Milestories
Trending

Empu Batu : Kisah Para Pengukir Cobek dan Munthu

Gurat otot lengan Paino (57) menegang setiap linggis besi yang digenggamnya bersirobok dengan keping batu andesit itu. Peluh meleleh, membasahi kaus dan kepalanya yang berambut tipis. Perlahan, keping batu mulai berbentuk. Menjelma cobek dan muntu. Dua sejoli perangkat mengulek sambal kesayangan orang dapur. Ukuran batu yang lebih besar, bisa menjelma lumpang atau soblok.

Paino (Milesia.id/BUDI SULISTIYO)

Paino adalah satu dari sejumlah perajin cobek (cowek) dan muntu yang diwarisi turun temurun oleh warga Desa Jarum, Bayat, Klaten, Jawa-Tengah. “Sejak kecil Saya sudah jadi perasjin. Sempat jualan angkringan di Magelang selama beberapa tahun. Sekarang balik lagi jadi perajin batu,” papar Paino kepada Milesia.id.

Paino dan saudaranya berkisah, dulu sempat mencari batu sendiri di pegunungan seribu, perbatasan Jogja dan Bayat, Jawa Tengah. Tapi sudah lama berhenti. Selain jauh, proses angkut ke rumah sulit dan beresiko. Pernah ada penambang batu yang tertimbun dan meninggal dunia”

Senioritas Paino sebagai perajin cobek ditandai dengan jejak berupa goa sepanjang 20 an meter dari aktivitasnya berburu batu. Lubang tambang batu itu, ibarat goa harta karun bagi Paino. Entah, sampai kapan akan terus begitu.

Selain menambang di area terdekat hingga dua generasi, kini sudah mulai masuk suplayer batu. Diantaranya dari kawasan Cermo, Gedangsari, Gunung Kidul, Jogja.

Munthu siap jual (Milesia.id/BUDI SULISTIYO)

Adapun bongkah batu asal Trembono, Gedangsari, didapat dari penambang batu tradisional di pekarangan atau tegal warga setempat. Tidak ada standar baku harga per kubik batu-batu itu. Harga transaksi tumpukan batu-batu hasil penambangan, itu mengacu pada jumlah batu, bentuk, dan ukuran. Jika tercapai kata sepakat, batu sila diangkut atau diantar. Pakai sepeda motor atau dengan truk. Kadangkala mereka harus antri untuk mendapat pasokan bahan baku batu bermutu bagus.

Paino dan koleganya, Lanjar, memilih memborong batu paket besar yang diantar menggunakan truk. Adapun Riyadi, perajin dari Dukuh Melikan, memilih membeli “eceran” dengan sepeda motor yang dilengkapi beronjong pengangkut batu. “Dekat rumah saja, kok. Jadi irit biaya, dan Saya lebih suka mengambil batu sedikit demi sedikit,” terang Riyadi.

Lanjar (Milesia.id/BUDI SULISTIYO)

Setiap bongkah batu akan membawa nasibnya sendiri. Setelah diseleksi, batu yang cenderung pipih akan dibentuk sebagai cobek. Ukuran besar dan tebal disulap sebagai lumpang atau soblok. Pecahan kecil akan berakhir sebagai munthu.

Prosesnya sederhana. Pertama, membuat pola (mola) di atas keping batu sesuai bentuk produk yang dikehendaki. Apakah soblok atau lumpang, cowek, atau munthu.

Kedua,  minggiri atau nglakari. Menggurat batu dengan gerinda listrik layaknya membuat garis batas pada bidang gambar, yang nantinya akan dikupas atau diperdalam dengan gerinda.

Berikutnya, adalah proses pencekungan menggunakan linggis dan petel atau tatah batu. Terakhir adalah penghalusan.

Di bengkel kerja yang sederhana, bisa di belakang atau di samping rumah, produktivitas mereka diuji oleh waktu. Paino, per hari bisa membuat 7 cobek ukuran sedang. Lanjar yang berusia lebih muda dan fokus, bisa menghasilkan 10 unit. Adapun Riyadi, menghasilkan 3 atau 4 cobek ukuran besar.

Perkakas (Milesia.id/BUDI SULISTIYO)

Berapapun jumlah yang mereka hasilkan, selalu terserap pasar. Selain untuk memasok pasar lokal, Cobek made in Jarum menjalar ke Pantura hingga Palu dan Samarinda.

Untuk mendapatkan harga lebih, Lanjar memilih aktif menyetor ke ke kios-kios pengecer untuk mendapat harga lebih. Salah satunya ke kios suvenir kompleks wisata religi makam Sunan Pandanaran, Bayat.

Menurut Agus, salah satu pemilik kios suvenir kompleks wisata religi makam Sunan Pandanaran, Bayat, produk asal Jarum dan sekitarnya punya kualitas bagus dan kekhasan. Alhasil, harga lebih mahal, dibandingkan produk serupa dari Muntilan, Magelang, misalnya.

 

Muntilan, Magelang, adalah salah satu kawasan perajin batu yang bisa jadi lebih tua dibandingkan Jarum, Bayat. Candi Borobudur di Magelang, yang diarsiteki Gunadharma itu, selesai dibangun abad kesembilan. Menyisakan kultur pahat batu aliran dekoratif di sejumlah kawasan. Bisa jadi, mutu batu untuk arca candi memang berbeda dengan batu bahan baku munthu.

Cobek buatan  Jarum, dalam ukuran dan ketebalan yang sama dengan produk Muntilan, setelah ditimbang ternyata memiliki bobot lebih berat. “Secara bahan baku lebih oke dan untuk nguleg bumbu masakan juga tidak licin alias kesed. Tidak cepat aus permukaan batu cobeknya. Awet,” papar Agus. Mari Bung, nguleg kembali!

(Milesia.id/Budi Sulistiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close