Mileslitera
Trending

Jebloknya Minat Baca dan Jalan Lain ke Roma

Milesia menunggu di depan sebuah booth  seluas 3 x 2 meter persegi beralas karpet abu-abu, di Jakarta Convention Center  Jumat siang (14/9) lalu. Di dalam, seorang penjaga berkaus oranye, duduk dengan kepala dan punggung tertekuk. Kedua jempol tangan terlihat menari memainkan gadget.

Minat baca rendah? (Milesia.id/PRIO P)

Sitti Nurbaja (Marah Rusli), Habis Gelap Terbitlah Terang (RA Kartini), lalu Atheis (Achdiat K. Mihardja), adalah beberapa judul yang bisa dibaca sembari melintas di depan booth. Judul-judul klasik itu dipajang di rak melamin warna-warni.

Dari judulnya, para peminat buku, terlebih genre sastra, dengan mudah akan mengenal penerbitnya. Sang legenda, Balai Pustaka (BP).

Setelah berdiri menunggu hingga kisaran limabelas menit, belum satu pun orang melintas. Kontras dengan booth penerbit lain yang seronok dan riuh oleh pengunjung.

BP memang bekas lembaga publikasi warisan kolonial, tapi tetap “dimuliakan” hingga kini, berkat kontribusinya dalam sejarah penerbitan buku sastra dan kebudayaan. Selain judul-judul novel yang disebut di muka, pernah diterbitkan pula Salah Asuhan (Abdul Moeis), Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Idrus), hingga Perburuan (Pramoedya Ananta Toer).

“Masih dapat royalti, (nilainya) tidak seberapa,” papar Pramoedya Ananta Toer yang ditemui dalam sebuah wawancara di kediamannya, Jalan Multi Karya, Utan Kayu, pada 1997 lampau.

Penerbit  berumur lebih dari 100 tahun itu, memang sudah lewat masa keemasannya. Tak sanggup lagi memberi “emas” bagi penulis-penulis terbaik negeri ini.

Stand Korea (Milesia.id/PRIO P)

Sejak Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 dibuka untuk umum Rabu (12/9), itu merupakan pameran buku berskala besar kesekian yang (hampir selalu) Milesia sambangi. Kali ini, IIBF juga memberikan IKAPI Awards 2018 kepada tiga orang. Mereka dianggap sukses mendukung tradisi literasi. Kategori Literacy Promotor diraih Puspa Bergerak, Book of The Year diberikan kepada Dewi Lestari berkat bukunya yang berjudul Aroma Karsa. Anugerah Writer of the year disabet Rhenald Kasali.

Sebelum IIBF, ada Jakarta Book Fair, Islamic Book Fair, Gramedia Book Fair, atau  Big Bad Wolf yang bisa bikin kalap penggemar buku itu, untuk menyebut sejumlah pameran yang mampu menyedot puluhan ribu penyuka buku saban hari.

Tidak murah (Milesia.id/PRIO P)

Kerja sama antara Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), awalnya, pameran buku ini untuk memberikan informasi tentang buku. Belakangan, IIBF ditargetkan menjadi pusat transaksi hak cipta buku, setidaknya di level Asia Tenggara.

Setelah menjadi guest of honor di Frankfurt Book Fair (2015), banyak negara yang ingin membuka celah pasar lebih besar melalui IIBF. Penerbit dalam negeri yang menerbitkan buku-buku terjemahan bisa menjalin kontak dengan penerbit luar di IIBF.

Pengamatan Milesia, ada sebanyak 17 negara yang hadir menawarkan produknya. Tercatat Jerman, Australia, Malaysia, Arab Saudi, Maroko, India, Jepang, Korea, hingga China.

Asmaa Saban (Milesia.id/PRIO P)

Asmaa Saban dari Muslims Council of Elders (MCE), penerbit buku kajian Islam berbasis di Abu Dhabi, mengatakan, ini kali pertama pihaknya berpartisipasi di IIBF. “Kami menawarkan produk-produk literasi kajian keilmuan kontemporer berbasis Islam,’ papar Asmaa kepada Milesia yang menemuinya di booth MCE yang lapang.  Masih menurut Asmaa, pihaknya juga menawarkan kerjasama kepada penerbit-penerbit Indonesia yang berminat untuk join publishing naskah-naskah MCE dalam bahasa Indonesia.

Pemeran Boleh Marak, Buku Tetap Mahal?   

Lebih dari selusin bocah dari beragam usia terlihat mengerumuni sebuah sepeda motor yang diberi boks berpenutup layaknya penjaja makanan kecil. Bukan bakso, cilok, atau bubur ayam yang “dijajakan”, melainkan buku!

Ya, perpustakaan keliling yang mobilitasnya ditopang unit sepeda motor itu adalah salah satu inovasi kreatif pegiat KPRI NEU yang berhabitat di RSUD Banyumas, Jawa Tengah. Dikemukakan Manajer Organisasi  KPRI NEU RSUD Banyumas Tuti Susanti, program ini bertujuan untuk menambah ragam bacaan dan mendorong budaya baca anak- anak. “Bagi kami, dengan membaca anak-anak akan memiliki imajinasi sesuai dengan bacaan nya. Einstein mengatakan “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan,” paparnya.

Dok. Tuti Susanti : Perpus Keliling KPRI NEU

Tuti dan koleganya lantas gencar berburu buku dan menggalang donasi. ”Upaya yang kami lakukan, antara lain dengan menggalang donasi buku, baru maupun bekas. Tentu kami juga memanfaatkan social media seperti facebook, IG ataupun whatsapp untuk memperluas daya jangkau informasi”.

Dihubungi Milesia.id  soal jenis buku yang dibutuhkan dalam program Perpustakaan Keliling, ,sejauh ini yang paling dibutuhkan memang buku anak. “Paling dibutuhkan saat ini buku anak-anak, juga majalah anak-anak,” papar Tuti.

Tuti mengaku terisnpirasi dengan sosok Mohammad Hatta. Ketika Bung Hatta diasingkan ke Bovel Digoel, Ia memilih membawa 16 peti buku alih-alih kebutuhan lain. Hatta mengatakan, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku merasa bebas,” Tuti mengutip Hatta.

“Sejak program Perpustakaan Keliling kami luncurkan banyak buku yang datang tanpa nama pengirim, hanya alamat tujuan yang ada di kotak kardus.  Bentuk antusias lainya dari warga yang saat ini menjadi TKI mengirimkan paket buku yang ia pesan dari kota Jogja”.

Sejak usai dini (Milesia.id/PRIO P)

Gemar membaca bukanlah minat yang tumbuh begitu saja, melainkan proses yang membutuhkan pembinaan sejak usia dini. “Inilah yang mendorong kami untuk mengkampanyekannya  lewat perpustakaan keliling”.

Sampai Maret, perpustakaan kecil itu telah mengumpulkan 500 buku bacaan. “Target kami kedepan, adalah memiliki minimal 1.000 buku bacaan. Jika banyak orang tergerak hatinya untuk berpartisipasi donasi buku, kami yakin 1.000 buku terwujud”.

Gerakan donasi buku terus marak, sebab harga buku memang tidak murah. Bahkan dari hulu hingga hilir, jagad perbukuan Indonesia memang tidak efisien.  Mulai dari harga kertas, biaya cetak, urusan dengan penerbit, sampai biaya distribusi. Buku yang dicetak di Klaten lantas dijual di Papua, tentu jatuhnya akan lebih mahal ketimbang buku serupa terbitan Bandung yang dijual di Indramayu.

Pameran buku dan bazaar buku memang marak. Ini layak disyukuri. Hanya saja, frekuensi dan jangkauan festival dan pameran buku tampaknya belum mampu menyaingi cepatnya persebaran “industri teks” berbasis internet, termasuk yang meluas melalui medsos.

Tidak mengherankan, mengacu “Most Literred Nation in the world 2016″, minat baca di Indonesia baru mengancik peringkat 60 dari 61 negara.  Di tahun yang sama, Indonesia adalah konsumen medsos berbasis smartphone android dengan dengan jumlah mencapai 124 juta pengguna.

Biaya produksi tinggi (Milesia.id/PRIO P)

Kembali ke book fair, sungguh elok sekiranya aneka pameran dan festival buku dihelat di pelosok desa, di kampung-kampung. Bisa dibarengi dengan festival kesenian, budaya lokal, juga ajang sumbang buku. Komunitas baca memang tumbuh. Kita dengar fenomena perpustakaan bersepeda hingga perpusatakaan berkuda di pelosok desa. Ini mengharukan. Lalu jika anak-anak desa sudah mulai ditelikung  gadget melulu untuk hiburan, tentu mencemaskan. Semakin menjauhkan publik pada rasa cinta dengan buku dan ilmu. Juga pengetahuan bahwa, ada Jalan Lain ke Roma..

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close