Milescoop
Trending

KOPKUN : Fajar Menyingsing di Purwokerto

Oleh : Djabaruddin Djohan *)

Dok.Pribadi – Djabaruddin Djohan

Di tengah kesemrawutan perkembangan koperasi, yang tidak diketahui ujung pangkalnya dari mana hendak diurai, kemunculan Koperasi Konsumen KOPKUN pada 2006 bagaikan fajar menyingsing di sela kabut yang muram. Jika pada akhir abad ke 19 Purwokerto menjadi saksi sejarah munculnya gagasan berkoperasi di Indonesia, maka mungkinkah pada saat ini kita tidak berlebihan untuk berharap Purwokerto akan menjdi saksi sejarah bagi munculnya koperasi konsumen yang besar dan sehat, yang dapat menjadi percontohan (benchmark) bagi perkembangan koperasi sector riil di tanah air?

Diawali dengan pembentukan Koperasi Mahasiswa (Koperma) Unsoed pda 1978, melalui beberapa fase transformasi, pada mulanya menjadi Koperasi “Koperma Unsoed” (1998) dalam rangka menyesuaikan Anggaran Dasarnya dengan Jatidiri Koperasi ICA 1995. Kemudian pada 2003 berubah kembali menjadi Koperasi Soedirman, terutama yang berkaitan dengan status keanggotaan yang semula bersifat otomatis bagi setiap mahasiswa, kini menjadi bersifat “terbuka dan sukarela”.  Di tengah arus kegiatan koperasi mahasiswa in[, melalui beberapa kali diskusi, seminar dan lokakarya, dibentuklah KOPKUN pada 16 Oktober 2005 oleh unsur-unsur dosen, mahasiswa dan karyawan Universitas Soedirman. Koperma Soedirmanpun kemudian beramalgamasi dengan KOPKUN pada 6 Januari 2007.

Kementerian Koperasi dan UKM pun merespon keinginan beberapa pihak untuk mengembangkan koperasi kampus/universitas yang keanggotaannya meliputi mahasiswa, dosen dan karyawan, yang telah banyak dilakukan di beberapa negara seperti Singapura,Malaysia, Korea Selatan, Jepang dsb. Pada 21 Maret 2007 di Purwokerto, Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan acara Program Pencanangan Koperasi Universitas di Indonesia. Dalam acara ini Pemerintah mentargetkan terbentuknya 100 koperasi universitas hingga 2009. Sebagai  proyek perintis (pilot project) dipatok 10 koperasi, satu diantaranya adalah Koperasi Kampus Unsoed. Kepada ke sepuluh koperasi ini masing-masing dibekali modal Rp. 500 juta. Dalam realisasinya hingga saat ini (2015), hanyalah KOPKUN yang benar-benar bisa berkembang sebagai koperasi kampus/universitas.

Koperasi Konsumen

Ist-Kopkun

Sejak awal pendiriannya, KOPKUN telah  memproklamirkan dirinya sebagai koperasi konsumen, sebuah jenis koperasi yang manajemennya jauh lebih kompleks ketimbang koperasi simpan pinjam yang  menjadi pilihan mayoritas koperasi di Indonesia pada saat ini. Barang dan jasa yang disajikan, pelayanan serta tata ruang (layout) toko harus pada tingkat kwalitas yang sedemikian rupa, hingga dapat menarik banyak pembeli (anggota maupun non anggota) serta mampu bersaing dengan toko-toko swalayan swasta, yang saat ini banyak yang telah berjaringan nasional bahkan  inernasional.

Bahwa KOPKUN telah mampu bertahan  selama delapan tahun lebih dengan mengembangkan tiga toko swalayan yang tersebar di beberapa tempat di luar kampus, hal ini membuktikan bahwa toko swalayan KOPKUN telah ditangani dengan benar. Bahkan berbeda dengan toko-toko swalayan swasta pada umumnya, toko-toko swalayan KOPKUN sebagai toko koperasi pada setiap transaksi, khususya dengan anggotanya dicatat secara elektronis, untuk pada akhir tahun ini transakasinya dengan koperasi, bukan saja dengan toko  swalayan tetapi juga dengan unit simpan pinjamnya dijumlah, untuk menentukan bagian SHU (deviden) yang menjadi haknya.

Dari kedua unit usahanya itu pada tahun buku 2014 KOPKUN dapat mengumpulkan pendapatan sebanyak Rp. 1.632.621.872, ( bandingkan pada tahun buku 2013 dengan pendapatan sebanyak Rp. 1.072. 172.128), sedangkan biaya yang di keluarkan pada 2014 adalah Rp. 1.499. 905. 674,- ( tahun 2013 sebesar Rp. 992.480.403,-), sehingga untuk tahun 2014 menghasilkan SHU sebesar Rp. 71.958.053,- (SHU  tahun 2013 sebesar Rp. 62.568.625,-). Sebagian kegiatan-kegiatan KOPKUN, apakah kegiatan administrasi/kantornya, kegiatan pendidikan/pelatihannya serta kegiatan usaha pelayanannya (unit toko dan unit simpan pinjamnya) dilakukan dalam gedung yang telah dimilikinya, yang nilainya mencapai Rp. 2,5 milyar.

Meskipun dengan label “koperasi kampus”, keanggotaan KOPKUN tidak hanya terbatas pada orang-orang kampus Universitas Soedirman, tetapi juga terbuka bagi masyarakat luas. Tentang keanggotaan KOPKUN ini sebelumnya telah terjadi pergulatan pikiran yang cukup lama di antara para pelakunya, apakah akan tetap bercokol di kampus saja dengan konsekwenssi keanggotaannya hanya terbatas pada orang-orang kampus saja yang terdiri dari dosen, mahasiswa dan karyawan, dengan akibat koperasi  ya hanya sebatas kampus saja. Atau keanggotaannya tidak hanya terbatas pada penghuni kampus, tetapi juga masyarakat luas, sehingga koperasi diharapkan dapat menjadi koperasi besar, baik dari segi keanggotaannya maupun dari segi  usaha pelayanannya. Alternatif terakhir inilah yang kemudian menjadi pilihan, apalagi Anggaran Dasarnya memang memungkinkan KOPKUN dapat mengakomodasi keanggotaan masyarakat, bukan saja di Purwokerto dan Banyumas, bahkan pada tingkat nasional. Meskipun demikian ambisi yang disematkan dalam Rencana Srategis 2015-2025 adalah “Menjadi koperasi konsumen terbesar di Banyumas pada 2025 yang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi, sosial dan budaya anggota dan masyarakat demi tercapainya demokrasi ekonomi Indonesia”, dengan catatan ambisi ini akan  didukung oleh 11.000 orang anggota yang memiliki 32 cabang toko swalayan yang tersebar di seantero wilayah Banyumas..

Meskipun berlabel koperasi kampus, yang keanggotaannya berbasis masyarakat, keberadaan KOPKUN sudah benar-benar di luar lingkungan kampus. Setelah bangunan yang selama ini dipergunakan sebagai kantor diminta kembali oleh pihak universitas, keberadaan KOPKUN dewasa ini sudah benar-benar mandiri, tanpa sedikitpun fasilitas dari universitas, kecuaali pada saat-saat RAT yang masih menggunakan salah satu gedung Universitas Soedirman.

Homo Cooperativus.

ISt-Kopkun

Perkembangan KOPKUN sepanjang lebih dari delapan tahun yang menunjukkan beberapa kemajuan, dari segi kelembagaannya maupun dari segi  usaha pelayanannya, dimotori oleh orang-orang muda yang pada umumnya alumni Universitas Soedirman, Namun sejak pengurus, pengawas hingga manajemen  yang rata-rata bergelar S 1 ini, dalam jabatannya ini tidak ada yang mencantumkan titel kesarjanaannya, melainkan lebih bangga mencantumkan gelar HC (Homo Cooperativus) di belakang namanya. Hal ini menunjukkan kepercayaan dan komitmen mereka yang penuh pada nilai-nilai koperasi, yang tidak hanya mengedepankan keunggulan ekonomi (homo economicus), tetapi juga pada nilai-nilai sosialnya seperti kejujuran, keadilan, solidaritas, persamaan, tanggungjawab sosial serta peduli pada orang lain. Orang-orang muda yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai “manusia koperasi”.

Untuk menjaring calon-calon anggota dari kalangan mahasiswa dan kalangan muda dalam rangka kaderisas dan sekaligus juga sebagai “calon manusia koperasi/homo cooperativus”, KOPKUN memiliki lembaga sub-otonom yang bernama Komite Mahasiswa KOPKUN . Sedangkan bagi masyarakat di sekitar toko-toko swalayan, penjaringan calon-calon anggota dilakukan melalui kegiatan  sosial seperti  arisan atau pertemuan santai biasa sambil omong-omong tentang manfaat koperasi.  Bagi mahasiswa, para pemuda ataupun masyarakat sekitar toko swalayan yang berminat menjadi anggota KOPKUN, tidak langsung diterima, melainkan harus melalui test mengenai pemahaman serta komitmennya terhadap koperasi. Jika dari sebanyak 14 pertanyaan yang diajukan, calon anggota dapat menjawab dengan tepat sebanyak 60%, maka calon anggota dapat diterima sebagai anggota penuh. Melalui proses penerimaan anggota seperti ini, diharapkan anggota dapat aktif baik sebagai pemilik dan pemodal maupun sebagai pelanggan koperasi

Lembaga sub-otonom lain yang dimiliki KOPKUN adalah Kopkun Institut, yang bergerak dalam bidang riset dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan serta pemberdayaan sosial. Pembentukan institute yang dipimpin oleh Firdaus Putra HC ini dilatarbelakangi  antara lain oleh masih sedikitnya SDM koperasi, baik dari segi kwantitas maupun kwalitas, khususnya dalam kaitannya koperasi sebagai lembaga ekonomi sosial. Untuk mengatasi kondisi ini, institute  menyelenggarakan  kelas intensif mengenai teori dan pengalaman dalam berkoperasi. Khusus untuk manajer atau calon manajer dibuka kelas khusus dengan para pengajar dari kader-kader senior KOPKUN seperti Arsyad Dalimunte HC, Darsono HC dls. Adapun mata pelajarannya a.l. meliputi Manajemen Umum Koperasi, Manajemen Retail Koperasi, Keuangan dan Akuntansi Koperasi,  Studi Kelayakan Bisnis dsb.  Untuk menjadi peserta kelas manajer ini tidak gratis, untuk dapat mengikuti pertemuan sebanyak 5 kali perkelas yang terdiri minimum 5 peserta ditarik Rp. 300 ribu perorang. Bagi yang mengikuti semua kelas ditarik biaya Rp. 3 juta. Dengan demikian, program pendidikan/pelatihan  ini tidak diselenggarakan dengan gratis seperti yang lazim diselenggarakan oleh pemerintah atau gerakan koperasi pada umumnya, sehingga pesertanyapun akan mengikuti diklat ini dengan serius sesuai dengan kebutuhan riilnya, meski harus merogoh kocek.

Sebagai koperasi yang berkembang dari koperasi mahasiswa (Kopma/Koperma) hingga saat ini KOPKUN masih tetap menjadi anggota KOPINDO, sedangkan sebagai koperasi konsumen, KOPKUN juga menjadi anggota Induk Koperasi Konsumen Indonesia (IKKI) yang belum lama terbentuk. Selain pada tingkat nasional, KOPKUN juga berinteraksi dengan koperasi-koperasi pada tingkat regional (Asia Pasifik), misalnya pada 2008, KOPKUN sebagai koperasi kampus menjadi tuan rumah Seminar cum Workshop University Coop se Asia Pasifik , dan pada  2012 sebagai koperasi konsumen menjadi peserta pada workshop Manajer Koperasi Konsumen se Asia Pasifik di NTUC, Singapura, mewakili Indonesia. Pada 2013  mewakili Indonesia mengikuti Komperensi Koperasi Universitas se Asia Pasifik di Dongguk University, Seoul, dan pada 2014 di NTUC juga mewakili Indonesia mengikuti workshop Manajer Koperasi se Asia Pasifik. Dengan pengalaman dan interaksi dengan koperasi-koperasi kampus dan koperasi konsumen se Asia Pasifik, tentu menambah pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan serta komitmen pengurus dan manajemen KOPKUN dalam mengembangkan kelembagaan maupun usaha pelayanannya.

P r o s p e k

Perjalanan KOPKUN yang baru saja menapaki usianya pada tahun yang kedelapan, apa yang telah dicapainya selama itu, apakah di bidang kelembagaan maupun usaha pelayanannya, jelas merupakan gerak maju, meskipun masih terkesan “merangkak”. Memang perkembangan koperasi di manapun, tidak mungkin dilakukan dengan cepat dan instant, karena keberadaannya sebagai lembaga ekonomi sosial yang sehat dan berkesinambungan (viable), sebagian besar didasarkan pada kesadaran anggota dalam berpartisipasi, bukan didasarkan pada iming-iming fasilitas atau  materi, dengan akibat jika tidak ada lagi fasilitas maka tidak akan ada lagi kegiatan dan partisipasi anggota.

Spirit yang berbasiskan pada pengetahuan dan pengalaman berkoperasi, yang secara konsisten dimiliki oleh aktor-aktornya (pengurus, pengawas dan manajemen), menjadi motor penggerak bagi kemajuan KOPKUN. Kaderisasi yang dilakukan melalui penjaringan secara aktif, yang diikuti dengan pendidikan dan pelatihan, menjamin kesinambungan perkembangan KOPUN oleh SDM-SDM yang berkwalitas. Walaupun demikian tentu tidak menutup kemungkinan adanya sebagian dari SDM/kader-kader yang sudah terlatih ini dapat tergiur oleh gebyar kota-kota besar, khususnya ibu kota, yang lebih menjanjikan dari segi karir maupun ekonominya. Keberhasilan KOPKUN sebagai perusahaan yang dapat memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi karyawannya, tentu sedikit banyak bisa mengerem “urbanisasi” SDMnya ke kota-kota besar.

Dalam menghadapi pasar terbuka, profesionalisme khususnya para penyelenggara usaha pelayanannya harus senantiasa diasah dan ditingkatkan, agar mampu bersaing dengan sektor swasta. Ke dalam kata “profesionalisme” ini, mengandung makna selain pada peningkatan mutu barang dan jasa, juga pada mutu pelayanan baik pelayanan kepada anggota maupun pelayanan  kepada masyarakat. Inovasi dan kreativitas harus terus dilakukan merespon perubahan iklim perdagangan dan persaingan yang begitu keras, untuk lebih banyak lagi menarik konsumen. Masyarakat yang bertransaksi dengan koperasi harus dipandang sebagai “calon anggota yang potensial”, yang selanjutnya diproses melalui prosedur perekrutan anggota yang berlaku di KOPKUN. Keanggotaan KOPKUN dengan demikian akan semakin menjadi besar, usahanya semakin bertambah, partisipasi anggotnya semakin kuat dan peduli pada lingkungannya. Kondisi koperasi seperti inilah yang oleh Sven Ake Book (1992) disebut sebagai koperasi yang berhasil, yaitu koperasi yang “ekonominya kuat, demokrasinya hidup dan peduli kepada masyarakat sekitar”.

KOPKUN yang pada saat ini diibaratkan bagaikan  “fajar (sedang) menyingsing”, dengan modal yang telah dibangun selama ini cukup memberikan harapan sinarnya bisa menembus “awan dan kabut” untuk bisa lebih menyinari, bukan saja perkoperasian di  bumi Banyumas, tetapi juga perkopersian di Indonesia. Dan “mimpi” KOPKUN, sebagaimana yang disematkan dalam Rencana Srategis 2015-2025 untuk menjadi “center of excellence” (pusat keunggulan/percontohan) bagi kehidupan perkoperasian di Indonesia, bukan tidak mungkin bisa menjadi kenyataan.

*) Pemerhati Perkoperasian, co Founder LSP2I, Kolumnis. Tinggal di Jakarta

Pustaka : LPJ Kopkun Tahun Buku 2014, Dokumen Rencana Strategis 2015-2025, dan Kopkun Tumbuh Terus.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close