ANALISAMileseducation
Trending

Indonesia Krisis Lagu Anak, Kenapa Bisa?

Serba-Serbi Parenting di Sekitar Kita

Oleh : Desy Wiji Lestari*

Australia negeri wool (katanya.. katanya..)
Aborigin sukunya (katanya.. katanya..)
Bumerang senjatanya (wow.. wow..)
Kangguru binatang
nya……

Indonesia tercinta, orangnya ramah-ramah
Gemah ripah loh ji nawi.

BAGI anak-anak yang tumbuh medio 80-90 an, pasti hafal betul dengan petikan lagu di atas. Lagu anak-anak ciptaan Papa T. Bob itu dipopulerkan oleh Trio Kwek Kwek.

Mari kita coba perhatikan liriknya…! Ada pengetahuan layaknya pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) di Sekolah Dasar. Anak-anak bisa memperoleh informasi mengenai negeri Australia; negeri penghasil wool dengan suku aslinya Aborigin, bersenjata khas boomerang dan mempunyai binatang endemik kangguru.

Selain easy listening dan asyik dinyanyikan, lagu anak-anak itu juga bisa dijadikan sarana edukasi. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, lagu anak-anak serupa itu kian lama tergerus dan hilang.

Minimnya Produksi Lagu Anak

Suatu hari, saya pernah meminta seorang anak berusia 8 tahun untuk bernyanyi. Alih-alih menyanyikan lagu anak, justru yang ia nyanyikan lagu dewasa yang saya sendiri belum pernah mendengarnya. Sangat ironis!

Minimnya lagu anak membuat mereka terpaksa mengikuti trend musik yang berkembang, akhirnya konsumsi lagu dewasa pun dianggap sebagai hal yang lumrah.

Tak jauh beda dengan program ajang pencarian bakat di beberapa stasiun televisi swasta. Meski menggunakan embel-embel kid pun, tetap saja yang mereka nyanyikan kebanyakan lagu orang dewasa.

Produksi lagu dewasa yang dianggap lebih menguntungkan, boleh jadi salah satu alasan kenapa lagu anak langka di pasaran. Alhasil, semakin banyak lagu dewasa yang secara “bawah sadar” dinikmati anak-anak. Mirisnya, banyak lagu dewasa dengan konten percintaan yang vulgar, seperti masalah perselingkuhan dan sarkasme yang seharusnya belum waktunya dikonsumsi anak-anak.

Lalu ke mana perginya lagu anak-anak? Seperti yang populer di era 90 an? Sebenarnya lagu anak tidak sepenuhnya hilang. Mereka ada, namun respon masyarakat saat ini tidaklah seantusias era 90-an. Era itu adalah masa keemasan lagu anak-anak di Indonesia. Salah satu stasiun televisi yang turut memelopori kejayaannya adalah TVRI.

Mungkin masih melekat di benak kita, tayangan hiburan anak-anak kala itu menjadi tontonan yang paling dinanti. Sebut saja Panggung Gembira Anak yang tayang di hari Minggu. Program yang satu ini sangat difavoritkan masyarakat. Namun seiring bertransformasinya sederetan penyanyi cilik seperti Eno Lerian, Maissy, hingga Trio Kwek Kwek menjadi dewasa, lagu anak tak terdengar lagi.

Padahal dahsyatnya industri lagu anak-anak pada saat itu, bukan hanya membuat penyanyinya menjadi tenar, namun juga tokoh pencipta yang telah berkontribusi di belakang layar. Sebut saja maestro lagu anak, AT. Mahmud, Papa T. Bob, hingga Kak Seto, yang namanya wara wiri di belantika musik tanah air.

Saat ini, respon masyarakat yang kurang antusias terhadap lagu anak secara otomatis mempengaruhi geliat industri lagu anak nasional.

Lagu anak tidak lagi memiliki ‘pangsa pasar’ menggiurkan alias tidak menguntungkan, sehingga menggerus pundi-pundi uang para produsen sekaligus penciptanya. Stasiun televisi yang dulu menjadikannya “anak emas”, kini enggan meliriknya.

Nilai-nilai edukasi yang dulu selalu diselipkan dalam setiap lirik lagu anak, kini perlahan digantikan oleh kebutuhan akan hiburan sesaat. Lagu anak dianggap bertele-tele, menggurui dan tidak keren. Maka kesuksesan lagu anak era 90 an pun hanya menjadi cerita.

Melahirkan Kembali Lagu Anak

Saat ini memang cukup banyak artis cilik yang menghiasi layar kaca. Tapi kehadiran mereka bukan dengan background penyanyi, melainkan sebagai aktor atau aktris cilik dalam beberapa sinetron, yang terkadang ceritanya bercampur aduk dengan kisah percintaan, konflik rumah tangga, maupun kekerasan.

Realita menyedihkan itu menyulut keprihatinan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang saat ini diketuai oleh Dr. Susanto, MA.

“Para pegiat musik perlu mendedikasikan diri melakukan inovasi, menyuguhkan musik-musik terbaik untuk anak Indonesia. Ciptakan lagu-lagu berkarakter, munculkan figur anak terpilih dalam dunia musik,” ucap Susanto (mengutip republika.co.id).

Jangan sampai konsumsi lagu yang tidak sesuai dengan usianya, membuat anak-anak tumbuh dewasa sebelum waktunya. Semestinya anak-anak mendapat suguhan hiburan yang menarik, mendidik serta sesuai dengan tingkat tumbuh kembang psikologisnya.

Akhirnya, semua itu kembali pada kesadaran masing-masing individu dan seluruh stakeholder untuk menjaga kualitas generasi mendatang. Sejauh manakah kepedulian kita?

Peluang masih terbuka lebar bagi para insan kreatif tanah air untuk bahu membahu menghidupkan kembali dunia bermusik anak-anak. Mari berikan anak-anak kita ruang yang seluas-luasnya agar mereka bebas berekspresi dan mengembangkan kreativitasnya.

(Milesia.id/ Desy Wiji Lestari)

*) Pemerhati sosial, lama berkecimpung di dunia pendidikan sebagai pengajar. Saat ini menjadi karyawan di Pemerintah Kota Yogyakarta. 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close