaik baik warga setempat dengan segala keterbatasannya. “Biaya operasional kami baru tercukupi sekitar sepuluh persen,” imbuh Febri. Alhasil, sudah sepuluh tahun mereka mengandalkan donasi dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri guna menutupi biaya operasional dan pengembangan area klinik untuk berbagai kebutuhan.

Klinik ASRI memang inspiratif. Intens memadukan tatakelola kesehatan masyarakat lokal, program konservasi hutan, serta pemberdayaan ekonomi dan pendidikan secara sinergis. “Kami mengembangkan program pendidikan planetari, pendekatan interdisipliner dan transdispliner yang baru. Mencermati efek perubahan lingkungan, sistem politik, ekonomi dan sosial, pada kesehatan manusia,” papar Febri.

Menurut Dr. dr. Tri Maharani, Sp.EM, dokter spesialis kegawatdaruratan yang juga Kepala Instalasi Gawat Darurat RS Daha Husada, Kediri, Jawa Timur, letak investasi terbesar sebuah klinik macam ASRI, juga klinik dan pusat layanan kesehatan unit terkecil sejenis, adalah pada sumberdaya manusia.

Dr.dr.Tri Maharani, Sp.Em. (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

“Klinik kesehatan, atau unit pelayanan kesehatan tipe D, mereka membutuhkan biaya setidaknya di atas Rp 100 juta per bulan. Itu untuk menutup biaya operasional, laboratorium, pengadaan obat-obatan, hingga membayar gaji dokter dan paramedis,” papar Tri Maharani.

“Nominal Rp 100 juta itu sebenarnya standar minimal. Untuk kawasan pedesaan atau daerah terpencil operational cost nya lebih tinggi lagi. Sebab, ada variabel biaya lain yang harus dipenuhi. Sebut saja terkait masalah transportasi dan infrastruktur. Di kawasan perkotaan, untuk mengakses perlengkapan medis, ambulans, atau untuk pengadaan stok alat dan obat-obatan, tidak sesulit di daerah pelosok. Biaya transportasi dan komunikasi juga lebih efisien,” imbuh Tri.

Lantas bagaimana selama ini klinik dan Puskesmas menyiasati segala keterbatasannya? “Sebenarnya, jika merujuk pada aturan yang ada, klinik atau puskesmas itu basis kerja dan tanggung jawabnya dalam memfasilitasi masalah kesehatan masyarakat ada di level promotif dan preventif. Realitanya, mereka juga “dipaksa” masuk tindakan kuratif agar bisa untuk menutup operational cost yang sering defisit itu,” terang Tri.

“Sederhananya begini, pasien yang ditangani di klinik atau Puskesmas itu sejatinya tidak sampai rawat inap, hanya rawat jalan. Masalahnya, jika klinik atau Puskesmas langsung merujuk ke RS untuk rawat inap, maka mereka tidak mendapat pemasukan tambahan. Padahal pemasukan itu dibutuhkan untuk menutup biaya operasional, pengadaan obat, remunerasi paramedis, maintenance, dan sebagainya”.

Sebenarnya, dalam WHO Regional Meeting on Revitalizing Primary Health Care yang dihelat di Jakarta sepuluh tahun silam, dihasilkan rumusan reformasi layanan kesehatan primer (Primary Health Care Reforms/PHC). Mencakup reformasi universal coverage, service delivery, public policy dan leadership. Ini niscaya berdampak pada Puskesmas. Untuk itu, Kementerian Kesehatan terus merevitalisasi Puskesmas guna menjawab prioritas layanan promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.

Tri Maharani yang mengunjungi sekaligus melakukan edukasi “Penatalaksanaan Snakebites (WHO 2016)” di Klinik Asri di Kayong Utara, Sabtu (22/9) lalu, berpendapat, jika saja pemerintah bisa membantu secara berkesinambungan bagi setidaknya 10 klinik serupa ASRI, manfaatnya akan benar-benar terasa sepuluh tahun ke depan. Pemerintah pusat dan terlebih daerah akan sangat terbantu.

“Katakanlah pemerintah membantu Rp 1 miliar per tahun, maka dalam 10 tahun jatuhnya ‘investasi’ hanya di kisaran Rp 1 triliun. Lalu lihat, dalam 10 tahun ke depan, manfaatnya akan sangat terasa, baik dari sisi kesehatan, sosial – ekonomi masyarakat, maupun kapasitas tenaga medis. Alhasil, nominal bantuan itu sejatinya tidak sebesar benefits yang akan dipetik oleh masyarakat dan negara,” papar Tri.

Menurut Tri, konsep klinik ASRI bisa diadopsi di berbagai tempat di tanah air dengan menyesuaikan lansekap, problem, dan tantangan habitatnya. Jika bukan di zona konservasi macam ASRI, maka bisa dipadukan dengan program solusi mengatasi persoalan sampah dan energi alternatif.

Juga bermitra dengan lembaga pendidikan atau lembaga keswadayaan lokal untuk fungsi layanan kesehatan bersifat promotif. “Dibangun bank sampah, sehingga masyarakat kurang mampu bisa membayar biaya kesehatan dengan (olah) sampah atau bentuk kontribusi layanan publik lainnya,”imbuh Tri. Ia bermimpi, akan berupaya membangun klinik serupa di kemudian waktu nanti.

Senja mulai turun ketika Milesia beranjak meninggalkan Klinik Yayasan Asri yang bersahaja namun sarat prestasi. Diantar dengan candaan akrab dan senyum hangat oleh sejumlah pengelola yayasan, staff TNGP, tenaga medis, dan karyawan. Di kejauhan, dari area Taman Nasional Gunung Palung yang merimbun dengan pesona flora dan fauna yang terjaga itu, suara lenguh bekantan terdengar sayup. Memecah hari yang sebentar lagi beranjak sunyi. Benar, butuh cinta yang paripurna, komitmen dan ketangguhan mental, demi mewujudkan semesta sehat dan lestari di pelosok negeri.

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close