Business
Trending

Kaosku adalah Aku..

“Be Positive Thinker”

IST-Indrias TP/Milesia.id

Pesan singkat di atas seakan mengapung pada sehelai kaus dengan dasar putih. Dengan aksen cipratan aneka warna beralur tipis dan terkesan spontan. Pesan yang hendak ditampilkan terlihat menonjol dan elegan dengan sapuan minimalis yang melatarinya.

Kaus Lukis Abstrak seharga Rp 100 ribu per potong itu dicetak di lembar katun combat yang adem.  Setiap kaos unik, sebab tidak ada duanya.  Produksi kaos lini bisnis Lurik Senthir (LS) yang berbasis di Solo itu, bisa diorder dan hanya butuh dua hari produksi, mulai desain hingga siap dikirim.

Ya, Kaus Lukis Abstrak besutan Lurik Senthir, hanyalah satu dari sejumlah produsen kaus yang mendepankan sisi arts. Sekaligus cermin bahwa bisnis kaus memang selalu mencetak unikum baru.

Sejak booming Kaos Plesetan khas Dagadu, Jogja, Joger (Bali), dan banyak lagi, era bisnis kaos pop-art belum lagi surut. Pemain-pemain baru terus bermunculan dengan desain modifikasi maupun baru. Termasuk Lurik Senthir, yang memproduksi kaus lukis abstrak berdesain unik genre baru.

IST-Indrias TP/Milesia.id

April silam, misalnya, sebuah stand berukuran tak lebih dari empat meter persegi itu kian sesak dijubeli puluhan pengunjung. Di sepanjang acara pameran kerajinan terbesar INACRAFT,  di Jakarta Convention Center, stand itu selalu dikerubuti anak-anak muda. Di situlah “Gurita Pernik” memajang produk-produknya berupa kaos dan rupa-rupa produk fashion.

Mengulik produk kaos kreatif, sulit rasanya tak menyebut Dagadu Djogja. Siapa yang menyangka bahwa kaos besutan sekelompok mahasiswa arsitektur Universitas Gadjah Mada dengan modal awal hanya Rp 4 juta rupiah itu begitu mengakar di Jogja dan Indonesia.

Dagadu Djogja pernah merajai daftar brand produk paling popular mulai dari beberapa tahun sejak berdirinya pada 1994, hingga beberapa dekade kemudian. Omset Dagadu pernah menyentuh miliaran rupiah per bulan. Di konternya di kawasan Malioboro Mall dan kawasan Jalan AM Sangaji, sejumlah kaos produk dagadu dijual mulai Rp 85 ribu hingga seratusan ribu rupiah per lembar. Produk mulai untuk ukuran balita hingga dewasa. Sejumlah souvenir, gantungan kunci, pin, topi dan dompet.

Rawan Pembajakan

Desain yang terus tumbuh meniscayakan ide kreatif yang terus digenjot. Ini memang bukan hal mudah. “Kami menganggap dinamika masyarakat, budaya Jogja, dan banyak hal lain sebagai sumber ide yang tak pernah habis. Tinggal bagaimana kami mengemasnya menjadi produk yang diminati pembeli,” ujar Pratita, salah seorang awak Dagadu dalam sebuah perbincangan dengan Milesia.id. Kreatifitas memang menghadapi tantangan yang tak kalah menyulitkan : peniru dan pembajak.

Adrian Ariatin, kreator Gurita berujar, ini adalah tahun ke sekian produknya menyasar pameran besar. Jebolan Institut Teknologi bandung (ITB) ini mendesain sendiri sejumlah produk Gurita. “Saya bersama istri (Eka) mendirikan Gurita pada 2006. Paling banyak peminat adalah kaos, dan cenderung naik penjualannya,” papar Adrian kepada Milesia.id yang menyambangi standnya. “Modalnya tak sampai  Rp 5 juta, kami mulai dari kecil, Mas. Sekarang omsetnya puluhan juta sebulan,” imbuh Adrian.

Dituturkan Adrian, bisnis kaos sangat prospektif. Ia tak menampik jika kreatifitas dalam mengusung desain pegang peranan penting. “Tapi celah pembajakan juga lebar. Pembeli terus kami edukasi agar membeli produk yang asli”.

Ikhwal pembajakan ide, Dagadu memilih membiarkannya, menganggap ide kreatif mereka dalam desain kaos ikut mencipratkan rejeki bagi orang lain. Dagadu hanya tak berhenti menyosialisasikan agar konsumen membeli produk asli di konter konter yang sudah mereka tetapkan. “Kami hanya menjual produk Gurita asli kami via online, di Cihamplas dan kawasan parkiran Stamp Factory Outlet di Bandung”.

Gurita menanamkan image kepada pengunjung yang menyambangi Bandung, bahwa kurang afdhol berkunjung tanpa membeli produk Gurita. Selain kaos,  aneka tas dan sajadah denim, serta aksesoris seperti topi, masker, pin button, dan lain-lain dengan menggusung logo GURITA, dijajakan.

Masih dari ajang INACRAFT di Jakarta Convention Center, tak jauh dari GURITA juga terdapat stand yang tak kalah ramai : Kaos Plesetan Bandung. Ide-ide mereka mirip Dagadu, tapi disesuaikan dengan idiom-idiom modern dan dalam beberapa hal mengusung ungkapan khas Bandung (Sunda). Sejumlah produk popular lantas diplesetkan tanpa mengubah desain dan ciri khasnya. Produk minuman popular Coca-Cola, misalnya, diubah kata-katanya menjadi “Colak-Colek”. Macintosh (produk computer) menjadi “Makinnyos”, dan banyak lagi.

Akan halnya Kaus Desain Abstrak produk Lurik Senthir, tampaknya bermain dengan mengkombinasikan antara desain latar yang minimalis dengan kekuatan teks yang sugestif. Dan kerennya, setiap konsumen diberi kebebasan untuk menuliskan kata-kata atau kalimat pilihannya sendiri.[]

(Milesia.id/Indrias Tri Purwanti)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close