Milestories
Trending

“Kucing, kok…Disteril, Sih? Nanti Punah..!”

Salah Kaprah Sterilisasi Kucing (Bagian 1)

Oleh : Milza Permatasari *)
Milza Permatasari/Foto : Fitria/ Milesia.id
Kok, kucing disteril, sih! Nanti punah..!”
Yaa..Kata-kata di atas, sering dilontarkan kalangan yang anti steril kucing (juga anjing).
Mbaksis dan Masbro, yang punah itu dinosaurus!
Belum  ada, tuh istilah punah buat kucing atau anjing. Kenapa? Sebab, ketika kita mensterilkan mereka, di tempat lain ada saja kucing atau anjing yang beranak pinak tanpa bisa kita pantau dan kendalikan. Atau, saat kita sterilkan, induknya lalu anaknya yang kocar-kacir kemana-mana dan tidak tertangkap, nantinya akan kawin, kawin, kawin dan beranak, beranak, beranak. Nah, masih bilang punah? Yang punah itu dinosaurus!
Kucingsaurus..!Q (Milesia.id/Milza P)

 

“Kesian kucingnya, masih kecil kok disteril, sih?” Lagi-lagi,  sering kita dengar penolakan pemilik kucing seperti ini. Sejatinya, konsep steril kucing atau anjing saat usia muda bukan hal baru.

Praksisnya, bahkan sudah dilakukan para dokter hewan pada pertengahan abad 20. Sayangnya, konsep ini hanya bisa diterima oleh masyarakat yang cukup terpelajar. Beberapa alasan orang menolak konsep ini, diantaranya adalah, membiarkan kucing betina miliknya beranak untuk pertama kali. Untuk kucing jantan, karena mereka masih terlihat lucu, menggemaskan dan “polos”, sehingga dianggap tidak mungkin membuntingi kucing betina.
Kirik juga berhak sejahtera. Dok. Milza P/Milesia.id

 

Namun, kini anggapan demikian tidak berlaku lagi. SATU ekor kucing betina dapat menurunkan sebanyak 73 ribu ekor kucing dalam kurun waktu 6 tahun! Sementara kucing jantan usia 4 bulan sudah mampu membuntingi kucing betina!

Bagi para pemilik kucing yang menganut paham kuno yang baru akan mensterilkan kucingnya setelah usia 6 atau 8 bulan, ibarat sedang berjudi. Sudah sering kita dengar kata “kecolongan”, kan?
Apa sih keuntungan steril kucing atau anjing saat usia muda? Nih :
1. Meminimalisir trauma operasi
2. Pemulihan hasil operasi steril lebih cepat
3. Meminimalisir penyakit organ reproduksi
Tentu ada syaratnya. Diantaranya, yaitu berat badan kucing minimal 1,5 kg atau bagi yang jantan, testikel sudah teraba. Nah, tunggu apalagi? Mau “kecolongan” lagi?
TNR
TNR? Istilah ini nyaris lazim bagi para penyayang kucing atau anjing.
T= Trap (tangkap), N= Neuter (sterilkan dengan operasi), dan R= Return (kembalikan ke tempat asal). TNR tidak melulu harus masal seperti yang sering kita lihat. Satu atau 2 ekor jadilah.
Apa tujuannya? Hal ini bertujuan agar kucing yang beredar di sekitar kita  bisa mendapat kehidupan yang lebih baik tanpa kita harus membawanya masuk menjadi bagian dari keluarga kita. Untuk kucing jantan,  tidak berkelahi memperebutkan betina atau menandai wilayah dengan aroma kencing yang menyengat. Yang betina, tidak perlu susah payah mencari tempat melahirkan yang aman dan juga tidak lagi bersusah payah mencari makan untuk anaknya yang kadang mencapai 6 ekor.
Namun perlu juga diingat, saat TNR agar berhati-hati dan mempersiapkan segala kemungkinan. Seperti tergigit atau tercakar. Jangan sampai, niatnya mau TNR, hasilnya malah kulit kita rombeng-rombeng kena tatoo atau bahkan masuk rumah sakit karena terinfeksi rabies.
Jadi, steril itu memang hal terbaik sejauh ini untuk menanggulangi populasi anjing atau kucing yang berlebihan.
Anti Steril Juga Ada
Kalangan yang anti steril juga ada, lho! Bahkan dengan 1001 alasan. Tapi mari coba jawab pertanyaan ini :
“Apa yang akan kalian lakukan saat menerima ‘paket’ bayi kucing baru lahir yang dibuang orang?”
IST-Milza Permatasari/Milesia.id

Ada yang bilang, “Alasan saja steril buat kebahagiaan kucing anjing. Padahal emang manusianya aja yang nggak bisa lihat kucing dan anjing bahagia. Ngapain disterilin nggak kasihan sama kucing-anjing?”.

Belajar ngaji dulu yang bener!.
———-
“Ada yang minta tolong rawat kucing, nih kesian. Ada yang buang anak kucing. Bisa nggak?”.
———-
“Pokoknya, kalo sampe saya gak sanggup, Saya aja yang pergi dari rumah. Kamu aja lah atur hidup sendiri sama ratusan ekor kucing!”
———
Kebanyakan kita ingin sekali menolong kucing atau anjing, terutama yang sakit, ketabrak kendaraan di jalan, dan lainnya. Namun apa daya, Ibu Kos melarang. Sementara di rumah sudah bejibun kucing. Belum lagi, yang buang anak kucing di teras, di tempat sampah, di jalan tol dan lainnya.
Dok. Milza. P/Milesia.id

 

Bisa saja kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, namun apakah kita tega? Apakah kita tidak menyadari bahwa mungkin saja Allah yang menitipkan kepada kita terlepas dari ngaji bener atau tidak, dan belum lagi ayat ini itu, hadits ini itu…

Jalan terbaik adalah melakukan operasi steril dan kebiri pada mereka, memulihkan, lalu mengembalikannya ke tempat semula agar nantinya tidak terlalu cepat kita nenerima bayi-bayi buangan yang tidak berdaya, atau mendengar kabar dari penampungan ihwal tempat yang sudah penuh sesak oleh kucing.
Inilah tujuan steril dan kebiri agar mereka dan kita hidup bahagia dan harmonis dengan lingkungan.
Beberapa orang mengaku, akhirnya kewalahan mengurus anjing atau kucingnya yang beranak, beranak, dan beranak. Selain itu,  biaya yang dikeluarkan semakin besar setiap tahun untuk ngempanin mereka. Belum lagi tetangga yang mulai merasa tidak nyaman.
Biaya itu juga termasuk mengganti genteng pecah, pot tanaman dan tanaman rusak, dan lainnya. Disebabkan kucing jantan berkelahi memperebutkan kucing betina saat musim kawin. Jadi, jika dihitung maka terlihat biaya lebih besar yang dikeluarkan dibandingkan biaya operasi steril dan kebiri itu sendiri.
Apalagi sekarang semangat steril dan kebiri sudah menyebar hampir di seluruh tempat dan juga didukung oleh banyak komunitas serta pemerintah yang membuat steril kebiri semakin terjangkau biayanya.
“InI kucing banyak banget. Jadi jorok. Kotor. Suka acak-acak tempat sampah!”
Demikian komentar orang yang tidak suka kucing. Okay, sudah? Cuma segitu? Ada lagi? Tidak? Baiklah. Akan saya jelaskan.
Sejak kucing menjadi hewan domestik, maka dimana ada manusia setidaknya di situ ada kucing. Mereka dibutuhkan manusia untuk berburu hewan pengerat di tempat penyimpanan bahan makanan. Bahkan mereka memang sengaja dibiarkan berkembang biak.
Namun setelah daerah itu padat oleh manusia, kucing mulai tersingkir karena sedikit atau tidak ada lagi hewan pengerat yang diburu. Dengan banyaknya populasi kucing, mereka bersaing mendapatkan makanan untuk bertahan hidup.
Dok.Milza/P/Milesia.id

 

Belum lagi kucing yang awalnya dipelihara orang di rumah lalu dibuang dengan berbagai alasan. Mereka yang dibuang ini tidak takut manusia dan cenderung mendekati manusia, sebab mengharapkan makanan. Jika tidak ada, mereka mengais di tempat sampah atau mengemis di warung nasi.

Hanya sedikit kucing yang takut manusia. Lalu jika tidak suka kucing, apakah langsung ditendang, timpuk, jepret, siram dan sebagainya? Karena manusia itu makhluk sempurna yang diberi akal, kita bisa mencari jalan keluar yang rasional.
Bagaimana caranya? Steril dan kebiri mereka. Tetapi itu kucing liar, ngapain repot buang uang steril dan kebiri mereka? Benar, kucing liar. Namun kucing liar pun akan selalu beredar di sekitar kita. Jadi yang tidak senang kucing dan anti steril namun tidak melakukan apa-apa sebaiknya SHUT UP! Mingkem.
Steril adalah jalan keluar yang manusiawi. (Bersambung)
*) Founder dan Planet Satwa, praktisi dan volunteer sterilisasi kucing, Emak Kucing.
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close