Milesosbud
Trending

Jogja Darurat Macet: “Jangan Tunggu Menjadi Akut “

Oleh : Desy Wiji Lestari*

Macet lagi macet lagi gara-gara si komo lewat…

( “Si Komo”, Kak Seto )

BEGITU penggalan lagu anak-anak ciptaan Kak Seto yang populer di tahun 90-an. Lagu ini menggambarkan macetnya jalanan karena ulah si Komo, tokoh utama dalam dongeng anak-anak dengan judul yang sama.

Tapi di dunia nyata, macetnya jalanan tentu bukan karena ulah si Komo, melainkan akibat menjamurnya kendaraan di pusat-pusat kota. Tak terkecuali Jogja.

Penampakan kendaraan yang mengular di lampu merah, menjadi pemandangan yang mulai lazim kita temui di kota gudeg.

Serupa dengan Jakarta dan kota-kota modern lainnya, Jogja pun mulai menghadapi masalah yang sama: kemacetan.

Jogja Semakin Macet

Sekedar berbagi kisah, beberapa hari yang lalu saat kami berkunjung ke rumah teman yang baru saja pulang dari ibadah haji, kami pun terjebak macet.

Jalanan di kota pelajar ini macet parah, sedangkan kami harus berkejaran dengan waktu agar segera tiba di masjid. Beberapa teman pria yang kebetulan ada di dalam mobil hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at.

Beberapa kali lampu merah terlewati di tempat yang sama, kendaraan hanya beringsut sedepa kemudian berhenti di tempat. Sungguh suasana yang tidak mengenakkan…!

Semrawutnya kendaraan di perkotaan sebenarnya bisa dibilang wajar, mengingat ruang-ruang publik yang semakin sempit ditambah aktifitas masyarakat yang semakin padat.

Bahkan, pemandangan anak-anak di bawah umur yang lalu lalang di jalan raya sudah menjadi hal yang lazim. Yang miris, anak-anak ini sering kali berkendara seenaknya dan tidak memakai helm.

Memang di zaman yang serba modern ini, ketika banyak orang dituntut dengan berbagai aktifitas, mereka pasti membutuhkan alat transportasi yang mudah, murah dan aman.

Ketersediaan alat transportasi umum yang semestinya menjadi solusi, nyatanya belum terealisasi secara maksimal. Pada akhirnya, ketersediaan kendaraan pribadi menjadi satu-satunya solusi yang paling realistis. Tidak heran jika permintaan kendaraan di pasaran masih sangat tinggi.

Jika ditanya kota mana di Indonesia dengan tingkat pengguna kendaraan tertinggi sekaligus terkenal dengan kemacetannya, semua orang pasti menjawab Jakarta. Ibu kota dengan aktifitas perekonomian penduduknya yang padat, secara otomatis berdampak pada kemacetan di jalan raya.

Membludaknya kendaraan pada jam-jam kerja menjadi pemandangan sehari-hari di jalanan ibu kota. Salah satu pemicunya tentu menjamurnya kendaraan pribadi di jalanan, termasuk munculnya kendaraan-kendaraan pribadi yang bersalin rupa menjadi ojek online belakangan ini. Fenomena ini merata hampir di seluruh kota besar di Indonesia.

Pada akhirnya, bukan hanya Jakarta saja yang macet, tapi juga merembet ke kota-kota lain seperti Yogyakarta.

Di Jogja, trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki pun terkadang beralih fungsi sebagai jalan alternatif sepeda motor yang tidak ingin terjebak kemacetan, tentunya tanpa menghiraukan norma atau aturan yang ada.

Bukan hanya itu, tingginya minat pengguna mobil pun turut mendominasi semakin mengularnya antrean kendaraan di hampir semua traffict light. Terkadang sering kita lihat dalam satu mobil hanya berpenumpang satu orang.

Kita contohkan saja mobil yang sering dinaiki oleh para pejabat. Untuk sekedar pulang pergi dari rumah menuju kantor yang jaraknya dekat saja, hampir setiap hari mengendarai roda empat.

Kredit Gampang, Macet pun Datang

Salah satu faktor yang mungkin menjadi penyebab semakin tingginya jumlah kendaraan diluar sisi kebutuhan adalah kemudahan pengajuan kredit kepemilikan kendaraan yang cukup menggiurkan. Hanya bermodalkan uang ratusan ribu, sepeda motor dengan berbagai model dan merk pun sudah bisa dibawa pulang.

Tidak heran kalau ada keluarga yang memiliki kendaraan melebihi jumlah jiwa yang tinggal di dalamnya. Mungkin jika diberlakukan aturan kredit kepemilikan kendaraan dengan DP (down payment) minimal 75 % atau paling tidak setengah dari harga barangnya, bisa jadi konsumen berfikir dua kali untuk membelinya.

Selain itu ditunjang dengan mudahnya memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM). Di negara kita cukup dengan merogoh kocek ratusan ribu sudah bisa mengantongi SIM.

Jika kita menengok ke negara Jepang yang notabene salah satu produsen mobil terbesar di dunia, agaknya berbeda dengan negara kita. Meski jutaan mobil diproduksi per tahunnya, tapi banyak warga yang berfikir panjang untuk memilikinya.

Lho kok ?? mungkin diantara kalian ada yang berfikir karena tidak ada duit untuk membelinya. Kalau itu jawabannya, maka kalian salah. Jepang terkenal sebagai negara yang sangat menjunjung tinggi tata tertib berlalu lintas, terutama dalam izin berkendara. Seperti yang dilansir dalam detikOto, bahwa setiap orang yang akan membeli mobil, pasti akan ditanyakan kepemilikan SIM terlebih dahulu.

Singkat kata, kalau belum memiliki SIM, jangan harap bisa membeli mobil di sana. Sementara, membuat SIM di negeri sakura tidaklah mudah. Untuk bisa mendapatkan ijin mengendarai mobil, mereka harus menggelontorkan dana kurang lebih 350 ribu Yen, yang jika dirupiahkan sekitar 40 juta rupiah untuk ujian tertulis dan ujian praktik pembuatan SIM.

Sungguh jumlah yang fantastis. Itu pun belum tentu sekali langsung lulus. Banyak yang harus melakukannya berulang-ulang, tentunya dengan tambahan biaya. So, jangan heran kalau SIM menjadi benda yang sangat berharga di Jepang, dan sebuah kebanggan tersendiri bisa memilikinya.

Konklusi

Jujur, kita sebagai masyarakat Jogja tentu berharap modernisasi di kota tercinta ini tak serta merta mengabaikan faktor keteraturan dan estetika yang pada ujungnya menyisakan suatu masalah, yaitu kemacetan.

Mungkin kita bisa belajar kepada negara-negara maju seperti Jepang dalam mengatasi problematika kemacetan kemudian mengaplikasikannya secara selektif.

Jika ada pepatah berbunyi: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, tentu kita berharap seluruh stakeholder mau bahu membahu mengatasi masalah ini. Agar kemacetan di kota Jogja tidak semakin menjadi-jadi bahkan menuju akut!

(Milesia.id/ Desy Wiji Lestari)

*) Pemerhati sosial, lama berkecimpung di dunia pendidikan sebagai pengajar. Saat ini menjadi karyawan di Pemerintah Kota Yogyakarta. 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close