Milesiana
Trending

Selebriti Politik, Seleb Mendadak Nyaleg

Fenomena Seleb Politik dan Kegagalan Kaderisasi Parpol

 

Oleh : Dilla Januistanti *)

Dilla Djanuistanti

Wajah televisi dan dunia maya tiba-tiba saja dipenuhi para artis yang jadi caleg dadakan. Artis mendadak menjadi caleg.  Pemilu legislatif 2019, akan dihiasi paras cantik dan tampan para selebriti. Popularitas menjadi modal untuk terjun merambah dunia politik. Mungkin, Ini dapat  dinamakan selebriti politik.

Selep yang  kerap muncul mendeklarasikan diri sebagai caleg di pileg 2019 nanti diantaranya  adalah Tina Toon, mantan penyanyi cilik yang terkenal dengan lagu Bolo-Bolo itu akan  maju mewakili PDIP untuk calon legislatif DPRD DKI.

Adli Fairus, yang terkenal lewat sinetron legendaris Cinta Fitri terjun menjadi caleg dari PKS mewakili Dapil I Jateng. Giring Nidji, juga mencoba peruntungan politik untuk calon anggota legislatif DPR perwakilan dari PSI. Nama-nama tersebut hanya contoh sebagian dari sederet nama artis yang terjun ke dunia politik.

Fenomena Selebriti Politik

Selebriti politik adalah fenomena politik Indonesia saat ini yang menarik untuk dikaji. Para selebriti yang biasanya ada dilayar kaca sebagai pekerja seni untuk menghibur masyarakat, kini terjun ke dunia politik untuk – konon –  memperjuangkan kepentingan rakyat. Pertanyaan besarnya “apakah mampu?”.

Agak berat untuk yakin bahwa meraka mampu menjalankan mandat dari rakyat. Para selebriti adalah seorang pekerja seni yang biasa berakting, menyanyi, melawak, dan bermacam-macam pekerjaan seni lainnya. Sehari-hari itulah aktifitas yang mereka lakukan.

Banyak diantaranya yang bahkan tanpa latar belakang anggota partai, tanpa latar belakang pendidikan politik, tanpa pengalaman di lembaga pemerintahan. Potret ini menunjukkan mungkin ada benarnya tentang  label “modal popularitas” yang kerap melekat pada selebriti mendadak caleg.

 Jika benar hanya mengandalkan modal popularias, lantas apakah tujuan dari kontestasi politik itu dapat tercapai? Sebuah tujuan mulia untuk memperjuangan kepentingan rakyat melalui kekuasaan yang nanti diperoleh.

Pengkaderan  dalam  Partai Politik mulai dipertanyakan?

Partai politik menurut UU No 2 tahun 2008 tentang partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan  kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan  negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Partai politik, memiliki tujuan menanamkan ideologi melalui kekuasaan yang diperoleh dari hasil memenangkan pemilu oleh para kadernya yang dikirim dalam kontestasi politik. Dalam kaitannya dengan hal tersebut maka partai politik  memiliki kewajiban menjalankan fungsi internalnya untuk melakukan rekrutmen anggota dan pengkaderisasian anggota.

Proses rekrutmen dan pengkaderan anggota menjadi penting dalam mewujudkan tujuan bersama yang telah dirumuskan. Proses ini seharusnya bukanlah proses yang instan, tetapi sebuah proses panjang. Anggota partai harus benar-benar memahami apa itu ideologi partai, untuk kepentingan apa keberadaanya, bagaimana visi dan misinya, dan segudang hal lain yang harus dipahaminya.

Banyaknya selebriti yang menjadi caleg dadakan tanpa melalui proses rekrutmen dan pengkaderan yang panjang, menimbulkan pertanyaan besar apakah partai politik sudah menjalankan fungsinya dengan baik dalam pengkaderan anggota?. Jika fungsi pengkaderan dijalankan dengan baik harusnya partai politik mempu menghasilkan kader-kader yang berkualitas dari internal mereka untuk dikirim dalam sebuah kontestasi politik.

  • Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, tengah menyelesaikan S2 Ilmu Hukum Universitas Bandar Lampung (UBL), Lampung. (dilladjanu01@gmail.com)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close