MilesosbudTravel
Trending

Arak-arakan Sedekah Bumi dan Nadran Cirebon 2018

Sebuah Sinkretisme Budaya yang Harmonis

MILESIA.ID, CIREBON – Minggu (23/09/2018) pukul 14.00 siang, ribuan orang nampak mengular di sepanjang Jalan Raya Sunan Gunung Jati, sebelah Utara kota Cirebon.

Di bawah langit cerah, masyarakat dari berbagai wilayah Pantura; seperti Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka dan sekitarnya tumpah ruah memadati jalanan.

Mereka rela berdesak-desakan agar bisa menyaksikan gelaran ider-ideran karnaval atau arak-arakan Sedekah Bumi dan Nadran Gunung Jati Cirebon.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Sedekah Bumi dan Nadran tahun 2018 ini disambut antusias oleh masyarakat. Hasil sinkretisme budaya Jawa pesisiran dan Islam, nyatanya mampu menghasilkan harmonisasi yang indah dan adiluhung.

Sebuah Sinkretisme Budaya

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Salah satu atraksi peserta karnaval Sedekah Bumi yang memukau penonton.

Tradisi Sedekah Bumi dan Nadran Gunung Jati Cirebon ini dalam catatan sejarah perjalanannya merupakan hasil peleburan dua sistem kebudayaan.

Seperti lazim kita ketahui, masyarakat Pantura (pantai utara) Cirebon, mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Sebelum agama Islam masuk, masyarakat masih terikat dengan tradisi dan ritual-ritual beradasarkan kepercayaan agama nenek moyang mereka.

Pada masa itu masyarakat masih percaya kepada dewa-dewa, seperti dewa bumi, dewa laut, dewa langit, dan dewa lainnya. Mereka menganggap para dewa itu sebagai sesembahan. Keyakinan atas adanya dewa atau yang maha kuasa itu diwujudkan dengan memberikan sesaji di tempat-tempat keramat.

Dengan memberikan sesaji (persembahan) kepada dewa-dewa, mereka berharap terhindar dari malapetaka dan mendapat kemudahan dalam setiap usahanya. Seperti nelayan yang memberi sesajen ke laut, ia berharap akan selamat tatkala melaut serta mendapat hasil tangkapan yang melimpah.

Mengutip tulisan Mulyanto SWA (Pegiat Lingkar Studi Sastra (LSS) Cirebon), saat agama Islam masuk, tradisi-tradisi lama dan kepercayaan kepada dewa-dewa perlahan-lahan digantikan dengan iman kepada Tuhan.

Sesembahan kepada dewa pada masa pra-Islam tidak dibuang sama sekali caranya, tetapi diubah substansinya. Dalam usaha-usaha mengalihkan kepercayaan itulah terbentuk sebuah tradisi atau upacara baru, yaitu sedekah bumi.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Peserta karnaval mewakili masing-masing daerahnya.

Upacara baru bernama “Sedekah Bumi” ini pertama kali digelar pada masa pemerintahan Kanjeng Susuhunan Syekh Syarif Hidayatullah (1482–1568 M), di Puser Bumi. Puser Bumi adalah sebutan untuk pusat kegiatan atau pusat pemerintahan Wali Sanga.

Mengenai kedudukan Puser Bumi, ada penjelasan bahwa setelah Sunan Ampel wafat pada 1478 M, dipindahkan dari Ampel (Jawa Timur) ke Cirebon yang letaknya di Gunung Sembung—sekarang disebut Astana Gunung Jati.

Upacara adat sedekah bumi biasanya digelar pada caturwulan ke 4 (bulan September-Oktober) setiap tahunnya mengikuti siklus panen padi di setiap desa yang masuk ke dalam wilayah Cirebon.

Tradisi ini dilaksanakan hampir di seluruh desa-desa di Cirebon, semisal Desa Astana Gunung Jati yang termasuk ke dalam kecamatan Gunung Jati sekarang.

Untuk tahun 2018 ini, acara Sedekah Bumi dan Nadran dimulai dari sedekah laut atau yang biasa disebut Lelumban oleh masyarakat setempat. Sedekah laut dilaksanakan pagi hari di Sungai Condong dengan membawa sesajen hasil pertanian dan kepala kerbau sebagai lambang ucapan terima kasih atas hasil pertanian dan laut.

Siang harinya, barulah dimulai sedekah bumi dengan menampilkan ratusan peserta ider-ideran atau karnaval yang menyuguhkan berbagai atraksi dan kreasi seni dari warga Cirebon mulai dari tingkat RT, RW, desa hingga kecamatan.

MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO – Atraksi sang naga merah.

“Event ini termasuk dalam 100 kebudayaan di Indonesia yang dilestarikan oleh Kementerian Pariwisata RI. Ini event yang sangat melegenda sejak ratusan tahun yang lalu,” terang Kabid Pemasaran Area I Kemenpar RI, Wawan Gunawan, saat memberikan sambutannya di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Minggu (23/9/2018).

Ia mengatakan, jika tradisi yang ada di masyarakat ini terus dilestarikan secara otomatis akan mensejahterakan serta meningkatkan perekonomian masyarakat.

Arak-arakan yang Mewujud Harmonisasi

MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO – Doraemon pun ikut karnaval Sedekah Bumi.

Matahari mulai beringsut ke Barat ketika rombongan karnaval menyeruak kerumunan. Diiringi suara musik dari pengeras serta sorak-sorai masyarakat yang menyambut di pinggiran jalan, arak-arakan ini berjalan perlahan ke Selatan.

Ada rupa-rupa atraksi yang mereka suguhkan. Seperti misalnya patung hewan-hewanan panda raksasa, udang raksasa, kuda sembrani, beruang, serigala raksasa, burung hantu, naga raksasa, serta patung kerbau.

Ada pula yang membawa patung Pangeran Diponegoro, perahu Laksamana Cheng Ho, replika kereta kencana, tokoh-tokoh dalam kisah pewayangan hingga hasil bumi berupa pertanian. Bahkan ada yang sengaja berinovasi mengarak patung raksasa tokoh komik asal negeri bambu, Doraemon.

Rombongan arak-arakan ini berjalan kaki sejauh 5 kilo meter dari Makam Sunan Gunung Djati menuju ke bunderan Krucuk, tapal batas kota Cirebon.

Acara arak-arakan ini berlangsung hingga pukul 16.00 sore. Setiap penampilan peserta ini dilombakan kemudian dinilai oleh panitia. Akhirnya diputuskan 3 besar juara Ider-ideran Karnaval Sedekah Bumi & Nadran Gunung Jati Cirebon tahun 2018 ini.

MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO – Hasil sinkretisme budaya Jawa pesisiran dan Islam mampu menghasilkan harmonisasi yang adiluhung.

Yaitu, juara 1 : Adipati Keling Blok (Pekuncen Astana Gunung Jati), juara 2 : Singa Ambarraja (Desa Kalisapu Blok Piliran) dan juara 3 : Kapal Cheng Ho (Desa Surakarta).

Dus, sinkretisme Islam-Jawa Pesisiran atau pembauran dua sistem budaya lainnya, pada ujungnya tidak melulu melenyapkan satu terhadap lainnya atawa menggagahi satu dengan lainnya. Tradisi Sedekah Bumi dan Nadran Cirebon membuktikan itu.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close