ANALISAMileseducation
Trending

Kenapa Anak Malas Belajar? Mari Ulik “Duduk Perkaranya”

Serba-Serbi Parenting di Sekitar Kita

MILESIA.ID – Ari (38) mengeluh gara-gara anak sulungnya malas belajar. Abel (8), bocah perempuan itu lebih senang menonton televisi daripada mengerjakan PR.

“Susah banget kalau disuruh belajar, maunya main melulu,” keluhnya. “Kalau ada PR, selalu orangtuanya yang jadi ribet. Anaknya gampang bosan kalau sudah di depan buku,” imbuhnya.

Serupa dengan Ari, Median (37) juga dibuat kelimpungan oleh ulah Reno (9), putra semata wayangnya. Anak laki-lakinya itu susah sekali diajak fokus untuk belajar.

“Anaknya maunya ngerjaian yang gampang-gampang saja. Kalau sudah kena PR yang rumit langsung ngambek,” ujar Median. “Padahal sudah mahal-mahal disekolahin di sekolah favorit.” Sesalnya.

Kasus Ari dan Median pada lazimnya juga dialami oleh para orangtua lainnya. Namun, rendahnya motivasi belajar anak sebenarnya bukan melulu kesalahan anak. Para orangtua juga memiliki peran penting di dalamnya.

Motivasi Belajar Anak

Tugas orang tua sebenarnya bukan hanya mendapatkan sekolah yang baik untuk anak-anak mereka, tetapi juga mendorong (memotivasi) anak-anak agar memiliki minat belajar yang baik.

Ada beberapa tipe anak berkaitan dengan minat belajar. Pada tipe pertama, ada anak-anak yang memang senang belajar, mereka memiliki motivasi diri terhadap pembelajaran. Anak-anak tipe ini mampu memotivasi diri sendiri untuk mengerjakan tugas-tugas yang menantang dengan sikap positif.

Awalnya anak-anak ini masih perlu didorong, diatur, diarahkan oleh orangtua. Tapi lambat laun, mereka akan berusaha sendiri untuk mencapai kualitas-kualitas tertentu tanpa harus didorong.

Namun ada pula tipe kedua, yaitu anak-anak yang mudah bosan, bahkan ada yang sama sekali tidak mau belajar. Anak-anak ini menunjukkan minat sedikit terhadap pembelajaran. Mereka tidak mampu memotivasi diri sendiri untuk belajar hal-hal baru dalam hidup. Mereka cenderung melakukan tugas yang mudah dengan sedikit usaha.

Mereka membutuhkan banyak dorongan untuk memulai dan berusaha. Motivasi diri yang lemah serta citra diri yang negatif menyebabkan anak-anak ini tidak tertarik belajar.

Orangtua dari anak-anak dengan motivasi belajar rendah tersebut, perlu mengambil usaha ekstra untuk mendorong anak mereka mau belajar. Perlu ada pendekatan yang sistematis dan strategis untuk menanamkan minat belajar anak.

Melatih Pola Belajar Sejak Dini

Psikolog Anna Surti Ariani, menyampaikan pola belajar anak hendaknya dimulai sejak dini, sebelum mereka masuk masa sekolah. Orangtua bertanggung jawab untuk mengembangkan “rasa ingin tahu” anak.

“Misalnya kita lagi cuci sepeda, jangan sampai minta anak hanya melihat. Tapi kita juga menjelaskan, ‘Papa lagi cuci setang, digosok, kemudian ini pedalnya.’ Jadi, di situ anak jadi tahu, apa sih kosakata terkait sepeda, mencuci, dan sebagainya,” terang Anna (mengutip tirto.id).

Selain itu, saat memasuki usia sekolah, Anna menyarankan orangtua untuk memberikan suasana belajar yang kondusif, misalnya agar anak tidak menyalakan televisi terlalu kencang.

Masih mengutip tirto.id, psikolog keluarga lainnya, Probowatie Tjondronegoro, menyarankan kepada orangtua untuk meminta kepada buah hati membuat jadwal pribadi mereka.

“Kita jangan membuat jadwal. Anak diminta membuat jadwal, bangun pagi mau ngapain, jadi anak membuat jadwal seminggu menurut versi dia, nonton TV jam berapa, kemudian mainan HP jam berapa, kemudian kita ngobrol. Kalau misalnya nonton TV jangan 2 jam, dari jam segini sampai jam segini gimana? Jadi anak belajar nego,” tutur Probo.

Pola tersebut, menurut Probo sebaiknya ditanamkan pada diri anak sejak ia berusia 3 tahun. Memberikan kesempatan anak mengatur jadwal hariannya berarti mengajarkan anak untuk bertanggung jawab terhadap jam belajar. Ketika anak melanggar, orangtua dapat mengingatkan. Cara mengingatkan itu bisa berupa hadiah dan hukuman.

Namun Probo menekankan, hadiah itu tidak melulu berupa barang. “Reward itu bagus, tapi jangan sembarangan. Tidak harus berupa benda. Dinyanyikan atau dipeluk itu reward,” jelasnya.

Mendampingi Anak Belajar

Salah satu solusi untuk menumbuhkan dan memotivasi minat belajar anak adalah dengan mendampingi anak-anak belajar.

“Pekerjaan rumah merupakan kesempatan yang baik bagi orangtua untuk membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mereka untuk mengatur diri, membuat strategi belajar, dan membantu siswa menetapkan target dan rencana untuk menyelesaikan pekerjaan rumah,” ujar Erika A. Patall, Asisten Profesor Psikologi Pendidikan dari University of Texas, seperti dilansir The New York Times.

Pendampingan belajar diberikan oleh seseorang yang dapat memberikan kenyamanan terhadap anak. Ketika anak nyaman belajar ia akan menikmati proses belajar.

“Saat ibu mendampingi anak belajar akan menimbulkan rasa safe and secure feeling pada anak. Yang tadinya cemas besok akan ada ulangan lalu ditenangkan sang ibu akan menurunkan tingkat stresnya,” ungkap psikolog anak, Efnie Indiranie, M.Psi, seperti dilansir Liputan6.com.

Sementara menurut Yoice Bunga Midasari, psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menyatakan bahwa kehadiran orang tua saat mendampingi anak-anak sebaiknya tidak membebani mereka.

Supaya tak membebani, orang tua harus melihat sejauh mana kemampuan dan kemauan anak. Tak boleh ada pemaksaan kehendak. Apabila si anak sudah bosan atau lelah, sebaiknya ia diperbolehkan istirahat (mengutip tempo.co).

Ia juga menambahkan, jika dalam pendampingan belajar anak itu memerlukan bantuan, sebaiknya orang tua menyesuaikan dengan metode yang diberikan di sekolah. Misalnya, ketika di sekolah model belajarnya menggunakan sistem bilingual (dua bahasa), di rumah bisa diterapkan juga metode tersebut.

Tapi, itu pun harus disesuaikan dengan kemampuan orang tua. Bila kemampuan bahasa asing orang tua belum memadai, sebaiknya tak dilakukan. Itu bisa jadi akan membuat anak malah bingung. Sebaliknya, jika orang tua memiliki kemampuan yang memadai, model bilingual bisa menjadi latihan bagi anak.

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan saat orang tua mendampingi anak belajar (mengutip tempo.co):

  1. Rasa Nyaman. Berikan kenyamanan kepada anak untuk memulai proses belajarnya, baik suasana, lingkungan, maupun orang-orang yang terlibat dalam proses belajar tersebut.
  2. Tidak Memberi Target. Misalnya hari ini si kecil harus bisa menulis huruf hidup atau dalam sehari anak harus bisa menulis satu kata. Biarkan anak menulis apa yang ingin ditulisnya, orang tua hanya membimbing agar anak dapat menulis dengan baik.
  3. Hindari Dominasi, Doktrin dan Intervensi. Mendominasi, mendoktrin, dan mengintervensi anak pada saat anak menjalin pengetahuan bukanlah hal yang bijaksana. Pemaksaan hanya membuat anak tertekan dan merasa jenuh.
  4. Pahami Gaya Belajar Anak. Kenali lebih dulu karakter gaya belajar anak, sehingga orang tua akan mudah menyelaminya.
  5. Catat Tahapan Perkembangan Anak. Tiap anak memiliki tahap-tahap perkembangan sesuai dengan tumbuh-kembangnya. Catat setiap perkembangan dan kemajuan anak. Dokumentasikan setiap hasil yang dibuat anak, sehingga orang tua bisa melihat ada-tidaknya perubahan yang lebih baik, untuk kemudian orang tua mengajarkan hal lainnya.
  6. Beri Dukungan. Dukungan yang baik dapat mengoptimalkan aktualisasi diri anak.
  7. Utamakan Proses. Lihat usaha anak, bukan hasilnya. Orang tua hendaknya melihat proses di balik hasil. Tetap harus diberikan penghargaan, yang penting anak sudah berusaha untuk bisa menghasilkan yang terbaik.

Dus, motivasi belajar anak nyatanya bisa dikembangkan atau dipupuk tergantung dari sejauh mana kemampuan orangtua dalam memahami pola asuh dan tumbuh kembang anak.

Artinya, kita para orangtua pun harus terus belajar dan selalu mengembangkan diri…!

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close