Planet Satwa
Trending

“Masih Ngompol? Coba Pakai Capung..!”

Oleh : Milza Permatasari *)

IST-Milza P

Mungkin, masih ada yang pernah mendengar orang menyarankan untuk cari capung sebagai anti ngompol. Yang sudah besar biasanya tidak mengaku. Biasanya yang ditunjuk adiknya. Lalu capung itu apa? Obatkah?

(Milesia.id/MILZA P)

Capung adalah serangga hebat yang masuk  Ordo Odonata. Banyak sekali ordo, sub ordo dan infra ordo. Sudah barang tentu spesiesnya menjadi lebih banyak lagi. Apa kehebatan si capung ini?

Capung hidup tidak jauh dari air. Apakah itu air tenang, genangan bahkan air arus deras. Oleh karena itu capung juga dipakai sebagai petunjuk adanya sumber air yang  bersih dari kontaminasi bahan kimia berbahaya. Kalau lihat capung, berarti sumber air su dekat

Capung mampu terbang naik turun, geser samping kiri kanan atau atas bawah tanpa ancang-ancang. Kemampuannya bermanuver ini  ditiru dalam teknologi penerbangan, contohnya helikopter. Bentuk helikopter sendiri sudah meniru anatomi capung. Tahukah Anda kecepatan terbang capung? 130km/jam!

Capung sudah ada di bumi berjuta tahun yang lalu, bahkan sebelum era dinosaurus. Beberapa fosil  capung jadul alias jaman dulu, ada yang ditemukan berukuran panjang sekitar 14 cm. Namun semakin kesini, ukuran  semakin pendek namun bentuknya tetap.

Yang Biasa atau Yang Jarum

Ada 2 bentuk capung, yaitu capung biasa dan capung jarum. Bedanya, antara lain. capung biasa bertubuh lebih besar dan jika hinggap dia akan membentangkan sayapnya. Capung jarum lebih kecil dan ramping (sehingga disebut jarum) dan jika hinggap  sayapnya terkatup.

 

IST-Predator capung

Kedua bentuk capung ini mengalami siklus hidup yang sama, yaitu bertelur, nimfa (tempayak) lalu dewasa. Masa hidupnya, jika selamat, antara 1 hingga 6 tahun. Justru saat menjadi nimfa didalam air, usianya lebih panjang dibandingkan dengan capung dewasa yang sudah melanglang buana.

Capung adalah serangga yang bersahabat sebab dia tidak menggigit atau menyengat. Di balik kata bersahabat itu sebenarnya capung adalah serangga yang buas. Serangga lain yang menjadi makanannya antara lain lalat, kutu, kupu-kupu, kumbang, belalang ngantuk. Sedangkan nyamuk hanya sebagai cemilan. Yang masih bentuk nimfa tidak kalah buasnya dengan yang sudah dewasa. Dia makan cacing, berudu, ikan kecil dan serangga air lain bahkan sesamanya yang kebetulan lagi bengong juga di embat.

Capung juga memiliki predator. Diantaranya burung pemakan lebah (bee eater bird), belalang mantis (yang kesabaran dan kecepatan “tangannya” melebihi capung terbang), kadal dan lainnya. Bahkan mata majemuk capung yang sangat waspada dan mampu melihat 360° itu tidak mampu melihat jaring laba-laba yang membentang sehingga nyangsang di jaring laba-laba, dan itu sama saja dengan bunuh diri.

IST-Milesia.id

Sayap capung yang indah dan kuat itu pun ternyata tidak cukup kuat menahan terpaan hujan deras. Saat dia lelah berpegangan lalu jatuh ke air, maka tamat riwayatnya. Hal ini juga terjadi pada perebutan wilayah kekuasaan. Pemilik wilayah sebelumnya akan mengusir penyusup dengan kejar-kejaran bak film polisi mengejar pemabuk yang mencuri mobil. Jika jatuh ke air terutama yang cukup dalam, lo gue end!

Lalu apa sih hubungannya dengan mengompol? Jadi begini, yang masih mengompol udelnya akan didekatkan capung. Kemungkinan, kaki-kaki capung yang berduri-duri akan membuat si pengompol merasa geli dan seperti tertusuk-tusuk duri. Hal ini memicu saraf memori di otak agar jangan mengompol lagi, sebab nanti akan ditempeli capung dan bahkan akan digigit capung. Hasilnya? Beberapa kasus pengompol, tidak terbukti tuh! Mereka tetap mengompol dengan santainya meski berkali-kali ditempeli capung. Coba, deh!

* Founder Planet Satwa, Jakarta

(Milesia.id/teks dan foto : Milza P,Sky Nature)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close