Milesosbud

“Problem Over Populasi Kucing? Yuk, Sterilkan..!”

Salah Kaprah Sterilisasi Kucing (Bagian 2)

Oleh : Milza Permatasari

Milza Permatasari/Foto : Fitria/ Milesia.id

Sampai usia berapa sih, kucing bisa disteril? Asalkan kucing itu sehat, nafsu makan baik, maka kucing bisa disteril. Lagipula, soal umur kucing, untuk beberapa kasus kucing jalanan, sulit diketahui umur pastinya.

IST-Sac.

Ada kisah kucing betina bernama Mona, yang diperkirakan sudah berumur lebih dari 11 tahun (kini 13 tahun). Coba tebak, semasa hidupnya, berapa anak yang telah dilahirkan? Puluhan, mungkin juga ratusan jika sekali melahirkan 4 sampai 5 ekor.

Mona adalah kasus kucing jalanan yang tempat mangkalnya digusur. Mona langsung dimasukkan ke klinik hewan untuk pemeriksaan dan saat dinyatakan sehat wal afiat segera keluar surat pernyataan siap untuk disterilkan.

Tidak masalah, Mona tetap sehat sampai sekarang meski banyak gigi yang sudah tanggal. Maklum, Si Mona tak lagi muda, meskipun galaknya tetap. Kukunya harus rajin dipotong, sebab cakarannya sama dengan umumnya kucing. Kalau pun sampai menggigit, rasanya seperti diemut bayi kucing. Wong, giginya banyak tanggal.

Masih Minim Dukungan

Merawat kucing, apalagi sepasang dan tanpa disteril (dimandulkan permanen), itu sama saja kita menyalakan bom waktu yang suatu saat akan..boom..!

Syukurlah, saat ini masyarakat mulai menyadari pentingnya steril. Terlebih di kawasan perkotaan tempat lahan terbatas dan sumber makanan harus diperebutkan.

Lihat telinga, penanda post steril (Milza P/Milesia.id)

Tidak sedikit juga, masyarakat menuduh kucing sebagai hama akibat populasinya yang terus meningkat nyaris tanpa kendali.

Sayangnya antusias masyarakat untuk mensterilkan kucing tidak didukung pemerintah. Ada anggapan, pemerintah belum menganggap over populasi kucing sebagai persoalan mendesak yang perlu diatasi secara tepat dan sistematis dengan melibatkan publik.

Benar, urusan pemerintah sendiri memang sudah bejibun. Tapi, dalam hal pengendalian dan mengatasi persoalan over populasi kucing, pemerintah niscaya tidak harus kerja sendirian.

Saat ini, ada banyak komunitas peduli satwa, termasuk kucing dan anjing telantar di Indonesia. Diantara mereka tak sedikit yang bekerja dengan mengandalkan semangat kesukarelaan alih-alih dengan motif komersial.

Semangat kesukarelaan ini juga melibatkan kalangan medis, dokter hewan, yang bekerja dan membantu program-program sterilisasi tanpa berorientasi profit. Meskipun tentu saja, profesional medis berjiwa sosial tinggi yang bergabung dalam proyek sosial sterilisasi kucing, masih sangat sedikit.

Baksos Steril Kucing dan Anjing

Bagi sebagian masyarakat di sejumlah kota, di wilayah Jakarta khususnya, mungkin sudah cukup mengenal kegiatan swadaya steril kucing atau anjing.

IST-“Perburuan” (Milza Permatasari/Milesia.id)

Kegiatan ini dilakukan bukan karena kucing atau anjing itu sakit, melainkan atas kesadaran sendiri para pemiliknya, justru agar menjadi sehat. Sekali lagi, steril dan kebiri itu bukan karena mereka menderita penyakit.

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya sterilisasi untuk mengendalikan populasi kucing atau anjing, mendorong sejumlah pegiat steril untuk melakukan “perburuan” terhadap kucing dan anjing liar, atau yang mondar-mandir di jalanan, untuk disteril dan kemudian dikembalikan ke tempat semula. Tentu, ikhtiar swadaya ini, dari segi pendanaan jelas bukan hal murah. Biaya standar di klinik hewan cukup mahal.

Berangkat dari keresahan ini, sejumlah aktivis mencoba menampung keresahan masyarakat dengan menghelat steril kucing dan anjing dengan biaya terjangkau. Mereka mengemasnya dalam program bakti sosial (baksos). Alhasil, kini istilah baksos steril kucing dan anjing cukup lazim mengemuka, bersliweran melalui media sosial.

Sebagaimana halnya baksos, dana operasional merupakan kombinasi antara kewajiban peserta steril membayar biaya sterilisasi plus bantuan sosial dari sejumlah pihak. Bantuan sosial itu tidak serta merta berupa dana, tapi juga dari kalangan medis atau dokter hewan yang secara sukarela tidak menetapkan biaya tinggi atas jasa profesional yang dikeluarkan.

Sesudah dan sebelum steril (karakter) (Milza P/Milesia.id)

Semakin publik (juga pemerintah setempat) antusias membantu, maka biaya sterilisasi bisa ditekan. Semakin banyak pula masyarakat yang bersedia melakukan sterilisasi, serta semakin besar peluang kucing dan anjing liar disterilisasi.

Kegiatan baksos steril, kini semakin meluas hingga ke luar Jakarta, bahkan luar Pulau Jawa. Baksos swadaya itu, secara pendanaan, tentu tidak serta-merta bisa dibandingkan dengan kerja Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan), instansi “plat merah” yang sudah pasti mendapatkan biaya subsidi pemerintah.

Saat ini, sering dijumpai info tentang steril kucing, diantaranya melalui media sosial. Ada yang hanya melalui pesan teks sederhana, ada yang tampak matang dengan poster menarik serta mencantumkan biaya. Dari semua bentuk informasi itu, dapat dipastikan calon peserta steril wajib mendaftar, baik melalui fans page panitia maupun via whatsapps.

Tempat Dimana? Memadai Nggak? Rawat Inap Nggak?

IST-Milza P

Beberapa pertanyaan kerap diajukan calon peserta baksos steril. Kadangkala, penyelenggara baksos steril kerap sibuk, dan tanpa sengaja terlewat menjawab sejumlah pertanyaan. Apa saja pertanyaannya?

Dimana baksos kucing diadakan?

Tempat atau alamat lokasi baksos biasanya diberikan bagi calon peserta yang serius. Sebab,  tak jarang banyaknya orang yang justru ambil ‘kesempatan’ dengan  membuang kucing atau anjing ke tempat baksos. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya panitia, terlebih lokasi baksos bukan miliknya.

Memadai atau tidak ?

Tentu saja panitia sudah memikirkan aspek tempat, terutama untuk operasi. Bahkan di India,  Thailand dan juga di Eropa, Amerika dan Afrika sering dilakukan operasi steril dan kebiri dengan mengambil tempat di area terbuka atau di lapangan beratap tenda, bukan di klinik.Tenang saja, meja dan peralatan operasi selalu dibersihkan dan disterilkan.

Rawat inap atau tidak?

Layanan rawat inap tidak termasuk pelayanan baksos. Sebab diperlukan biaya, tempat dan tenaga untuk melakukan rawat inap kucing atau anjing pasca sterilisasi.Untuk itu, penyelenggara baksos biasanya memberi syarat kucing atau anjing harus “berpemilik”. Artinya, orang yang membawa pasien harus bertanggung jawab pasca operasi steril. Jangan kuatir, lazimnya di tempat baksos ada keterangan cara merawat pasien pasca steril. Contohnya, anjuran untuk mengandangkan kucing atau anjing betina pasca steril setidaknya 3-5 hari sebelum dikembalikan ke tempat asal.

Siapa yang melakukan operasi steril, dokter hewan bukan? Kompeten ngga? Kok, murah?

IST-Alicantetoday

Dokter hewan adalah profesional yang bekerja di bawah sumpah. Merekalah yang melakukan operasi, meski dalam banyak kasus, di kampus-kampus kedokteran hewan, operasi juga  dilakukan juga oleh Co Assisten (Koas), seperti halnya operasi sunat pada manusia.

Kompeten? Apa maksudnya kompeten?

Disini hanya dilakukan  operasi steril atau kebiri, tentunya para dokter hewan itu sudah berpengalaman Murah? Apakah dokter hewan tidak boleh melakukan tindakan medis, termasuk operasi steril “pro bono” (tanpa bayaran)? Semua profesi dokter atau paramedis sudah disumpah entah itu dokter umum atau dokter gigi, agar juga melayani pasien kurang/tidak mampu. Panitia baksos dan dokter hewan akan bermusyawarah terkait pembiayaan. Sehingga semuanya berlangsung fair dengan tetap bersemangat kesukarelawanan.

Operasi pakai benang apa? Murah atau mahal?

Semua bahan, termasuk benang untuk operasi tentunya sudah diuji coba sebelum dipasarkan. Apakah itu benang merk terkenal dan mahal atau benang merk standar yang tidak begitu mahal, yang jelas adalah benang khusus untuk operasi. Seandainya benang gelasan buat layangan bisa jadi benang operasi pun tentunya harus lulus uji. Ibarat sebuah kamera dan seorang fotografer. Dengan kamera saku biasa fotografer handal mampu memotret dengan hasil bagus. Seperti itu.

Biasanya steril dari perut, kok ini dari samping (flank)?

Perkembangan dunia kedokteran memang pesat. Keuntungan operasi dari flank adalah, bukaan luka sayatan operasi lebih ringkas dan lebih hemat benang. Selain itu luka tidak mudah tertindih atau mengalami kontak luar, terutama bagi induk yang masih menyusui. Meskipun idealnya si bayi kucing seharusnya sudah disapih.

Namun demikian masih ada beberapa dokter hewan yang melakukan operasi melalui perut karena beberapa alasan. Diantaranya, jika pasien ternyata sudah ada foetus (bakal anak) di rahim atau anak anak mati di dalam atau terjadi pembusukan rahim. Alasan lain, memang sang dokter lebih suka dengan cara ini.

Steril, dosa enggak?

Ini termasuk pertanyaan paling sering diajukan terutama bagi yang belum pernah mensterilkan kucing atau anjingnya. Dosa atau tidaknya, memang bukan panitia, dokter hewan atau orang yang menentukan.

Dok. Milza P (Milesia.id)

Tetapi mari simak ini. Kucingnya tidak disteril, bunting, beranak 3 ekor. Begitu seterusnya. Semakin tua usia kucing betina, biasanya semakin banyak anak yang dilahirkan. Lalu bingung dengan semakin banyak kucing lahir di rumah.

Dibuanglah induk dan anaknya ke suatu tempat jauh atau di pasar dengan harapan akan hidup dan bertahan. Bagi kucing yang biasa hidup di rumah tentunya keadaan ini membuatnya bingung dan stres sehingga dia berusaha mencari jalan kembali ke rumah.

Saat itulah dia meninggalkan anak-anaknya. Ternyata dia tidak menemukan jalan pulang dan kembali ke tempat anaknya pun dia tidak bisa. Akhirnya anak-anaknya harus menderita tidak mendapat susu dan induk mungkin tertabrak kendaraan atau mati kelaparan atau terkena jamur atau scabies karena mencari makan di bak sampah sehingga dia ditendangi orang yang merasa jijik.

Atau ternyata anak yang dilahirkan tidak seperti yang diharapkan karena ternyata si induk persia dikawini kucing garong tetangga sehingga anak yang tidak tahu salah itu dibuang karena lebih mirip kucing garong tetangga. Mana yang lebih dosa? Tenang saja, operasi itu sendiri dilakukan dibawah pengaruh anaesthesi sehingga tidak menyakiti hewan.

IST-Milza Permatasari

Nah, tunggu apalagi? Segera sterilkan kucing atau anjingmu demi kehidupan mereka yang lebih baik. Dan bagi yang mengikuti kegiatan baksos steril, mohon bersabar dan mengantri menunggu giliran, sebab biasanya peserta umumnya diatas 5 ekor. Tentu saja, para dokter hewan dan panitia-relawan baksos menjadikan peserta sterilisasi dan pasien sebagai amanah istimewa dalam arti sebenarnya.[]

*) Founder Planet Satwa (Jakarta), prakatisi dan volunteer sterilisasi kucing.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close