Mileslitera
Trending

Musikalisasi Sastra 2018, Mereguk “Ekstase” di Malam Puncak

Review Pergelaran Musikalisasi Sastra 2018, "Cakrawala Yogyakarta": 01-02 September 2018 di Taman Budaya Yogyakarta.

“Tertutup mulutku, dan aku hanya bisa melihat, meratapi kejadian yang menimpaku.

Aku hidup namun digerakkan oleh sesuatu dari luar tubuhku.

Hanya dapat berdoa dan bersumpah atas kejadian yang menimpaku.

Tapi apa artinya hidup tanpa perjuangan? Akhirnya aku ungkapkan seluruh perasaan ini, dan sumpahku untuk menemukan kemerdekaan dalam diriku.”

( “Drupadi” )

MILESIA.ID, JOGJA – Drupadi meliuk dalam siluet yang samar, terbungkus selubung kasat mata yang perlahan-lahan terangkat, kemudian pendar.

Kelam pada irama cahaya yang pekat, Drupadi yang bertudung sangkar itu memekik!

Tubuhnya bergerak seperti gelombang, menggeliat selaras jiwanya yang luka. Amarah, kesumat nan berlarat-larat, menyatu dalam nyanyian pedih angin malam.

Panggung bergetar, api menyala… lidahnya berkilat-kilat membakar ketujuh perempuan muda berselendang merah membara.

Tujuh penari itu menyeruak ke muka, serentak berteriak, tubuhnya meliuk-liuk terbakar oleh amarah dan dendam.

Penonton tercekat!

Minggu malam (02/09), Mila Rosinta berhasil menyihir ratusan penonton dengan pesona magisnya. Dibawakannya lakon “Drupadi”, novel karya Seno Gumira Ajidarma dengan kolosal dan epik.

Sebuah Antusiasme

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Nampak halaman muka Taman Budaya Yogyakarta (TBY) di malam hari.

Gairah masyarakat untuk mengapresiasi “Pergelaran Musikalisasi Sastra 2018” malam kedua, Minggu malam (02/09), ternyata tak kalah seru dibanding malam pertama.

Tiba di kompleks parkir Sriwedani, depan Taman Budaya Yogyakarta (TBY), deretan sepeda motor telah memadati parkiran. Puluhan anak muda berjalan bergerombol memasuki gerbang Taman Budaya.

Di lobi utama orang-orang menyemut. Sebagian asyik bergerombol memantau acara melalui layar 21 inch, yang lainnya berkerumun di lapak buku sebelah Selatan. Sementara di muka panggung, semua kursi telah terisi. Penonton yang tak kebagian kursi, terpaksa memilih berdiri memanfaatkan ruang yang tersisa di sela-sela deretan kursi.

Pukul setengah delapan malam acara dimulai. Grup musik Kopibasi menjadi pembuka Musikalisasi Sastra 2018 di malam kedua. Menampilkan musik puisi populer dengan tajuk “Surat dari Tugu”. Grup ini menggarap puisi “Surat Kopi” karya Joko Pinurbo,  “Di Tugu” karya Omi Intan Naomi, “Sebuah Radio, Kumatikan” karya Dorothea Rosa Herliany, dan “Tontonan yang Melelahkan” karya Hasta Indriyana.

Bergenre folk akustik, Kopibasi tampil meyakinkan dengan 6 personelnya; Galih Fajar (vokal, gitar), Mathorian Enka (perkusi, vokal), Pra Desta (gitar, vokal), Alfian Arif (gitar, vokal), Isti1 (bass, vokal), serta Tot Yudi (violin, vokal).

Alunan musik mereka yang rancak, serta gairah muda yang menyala-nyala membawa penonton dalam antusiasme yang menggelora.

“Musiknya energik, membuat yang mendengarnya bersemangat!” seru Rana Floresita (24) yang jauh-jauh datang dari Semarang untuk menyambangi acara ini.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Kerumunan penonton acara Musikalisasi Sastra 2018 (02/09) di lobi utama gedung Societet Militair TBY.

Rana yang pegiat seni itu mengaku datang ke acara ini karena sebuah romantisme. Sekian tahun lalu ia sempat mengenyam bangku kuliah di Jogja. Rasanya pesona kota pelajar dengan segala pernak-pernik aktivitasnya tak pernah lekang dari ingatannya.

“Tak banyak kota yang sarat aktivitas kreatif di ruang-ruang publik seperti ini,” ujar gadis berambut panjang itu kepada milesia.id.

“Sayang sekali jika kesempatan emas ini dilewatkan. Apalagi acara seperti ini terbuka untuk umum dan gratis,” imbuhnya.

Serupa Rana, Mustofa W.Hasyim, Ketua Studio Pertunjukan Sastra (SPS) sekaligus Tim Kreatif Musikalisasi Sastra 2018 melihat antusiasme masyarakat terhadap karya sastra tak pernah redup di kota pelajar ini.

“Gairah dalam mempertunjukkan karya sastra di Yogyakarta tak pernah mati. Makin banyak komunitas sastra yang dalam mempelajari, mengembangkan serta menampilkan karya sastra menggunakan metode pertunjukan. Sehingga melahirkan keberagaman kemasan,” paparnya.

Beliau optimis akan muncul bentuk-bentuk pertunjukan sastra lainnya sebagai bagian dari upaya penafsiran karya sastra dalam bentuk penyajian ke hadapan khalayak penonton.

Dan kesuksesan acara Musikalisasi Sastra 2018 kali ini, tak lepas dari kerjasama yang harmonis antara pihak Taman Budaya Yogyakarta (TBY), para penampil, keluarga seniman dan sastrawan, Tim kerabat kerja (event organizer) dari Studio pertunjukan Sastra (SPS), serta yang paling penting, apresiasi dari seluruh masyarakat.

Menuntun Jiwa Profetik

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Kerabat Kerja “Studio Pertunjukan Sastra”.

Seusai penampilan Kopibasi yang energik dan menggugah semangat, cahaya lampu diredupkan. Jeda waktu 10 menit untuk persiapan penampil berikutnya, tim kreatif dan tata panggung bergegas menyiapkan set dan properti panggung.

“Momentum Musikalisasi Sastra hari kedua ini menyajikan karya-karya sastra yang cenderung subtil,” ujar Sukandar, Tim Kreatif dari Studio Pertunjukan Sastra (SPS).

Ia mencontohkan karya-karya Kuntowijoyo yang seolah menuntun jiwa menuju kesadaran spiritual. Puisi Pak Kunto seperti “Nama-nama”, “Kelahiran”, “Perkawinan” dan “Perjalanan ke Langit”, semua menyorongkan jiwa  kita kepada apa yang disebut sebagai kesadaran profetik.

Secara normatif-konseptual, paradigma profetik versi Kuntowijoyo didasarkan pada Surat Ali-Imran ayat 110 ;

Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan/dilahirkan ditengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah.

Dari ayat tersebut, dasar ilmu sosial profetik didedahkan oleh Kuntowijoyo yaitu; 1) Amar Ma’ruf (humanisasi) mengandung pengertian memanusiakan manusia. 2) Nahi Munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan. 3) Tu’minuna Bilah (transendensi), dimensi keimanan manusia (Rosyadi, 2009:304).

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Grup musik “Kopibasi” menjadi pembuka Musikalisasi Sastra 2018 di malam kedua (02/09).

Kesadaran profetik versi Kuntowijoyo inilah yang kemudian diadaptasi oleh Serat Djiwa sebagai penampil kedua untuk pergelaran Musikalisasi Sastra, Minggu malam (02/09).

Grup musik instrumental yang dibentuk pada tahun 2015 dan diinisiasi oleh Dian Adi Mr ini beranggotakan: Dian (biola), Justitias (cello), Fathur (tiup), Refli (gitar), Mambley dan tatang (perkusi), dengan additional player Hitman (akordeon), Gendon (bass), dan Eki (drum). Mereka mencoba memaknai sastra profetik Kuntowijoyo melalui beberapa repertoar.

Diiringi suara lembut yang mengalun dari gesekan ritmis biola dan cello, tabuhan perkusi, serta lengkingan sayup-sayup seruling yang menyayat-nyayat jiwa, Serat Djiwa memulai repertoarnya.

Repertoar pertama, berjudul “Nama-nama” yang menceritakan tentang perjalanan nenek moyang yang telah membangun negeri dengan bijaksana. Mereka pergi dengan menginggalkan jejak ‘nama-nama’, semangat baru untuk menerusakan perjuangan mereka.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Penampilan grup instrumental “Serat Djiwa’ mengadaptasi karya-karya Prof. Kuntowijoyo.

Selanjutnya “Kelahiran”, menceritakan waktu yang ditunggu-tunggu, harapan akan sebuah kehadiran. Wajah baru yang disambut senyum bahagia oleh mereka yang menyambut kelahirannya. Diteruskan dengan “Perkawinan”, seiring waktu yang terlewati dan akhirnya mengenal ‘cinta’.

Repertoar terakhir adalah “Perjalanan ke Langit” yang mengisahkan kerinduan anak manusia kepada Tuhannya. Saat jiwa meninggalkan raga, saat semua telah terlewati, yang tersisa hanya rasa ikhlas dan bahagia.

Memadukan segala jenis alat musik, baik etnik maupun modern, Serat Djiwa yang secara harfiah dimaknai sebagai kumpulan ajaran hidup (kitab) yang diharapkan menuntun “jiwa” terhadap apa yang sejati, berhasil menyajikan sebuah pertunjukan yang ‘menggetarkan jiwa’.

Penonton seolah dihipnotis menuju imaji-imaji yang sarat akan kesadaran spiritual, untuk kembali memaknai hidup dan menghayati hadir-Nya.

Ekstase di Malam Pamungkas

IST – Drupadi (Mila Rosinta) dengan tujuh penarinya.

Di puncak acara, panggung berubah pekat. Nada-nada mistis mengetuk-ngetuk lembut bersama hembusan asap yang mengepul lekat.

Serupa mantra, suara-suara itu menyusup getir, berpadu dengan aroma wangi para penari yang membisu di pusat panggung.

Sesaat hening.

Drupadi meliuk dalam siluet yang samar, terbungkus selubung kasat mata yang perlahan-lahan terangkat, kemudian pendar.

Kelam pada irama cahaya yang pekat, Drupadi yang bertudung sangkar itu memekik!

Tubuhnya bergerak seperti gelombang, menggeliat selaras jiwanya yang luka. Amarah, kesumat nan berlarat-larat, menyatu dalam nyanyian pedih angin malam.

Panggung bergetar, api menyala… lidahnya berkilat-kilat membakar ketujuh perempuan muda berselendang merah membara.

Tujuh penari itu menyeruak ke muka, serentak berteriak, tubuh mereka berbicara, meliuk-liuk terbakar oleh amarah dan dendam.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANT0 – Malam puncak Musikalisasi Sastra (02/09), Mila Rosinta berhasil membawa semua menuju ekstase.

Penonton bertempik! Riuh rendah menggemuruh. Takjub menyaksikan penampilan spektakuler di depan mata.

Minggu malam (02/09), Mila Rosinta bersama Mila art dance school berhasil menyihir ratusan penonton dengan pesona magisnya. Dibawakannya lakon “Drupadi”, novel karya Seno Gumira Ajidarma dengan kolosal dan epik.

Mila Rosinta mengambil esensi; tentang bagaimana tiap wanita berhak atas tubuhnya, atas kemerdekaan dirinya, dapat mengungkapkan pendapat, dan dapat bebas dalam menentukan pilihan hidupnya.

Didukung oleh tujuh penari belianya; Rini Sugianti, Rini Utami, Valentina Ambarwati, Rizki Oktaviani, Yurika Meliani, Radha Putri, dan Shafira Emeralda; serta komposer handal Widi Wedee (keyboardist band Letto) yang mampu menyuguhkan impresi-impresi mistis; Mila Rosinta kembali menyuguhkan koreografi yang berkelas dan apik.

Di malam puncak Musikalisasi Sastra 2018 itu, semua berhasil dibawanya menuju ekstase.

(Milesia.id/Kelik Novidwyanto)

 

Tags

Related Articles

4 Comments

  1. Salut dengan karya anak muda Yogyakarta yg berupaya menerobos berbagai keterbatasan gagasan dan capaian estetik. Kita tunggu hadirnya karya2 seni pertunjukan sastra yg makin berkualitas dan bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close